{"id":27976,"date":"2015-04-21T13:50:43","date_gmt":"2015-04-21T06:50:43","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=27976"},"modified":"2015-10-13T14:34:28","modified_gmt":"2015-10-13T07:34:28","slug":"uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu","title":{"rendered":"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu"},"content":{"rendered":"<p>Kepercayaan umum yang telah lama dipegang bahwa bagi orang miskin, uang lebih penting daripada pada orang lebih kaya. Dengan lebih banyak uang \u2013 dan lebih memungkinkan mobilitas sosial \u2013 orang miskin akan menemukan perasaan senang dan bahagia daripada orang lebih makmur.<\/p>\n<p>Tetapi ada perbedaan pendapat soal ini.<\/p>\n<p>Ahli ekonomi Arild Angelsen percaya bahwa ini konsep usang yang berbahaya.<\/p>\n<p>\u201cGagasannya adalah bahwa jika Anda miskin, yang penting hanya mengisi perut, punya rumah dan sekadar memenuhi kebutuhan dasar,\u201d katanya. \u201cDan bahwa perbandingan sosial adalah sesuatu yang hanya dipedulikan orang kaya.\u201d<\/p>\n<p>Arild, mitra senior <span style=\"text-decoration: underline;\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional <\/span>dan profesor ekonomi Ilmu Hayati dari Universitas Norwegia adalah salah satu penulis <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5389\/subjective-wellbeing-and-income-empirical-patterns-in-the-rural-developing-world\/?pub=5389\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian baru<\/a> yang membalikkan kepercayaan lama tersebut.<\/p>\n<blockquote><p><em>Gagasannya adalah jika Anda miskin, yang penting hanya mengisi perut, punya rumah dan sekadar memenuhi kebutuhan dasar  dan soal perbandingan sosial adalah sesuatu yang dipedulikan orang kaya<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cDiskusi kita selama beberapa dekade di negara kaya adalah bahwa konsumsi lebih tidak lantas mengarah pada kebahagiaan lebih, dan kualitas hidup kita lebih dari sekadar kebendaan. Ya, ini juga terjadi sama di negara miskin,\u201d kata Angelsen. \u201cIni lebih relevan daripada kita pikir \u2013 dan lebih dari apa yang kita duga ketika kita memulai penelitian ini.\u201d<\/p>\n<p>Selama lebih dari satu dekade, CIFOR melakukan analisis global terbesar dan terlengkap di dunia mengenai hutan tropis dan kemiskinan, <a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/pen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Poverty and Environment Network (PEN).<\/a><\/p>\n<p>Sekitar 8000 rumah tangga di 24 negara berkembang Asia, Afrika dan Amerika Latin disurvey sejak 2004. Para peneliti mengumpulkan data sosio-ekonomi rinci tingkat rumah tangga dan desa di 59 lokasi penelitian. Kumpulan data merekam penghasilan yang didapat rumah tangga dari beragam sumber, termasuk hutan (hasilnya didokumentasikan dalam <a href=\"http:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/journal\/0305750X\/64\/supp\/S1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">edisi khusus terbaru Pembangunan Dunia<\/a>).<\/p>\n<p>Para peneliti bertanya pada ratusan orang mengenai \u2018kepuasan hidup\u2019 atau \u2018kesenangan subyektif\u2019 \u2013 atau \u2018kebahagiaan\u2019 secara singkat (walaupun nantinya bisa memberikan asosiasi keliru mengenai sesuatu yang bersifat jangka pendek dan superfisial).<\/p>\n<p>Orang berbicara mengenai kepuasan mereka ketika hidup di tahun-tahun sebelumnya \u2013 dan membandingkan dengan situasi ekonomi rumah tangga dengan desa lain \u2013 serta situasi mereka sendiri lima tahun lalu.<\/p>\n<p>Apa yang didapat para peneliti mengejutkan.<\/p>\n<p>Mereka menemukan bahwa penghasilan absolut memang penting bagi perasaan senang, tetapi bahwa perbandingan sosial \u2013 mengenai seberapa baik perasaan orang dibanding tetangganya \u2013 juga sangat penting.<\/p>\n<p>Profesor Angelsen mengatakan hasilnya beresonansi dengan pengalaman hidup dan bekerja dengan masyarakat miskin hutan di Sumatera, Indonesia ketika riset doktoralnya.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat mempraktekkan peladangan berpindah dengan membuka lahan di hutan dan pindah untuk tinggal beberapa bulan sementara padi tumbuh, sebagian waktu sibuk mengusir babi hutan dari sawah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir mereka kesepian karena perlu satu jam atau lebih dari pedesaan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTetapi orang-orang itu berkata pada saya, \u2018Tidak, kita suka ini, karena di desa terlalu banyak tekanan konsumsi. Ada pasar, Anda harus membeli sesuatu, anak-anak ingin permen. Kami bahagia jauh dari itu semua.\u2019<\/p>\n<p>\u201cMereka orang miskin \u2013 dan tetap ada mekanisme sosial serupa di negara kaya, tekanan konsumsi dan \u2018bersaing dengan tetangga\u2019.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIntinya bahwa besar perbedaan bukan pada jarak miskin dan kaya dalam menentukan kenyamanan subyektif. Kami meneliti mereka seakan mereka kategori berbeda, turunan berbeda \u2013 tetapi nyatanya memiliki mekanisme kerja yang sama,\u201d kata Angelsen.<\/p>\n<blockquote><p><em>Intinya adalah bahwa besar perbedaan bukan pada jarak miskin dan kaya dalam menentukan kenyamanan subyektif. Kami meneliti mereka seakan mereka kategori berbeda, turunan berbeda, tetapi nyatanya memiliki mekanisme kerja yang sama<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Penelitian ini juga menemukan bahwa menikah, kuatnya ikatan keluarga, dan mempercayai masyarakat juga membuat orang lebih bahagia; sementara sakit atau kehilangan besar mengurangi kenyamanan.<\/p>\n<p><strong>PERBEDAAN KULTURAL<\/strong><\/p>\n<p>Definisi bahagia juga tidak universal \u2013 peran budaya menjadi vital dalam memahami maknanya di beragam wilayah.<\/p>\n<p>Di masyarakat Amerika Latin yang disurvey, penghasilan absolut tidak memiliki dampak terlihat pada kesejahteraan \u2013 ini hanya terjadi manakala orang kaya membandingkan dengan tetangganya mengenai soal uang.<\/p>\n<p>Hal ini karena Amerika Latin adalah satu wilayah paling tidak setara di dunia, kata kepala peneliti, Victoria Reyes-Garcia, profesor riset <a href=\"https:\/\/www.icrea.cat\/web\/home.aspx%20%20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Instituci\u00f3 Catalana de Recerca i Estudis Avan\u00e7ats<\/a> Universitas Autonomous Barcelona.<\/p>\n<p>Dan sementara Reyes-Garcia menunjukkan bahwa contoh desa tidak lantas menjadi \u201crepresentatif\u201d ia menyatakan bahwa perbedaan antar wilayah  membuatnya mempertanyakan seberapa universal konsep kebahagiaan atau kesejahteraan itu.<\/p>\n<p>\u201cKarena bagi sebagian masyarakat menjadi bahagia berarti kelompoknya baik, bahkan jika ada pengorbanan personal. Jadi bahkan jika Anda memiliki penghasilan atau kondisi lebih rendah ini tidak mempengaruhi kebahagiaan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cPada masyarakat lebih individualistik hal ini lebih menjadi berapa banyak yang Anda dapat, bahkan jika orang lain menjadi lebih menderita.\u201d<\/p>\n<p><strong>MEMBUAT KEBIJAKAN \u201cBAHAGIA\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Sementara penelitian \u2018kebahagiaan\u2019 bisa terdengar sembrono, penelitian ini memiliki implikasi serius bagi kebijakan pembangunan ekonomi berkembang, dan masyarakat desa dan hutan, kata peneliti.<\/p>\n<p>Fokus sempit pada meningkatkan penghasilan bisa mengarah pada perasaan orang (dan menjadi) lebih buruk, bahkan ketika mereka mendapat uang lebih, kata Angelsen.<\/p>\n<p>\u201cPenghasilan lebih tinggi dan mobilitas lebih tinggi terkait dengan hilangnya kepercayaan, hilangnya modal sosial dan melemahnya ikatan keluarga, yang semuanya penting bagi kenyamanan \u2013 jadi jika Anda mengorbankan sebagian itu untuk penghasilan lebih tinggi, kebahagiaan tidak lantas meningkat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dan bagi Reyes-Garcia, penelitian menunjukkan masalah distribusi harus dipertimbangkan.<\/p>\n<p>\u201cPembuat kebijakan dan praktisi pembangunan cenderung menciptakan proyek yang dirancang untuk meningkatkan penghasilan \u2013 menjual produk hutan bukan kayu, misalnya \u2013 tetapi jika Anda memberi uang pada orang miskin dan tidak melihat bagaimana ia didistribusikan, serta hanya sebagian orang mendapat manfaat, maka Anda menciptakan ketidaksetaraan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cAnda tidak merampas hak yang lain, tetapi dalam terminologi kenyataman mereka akan memburuk, karena sekarang mereka membandingkan diri dengan kelompok yang sedikit lebih baik.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAnda berisiko menciptakan lebih banyak ketidakbahagiaan setidaknya bagi sebagian kelompok.\u201d<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai penelitian kebahagiaan, silahkan hubungi <\/strong><a href=\"mailto:arild.angelsen@nmbu.no\">arild.angelsen@nmbu.no<\/a> <strong>atau <\/strong><a href=\"mailto:Victoria.Reyes@uab.cat\">Victoria.Reyes@uab.cat<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kepercayaan umum yang telah lama dipegang bahwa bagi orang miskin, uang lebih penting daripada pada orang lebih kaya. Dengan lebih banyak uang \u2013 dan lebih memungkinkan mobilitas sosial \u2013 orang miskin akan menemukan perasaan senang dan bahagia daripada orang lebih makmur. Tetapi ada perbedaan pendapat soal ini. Ahli ekonomi Arild Angelsen percaya bahwa ini konsep [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":35907,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[161,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2882,2954,2633,3928,3929],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-27976","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-deforestation","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-arild-angelsen","tag-bahasa-jaringan-kemiskinan-dan-lingkungan","tag-bahasa-kemiskinan","tag-bahasa-universitas-autonomous-barcelona","tag-bahasa-victoria-reyes-garcia","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kepercayaan umum yang telah lama dipegang bahwa bagi orang miskin, uang lebih penting daripada pada orang lebih kaya. Dengan lebih banyak uang \u2013 dan lebih memungkinkan mobilitas sosial \u2013 orang miskin akan menemukan perasaan senang dan bahagia daripada orang lebih makmur. Tetapi ada perbedaan pendapat soal ini. Ahli ekonomi Arild Angelsen percaya bahwa ini konsep [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-04-21T06:50:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T07:34:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"390\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu\",\"datePublished\":\"2015-04-21T06:50:43+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T07:34:28+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\"},\"wordCount\":898,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/31-500x390bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Deforestation\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\",\"name\":\"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/31-500x390bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-04-21T06:50:43+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T07:34:28+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/31-500x390bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/04\\\/31-500x390bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":390,\"caption\":\"Riset baru menemukan berpenghasilan lebih tinggi belum tentu memberikan kenyamanan hidup. Tingginya mobilitas, menurunnya modal sosial dan melemahnya ikatan keluarga, bisa menjadikan kebahagiaan itu hilang.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/27976\\\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu","og_description":"Kepercayaan umum yang telah lama dipegang bahwa bagi orang miskin, uang lebih penting daripada pada orang lebih kaya. Dengan lebih banyak uang \u2013 dan lebih memungkinkan mobilitas sosial \u2013 orang miskin akan menemukan perasaan senang dan bahagia daripada orang lebih makmur. Tetapi ada perbedaan pendapat soal ini. Ahli ekonomi Arild Angelsen percaya bahwa ini konsep [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-04-21T06:50:43+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T07:34:28+00:00","og_image":[{"width":500,"height":390,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu","datePublished":"2015-04-21T06:50:43+00:00","dateModified":"2015-10-13T07:34:28+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu"},"wordCount":898,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg","articleSection":["Deforestation","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu","name":"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg","datePublished":"2015-04-21T06:50:43+00:00","dateModified":"2015-10-13T07:34:28+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg","width":500,"height":390,"caption":"Riset baru menemukan berpenghasilan lebih tinggi belum tentu memberikan kenyamanan hidup. Tingginya mobilitas, menurunnya modal sosial dan melemahnya ikatan keluarga, bisa menjadikan kebahagiaan itu hilang."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Uang bisa membeli kebahagiaan? Riset baru mengajak memikirkan ulang asumsi itu"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/27976\/uang-bisa-membeli-kebahagiaan-riset-baru-mengajak-memikirkan-ulang-asumsi-itu#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/31-500x390bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27976","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27976"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27976\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27976"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27976"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27976"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=27976"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=27976"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=27976"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=27976"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=27976"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=27976"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=27976"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=27976"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=27976"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=27976"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}