{"id":28967,"date":"2015-06-08T14:51:32","date_gmt":"2015-06-08T07:51:32","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=28967"},"modified":"2015-10-13T11:24:34","modified_gmt":"2015-10-13T04:24:34","slug":"ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan","title":{"rendered":"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia: Jika sebatang pohon di hutan hujan tumbang, apakah investor peduli pohon benar-benar tumbang \u2026 atau ditebang?<\/p>\n<p>Lebih banyak lagi investor peduli bagaimana dan mengapa pohon menimpa tanah hutan. Dan untuk sektor investasi publik dan swasta, ada cara canggih mengalirkan dana bagi <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/28558\/piecing-together-the-green-investment-puzzle\">bentang alam berkelanjutan<\/a>, melalui proyek pemodalan pertanian, kehutanan atau pertambangan terverifikasi pencegahan deforestasi serta menghargai hak masyarakat lokal.<\/p>\n<p>Investasi seperti ini di bentang alam tropis, seringkali mempunyai beresiko besar, karena sulitnya pengawasan sebaran uang di lokasi terpencil tempat petani kecil tinggal, atau pekerjaan tsb dilakukan di negara dengan tata kelola lemah.<\/p>\n<p>Proyek-proyek ini juga bisa terhenti akibat perlawanan lokal atau tidak menguntungkan.<\/p>\n<p>Beberapa lembaga keuangan merancang dana terstruktur yang didukung badan pemerintah dari negara donor menanggung beban setara dalam kehilangan utama saat kinerja buruk.<\/p>\n<blockquote><p><em>Makin tampak bagi investor bahwa ada risiko ketika terlibat dalam produksi \u2018barang kotor\u2019 \u2026 komoditas terkait deforestasi dan masalah sosial<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Makin senior (lebih aman) tingkatnya, dana dapat diberikan menjadi utang daripada ekuitas, hingga menjamin modal terlindung dari kerugian, yang menarik investor swasta.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.eib.europa.eu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bank Investasi Eropa (EIB)<\/a>, salah satu lembaga pencipta sekaligus pendukung metode tsb, menyuntikkan 200 juta Euro <a href=\"http:\/\/www.eib.europa.eu\/products\/lending\/equity_funds\/infrastructure_equity_funds\/geeref.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Dana Efisiensi Energi Global dan Energi Terbarukan (GEEREF).<\/a><\/p>\n<p>GEEREF diawali dana dari Uni Eropa, Norwegia dan Jerman, kemudian bergabung investor swasta, yang menjamin keuntungan menjanjikan. Lembaga ini berinvestasi pada dana yang terfokus pada proyek energi terbarukan dan efisiensi energi di negara berkembang.<\/p>\n<p>EIB \u201cmembawa pengalaman melapisi risiko proyek bagi pendana dan membagi risiko tersebut pada investor yang sesuai,\u201d kata penasihat manajerial transaksi terstruktur dan dana investasi James Ranaivoson.<\/p>\n<p>\u201cKami pikir hal ini cara terbaik meningkatkan dana publik dan jalan maju bagi pendanaan iklim.\u201d<\/p>\n<p><strong>MENJADI HIJAU, MENUJU GLOBAL<\/strong><\/p>\n<p>Direktur penelitian hutan dan tata kelola <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a> Steven Lawry menyatakan skema seperti itu tidak lagi \u201cmenarik, berdampak pada investor\u201d dan kegagalan mencapai kriteria keberlanjutan kini menjadi agenda investor arus utama.<\/p>\n<p>\u201cMakin tampak bagi investor bahwa ada risiko terlibat dalam produksi \u2018barang kotor\u2019, yaitu komoditas terkait dengan deforestasi dan masalah sosial,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Hal ini dapat memberi dampak biaya finansial langsung, kata Coralie David, analis kebijakan investasi pertanian di <a href=\"http:\/\/www.oecd.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">OECD<\/a>.<\/p>\n<p>Penelitian terhadap 39 investasi agribisnis skala besar oleh <a href=\"http:\/\/www.worldbank.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bank Dunia<\/a> dan <a href=\"http:\/\/unctad.org\/en\/Pages\/Home.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB<\/a> menunjukkan \u201cbahwa dampak buruk terbesar adalah perebutan akses lahan. Perusahaan sering mengabaikan biaya konflik dengan masyarakat terdampak,\u201d kata David.<\/p>\n<p>Ia juga mengutip penelitian oleh <a href=\"http:\/\/www.shiftproject.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Shift Project<\/a> pada 2014 ketika satu perusahaan memperkirakan potensi biaya risiko non-teknis beragam proyeknya lebih dari 3 miliar dolar AS per tahun, menggambarkan persentase dua digit keuntungannya.<\/p>\n<p>Reputasi juga menjadi faktor kunci, kata David, ketika LSM cepat menyebar pengetahuan produksi tak berkelanjutan yang meningkatkan kesadaran konsumen di negara maju.<\/p>\n<p>Sementara investor terorganisir seperti dana pensiun biasanya berjarak dari perusahaan yang mereka biayai di pasar garis depan, dana ekuitas swasta langsung berpartisipasi dalam modal mereka.<\/p>\n<p>\u201cMereka lebih dekat dan bertanggungjawab mengidentifikasi dan memitigasi risiko,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cJika mereka mendanai perusahaan pangan-agri yang merugikan masyarakat lokal, mereka terancam risiko reputasional.\u201d<\/p>\n<blockquote><p><em>Reputasi penting bagi perusahaan besar, tetapi industri biasa kurang menawarkan insentif pada produsen domestik: risiko mereka berbeda<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Ia mencatat perusahaan agri-pangan besar termasuk <a href=\"http:\/\/www.coca-colacompany.com\/topics\/sustainability\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Coca Cola<\/a> dan <a href=\"http:\/\/www.pepsico.com\/Purpose\/Environmental-Sustainability\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pepsico<\/a>, telah berkomitmen kuat membatasi dampak buruk pada masyarakat lokal dalam rangka mengurangi risiko reputasi merek mereka.<\/p>\n<p><strong>KONSUMEN DAN MEDIA SOSIAL<\/strong><\/p>\n<p>Beberapa sesi di <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/london\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pertemuan Forum Bentang alam Global mengenai investasi di London 10 Juni<\/a> akan mengatasi pendekatan berbasis risiko pada investasi dalam bentang alam tropis.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/london\/agenda-item\/day-1-june-10\/expert-clusters-1-removing-roadblocks-6-parallel-sessions\/dealing-with-climate-and-environmental-risks-lessons-from-the-insurance-sector\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Salah satunya<\/a> akan mendiskusikan peran industri asuransi: jika lemahnya keberlanjutan memberi risiko, maukah investor meyakinkan diri  menghadapinya dan perusahaan perusahaan asuransi memberi nilai pasarnya?<\/p>\n<p>Peneliti CIFOR, Lawry menyatakan kesadaran perlunya keberlanjutan telah diterjemahkan menjadi manajemen risiko umum oleh industri keuangan.<\/p>\n<p>\u201cInvestor terdampak menyatakan begini: Jika Anda ingin memproduksi barang kotor, kami akan pinjamkan uang \u2013 tetapi dengan bunga tinggi setara tingginya dengan risiko meningkatnya ketelitian konsumen,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lawry percaya pergeseran ini adalah bagian dari gerakan yang lebih luas dalam manajemen bentang alam tropis: setelah 200 tahun kepemilikan hutan dan lahan pertanian oleh negara, meningkatnya konsumen, media (khususnya media sosial di tahun-tahun terakhir ini), dan agitasi investor pada produksi berkelanjutan telah mengurangi peran regulasi tradisional pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cJuga karena semakin besarnya proporsi komoditas yang diproduksi di bawah kesepakatan tata kelola non-pemerintah\u201d seperti skema sertifikasi atau inisiatif sukarela industri, katanya.<\/p>\n<p>Rekan Lawry, Sophia Gnych meneliti motivasi perusahaan menerapkan standar sukarela berbasis-pasar.<\/p>\n<p>\u201cRisiko adalah kuncinya,\u201d katanya. \u201cIni soal preservasi diri.\u201d<\/p>\n<p>Tetapi, katanya, tidak semua pemangku kepentingan rantai nilai komoditas tropis melihat dengan cara serupa.<\/p>\n<p>\u201cReputasi penting bagi perusahaan besar, tetapi industri biasanya kurang menawarkan insentif pada produser domestik lebih kecil: risiko mereka beda,\u201d katanya \u2013 khususnya dalam memandang biaya tinggi terkait mitigasi risiko keberlanjutan.<\/p>\n<p>Salah satu perusahaan manajemen aset berbasis-AS menempatkan pendekatan baru ini pada prakteknya adalah Calvert, pimpinannya <a href=\"https:\/\/www.conftool.com\/landandpoverty2015\/index.php\/Streur-975-975_ppt.pptx?page=downloadPaper&amp;filename=Streur-975-975_ppt.pptx&amp;form_id=975&amp;form_index=2&amp;form_version=final\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">John Streur<\/a> berbicara pada diskusi panel yang digelar CIFOR sebagai bagian <a href=\"http:\/\/www.worldbank.org\/en\/news\/video\/2015\/04\/09\/impact-of-private-sector-esg-commitments-in-the-palm-oil-sector\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konferensi Bank Dunia mengenai Lahan dan Kemiskinan<\/a> Maret lalu.<\/p>\n<p>Streur menyatakan Calvert mengelola 13.5 miliar dolar AS investasi dalam perusahaan yang secara layak mengelola risiko \u201clingkungan, sosial dan tata kelola\u201d dalam operasinya.<\/p>\n<p>Firma tersebut melakukan \u201canalisis investasi tradisional\u201d pada mereka, kata Streur, selain penilaian pada lingkungan, hak masyarakat asli dan kriteria keberlanjutan lainnya.<\/p>\n<blockquote><p><em>Investor terdampak menyatakan begini: jika Anda mau memproduksi barang kotor, kita akan pinjamkan uang \u2013 tetapi dengan bunga tinggi setara tingginya risiko terkait meningkatnya ketelitian konsumen<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Sektor finansial dapat berkontribusi pada \u201cpendekatan sistem berkelanjutan untuk mengurangi risiko rantai suplai,\u201d kata Streur, dengan menciptakan alat seperti \u201cindeks nol-deforestasi\/nol-degradasi menjadi standar performa\u201d atau \u201clarangan pemanfaatan buruh anak dan kerja paksa serta pengembangan Stok Karbon Tinggi, Nilai Konservasi Tinggi, dan lahan gambut\u201d.<\/p>\n<p>Sekali investor berkomitmen pada pertaruhan itu dalam perusahaan yang terpapar risiko itu, kata Streur mereka seharusnya \u201cterlibat di ruang dewan\u201d untuk memantau dan meningkatkan praktik mereka.<\/p>\n<p><strong>STANDAR INTERNASIONAL<\/strong><\/p>\n<p>Untuk membantu investor menemukan jalan melalui liku-liku standar internasional yang ada mengenai investasi bertanggungjawab, OECD dan <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/home\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Organisasi Pangan dan Pertanian PBB<\/a> membuat <a href=\"http:\/\/mneguidelines.oecd.org\/rbc-agriculture-supply-chains.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Panduan Rantai Suplai Pertanian Bertanggungjawab<\/a> yang akan dipublikasikan Juni, segera setelah Forum Bentang alam Global.<\/p>\n<p>Panduan ini \u201cmenyempitkan daftar standar pada yang secara luas diakui melalui proses antar-pemerintah,\u201d kata Coralie David.<\/p>\n<p>Ini mencakup <a href=\"http:\/\/www.oecd.org\/corporate\/mne\/oecdguidelinesformultinationalenterprises.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Panduan untuk Perusahaan Multinasional<\/a> OECD yang diikuti 46 negara dan memasukkan mekanisme pengaduan untuk menyelesaikan perselisihan; dan <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/cfs\/cfs-home\/resaginv\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Prinsip Investasi Bertanggungjawab Sistem Pertanian dan Pangan<\/a> yang dikembangkan <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/cfs\/cfs-home\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Komite Keamanan Pangan Dunia<\/a>.<\/p>\n<p>Koordinator global kerangka kerja penilaian tata kelola lahan Bank Dunia, Thea Hilhorst, menyatakan bahwa analisis inventarisasi oleh badan statistik nasional mengenai semua proyek investasi lahan yang ditetapkan pemerintah baik pada investor lokal dan internasional, bisa memberi data dan perbandingan yang diperlukan pemerintah untuk menyaring perusahaan masuk.<\/p>\n<p>\u201cSiapa investor yang benar-benar bertani dan bagaimana pemanfaatan lahan dan produktivitasnya? Apa manfaat bagi masyarakat lokal dalam arti tenaga kerja dan limpahan lain seperti teknologi pertanian kecil?<\/p>\n<p>\u201cMemberi pemerintah data ini dapat membantu mereka menilai risiko terkait proyek baru dan merancang kebijakan untuk investasi gagal. Jika yang ada tidak berhasil, lahan bisa direalokasi untuk proyek baru daripada membuka hutan baru,\u201d kata Hilhorst, sekaligus mengingatkan bahwa menyaring semua proyek investasi melawan kriteria keberlanjutan mengenai peningkatan buruh dan pengetahuan serta membutuhkan kapasitas.<\/p>\n<p>Dan ketika semua pohon terus tumbang di hutan, Lawry menyatakan bahwa ilmuwan tertarik mengukur dampak inisiatif yang didorong sektor non-pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cJika ikrar nol-deforestasi industri diterapkan, akankah mereka memberi dampak lebih daripada REDD+, yang merupakan model berpusat-pada-negara?\u201d tanyanya.<\/p>\n<p>\u201cKita terfokus pada hal ini \u2013 dan kita gembira akan hal ini.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia: Jika sebatang pohon di hutan hujan tumbang, apakah investor peduli pohon benar-benar tumbang \u2026 atau ditebang? Lebih banyak lagi investor peduli bagaimana dan mengapa pohon menimpa tanah hutan. Dan untuk sektor investasi publik dan swasta, ada cara canggih mengalirkan dana bagi bentang alam berkelanjutan, melalui proyek pemodalan pertanian, kehutanan atau pertambangan terverifikasi pencegahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":35837,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,137,95,1072,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2587,3562,2522,2580,3563,3565,2516,2684,3564,3561,3566],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1041],"class_list":["post-28967","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-human-wellbeing","category-landscapes","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-coralie-david","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-investasi","tag-bahasa-james-ranaivoson","tag-bahasa-john-streur","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-nol-deforestasi","tag-bahasa-sophia-gnych","tag-bahasa-steven-lawry","tag-bahasa-thea-hilhorst","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia: Jika sebatang pohon di hutan hujan tumbang, apakah investor peduli pohon benar-benar tumbang \u2026 atau ditebang? Lebih banyak lagi investor peduli bagaimana dan mengapa pohon menimpa tanah hutan. Dan untuk sektor investasi publik dan swasta, ada cara canggih mengalirkan dana bagi bentang alam berkelanjutan, melalui proyek pemodalan pertanian, kehutanan atau pertambangan terverifikasi pencegahan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-06-08T07:51:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T04:24:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"351\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Thomas Hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@tom_hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\"},\"author\":{\"name\":\"Thomas Hubert\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\"},\"headline\":\"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan\",\"datePublished\":\"2015-06-08T07:51:32+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T04:24:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\"},\"wordCount\":1185,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/204-500x351_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Human well-being\",\"Landscapes\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\",\"name\":\"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/204-500x351_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-06-08T07:51:32+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T04:24:34+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/204-500x351_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/06\\\/204-500x351_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":351,\"caption\":\"Berinvestasi bentang alam tropis, seringkali mempunyai beresiko besar, karena sulitnya pengawasan sebaran uang di lokasi terpencil tempat petani kecil tinggal, atau pekerjaan tsb dilakukan di negara dengan tata kelola lemah. Foto: Pixabay\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\",\"name\":\"Thomas Hubert\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Thomas Hubert\"},\"description\":\"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@tom_hubert\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/thomas-hubert\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28967\\\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan","og_description":"BOGOR, Indonesia: Jika sebatang pohon di hutan hujan tumbang, apakah investor peduli pohon benar-benar tumbang \u2026 atau ditebang? Lebih banyak lagi investor peduli bagaimana dan mengapa pohon menimpa tanah hutan. Dan untuk sektor investasi publik dan swasta, ada cara canggih mengalirkan dana bagi bentang alam berkelanjutan, melalui proyek pemodalan pertanian, kehutanan atau pertambangan terverifikasi pencegahan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-06-08T07:51:32+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T04:24:34+00:00","og_image":[{"width":500,"height":351,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Thomas Hubert","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@tom_hubert","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan"},"author":{"name":"Thomas Hubert","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077"},"headline":"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan","datePublished":"2015-06-08T07:51:32+00:00","dateModified":"2015-10-13T04:24:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan"},"wordCount":1185,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Human well-being","Landscapes","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan","name":"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg","datePublished":"2015-06-08T07:51:32+00:00","dateModified":"2015-10-13T04:24:34+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg","width":500,"height":351,"caption":"Berinvestasi bentang alam tropis, seringkali mempunyai beresiko besar, karena sulitnya pengawasan sebaran uang di lokasi terpencil tempat petani kecil tinggal, atau pekerjaan tsb dilakukan di negara dengan tata kelola lemah. Foto: Pixabay"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ini saatnya mengambil risiko berinvestasi dalam bentang alam berkelanjutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077","name":"Thomas Hubert","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","caption":"Thomas Hubert"},"description":"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@tom_hubert"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/thomas-hubert"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28967\/ini-saatnya-mengambil-risiko-berinvestasi-dalam-bentang-alam-berkelanjutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/204-500x351_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28967","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28967"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28967\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28967"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28967"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28967"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=28967"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=28967"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=28967"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=28967"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=28967"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=28967"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=28967"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=28967"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=28967"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=28967"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}