{"id":30899,"date":"2015-07-10T10:09:35","date_gmt":"2015-07-10T03:09:35","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=30899"},"modified":"2015-09-08T13:33:01","modified_gmt":"2015-09-08T06:33:01","slug":"mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur","title":{"rendered":"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/0Nec7hR2g5E?feature=player_embedded\" width=\"500\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Mendorong petani kecil melihat perkebunan kayu sebagai peluang bisnis yang menarik sekaligus berkontribusi bagi perekonomian dan lingkungan, demikian hasil <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/5515-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian terbaru<\/a>.<\/p>\n<p>Selama ini <a href=\"http:\/\/www.downtoearth-indonesia.org\/old-site\/csfrg04.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pemerintah Indonesia berinisiatif<\/a> mencari upaya untuk meningkatkan pembangunan perkebunan sebagai upaya pengentasan kemiskinan, meningkatkan tutupan hutan, dan mendorong suplai kayu ke industri.<\/p>\n<p>Riset dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> \u2013 menemukan bahwa banyak <a href=\"http:\/\/www.sustainablepalmoil.org\/growers-millers\/growers\/smallholders\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">petani kecil<\/a> tidak memahami bagaimana membudidayakan dan memasarkan kayu secara efektif, sehingga perlu diambil langkah untuk menjadikan pembangunan perkebunan suatu peluang bisnis yang menarik.<\/p>\n<p>\u201cIntinya adalah memberdayakan petani yang tidak menghasilkan banyak uang,\u201d kata Ilmuwan CIFOR, Dede Rohadi, salah seorang pemimpin  penelitian.<\/p>\n<blockquote><p><em>Saya menghitung bahwa menanam pohon kayu sebenarnya lebih menguntungkan daripada tanaman pangan, tetapi masalahnya dengan menanam pohon Anda harus menunggu terlalu lama untuk panen, sementara tanaman pangan bisa dipanen tiap tahun<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cSaya menghitung bahwa menanam pohon kayu sebenarnya lebih menguntungkan daripada tanaman pangan, tetapi masalahnya dengan menanam pohon adalah Anda harus menunggu terlalu lama untuk panen, sementara tanaman pangan bisa dipanen tiap tahun,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cSebagian besar penduduk desa miskin; mereka harus berjuang hidup sehari-hari. Jadi biasanya lahan dialokasikan untuk pangan, agar mereka bisa dibayar secara teratur.\u201d<\/p>\n<p>Akibat lamanya siklus tanam, petani dengan penghasilan menengah dan tinggi biasanya membudidayakan perkebunan kayu. Tetapi bagi mereka yang tidak bisa berinvestasi jangka panjang ada tantangan tambahan memaksimalkan manfaat budidaya kayu.<\/p>\n<p><strong>MENAMAN UNTUK MASA DEPAN<\/strong><\/p>\n<p>Pertama, banyak petani belum memiliki pengetahuan standar praktik silvikultur yang berakibatnya pada kualitas kayu lebih tipis dan murah harganya.<\/p>\n<p>\u201cHal ini masalah besar karena terdapat perbedaan harga jual menurut kualitas kayu,\u201d kata Royadi. \u201cContohnya, kayu jati bisa dijual minimal Rp 500 ribu (38 dolar AS) atau hingga Rp 5 juta (380 dolar AS) per meter kubik, bergantung diameter dan kualitas batang.\u201d<\/p>\n<p>Kedua, petani cenderung menjadi \u201cpenanggung biaya\u201d dan lemah posisi tawarnya ketika masuk pasar. Biasanya mereka didikte tengkulak (atau calo), karena kurang pengetahuan pasar dan pengalaman bisnis.<\/p>\n<p><strong>BACA PENELITIANNYA:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/infobrief\/5515-infobrief.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Membuat perkebunan kayu menjadi bisnis menarik bagi petani kecil<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Dalam <a href=\"\/\/www.cifor.org\/fileadmin\/subsites\/aciarteak\/publications\/booklet\/Booklet.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> sebelumnya, Dede Rohadi mengungkapkan bagaimana perkebunan kayu sering dipandang \u201ctabungan keluarga\u201d yang digunakan untuk tujuan tertentu.<\/p>\n<p>\u201cKayu sering dipandang sebagai tabungan yang diambil untuk kebutuhan mendadak. Mungkin mereka perlu membeli motor atau sekolah anak dan itu yang ada di pikiran mereka, daripada kayu sebagai nilai pasar aktual.<\/p>\n<p>Menjual kayu juga sering menjadi \u201cpelabuhan terakhir\u201d katanya \u2013 ketika darurat atau masa sulit \u2013 dan petani tidak dalam posisi terbaik menawarkan harga terbaik.<\/p>\n<blockquote><p><em>Kayu sering dipandang sebagai tabungan yang diambil untuk kebutuhan mendadak. Mungkin mereka perlu membeli motor atau sekolah anak dan itu yang ada di pikiran mereka. <\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cPetani sering tidak sadar aset yang mereka miliki, atau peluang pasar,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Untuk meningkatkan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/3310\/smallholder-timber-plantation-development-in-indonesia-what-is-preventing-progress\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembangunan perkebunan petani kecil<\/a>, riset ini memberi rekomendasi pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan layanan peningkatan kemampuan dan pengetahuan pasar, dan mendorong pemasaran bersama kelompok tani.<\/p>\n<p>Pekerjaan Dede Rohadi di lapangan membawanya bertatap muka dengan para petani. Pada <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0Nec7hR2g5E&amp;list=PLZ1FEAFDHOWdGChF__VsXEY9HpkZ1SsLe&amp;index=12\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">perjalanan terakhir ke pinggiran Jawa<\/a>, tempat 70 persen perkebunan petani kecil berlokasi di Indonesia, ia mewawancarai petani yang telah diajarkan teknik silvikultur.<\/p>\n<p>\u201cSekitar dua pertiga petani tersebut menyatakan pengetahuan meningkatkan kemampuan dan mereka menerapkan teknik baru \u2013 jadi cukup efektif dalam melakukan adopsi,\u201d kata Rohadi.<\/p>\n<p>\u201cDalam program seperti itu, selalu ada yang benar-benar memperhatikan dan ada yang berfungsi sebagai \u2018agen perubahan\u2019 masyarakat. Orang-orang ini harapan kita di masa depan.\u201d<\/p>\n<p><strong>SISTEM RUMIT<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.indonesia.go.id\/en\/ministries\/ministers\/state-minister-for-the-environment\/1642-profile\/266-kementerian-lingkungan-hidup.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan<\/a> harus menyederhanakan regulasi perdagangan kayu bagi petani kecil untuk mengurangi tingginya biaya transaksi yang sering menjadi beban petani, kata Rohadi.<\/p>\n<p>Saat ini petani kecil diwajibkan menyiapkan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/Papers\/PCIFOR1203.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dua sertifikat<\/a>: Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) \u2013 dikeluarkan oleh Kepala Desa untuk menunjukkan validitas sumber, dan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), yang menjamin legalitas produk kayu.<\/p>\n<p>SVLK <a href=\"http:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2012\/08\/03\/govt-helps-small-timber-product-firms-get-svlk-certification.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">diterapkan sejak 2013<\/a> dan harus ada untuk semua produk kayu dari Indonesia sebagai awal bagian inisiatif pemerintah \u201cmeningkatkan citra produk kayu dari Indonesia dan (oleh karena itu) memberi akses pasar lebih baik di perdagangan internasional.\u201d<\/p>\n<p>Pada 2012, sebuah <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/Papers\/PCIFOR1203.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> CIFOR menunjukkan bahwa petani dapat mengambil manfaat sertifikasi kayu, baik itu dalam sistem sukarela seperti <a href=\"https:\/\/ic.fsc.org\/fsc-certification.4.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forest Stewardship Council (FSC)<\/a> atau sistem mandatori seperti SVLK.<\/p>\n<p>Petani mendapat harga lebih tinggi melalui sertifikasi, dan terlibat dalam proses, yang berarti mereka merasa pengetahuan perkayuan dan proses kehutanan mereka meningkat.<\/p>\n<p>Tetapi biaya sertifikasi sering dipandang mahal bagi petani kecil, kata Rohadi.<\/p>\n<p>Sementara biaya sertifikasi SVLK berbeda tergantung lokasi, jenis kayu, ukuran perkebunan, bagian termahal proses adalah biaya menyiapkan petani memenuhi seluruh persyaratan sertifikasi.<\/p>\n<p>Penelitian CIFOR menunjukkan bahwa manfaat sosial memotong birokrasi dan meningkatkan pemasukan petani kecil jelas terlihat.<\/p>\n<p>Penelitian merekomendasikan SVLK seharusnya mengganti SKAU dalam mengurangi biaya transaksi dan membuat proses sertifikasi lebih menarik.<\/p>\n<p>Dan dengan mendorong lebih banyak perkebunan, menurut Rohadi memberi manfaat lingkungan besar.<\/p>\n<blockquote><p><em>Budidaya kayu di lahan pribadi berpotensi meningkatkan tutupan hutan dan lingkungan lokal.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cBudidaya kayu di lahan pribadi berpotensi meningkatkan tutupan hutan dan lingkungan lokal,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cKeteduhan yang diberikan tutupan hutan juga menurunkan suhu dan menciptakan lebih banyak lingkungan lokal yang ramah, dan banyak petani menyadari ini.\u201d<\/p>\n<p>Rohadi mencontohkan Kabupaten <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/4416\/household-and-farm-attributes-affecting-adoption-of-smallholder-timber-management-practices-by-tree-growers-in-gunungkidul-region-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Gunungkidul<\/a>, di Jawa Tengah. Di awal 1960 tutupan hutan hanya 3 persen di wilayah itu, tetapi kini tutupan hutan mencapai 30 persen.<\/p>\n<p>\u201cDan sebagian besar perkebunan petani kecil,\u201d katanya. \u201cJadi petani kecil bisa dan mampu mengubah lingkungan lokal secara dramatis.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Mendorong petani kecil melihat perkebunan kayu sebagai peluang bisnis yang menarik sekaligus berkontribusi bagi perekonomian dan lingkungan, demikian hasil penelitian terbaru. Selama ini Pemerintah Indonesia berinisiatif mencari upaya untuk meningkatkan pembangunan perkebunan sebagai upaya pengentasan kemiskinan, meningkatkan tutupan hutan, dan mendorong suplai kayu ke industri. Riset dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":182,"featured_media":30506,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,137,95,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[3265,2721,2580,2516,2589,2672,2507,2824],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[2078],"class_list":["post-30899","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-human-wellbeing","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-dede-rohadi","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-investasi","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-perdagangan-kayu","tag-bahasa-sertifikasi","tag-bahasa-sistem-verifikasi-legalitas-kayu","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia \u2014 Mendorong petani kecil melihat perkebunan kayu sebagai peluang bisnis yang menarik sekaligus berkontribusi bagi perekonomian dan lingkungan, demikian hasil penelitian terbaru. Selama ini Pemerintah Indonesia berinisiatif mencari upaya untuk meningkatkan pembangunan perkebunan sebagai upaya pengentasan kemiskinan, meningkatkan tutupan hutan, dan mendorong suplai kayu ke industri. Riset dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-07-10T03:09:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-09-08T06:33:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1052\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"912\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Jack Hewson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jack_s_hewson\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\"},\"author\":{\"name\":\"Jack Hewson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78\"},\"headline\":\"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat\",\"datePublished\":\"2015-07-10T03:09:35+00:00\",\"dateModified\":\"2015-09-08T06:33:01+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\"},\"wordCount\":840,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/indoneeeeee.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Human well-being\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\",\"name\":\"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/indoneeeeee.jpg\",\"datePublished\":\"2015-07-10T03:09:35+00:00\",\"dateModified\":\"2015-09-08T06:33:01+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/indoneeeeee.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/indoneeeeee.jpg\",\"width\":1052,\"height\":912},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78\",\"name\":\"Jack Hewson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=gbf00a2bf5110f830d8c59b9822f45205\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Jack Hewson\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@jack_s_hewson\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jackhewson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30899\\\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat","og_description":"BOGOR, Indonesia \u2014 Mendorong petani kecil melihat perkebunan kayu sebagai peluang bisnis yang menarik sekaligus berkontribusi bagi perekonomian dan lingkungan, demikian hasil penelitian terbaru. Selama ini Pemerintah Indonesia berinisiatif mencari upaya untuk meningkatkan pembangunan perkebunan sebagai upaya pengentasan kemiskinan, meningkatkan tutupan hutan, dan mendorong suplai kayu ke industri. Riset dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-07-10T03:09:35+00:00","article_modified_time":"2015-09-08T06:33:01+00:00","og_image":[{"width":1052,"height":912,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Jack Hewson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jack_s_hewson","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur"},"author":{"name":"Jack Hewson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78"},"headline":"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat","datePublished":"2015-07-10T03:09:35+00:00","dateModified":"2015-09-08T06:33:01+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur"},"wordCount":840,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Human well-being","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur","name":"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg","datePublished":"2015-07-10T03:09:35+00:00","dateModified":"2015-09-08T06:33:01+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg","width":1052,"height":912},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mendorong peluang bisnis perkebunan kayu rakyat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78","name":"Jack Hewson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=gbf00a2bf5110f830d8c59b9822f45205","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g","caption":"Jack Hewson"},"sameAs":["https:\/\/x.com\/@jack_s_hewson"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jackhewson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30899\/mendorong-peluang-bisnis-kayu-rakyat-dengan-penerapan-silvikultur#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/indoneeeeee.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30899","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/182"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30899"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30899\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30899"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30899"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30899"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=30899"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=30899"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=30899"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=30899"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=30899"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=30899"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=30899"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=30899"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=30899"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=30899"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}