{"id":26443,"date":"2015-01-25T13:33:51","date_gmt":"2015-01-25T06:33:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=26443"},"modified":"2015-10-13T15:07:10","modified_gmt":"2015-10-13T08:07:10","slug":"perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset","title":{"rendered":"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia\u2014Jika Anda perencana pemanfaatan lahan di negara tropis, bagaimana Anda memutuskan sebuah wilayah digunakan untuk mengembangkan pangan, melindungi keragaman hayati atau melindunginya untuk jasa lingkungan (seperti kontrol erosi atau polinasi)?<\/p>\n<p>Alat ukur konvensional penilaian jasa lingkungan kehilangan nuansa keragaman bentang alam tropis, kata para peneliti.<\/p>\n<p>Mereka memandang rendah nilai ekonomi tempat dengan keragaman hayati tinggi; lokasi tersebut seringkali jauh dari wilayah berpenduduk, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5042\/economic-valuation-of-ecosystem-services-fails-to-capture-biodiversity-value-of-tropical-forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">demikian menurut penelitian baru di jurnal Biological Conservation<\/a>.<\/p>\n<blockquote><p><em>Jika kita fokuskan kebijakan pada pertimbangan ekonomi, kita akan kehilangan keragaman hayati<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Hasilnya, kebijakan yang dirancang untuk melindungi wilayah dengan jasa lingkungan memiliki nilai ekonomi tinggi tidak memasukkan tingginya keragaman hayati, walaupun hal itu penting bagi keamanan pangan dan penghidupan masyarakat terpencil, kata penulisnya.<\/p>\n<p>\u201cKita perlu mengambil langkah lebih bernuansa dan berkonsentrasi pada keterbatasan sumber daya di wilayah yang tidak hanya menyediakan jasa lingkungan, tetapi berkorelasi dengan tingginya keragaman hayati,\u201d kata Terry Sunderland, ilmuwan senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan salah seorang penulis.<\/p>\n<p><strong>NILAI EKONOMI BERFOKUS PADA ORANG<\/strong><\/p>\n<p>Dengan berkembangnya kebutuhan produksi pangan di negara tropis, perencana menggunakan nilai jasa ekosistem untuk memutuskan pemanfaatan lahan. Tetapi banyak perhitungan didasari nilai rata-rata tidak mencerminkan besarnya keragaman hayati dalam ekosistem tropis, kata penelitian tersebut.<\/p>\n<p>Menggunakan data dari <a href=\"http:\/\/www.teebweb.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">TEEB (The Economics of Biodiversity and Ecosystems)<\/a>, yang mereka sebut \u201cbasis data jasa lingkungan paling komprehensif,\u201d  para penulis memetakan dan menganalisa nilai ekonomi jasa lingkungan di wilayah tropis Amerika Latin, Asia dan Afrika.<\/p>\n<p>Di luar asumsi umum bahwa melindungi wilayah yang memberi jasa lingkungan bernilai tinggi juga melindungi wilayah dengan keragaman hayati, para peneliti justru menemukan bahwa lokasi tersebut seringkali tidak tumpang tindih.<\/p>\n<blockquote><p><em>Jika Anda tidak bisa bertahan hidup tanpa hutan, artinya hutan memiliki nilai tak terhingga bagi Anda<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Nilai ekonomi cenderung tertinggi ketika sejumlah besar orang merasakan manfaat dari sebuah jasa, kata Roman Carrasco dari Universitas Nasional Singapura, salah seorang penulis. Tetapi tempat dengan keragaman hayati tinggi biasanya hutan terpencil jauh dari pusat populasi.<\/p>\n<p>\u201cKeragaman hayati lebih tinggi berada di tempat yang relatif tak terganggu atau hutan perawan\u2014di sanalah sejumlah besar spesies tinggal,\u201d kata Carrasco. \u201cJika Anda memiliki konsumen jasa seperti regulasi air, Anda akan memiliki nilai lebih tinggi, tetapi kekayaan spesies akan rendah.\u201d<\/p>\n<p>Sebagai kompensasi, perencana seharusnya memasukkan faktor \u201clebih dari sekedar nilai uang,\u201d kata Carrasco. \u201cJika kita fokuskan kebijakan pada pertimbangan ekonomi, kita akan kehilangan keragaman hayati. Ini bertentangan dengan kebijakan konvensional yang mengasumsikan bahwa ekosistem lebih homogen,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Hutan dengan keragaman hayati sangat bernilai bagi manusia yang tinggal di hutan atau dekat dengan hutan yang bergantung pada kayu, buah-buahan, serat, regulasi air dan jasa lain yang diberikan.<\/p>\n<p>Walaupun sedikit orang merasakan manfaat jasa tersebut, karena populasi lebih tersebar di wilayah terpencil, ketergantungan mereka pada hutan untuk manfaat kultural dan pangan lebih tinggi daripada orang di wilayah kota \u2014 nuansa yang dalam perhitungan lebih luas gagal tertangkap, kata Sunderland dan Carrasco.<\/p>\n<p>\u201cPeran hasil hutan sebagai jaring pengaman ekonomi termasuk manfaat keragaman makanan, nutrisi anak dan kesehatan jutaan orang di wilayah tropis adalah buktinya,\u201d tulis mereka.<\/p>\n<p>Pemasukan dari hutan dan hasil hutan menyediakan lebih dari seperempat pemasukan keluarga desa, hampir sebanyak pertanian, demikian menurut riset <a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/pen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jaringan Kemiskinan dan Lingkungan pimpinan CIFOR<\/a>.<\/p>\n<p><strong>\u2018NILAI TAK TERHINGGA\u2019<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian baru menunjukkan bahwa perencana harus menambahkan keragaman hayati dalam perhitungan mereka, khususnya ketika membandingkan manfaat pertanian terhadap hutan, walaupun tidak ada kesepakatan bagaimana menempatkan nilai uang pada keragaman hayati, kata Carrasco.<\/p>\n<p>\u201cKita perlu mencoba mengkuantifikasi kesejahteraan manusia, tidak semata nilai ekonomi,\u201d katanya. \u201cIni tidak berarti kita berhenti menggunakan nilai ekonomi\u2014hanya saja kita perlu melengkapinya dengan indikator lain.\u201d<\/p>\n<p>Ini berarti menukar peta umum jasa lingkungan dengan peta lebih terinci dengan urgensinya \u2014 dan nilai \u2014 jasa bagi masyarakat lokal, bahkan alam tempat lebih terisolasi.<\/p>\n<p>\u201cKita perlu melihat seberapa fundamental jasa tersebut,\u201d kata Carrasco. \u201cJika Anda tidak bisa bertahan hidup tanpa hutan, artinya hutan memiliki nilai tak terhingga bagi Anda.\u201d<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai topik penelitian ini, silahkan hubungi Terry Sunderland di <\/strong><a href=\"mailto:t.sunderland@cgiar.org\">t.sunderland@cgiar.org<\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Riset ini didukung antara lain oleh USAID dan menjadi bagian dari <\/em><a href=\"http:\/\/foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri<\/em><\/a><em>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia\u2014Jika Anda perencana pemanfaatan lahan di negara tropis, bagaimana Anda memutuskan sebuah wilayah digunakan untuk mengembangkan pangan, melindungi keragaman hayati atau melindunginya untuk jasa lingkungan (seperti kontrol erosi atau polinasi)? Alat ukur konvensional penilaian jasa lingkungan kehilangan nuansa keragaman bentang alam tropis, kata para peneliti. Mereka memandang rendah nilai ekonomi tempat dengan keragaman hayati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":84,"featured_media":35918,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[137,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2531,2542,2489,2550,3811,2943,3812],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[831],"class_list":["post-26443","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forest-management-restoration","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-ekonomi","tag-bahasa-jasa-lingkungan","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-roman-carrasco","tag-bahasa-terry-sunderland","tag-bahasa-universitas-nasional-singapura","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia\u2014Jika Anda perencana pemanfaatan lahan di negara tropis, bagaimana Anda memutuskan sebuah wilayah digunakan untuk mengembangkan pangan, melindungi keragaman hayati atau melindunginya untuk jasa lingkungan (seperti kontrol erosi atau polinasi)? Alat ukur konvensional penilaian jasa lingkungan kehilangan nuansa keragaman bentang alam tropis, kata para peneliti. Mereka memandang rendah nilai ekonomi tempat dengan keragaman hayati [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-01-25T06:33:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T08:07:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Barbara Fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@barbara_fraser\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\"},\"author\":{\"name\":\"Barbara Fraser\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\"},\"headline\":\"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset\",\"datePublished\":\"2015-01-25T06:33:51+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:07:10+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\"},\"wordCount\":667,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/01\\\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Forest management &amp; restoration\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2015\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\",\"name\":\"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/01\\\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2015-01-25T06:33:51+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:07:10+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/01\\\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/01\\\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Nasional Man\u00fa di Amazon Peru, manu national park, peru, frog\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f\",\"name\":\"Barbara Fraser\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Barbara Fraser\"},\"description\":\"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@barbara_fraser\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/barbara-fraser\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26443\\\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset","og_description":"BOGOR, Indonesia\u2014Jika Anda perencana pemanfaatan lahan di negara tropis, bagaimana Anda memutuskan sebuah wilayah digunakan untuk mengembangkan pangan, melindungi keragaman hayati atau melindunginya untuk jasa lingkungan (seperti kontrol erosi atau polinasi)? Alat ukur konvensional penilaian jasa lingkungan kehilangan nuansa keragaman bentang alam tropis, kata para peneliti. Mereka memandang rendah nilai ekonomi tempat dengan keragaman hayati [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2015-01-25T06:33:51+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T08:07:10+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Barbara Fraser","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@barbara_fraser","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset"},"author":{"name":"Barbara Fraser","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f"},"headline":"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset","datePublished":"2015-01-25T06:33:51+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:07:10+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset"},"wordCount":667,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg","articleSection":["Forest management &amp; restoration","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#respond"]}],"copyrightYear":"2015","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset","name":"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg","datePublished":"2015-01-25T06:33:51+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:07:10+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Nasional Man\u00fa di Amazon Peru, manu national park, peru, frog"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/3f84c53b70c9b8fa7a5689aaa3c5076f","name":"Barbara Fraser","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g1ae95544d84bf46eb90aaaeb70d88c67","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1599345ef9d1d6961691591c0797e4b826044aa2a784b0c28436e3e6469a0b88?s=96&d=mm&r=g","caption":"Barbara Fraser"},"description":"Barbara Fraser has lived for more than two decades in Peru, where her work as a freelance journalist has taken her from the desert coast to the foot of Andean glaciers to native communities in the Amazon basin. She has a bachelor's degree in communications and a Master's in environmental studies and specializes in reporting on environmental, public health, indigenous and social issues.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@barbara_fraser"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/barbara-fraser"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26443\/perhitungan-nilai-ekonomi-hutan-sering-mengabaikan-keragaman-hayati-temuan-riset#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Tweddle1-Frog-in-Manu-National-Park-peru-1024x683-500x333_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26443","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/84"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26443"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26443\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26443"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26443"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26443"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=26443"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=26443"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=26443"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=26443"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=26443"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=26443"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=26443"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=26443"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=26443"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=26443"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}