{"id":30982,"date":"2015-07-24T08:50:10","date_gmt":"2015-07-24T01:50:10","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=30982"},"modified":"2018-02-07T15:56:32","modified_gmt":"2018-02-07T08:56:32","slug":"bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia","title":{"rendered":"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Ini cerita sehari-hari masalah lingkungan Indonesia: pertarungan antara pembangunan ekonomi berbasis ektraksi sumber alam dan kekhawatiran manfaat keberlanjutan sumber alam tersebut.<\/p>\n<p>Dalam dekade ini pergumulan panjang itu dipenuhi tarik menarik dan ketegangan.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia berada di antara batu dan tempat yang sulit,\u201d kata Krystof Obidzinski, ilmuwan senior <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasinal (CIFOR)<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cDi satu sisi, mencoba mendorong keberlanjutan melalui moratorium penebangan hutan primer dan lahan gambut, pengembangan sistem verifikasi legalitas kayu dan berbagai tindakan lain. Di sisi lain, Indonesia tengah mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, umumnya melalui ekstraksi dan ekspor sumber alam.\u201d<\/p>\n<p>Untuk menyeimbangkan perebutan kepentingan ini, Indonesia merangkul konsep \u2018pembangunan hijau\u2019 \u2013 meningkatkan investasi keberlanjutan jasa lingkungan sehingga lingkungan bisa menjadi bagian penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan tingginya pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n<p><strong>PERCONTOHAN HIJAU BERAU<\/strong><\/p>\n<p>Kabupaten Berau di Kalimantan Timur memulai percontohan inisiatif pembangunan hijau dan menjadi subjek <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5538\/land-based-investment-and-green-development-in-indonesia-lessons-from-berau-district-east-kalimantan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian baru<\/a> oleh <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> .<\/p>\n<p>Berau adalah garis depan hutan \u2013 <a href=\"http:\/\/redd-database.iges.or.jp\/redd\/download\/project?id=15\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">75 persen dari 2,2 juta hektare<\/a> wilayahnya masih ditutupi hutan primer dan sekunder, sementara wilayah tetangga, kabupaten Kutai Kartanegara yang lebih bisa diakses, sebagian besar hutannya telah gundul.<\/p>\n<p>Hutan primer dataran rendah Berau bisa mengandung 133 hingga 145 juta ton karbon, sementara hutan sekundernya bisa menyimpan 127-128 juta ton.<\/p>\n<p>Dataran rendah menjadi tempat populasi orangutan terbesar dunia, selain owa, bekantan, beruang berkalung dan lebih dari 80 spesies tanaman terancam.<\/p>\n<p>Berau juga kaya sumber mineral; ada potensi ekonomi besar melakukan ektraksi dan eksploitasi hutan dan mineralnya.<\/p>\n<blockquote><p><em>Berau dipandang sebagai kabupaten terdepan dengan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, dan sejarah panjang intervensi, sudah tercatat sejak awal 1990. Semua inisiatif ini merupakan bagian dari pembangunan hijau<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Pemerintah Berau dan Kalimantan Timur berikrar pembangunan hijau akan menjadi bagian <a href=\"\/\/www.cifor.org\/redd-case-book\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">program percontohan REDD+<\/a>, dan oleh karena itu, berkontribusi terhadap <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/4243\/on-eve-of-major-forestry-conference-indonesias-president-issues-decree-to-cut-ghg-emissions#.VX6A3DCqqko\">komitmen nasional reduksi sebesar 26% emisi karbon dioksida <\/a>(CO2) pada 2020.<\/p>\n<p>\u201cBerau dipandang sebagai kabupaten terdepan dengan komitmen pembangunan berkelanjutan, dan sejarah panjang intervensi sudah tercatat sejak awal 1990-an. Semua inisiatif ini merupakan bagian dari pembangunan hijau,\u201d kata Obidzinski.<\/p>\n<p>\u201cKami memutuskan untuk melihat apa yang telah dicapai dan juga, apa tantangan masa depan di Berau agar wilayah lain bisa belajar.\u201d<\/p>\n<p>Di samping rencana konservasi ambisius Berau, penelitian menemukan bahwa pendulum mengayun ke arah pembangunan ekonomi.<\/p>\n<p>Dalam 12 tahun sejak 2000, lebih dari 201.000 hektare hutan hilang akibat penebangan legal dan ilegal, sawit dan perkebunan kayu, penambangan batu bara dan perumahan. Pada periode yang sama, kecepatan deforestasi tahunan melonjak dari 12.833 hektare menjadi 20.760 hektare.<\/p>\n<p>Akibatnya, 81-185 juta ton CO2 dilepaskan ke atmosfer.<\/p>\n<p>Hampir tiga perempat deforestasi terjadi di wilayah yang disebut <a href=\"http:\/\/www.wri.org\/sites\/default\/files\/how_to_change_legal_land_use_classifications_to_support_sustainable_palm_oil.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>areal penggunaan lain \u2013 atau lahan  APL<\/em><\/a> \u2013 sebuah katergori yang dibuat pada 2001 untuk menyebut lahan hutan di luar batas hutan dan diniatkan untuk konversi.<\/p>\n<p>Sebanyak 30 persen hutan Indonesia diklasifikasikan sebagai lahan APL terletak di luar yurisdiksi <a href=\"http:\/\/www.dephut.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kementerian Kehutanan<\/a> dan umumnya berada di bawah kontrol kabupaten. (Misalnya: Kementerian Kehutanan akan mengeluarkan <a href=\"http:\/\/en.hukumonline.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Izin Pemanfaatan Kayu<\/em><\/a>, atau IPK) bagi perusahaan sawit dalam hutan, tetapi pejabat pemerintah kabupaten dapat mengeluarkan izin di wilayah Berau kategori lahan APL lokal).<\/p>\n<p>Lebih dari satu juta hektare di Berau telah dialokasikan menjadi 23 konsesi penebangan; 281.000 dialokasikan untuk tujuh perkebunan industri dan lebih dari 193.000 hektare telah ditandai untuk tujuh perusahaan pertambangan.<\/p>\n<p>Semua mengatakan, 80 persen lahan Berau telah dibagi-bagi untuk sawit, industri kayu, pertambangan dan penebagan.<\/p>\n<p>Rencana tata ruang terakhir mengindikasikan hampir 630.000 hektare akan jatuh ke dalam kategori APL, dan oleh karena itu akan ditebang dan dibangun. Jika hutan primer dan sekunder dalam lahan APL di kategorisasi ulang sebagai hutan dilindungi atau konservasi, penelitian menemukan bahwa ada potensi menyelamatakan sekitar 149,9 \u2013 267,9 juta ton CO2, yang bisa didukung oleh <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/Books\/Decentralisation-Case9.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Peraturan Provinsi Kalimantan Timur<\/a> mengenai perlindungan hutan dan keragaman hayati.<\/p>\n<p>Dan dengan <a href=\"http:\/\/www.theguardian.com\/environment\/2015\/may\/14\/indonesia-extends-moratorium-on-partial-forest-clearing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">memperpanjang moratorium<\/a> izin alokasi dan penebangan hutan, lebih banyak lagi lahan bisa dilindung, adalah salah satu rekomendasi utama penelitian ini.<\/p>\n<p>Krystof Obidzinski menunjukkan bahwa moratirum tidak lantas pasti menjadi jaminan.<\/p>\n<p>Lebih dari 15.000 hektare hutan primer harusnya terlindungi di bawah moratorium telah diberikan kepada perusahaan penebangan, sawit, industri kayu dan pertambangan.<\/p>\n<p>\u201cJika hutan primer ditempatkan dalam zona APL, hutan dapat ditebang atau digunduli oleh perusahaan tersebut,\u201d kata Obidzinski. \u201cIni masalah serius, banyak dan seharusnya banyak yang dapat dilakukan.\u201d<\/p>\n<p><strong>PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN HIJAU<\/strong><\/p>\n<p>Saat ini <a href=\"http:\/\/www2.cifor.org\/carbofor\/publications\/REDDworkshop\/09.Berau-forest-carbon-program.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Program Karbon Hutan Berau<\/a> mendukung proyek percontohan REDD+, yang mencari cara meningkatkan tata kelola dan perlindungan hutan, selain mendorong manajemen perkebunan sawit dan wilayah mangrove.<\/p>\n<p>Bagian dari proses tersebut termasuk mengidentifikasi lahan terdegradasi untuk pengembangan sawit dan mendorong tukar lahan.<\/p>\n<blockquote><p><em>Inti masalah ini bukan \u201capa\u201d tetapi \u201cbagaimana\u2019 \u2013 bagaimana mengembangkan sawit di lahan terdegradasi, bagaimana melindungi hutan primer dari lahan APL dan mengkompensasi kerugian perusahaan, dan seterusnya<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Penelitan menunjukkan bahwa \u201crencana pembangunan ekonomi perlu lebih mengakomodasi kebijakan \u2018hijau\u2019 Indonesia yang dirancang mengurangi deforestasi dan emisi (gas rumah kaca).<\/p>\n<p>Tekanan lebih besar perlu diberikan untuk menjamin hutan kaya karbon dan lahan gambut dilindungi, pembangunan perkebunan diarahkan pada lahan liar terdegradasi, penebangan dikelola secara berkelanjutan dan penambangan batu bara dilakukan dengan standar lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada rekomendasi tak terduga atau mengejutkan,\u201d kata Obidzinski.<\/p>\n<p>\u201cRekomendasi ini menjelaskan apa yang kami pikir perlu dilakukan. Langkah berikut adalah memecah rekomendasi umum ini menjadi tindakan nyata. Inti masalahnya bukan pada \u2018apa\u2019 tetapi \u2018bagaimana\u2019 \u2013 bagaimana mengembangkan sawit di lahan terdegradasi, bagaiman melindungi hutan primer dari lahan APL dan mengkompensasi kerugian perusahaan, dan seterusnya.\u201d<\/p>\n<p>Bagi para peneliti, untuk mencapai \u2018bagaimana\u2019 memerlukan penggalian dalam masalah teknis, finansial dan legal, yang pada gilirannya menuntut tingkat berbeda kemitraan.<\/p>\n<p>\u201cCIFOR adalah organisasi penelitian, tetapi kita makin ingin melihat hasil konkret,\u201d kata Obidzinski. \u201cKita tidak perlu melakukan semuanya sendiri. Kita bisa bekerja dengan mitra khusus, apakah itu institusi lain atau perusahaan swasta, selain pemerintah dan mungkin lembaga non pemerintah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBerau telah berikrar mendorong \u2018pembangunan hijau\u2019 walaupun kemauan politik kuat diperlukan untuk memperbaiki lemahnya perencanaan tata ruang dan alokasi ad hoc untuk perusahaan skala besar HTI, sawit, penebangan dan pertambangan\u201d tulis peneliti.<\/p>\n<p>Terkait opsi pengembangan lahan terdegradasi, misalnya, CIFOR bekerjasama dengan <a href=\"http:\/\/www.wri.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">World Resources Institute<\/a>, yang memiliki keahlian di bidang ini. Pada masalah lain, seperti alokasi hutan dalam kategori APL, CIFOR terdepan dalam mengungkap konflik legal.<\/p>\n<p>\u201cMemang masih dini,\u201d kata Obidzinski, \u201ctetapi ini adalah awal.\u201d<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai kerja CIFOR di Kalimantan Timur, hubungi Krystof Obidzinski di <\/strong><a href=\"mailto:k.obidzinski@cgiar.org\"><strong>k.obidzinski@cgiar.org<\/strong><\/a><\/p>\n<p><em>Dukungan pendanaan kertas kerja ini diberikan oleh <\/em><a href=\"http:\/\/www.usaid.gov\/asia-regional\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>USAID Regional Development Mission for Asia<\/em><\/a><em> dan <\/em><a href=\"http:\/\/www.climateandlandusealliance.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Climate and Land Use Alliance (CLUA)<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ini cerita sehari-hari masalah lingkungan Indonesia: pertarungan antara pembangunan ekonomi berbasis ektraksi sumber alam dan kekhawatiran manfaat keberlanjutan sumber alam tersebut. Dalam dekade ini pergumulan panjang itu dipenuhi tarik menarik dan ketegangan. \u201cIndonesia berada di antara batu dan tempat yang sulit,\u201d kata Krystof Obidzinski, ilmuwan senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasinal (CIFOR). \u201cDi satu sisi, mencoba [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":107,"featured_media":35819,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,137,173,13,95,1072,180,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2503,2522,2565,2500,2634,2580,2516,2616,3246,2596,3600,2564,2530,2566,2819,2538],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1141],"class_list":["post-30982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-gender-justice-tenure","category-governance","category-human-wellbeing","category-landscapes","category-mitigating-climate-change","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-cadangan-karbon","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-ekonomi-hijau","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-hutan-primer","tag-bahasa-investasi","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-krystof-obidzinski","tag-bahasa-mangrove","tag-bahasa-pembangunan-hijau","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-pertumbuhan-ekonomi","tag-bahasa-pertumbuhan-hijau","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-target-pengurangan-emisi","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ini cerita sehari-hari masalah lingkungan Indonesia: pertarungan antara pembangunan ekonomi berbasis ektraksi sumber alam dan kekhawatiran manfaat keberlanjutan sumber alam tersebut. Dalam dekade ini pergumulan panjang itu dipenuhi tarik menarik dan ketegangan. \u201cIndonesia berada di antara batu dan tempat yang sulit,\u201d kata Krystof Obidzinski, ilmuwan senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasinal (CIFOR). \u201cDi satu sisi, mencoba [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-07-24T01:50:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:56:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mark Foss\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Mark Foss\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\"},\"headline\":\"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia\",\"datePublished\":\"2015-07-24T01:50:10+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:56:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\"},\"wordCount\":1013,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"Landscapes\",\"Mitigation\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\",\"name\":\"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-07-24T01:50:10+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:56:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Berau, Kalimantan Timur memulai inisiatif pembangunan hijau dan menjadi subyek penelitian Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Wilayah ini merupakan tempat populasi orangutan terbesar di dunia, selain owa, bekantan, beruang berkalung dan lebih dari 80 tanaman langka. Foto James Maiden\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\",\"name\":\"Mark Foss\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mark Foss\"},\"description\":\"Mark Foss is a Canadian freelance writer\\\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/mark-foss\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30982\\\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia","og_description":"Ini cerita sehari-hari masalah lingkungan Indonesia: pertarungan antara pembangunan ekonomi berbasis ektraksi sumber alam dan kekhawatiran manfaat keberlanjutan sumber alam tersebut. Dalam dekade ini pergumulan panjang itu dipenuhi tarik menarik dan ketegangan. \u201cIndonesia berada di antara batu dan tempat yang sulit,\u201d kata Krystof Obidzinski, ilmuwan senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasinal (CIFOR). \u201cDi satu sisi, mencoba [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-07-24T01:50:10+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:56:32+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mark Foss","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia"},"author":{"name":"Mark Foss","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d"},"headline":"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia","datePublished":"2015-07-24T01:50:10+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:56:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia"},"wordCount":1013,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Gender, justice &amp; tenure","Governance","Human well-being","Landscapes","Mitigation","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia","name":"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg","datePublished":"2015-07-24T01:50:10+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:56:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Berau, Kalimantan Timur memulai inisiatif pembangunan hijau dan menjadi subyek penelitian Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Wilayah ini merupakan tempat populasi orangutan terbesar di dunia, selain owa, bekantan, beruang berkalung dan lebih dari 80 tanaman langka. Foto James Maiden\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bayang-bayang hijau: Menyeimbangkan konservasi dan pembangunan Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d","name":"Mark Foss","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mark Foss"},"description":"Mark Foss is a Canadian freelance writer\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/mark-foss"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30982\/bayang-bayang-hijau-menyeimbangkan-konservasi-dan-pembangunan-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/saw-james-maiden-cifor-500x332_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/107"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30982"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30982\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35819"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30982"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=30982"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=30982"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=30982"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=30982"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=30982"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=30982"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=30982"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=30982"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=30982"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=30982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}