{"id":29795,"date":"2015-06-30T14:29:12","date_gmt":"2015-06-30T07:29:12","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=29795"},"modified":"2015-10-13T11:10:09","modified_gmt":"2015-10-13T04:10:09","slug":"dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan","title":{"rendered":"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia\u2014Orangutan jantan dewasa berbobot 90 makan mangga curian dari pohon kebun Anda. Anda tidak suka. Bagaimana mengusirnya?<\/p>\n<p>Menurut ilmuwan konservasi Erik Meijaard, metode terbaik adalah mencari teman, membentuk garis dan bergerak maju sambil melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak.<\/p>\n<p>\u201cSeringkali pejantan besar tidak terlalu terintimidasi, dalam hal ini menyalakan api biasanya membantu membujuk mereka pergi,\u201d kata ilmuwan konsultan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>.<\/p>\n<p>Sayangnya teknik ini belum menjadi pengetahuan umum di Kalimantan, tempat tinggal bagi kurang lebih dari 85 persen orangutan liar yang tersisa di dunia, di mana kejadian konflik manusia-orangutan berakhir dengan kekerasan.<\/p>\n<p>\u201cDalam situasi konfrontasi saya dengar seringkali orang mengamuk. Di satu cerita saya dengar penduduk desa membakar pohon sekaligus orangutan di atasnya,\u201d kata Meijaard.<\/p>\n<blockquote><p><em>Dalam situasi konfrontasi saya dengar seringkali orang mengamuk. Di satu cerita saya dengar penduduk desa membakar pohon sekaligus orangutan di atasnya<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Sementara banyak orangutan lain berakhir di pusat rehabilitasi dengan luka tebasan golok, hingga 1.250 ekor per tahun mati dalam konfrontasi antara manusia dengan kera ini.<\/p>\n<p>Jumlah yang sama dibunuh oleh pemburu, dan populasi orangutan dalam risiko menurun atau punah di lokasi tertentu di Kalimantan, demikian menurut <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5433\/mapping-perceptions-of-species-threats-and-population-trends-to-inform-conservation-efforts-the-bornean-orangutan-case-study\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian terbaru<\/a> yang ditulis Meijaard.<\/p>\n<p><strong>MENEMUKAN TITIK PANAS KONFLIK<\/strong><\/p>\n<p>Dengan total populasi kera di Kalimantan saat ini diperkirakan antara 50.000 hingga 60.000, tingkat kematian ini tidak bisa dilanjutkan.<\/p>\n<p>Jika Indonesia ingin mencapai tujuan <a href=\"http:\/\/news.mongabay.com\/2014\/0324-meijaard-orangutan-commentary.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">rencana aksi orangutan<\/a> yaitu menstabilkan populasi orangutan tahun 2017 maka banyak pekerjaan harus dilakukan untuk memperlambat laju kematian.<\/p>\n<p>Menelisik informasi upaya konservasi, penelitian mengidentifikasi pola spasial dan penyebab konflik manusia-orangutan.<\/p>\n<p>Melalui respon survei terhadap 4.839 penduduk desa di Kalimantan, dan sebagian Sabah, wilayah Kalimantan Malaysia, penelitian mendokumentasikan frekuensi dan lokasi penampakan dan konflik orangutan.<\/p>\n<p>Berdasar analisis data ini, peneliti menyusun \u201ckerangka data spasial\u201d, mengidentifikasi 39 variabel kunci yang penting dalam menentukan konflik dan pembunuhan \u2013 termasuk jarak ke perkebunan sawit dan hutan, sebagai faktor lain.<\/p>\n<p>\u201cKami temukan bahwa konflik manusia &#8211; orangutan bisa terjadi baik di lokasi hutan terpencil maupun di wilayah berpenduduk dengan penggunaan lahan campuran dan aktivitas manusia lebih tinggi,\u201d kata penulis kepala penelitian, Nicola Abram dari Universitas Queensland.<\/p>\n<p>\u201cSatu indikator terkuat adalah kepadatan jalan, konflik lebih besar terjadi di dua ujung spektrum \u2013 di wilayah kepadatan jalan sangat tinggi atau sangat rendah.\u201d<\/p>\n<p>Penelitian ini mengutamakan membangun pola korelasi, tetapi tak terhindarkan kausalitas data temuan.<\/p>\n<blockquote><p><em>Kami temukan konflik manusia-orangutan banyak terjadi baik di lokasi hutan terpencil dan wilayah berpenduduk dengan campuran penggunaan lahan dan aktivitas manusia lebih tinggi<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Di satu pihak, pembunuhan di wilayah aktivitas manusia lebih tinggi diduga akibat konflik tidak sengaja dengan orangutan yang terusir dari habitat alami khususnya akibat konversi lahan menjadi sawit atau tujuan pertanian lain. Tetapi pembunuhan di wilayah terpencil diduga akibat konflik dan perburuan.<\/p>\n<p>\u201cJadi terdapat dualitas,\u201d kata Abram.<\/p>\n<p>\u201c<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/28610\/going-ape-finding-orangutan-refuges-in-borneo#.VWxoMlyqqko\">Masalah sawit<\/a> dan menyempitnya habitat alami adalah penyebab utama pembunuhan, dan ini tercatat dengan baik. Bagaimanapun penyebab di balik perburuan dan pembunuhan di wilayah terpencil kurang dibicarakan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKami menemukan pembunuhan di wilayah hutan berpenduduk kristiani seringkali terkait konsumsi daging orangutan. Muslim secara kultural dilarang makan daging binatang berjari, dan pembunuhan di masyarakat muslim lebih karena konflik daripada perburuan.\u201d<\/p>\n<p><strong>SENGITNYA PEREBUTAN SUMBERDAYA <\/strong><\/p>\n<p>Penelitian Abram tidak secara prinsip menekankan eksaminasi penyebab antropologis yang menyebabkan pembunuhan orangutan, tetapi dalam sebuah <a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosone\/article?id=10.1371\/journal.pone.0075373\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian bersamaan<\/a> yang dilakukan di Kalimantan, juga ditulis bersama Abram dan Meijaard, perburuan untuk pangan diidentifikasi sebagai penyebab signifikan pembunuhan orangutan \u2013 sebanyak 56 persen responden survei menyatakan alasan mereka membunuh orangutan adalah untuk dimakan.<\/p>\n<p>Beragamnya penyebab pembunuhan harus membuat perbedaan penerapan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/28610\/going-ape-finding-orangutan-refuges-in-borneo#.VXU3QFWqqko\">strategi konservasi<\/a> dalam mengatasinya, dan penelitian memberi sejumlah rekomendasi.<\/p>\n<p>Di wilayah tempat pembunuhan terjadi akibat perburuan pangan atau sebagai \u201ctangkapan tak sengaja\u201d, penelitian menyatakan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/4606\/orangutan-survival-rests-on-conservation-education-an-interview-with-dr-birute-galdikas#.VWxqe1yqqko\">program pejangkauan<\/a> seharusnya memberikan edukasi dan merubah sikap terhadap perburuan orangutan. Masalah lain yang muncul adalah lemahnya penegakkan hukum, walaupun jelas membunuh orangutan melanggar hukum.<\/p>\n<p>Mempertimbangkan meningkatnya konflik manusia-orangutan akibat perebutan lahan dan pangan, penelitian menyarankan tindakan lain, termasuk proteksi hukum lebih besar terhadap habitat, manajemen efektif legal mewajibkan wilayah konservasi dalam perkebunan individual, kampanye kesadaran publik, dan, sekali lagi, memperkuat pengawasan dan penegakkan hukum melawan pembunuhan.<\/p>\n<p>\u201cUntuk masyakat Muslim, saya menyarankan merangkul pemimpin agama untuk meningkatkan kesadaran <a href=\"http:\/\/news.nationalgeographic.com\/news\/2014\/03\/140304-fatwa-indonesia-wildlife-trafficking-koran-world\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">fatwa<\/a> mengenai membunuh spesies terancam. Kampanye media lokal bisa sangat efektif. Tetapi jelas fatwa tidak bisa diterapkan di masyarakat kristen, jadi pendekatan kita harus bisa diterapkan,\u201d kata Meijaard.<\/p>\n<blockquote><p><em>Masalah sawit dan menyempitnya habitat alami adalah penyebab utama pembunuhan, dan ini tercatat dengan baik. Namun penyebab perburuan dan pembunuhan di wilayah terpencil kurang dibicarakan<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Walaupun solusi konservasi bisa bergantung pada konteks sosial, Abram yakin model spasial yang dibangun untuk memprediksi konflik bisa diterapkan di wilayah berbeda.<\/p>\n<p>\u201cVariabel terpenting yang membangun model adalah variabel pemanfaatan lahan, dan tutupan lahan, serta persepsi orang mengenai tingkat populasi orangutan, dan faktor-faktor tersebut bisa dengan mudah diterjemahkan dalam <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/23834\/landscape-approach-defies-simple-definition-and-thats-good#.VXU5rFWqqko\">bentang alam lain<\/a>, baik di wilayah lain Kalimantan, dan mungkin Sumatera,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cDemografi religius dominan juga faktor signifikan, tetapi kita bisa mendapatkan data ini di wilayah lain.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDari model ini ada potensi mengantisipasi masalah secara proaktiv dan memperkaya informasi tata kelola bentang alam lebih baik.\u201d<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai penelitian CIFOR dalam konservasi orangutan di Kalimantan, silahkan hubungi Erik Meijaard  di <\/strong><a href=\"mailto:emeijaard@gmail.com\"><strong>emeijaard@gmail.com<\/strong><\/a><\/p>\n<p><em>Penelitian CIFOR mengenai orangutan di Kalimantan adalah bagian dari <\/em><a href=\"http:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia\u2014Orangutan jantan dewasa berbobot 90 makan mangga curian dari pohon kebun Anda. Anda tidak suka. Bagaimana mengusirnya? Menurut ilmuwan konservasi Erik Meijaard, metode terbaik adalah mencari teman, membentuk garis dan bergerak maju sambil melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak. \u201cSeringkali pejantan besar tidak terlalu terintimidasi, dalam hal ini menyalakan api biasanya membantu membujuk mereka pergi,\u201d kata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":182,"featured_media":35828,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,137,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2898,2489,2520,3753],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[2078],"class_list":["post-29795","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-erik-meijaard","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-nicola-abram","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia\u2014Orangutan jantan dewasa berbobot 90 makan mangga curian dari pohon kebun Anda. Anda tidak suka. Bagaimana mengusirnya? Menurut ilmuwan konservasi Erik Meijaard, metode terbaik adalah mencari teman, membentuk garis dan bergerak maju sambil melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak. \u201cSeringkali pejantan besar tidak terlalu terintimidasi, dalam hal ini menyalakan api biasanya membantu membujuk mereka pergi,\u201d kata [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-06-30T07:29:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T04:10:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"334\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Jack Hewson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jack_s_hewson\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\"},\"author\":{\"name\":\"Jack Hewson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78\"},\"headline\":\"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan\",\"datePublished\":\"2015-06-30T07:29:12+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T04:10:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\"},\"wordCount\":846,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/sundy-500x334_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\",\"name\":\"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/sundy-500x334_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-06-30T07:29:12+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T04:10:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/sundy-500x334_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/sundy-500x334_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":334,\"caption\":\"Ini masalah semua orang: Di Kalimantan, konflik manusia-orangutan terjadi di lokasi hutan terpencil maupun wilayah lebih padat penduduk. Foto: Terry Sunderland\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78\",\"name\":\"Jack Hewson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=gbf00a2bf5110f830d8c59b9822f45205\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Jack Hewson\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@jack_s_hewson\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jackhewson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/29795\\\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan","og_description":"BOGOR, Indonesia\u2014Orangutan jantan dewasa berbobot 90 makan mangga curian dari pohon kebun Anda. Anda tidak suka. Bagaimana mengusirnya? Menurut ilmuwan konservasi Erik Meijaard, metode terbaik adalah mencari teman, membentuk garis dan bergerak maju sambil melambai-lambaikan tangan dan berteriak-teriak. \u201cSeringkali pejantan besar tidak terlalu terintimidasi, dalam hal ini menyalakan api biasanya membantu membujuk mereka pergi,\u201d kata [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-06-30T07:29:12+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T04:10:09+00:00","og_image":[{"width":500,"height":334,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Jack Hewson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jack_s_hewson","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan"},"author":{"name":"Jack Hewson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78"},"headline":"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan","datePublished":"2015-06-30T07:29:12+00:00","dateModified":"2015-10-13T04:10:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan"},"wordCount":846,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan","name":"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg","datePublished":"2015-06-30T07:29:12+00:00","dateModified":"2015-10-13T04:10:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg","width":500,"height":334,"caption":"Ini masalah semua orang: Di Kalimantan, konflik manusia-orangutan terjadi di lokasi hutan terpencil maupun wilayah lebih padat penduduk. Foto: Terry Sunderland\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dimana, kapan, dan mengapa: Konflik manusia dan orangutan di Kalimantan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3a64a92c6a0f90742c52e31196d3bd78","name":"Jack Hewson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=gbf00a2bf5110f830d8c59b9822f45205","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3baba62d79359dcb0cdf81cd0611fca07997b4c843f360a1434f51ba644473c5?s=96&d=mm&r=g","caption":"Jack Hewson"},"sameAs":["https:\/\/x.com\/@jack_s_hewson"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jackhewson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/29795\/dimana-kapan-dan-mengapa-konflik-manusia-dan-orangutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/sundy-500x334_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29795","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/182"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29795"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29795\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35828"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29795"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29795"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29795"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=29795"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=29795"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=29795"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=29795"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=29795"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=29795"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=29795"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=29795"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=29795"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=29795"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}