{"id":30375,"date":"2015-07-03T14:31:26","date_gmt":"2015-07-03T07:31:26","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=30375"},"modified":"2015-10-13T11:07:24","modified_gmt":"2015-10-13T04:07:24","slug":"karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya","title":{"rendered":"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya"},"content":{"rendered":"<p>Saat mencoba melindungi stok karbon dan keanekaragaman hayati, ungkapan \u201cmembunuh dua burung dengan satu batu\u201d sulit untuk disesuaikan.<\/p>\n<p>Dan memang, nampaknya batu <a href=\"http:\/\/www.un-redd.org\/aboutredd\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">REDD+<\/a> tidak mengenai target ganda simpanan karbon dan perlindungan alam, demikian menurut hasil riset terbaru di Indonesia.<\/p>\n<p><a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5549\/spatial-patterns-of-carbon-biodiversity-deforestation-threat-and-redd-projects-in-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian baru<\/a> ini memperlihatkan sulitnya menemukan proyek konservasi yang efisien dalam memerangi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon serta secara maksimal melindungi (ancaman) terhadap tanaman dan binatang.<\/p>\n<p>\u201cKetika Anda lihat dalam bentang alam ada dua puncak jasa lingkungan, wilayah prioritas utama jarang tumpang tindih,\u201d kata ekonom Sven Wunder, dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> dan salah seorang penulis penelitian di lokasi proyek karbon, keragaman hayati, ancaman deforestasi dan REDD+ di Indonesia.<\/p>\n<p>Proyek tersebut merupakan bagian upaya global mengurangi <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5531\/standard-methods-for-estimating-greenhouse-gas-emissions-from-the-forestry-sector-in-indonesia-version-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">emisi gas rumah kaca<\/a> akibat deforestasi wilayah tropis.<\/p>\n<p>REDD+ bisa menarik lebih banyak investasi jika upaya mengunci karbon dalam hutan tropis dalam skema tersebut juga memberikan \u201cmanfaat tambahan\u201d, termasuk manfaat konservasi keragaman hayati, demikian menurut penelitian.<\/p>\n<p><strong>TEMPAT IDEAL?<\/strong><\/p>\n<p>Peneliti mengkaji distribusi keragaman hayati di Indonesia (mamalia, burung, reptil, dan amfibi, serta 8 keluarga tanaman menggunakan tiga parameter kekayaan (kekayaan spesies total, terancam dan terbatas).<\/p>\n<p>Sekilas, Indonesia bisa menjadi tempat ideal mencapai kedua tujuan: <a href=\"http:\/\/www.un-redd.org\/CountryActions\/Indonesia\/tabid\/987\/language\/en-US\/Default.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">negara hutan tropis ketiga terbesar dunia<\/a>, dengan kekayaan keragaman hayati, stok karbon hutan besar, dan aktifnya organisasi masyarakat yang ingin menjalankan proyek REDD+.<\/p>\n<p>Kepala peneliti Josil Murray \u2013 kandidat Doktor Universitas Bangor yang disupervisi oleh Sven Wunder \u2013 bekerja dengan rekannya menyusun basis data proyek REDD+ aktif di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cKami memetakan lokasi proyek dan mengekplorasi tumpang susun spasial antara stok karbon, keragaman hayati, dan proyeksi ancaman deforestasi,\u201d kata Murray.<\/p>\n<p>Dengan data itu, peneliti menganalisa dengan skala lebih halus hingga gambar lebih bernuansa muncul.<\/p>\n<blockquote><p><em>Temuan kami menunjukkan, tidak bisa menunjuk proyek REDD+ di sebuah wilayah yang baik untuk semua spesies. Itu tidak mungkin diterapkan oleh para konservasionis<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cUpaya lebih awal mengukur tumpang tindih \u2013 atau \u2018kongruens\u2019 \u2013 antara wilayah kaya-karbon dan kaya keragaman hayati terjadi di resolusi lebih rendah yang menutupi banyak pola halus yang kami lihat,\u201d kata Murray.<\/p>\n<p>\u201cTetapi memperbesar peta dalam negara jadi sangat menarik, terutama di Indonesia: relasinya sangat beragam ketika kita lihat di beragam pulau, misalnya.\u201d<\/p>\n<p>Keragaman hayati sendiri sulit dipastikan, dan pengukurannya memicu debat tim peneliti.<\/p>\n<p>Sven Wunder, ekonom kelompok tersebut, menyarankan indeks yang bisa mengagregasi keragaman dimensi kekayaan spesies, tetapi pakar keragaman hayati tidak sepakat.<\/p>\n<p>\u201cTemuan kami menunjukkan bahwa kami tidak bisa menunjuk proyek REDD+ di sebuah wilayah yang baik bagi semua spesies,\u201d kata Josil Murray. \u201cIni jadi tidak mungkin diterapkan para konservasionis, karena keragaman tindakan keragaman hayati tidak bertumpuk.\u201d<\/p>\n<p><strong>TIMBAL BALIK REDD+<\/strong><\/p>\n<p>Peta yang dipublikasikan para ilmuwan tersebut menunjukkan hanya sedikit wilayah tinggi densitas karbon dan tingkat keragaman hayati.<\/p>\n<p>Beberapa titik menarik muncul di sepanjang pesisir Kalimantan dan Sumatera \u2013 tetapi selau akan ada timbal balik, kata Murray.<\/p>\n<p>\u201cSpesies nyaris punah seperti harimau dan badak ada di hutan dataran rendah, sangat terancam, tetapi rendah simpanan karbon.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAnalisis kami menunjukkan bahwa rawa gambut cenderung tinggi densitas karbon dan kekayaan vertebrata, tetapi diketahui miskin kekayaan spesies tanaman,\u201d kata Murray.<\/p>\n<p>Ketika lokasi <a href=\"http:\/\/www.unorcid.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">proyek REDD+<\/a> di Indonesia diteliti, peneliti menemukan bahwa hal tersebut bertumpang susun dengan wilayah kaya keragaman hayati dibanding wilayah tinggi densitas karbon.<\/p>\n<p>\u201cKarena banyak proyek REDD+ awal dikelola organisasi konservasi, mereka mungkin lebih banyak berlokasi di wilayah kaya keragaman hayati dibanding wilayah kaya karbon,\u201d kata Sven Wunder.<\/p>\n<p>Tetapi Murray menyatakan bahwa itu adalah proyek percontohan, dan ia berharap intervensi lebih luas menargetkan lebih banyak potensi simpanan karbon di masa datang.<\/p>\n<p>Dan itu bisa menggeser manfaat REDD+ dari keragaman hayati.<\/p>\n<p><strong>KHAWATIR KOBOI KARBON<\/strong><\/p>\n<p>\u201cJika saya seorang koboi karbon, dengan garis dasar karbon tunggal, Saya hanya akan plih wilayah tinggi karbon yang terancam. Kemudian saya akan melindungi habitat juga, tetapi mungkin bukan yang paling signifikan secara nasional atau internasional,\u201d kata Wunder.<\/p>\n<p>Ilmuwan menawarkan satu jalan mengatasi dilema ini: fokuskan proyek REDD+ pada hutan yang <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/3505\/lessons-for-redd-from-measures-to-control-illegal-logging-in-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berisiko tertinggi digunduli<\/a>, dibanding hutan yang memiliki karbon atau keragaman hayati tertinggi.<\/p>\n<p>\u201cTingkat ancaman dapat membantu mengaitkan kedua faktor dalam ujicoba tumpang susun,\u201d kata Wunder. \u201cPada akhirnya, kepadatan hutan primer Indonesia pada puncak 10.000 kaki tidak akan  mengalami deforestasi dalam waktu dekat.\u201d<\/p>\n<blockquote><p><em>Jika saya koboi karbon, dengan garis batas tunggal,  saya hanya akan pilih wilayah dengan karbon tinggi yang terancam. Saya juga akan melindungi habitat, tetapi mungkin bukan yang signifikan secara nasional atau internasional<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Sementara peneliti mengakui bahwa investasi REDD+ di wilayah terlindung menjadi kontroversial dalam menggunakan sumber daya REDD+, mereka mengindikasikan bahwa banyak wilayah terlindung \u201cberada di bawah ancaman\u2026 dan penegakkan hukum lemah\u201d.<\/p>\n<p>Jika pendanaan REDD+ dapat digunakan meningkatkan efektivitas wilayah terlindung, \u201cmanfaat bagi keragaman hayati jadi besar\u201d kata penelitian tersebut.<\/p>\n<p>Josil Murray juga menyeru perhatian praktisi REDD+ mengenai pentingnya menetapkan lokasi proyek mereka di tempat hutan paling berisiko, terlepas kongruensi antara karbon dan keragaman hayati.<\/p>\n<p>\u201cHutan paling terancam di Indonesia berada di wilayah dataran rendah, yang juga tempat hidup spesies paling terancam. <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/26254\/indonesia-peatland-forest-carbon-emissions-model\">Lahan gambut<\/a> juga wilayah penting untuk fokus proyek REDD+karena menjadi ekosistem sangat terancam risiko ekspansi sawit,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Fokus pada rawa gambut juga akan memberi manfaat bagi masyarakat lokal, kata Murray, karena mereka akan kehilangan sumber ikan dan perlindungan menghadapi banjir ketika hutan basah tersebut hilang.<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai karya CIFOR dalam karbon dan deforestasi, silahkan hubungi Sven Wunder \u2013<\/strong><strong> <\/strong><a href=\"mailto:s.wunder@cgiar.org\"><strong>s.wunder@cgiar.org<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai substansi penelitian ini, silahkan hubungi Josil Murray \u2013<\/strong><strong> <\/strong><strong><a href=\"mailto:fayphil7@gmail.com\">fayphil7@gmail.com<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Penelitian CIFOR mengenai REDD+ dan<\/em> <em>Indonesia<\/em><em> didukung oleh <\/em><a href=\"http:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri<\/em><\/a><em>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat mencoba melindungi stok karbon dan keanekaragaman hayati, ungkapan \u201cmembunuh dua burung dengan satu batu\u201d sulit untuk disesuaikan. Dan memang, nampaknya batu REDD+ tidak mengenai target ganda simpanan karbon dan perlindungan alam, demikian menurut hasil riset terbaru di Indonesia. Penelitian baru ini memperlihatkan sulitnya menemukan proyek konservasi yang efisien dalam memerangi perubahan iklim melalui penyimpanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":35826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,137,13,1072,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2503,2522,2567,2721,3560,2489,2680,2622,2819,2942],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1041],"class_list":["post-30375","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forest-management-restoration","category-governance","category-landscapes","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-cadangan-karbon","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-gas-rumah-kaca","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-josil-murray","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-sven-wunder","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saat mencoba melindungi stok karbon dan keanekaragaman hayati, ungkapan \u201cmembunuh dua burung dengan satu batu\u201d sulit untuk disesuaikan. Dan memang, nampaknya batu REDD+ tidak mengenai target ganda simpanan karbon dan perlindungan alam, demikian menurut hasil riset terbaru di Indonesia. Penelitian baru ini memperlihatkan sulitnya menemukan proyek konservasi yang efisien dalam memerangi perubahan iklim melalui penyimpanan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-07-03T07:31:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T04:07:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Thomas Hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@tom_hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\"},\"author\":{\"name\":\"Thomas Hubert\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\"},\"headline\":\"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya\",\"datePublished\":\"2015-07-03T07:31:26+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T04:07:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\"},\"wordCount\":889,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Komodo_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\",\"Landscapes\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\",\"name\":\"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Komodo_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-07-03T07:31:26+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T04:07:24+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Komodo_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Komodo_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Peneliti mengkaji distribusi keragaman hayati di Indonesia \u2013 mamalia, burung, reptil, dan amfibi, serta 8 keluarga tanaman \u2013 menggunakan tiga parameter kekayaan keragaman hayati. Foto: wikicommons\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\",\"name\":\"Thomas Hubert\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Thomas Hubert\"},\"description\":\"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@tom_hubert\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/thomas-hubert\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/30375\\\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya","og_description":"Saat mencoba melindungi stok karbon dan keanekaragaman hayati, ungkapan \u201cmembunuh dua burung dengan satu batu\u201d sulit untuk disesuaikan. Dan memang, nampaknya batu REDD+ tidak mengenai target ganda simpanan karbon dan perlindungan alam, demikian menurut hasil riset terbaru di Indonesia. Penelitian baru ini memperlihatkan sulitnya menemukan proyek konservasi yang efisien dalam memerangi perubahan iklim melalui penyimpanan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-07-03T07:31:26+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T04:07:24+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Thomas Hubert","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@tom_hubert","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya"},"author":{"name":"Thomas Hubert","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077"},"headline":"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya","datePublished":"2015-07-03T07:31:26+00:00","dateModified":"2015-10-13T04:07:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya"},"wordCount":889,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forest management &amp; restoration","Governance","Landscapes","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya","name":"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg","datePublished":"2015-07-03T07:31:26+00:00","dateModified":"2015-10-13T04:07:24+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Peneliti mengkaji distribusi keragaman hayati di Indonesia \u2013 mamalia, burung, reptil, dan amfibi, serta 8 keluarga tanaman \u2013 menggunakan tiga parameter kekayaan keragaman hayati. Foto: wikicommons"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Karbon atau keragaman hayati \u2013 Anda tidak bisa mendapat yang terbaik dari keduanya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077","name":"Thomas Hubert","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","caption":"Thomas Hubert"},"description":"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@tom_hubert"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/thomas-hubert"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/30375\/karbon-atau-keragaman-hayati-anda-tidak-bisa-mendapat-yang-terbaik-dari-keduanya#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Komodo_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30375","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30375"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30375\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30375"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=30375"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=30375"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=30375"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=30375"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=30375"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=30375"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=30375"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=30375"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=30375"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=30375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}