{"id":28075,"date":"2015-04-23T13:24:22","date_gmt":"2015-04-23T06:24:22","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=28075"},"modified":"2015-10-13T14:36:15","modified_gmt":"2015-10-13T07:36:15","slug":"masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar","title":{"rendered":"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar"},"content":{"rendered":"<p>Seiring dengan <a href=\"http:\/\/www.unep.org\/unea\/the-escalating-illegal-trade-in-wildlife-and-timber.asp\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meningkatnya perdagangan satwa liar ilegal<\/a> di dunia, banyak pemerintah dan lembaga konservasi meningkatkan respon tindakan: meningkatkan pemantauan, pengawasan, denda, penggerebegan, dan bahkan pelibatan tentara.<\/p>\n<p>Hal ini memunculkan kritik terhadap strategi konservasi tindakan, dan pendalaman peran masyarakat lokal dalam mengatasi perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar. Bagaimanapun mempertentangkan strategi konservasi berbasis tindakan dan berbasis masyarakat sedikit tidak membantu. Ketika menghadapi perdagangan ilegal spesies bernilai tinggi, dua hal ini bisa jadi strategi konservasi yang tidak terpisahkan.<\/p>\n<p><strong>RESPON BERBASIS-TINDAKAN<\/strong><\/p>\n<p>Peningkatan upaya tindakan oleh negara menghadapi keterbatasan ini serius. Militerisasi zona konservasi badak dan gajah di Afrika, dan <a href=\"http:\/\/eia-international.org\/the-siamese-rosewood-craze-for-whom-the-bell-tolls\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">wilayah perlindungan pohon sonokeling (<em>Dalbergia<\/em><em> <\/em>spp.) di Asia Tenggara<\/a>, seringkali menyebabkan kematian penjarah dan petugas serta tingginya biaya sosial dan finansial. Terlebih lagi, konservasi berbasis tindakan melemahkan motivasi konservasi lokal dan hak pada sumber daya alam liar.<\/p>\n<p>Sayangnya hasil dari meningkatnya konservasi tindakan negara ini belum jelas. Strategi tindakan eksklusif mungkin tidak bisa <a href=\"http:\/\/www.environmentalevidence.org\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/CEE10-007.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berhasil dalam beberapa keadaan<\/a>. Terdapat banyak contoh upaya tindakan untuk mengurangi perdagangan ilegal, khususnya produk liar bernilai tinggi, seperti minyak gaharu (<em>Acquilaria<\/em><em> <\/em>spp.) untuk minyak wangi, spesies kayu bernilai tinggi, cula badak, gading gajah, sirip hiu dan kulit harimau.<\/p>\n<p>Para konservasionis mencoba mengkaji model dan yang cara terbaik mengatasi perdagangan alam liar.<\/p>\n<p><strong>EVALUASI MODEL BERBASIS MASYARAKAT<\/strong><\/p>\n<p>Praktisi konservasi dan akademisi bertemu baru-baru ini dekat Johannesburg, Afrika Selatan dalam simposium \u2013 <a title=\"Opens in a new window\" href=\"http:\/\/www.iucn.nl\/en\/?18968\/Community-led-solutions-key-force-in-tackling-wildlife-crime\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Beyond Enforcement: Communities, governance and sustainable use in combating wildlife crime<\/a>.<\/p>\n<p>Pertemuan menyoroti studi kasus bagaimana masyarakat dunia mengatasi perburuan dan perdagangan ilegal baik tanaman dan satwa liar. Semua didasarkan pada gagasan bahwa ketika masyarakat melihat manfaat bermakna dan langsung pada konservasi alam liar, mereka dapat, dan sering termotivasi untuk melindungi.<\/p>\n<p>Manfaat finansial dan non-finansial bagi individu dan masyarakat terbukti memotivasi penduduk lokal terlibat dalam konservasi, dan juga mengeluarkan dan menghukum pelaku perdagangan alam liar ilegal. Diskusi kasus pada simposium menyoroti perlunya mengidentifikasi insentif terbuka, berkelanjutan bagi masyarakat yang mengalahkan godaan perdagangan ilegal.<\/p>\n<p>Contohnya, di banyak lembaga konservasi Namibia hak memanfaatkan dan mengambil alam liar dilimpahkan pada pemilik lahan dan masyarakat lokal. Model ini sangat bergantung pada perburuan berhadiah, yang membiayai konservasi dan pembangunan desa, serta menyediakan daging bagi penduduk lokal.<\/p>\n<p>Di tempat yang lain, LSM, lembaga pemerintah atau pemilik lahan swasta memiliki kendali tertentu terhadap sejumlah sumber alam liar, tetapi membagi manfaat dengan masyarakat lokal.<\/p>\n<p>Beberapa model di negara Kenya melibatkan operator pariwisata swasta yang menyewa lahan konservasi langsung dari masyarakat lokal, dan juga menjamin lapangan kerja lokal. Di lain tempat konservasi memberi manfaat tak langsung: Pariwisata gorila gunung di Rwanda, misalnya, memberi 5 persen dolar pariwisata untuk proyek pembangunan yang dikembangkan masyarakat.<\/p>\n<p><strong>CUKUP INSENTIF?<\/strong><\/p>\n<p>Insentif bisa menjadi upaya melawan perdagangan ilegal alam liar bernilai tinggi.<\/p>\n<p>Bukti dari simposium menyoroti bahwa pariwisata seringkali gagal memberikan insentif finansial layak dan terandalkan. Keterbatasan serupa terjadi ketika tergantung pembiayaan donor konservasi. Banyak peserta lokakarya berbicara perlunya aliran insentif yang signifikan dan beragam bagi penduduk lokal.<\/p>\n<p>Lebih jauh, sangat banyak bukti menunjukkan bahwa tindakan tetap penting, bahkan di tempat insentif konservasi ada.<\/p>\n<p>Perdagangan ilegal alam liar terjadi bahkan dalam konservasi berbasis masyarakat yang sangat berhasil. Insentif perdagangan banyak spesies bernilai tinggi seringkali terlalu tinggi untuk ditandingi, atau bisa tetap menarik bagi sejumlah kecil penduduk lokal. Dalam kasus-kasus lain, perdagangan disebabkan orang luar. Penduduk lokal sulit mengatasi pedagang terorganisir, bersenjata yang sering terkait dengan alam liar bernilai tinggi.<\/p>\n<p>Dalam beberapa kejadian, lembaga tindakan Negara, dengan otoritas dan pengalaman cukup yang dapat mengincar pelaku tetap diperlukan bagi konservasi. Tindakan dan hukuman adil juga pening dalam menciptakan disinsentif transparan bagi alam liar ilegal. Tindakan seperti itu juga penting dalam menjaga hak masyarakat, termasuk pemanfaatan berkelanjutan sumber alam liar.<\/p>\n<p>Masyarakat juga memiliki peran vital dalam proses tindakan formal. Penduduk lokal sering memiliki kepakaran serta \u201cmata dan telinga\u201d di lapangan dalam mendukung konservasi. Pemantuan dan pelaporan lokal dapat lebih terarah, efisien dan berkelanjutan dibanding tindakan Negara.<\/p>\n<p><strong>KEMITRAAN MASYARAKAT-TINDAKAN<\/strong><\/p>\n<p>Lokakarya menyoroti solusi berbasis tindakan dan berbasis masyarakat bukan jawaban tunggal atau terisolasi. Fokus sempit tindakan negara menimbulkan biaya sosial dan ekonomi tinggi, dan harus mengakui peluang besar bagi model konservasi lokal berbasis insentif. Bagaimanapun, model masyarakat bukan panasea, dan tetap rentan terhadap tantangan perdagangan ilegal. Peran ganda tindakan negara dan pelibatan masyarakat telah diakui luas.<\/p>\n<p>Mengaktivasi kemitraan masyarakat-tindakan membutuhkan pemahaman bagaimana akses terhadap hak dan insentif konservasi mempengaruhi pengambilan keputusan aktor lokal. Tetapi kemitraan produktif antara penduduk lokal dan lembaga penegakkan hukum negara membutuhkan lebih dari uang. Sejarah opresi, ketidakadilan sosial, dan ekslusi masyarakat, membuat upaya menciptakan hubungan positif antara masyarakat dan badan hukum tindakan formal menjadi tantangan.<\/p>\n<p>Pelibatan langsung, persepsi tanggungjawab dan keadilan juga menjadi penting dalam meraih dukungan masyarakat melindungi alam liar bernilai tinggi. Jenis-jenis umpan balik keadilan-lingkungan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/24657\/social-equity-in-payment-for-environmental-services-schemes\">makin terdokumentasi dengan baik di beragam konteks.<\/a><\/p>\n<p>Penduduk lokal adalah pemangku kepentingan vital dalam perang melawan perdagangan ilegal alam liar dan terdapat kebutuhan memahami bagaiman mengakui hak dan motivasi penduduk lokal bisa membantu melawan perdangan. Bagaimanapun, model berbasis masyarakat tidak lantas mengganti tindakan negara dalam mengatasi perdagangan alam liar.<\/p>\n<p><strong>Jacob Phelps adalah ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).<\/strong><strong> <\/strong><strong>Duan Biggs adalah Mitra Riset dari Pusat Keunggulan Keputusan Lingkungan di Universitas Queensland. <\/strong><\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai perdagangan ilegal dan tindakan konservasi alam liar silahkan hubungi <\/strong><a href=\"mailto:j.phelps@cgiar.org\"><strong>j.phelps@cgiar.org<\/strong><\/a><strong> atau <\/strong><a href=\"mailto:d.biggs@uq.edu.au\"><strong>d.biggs@uq.edu.au<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seiring dengan meningkatnya perdagangan satwa liar ilegal di dunia, banyak pemerintah dan lembaga konservasi meningkatkan respon tindakan: meningkatkan pemantauan, pengawasan, denda, penggerebegan, dan bahkan pelibatan tentara. Hal ini memunculkan kritik terhadap strategi konservasi tindakan, dan pendalaman peran masyarakat lokal dalam mengatasi perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar. Bagaimanapun mempertentangkan strategi konservasi berbasis tindakan dan berbasis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":131,"featured_media":27905,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[137,13],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2520,2590,2627,2682],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1468,2060],"class_list":["post-28075","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forest-management-restoration","category-governance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-perburuan-liar","tag-bahasa-perdagangan-satwa-liar","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Seiring dengan meningkatnya perdagangan satwa liar ilegal di dunia, banyak pemerintah dan lembaga konservasi meningkatkan respon tindakan: meningkatkan pemantauan, pengawasan, denda, penggerebegan, dan bahkan pelibatan tentara. Hal ini memunculkan kritik terhadap strategi konservasi tindakan, dan pendalaman peran masyarakat lokal dalam mengatasi perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar. Bagaimanapun mempertentangkan strategi konservasi berbasis tindakan dan berbasis [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-04-23T06:24:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T07:36:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"705\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Jacob Phelps, Duan Biggs\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@_JPhelps\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\"},\"author\":{\"name\":\"Jacob Phelps\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956\"},\"headline\":\"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar\",\"datePublished\":\"2015-04-23T06:24:22+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T07:36:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\"},\"wordCount\":861,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/43.jpg\",\"articleSection\":[\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\",\"name\":\"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/43.jpg\",\"datePublished\":\"2015-04-23T06:24:22+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T07:36:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/43.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/43.jpg\",\"width\":1000,\"height\":705,\"caption\":\"Patroli militer di zona konservasi gajah di Afrika seringkali menyebabkan kematian para penjarah dan petugas, selain juga tingginya biaya sosial dan finansial. Photo courtesy: Doug Kukurudza\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956\",\"name\":\"Jacob Phelps\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g616b4ce8359fed2ae816e458fc993080\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Jacob Phelps\"},\"description\":\"Jacob Phelps is a scientist in CIFOR's Forest Governance Portfolio. He has broad research interests, including related to forest sector law enforcement, the illegal wildlife\\\/timber trade, and the design of Payment for Ecosystem Services schemes. Prior to joining CIFOR, he was based in Thailand, where he conducted research on region's illegal botanical trade. He holds a Ph.D. in biology from the National University of Singapore, and completed his M.Phil. in geography at the University of Cambridge and his B.S. in Environmental Science and Management at Michigan State University.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@_JPhelps\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jacob-phelps\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/28075\\\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar","og_description":"Seiring dengan meningkatnya perdagangan satwa liar ilegal di dunia, banyak pemerintah dan lembaga konservasi meningkatkan respon tindakan: meningkatkan pemantauan, pengawasan, denda, penggerebegan, dan bahkan pelibatan tentara. Hal ini memunculkan kritik terhadap strategi konservasi tindakan, dan pendalaman peran masyarakat lokal dalam mengatasi perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar. Bagaimanapun mempertentangkan strategi konservasi berbasis tindakan dan berbasis [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-04-23T06:24:22+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T07:36:15+00:00","og_image":[{"width":1000,"height":705,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Jacob Phelps, Duan Biggs","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@_JPhelps","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar"},"author":{"name":"Jacob Phelps","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956"},"headline":"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar","datePublished":"2015-04-23T06:24:22+00:00","dateModified":"2015-10-13T07:36:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar"},"wordCount":861,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg","articleSection":["Forest management &amp; restoration","Governance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar","name":"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg","datePublished":"2015-04-23T06:24:22+00:00","dateModified":"2015-10-13T07:36:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg","width":1000,"height":705,"caption":"Patroli militer di zona konservasi gajah di Afrika seringkali menyebabkan kematian para penjarah dan petugas, selain juga tingginya biaya sosial dan finansial. Photo courtesy: Doug Kukurudza"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Masyarakat vs tindakan: Respon terhadap perdagangan satwa liar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956","name":"Jacob Phelps","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g616b4ce8359fed2ae816e458fc993080","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Jacob Phelps"},"description":"Jacob Phelps is a scientist in CIFOR's Forest Governance Portfolio. He has broad research interests, including related to forest sector law enforcement, the illegal wildlife\/timber trade, and the design of Payment for Ecosystem Services schemes. Prior to joining CIFOR, he was based in Thailand, where he conducted research on region's illegal botanical trade. He holds a Ph.D. in biology from the National University of Singapore, and completed his M.Phil. in geography at the University of Cambridge and his B.S. in Environmental Science and Management at Michigan State University.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@_JPhelps"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jacob-phelps"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/28075\/masyarakat-vs-tindakan-respon-terhadap-perdagangan-satwa-liar#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/43.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/131"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28075"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28075\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28075"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=28075"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=28075"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=28075"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=28075"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=28075"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=28075"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=28075"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=28075"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=28075"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=28075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}