{"id":26144,"date":"2014-12-30T10:00:29","date_gmt":"2014-12-30T03:00:29","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=26144"},"modified":"2015-09-28T13:28:36","modified_gmt":"2015-09-28T06:28:36","slug":"bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban","title":{"rendered":"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"\/\/www.youtube.com\/embed\/JaDsQbbbpEI?feature=player_embedded\" width=\"500\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>NAIROBI, Kenya\u2014Inisiatif riset ini unik, masif\u2014dan sangat ambisius\u2014, meliputi sembilan bentang alam di 20 negara di tiga benua.<\/p>\n<p>Melibatkan sejumlah ilmuwan dan praktisi dari 60 organisasi, dan mengerahkan persenjataan lengkap metode riset dari survei kepala keluarga hingga sampel tanah, dari inventarisasi tumbuhan hingga citra satelit.<\/p>\n<p>Dan ini semua dilakukan untuk menjawab pertanyaan tidak biasa, mungkin melawan intuisi:<\/p>\n<p>Apakah pohon \u201cbaik\u201d untuk bentang alam \u2014 dan \u201cbaik\u201d untuk kita? (Dan jika ya, berapa besar bermanfaat?\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa yang kami harapkan bisa dicapai adalah menemukan kapan pepohonan di bentang alam bisa membawa penghidupan lebih baik, nutrisi lebih baik, pemasukan lebih baik, dan orang lebih bahagia,\u201d kata Anja Gassner, peneliti Pusat Penelitian Agroforestri Dunia (ICRAF). Gassner memimpin inisiatif Penjaga Bentang Alam, bagian dari <a href=\"http:\/\/foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri<\/a> (FTA), dipimpin oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). \u201cDapatkah kita mengkuantifikasi kontribusi mereka pada lingkungan lebih sehat, lebih berkelanjutan?\u201d<\/p>\n<p>Tujuannya melihat \u201cbentang alam\u201d untuk analisis tersebut, menurut Gassner, adalah bergerak di luar batasan pendekatan ekosistem, yang muncul di seputar pekerjaan konservasi dan keragaman hayati. \u201cKami menggunakan istilah \u2018bentang alam\u2019 karena orang bisa berterima dengan itu,\u201d katanya. \u201cDi sinilah kita sebagai manusia berinteraksi dengan lingkungan, tempat kita membentuk lingkungan dan lingkungan membentuk kita.\u201d<\/p>\n<p>\u201c<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/23834\/landscape-approach-defies-simple-definition-and-thats-good\">Pendekatan bentang alam<\/a>,\u201d kata para pakar, dapat membantu mencapai keseimbangan tepat antara kebutuhan konservasi bentang alam, berorientasi terutama pada alam, dan kebutuhan pembangunan masyarakat. Pendekatan ini dapat membantu diskusi beragam kelompok dengan kepentingan berbeda menemukan kesamaan dan saling melengkapi dalam sebuah bentang alam.<\/p>\n<p>Pendekatan bentang alam, <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25043\/negotiating-the-landscape-approach-holmgren\">seperti ditulis Direktur Jenderal CIFOR Peter Holmgren baru-baru ini<\/a>, \u201cbukan soal mencapai target performa biofisik yang telah ditetapkan, tetapi soal merundingkan keragaman nilai.\u201d<\/p>\n<p>Seperti istilah \u201cpengawal bentang alam\u201d\u2014yang membuat inisiatif ini unik.<\/p>\n<p><strong>DARI KEDOKTERAN KE KEHUTANAN<\/strong><\/p>\n<p>\u201cPenjaga Bentang Alam\u201d memonitor perubahan terhadap waktu \u2014 dan efek perubahan terhadap lingkungan dan penghidupan masyarakat lokal. Gassner menjelaskan bahwa istilah \u201cpenjaga\u201d dipinjam dari ilmu kedokteran, merujuk pada indikator klinis memantau kesehatan dalam rentang waktu.<\/p>\n<p>Diluncurkan pada 2011, inisiatif Penjaga Bentang Alam ditujukan menguji hipotesa bahwa ada hubungan terukur antara lingkungan dan penghidupan desa secara independen dalam konteks lingkungan dan kultural. Tetapi ini juga merespon seruan riset berbasis-lebih luas: Agar temuan bermanfaat bagi pengambil kebijakan, khususnya pada tingkat regional dan global, studi kasus spesifik &#8211; lokasi kurang tepat seperti penelitian yang mengungkap pola global, demikian temuan kajian ilmu sosial <a href=\"http:\/\/www.cgiar.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CGIAR<\/a> 2009.<\/p>\n<p>Jadi, pelajaran dari bentang alam penjaga bisa membantu memberi informasi proyek pembangunan di tempat lain, dengan kumpulan data global dengan resolusi tinggi dan dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>FTA dan penelitiannya mengenai bentang alam adalah upaya kolaboratif, melibatkan enam organisasi riset internasional: CIFOR, ICRAF, Biodiversity, Pusat Penelitian Agrikultur Tropis (CIAT), pusat riset dari Prancis CIRAD, dan Institut di Kosta Rika CATIE.<\/p>\n<p>Selama fase awal FTA, inisiatif Penjaga Bentang Alam membentuk tim riset interdisiplin yang menangani proses pemilihan tujuh prioritas bentang alam dalam batas geografis, masing-masing dua di Amerika Latin dan Afrika, serta tiga di Asia. Untuk alasan praktis, mereka kemudian mengidentifikasi empat \u201clokasi penjaga\u201d di tiap bentang alam, tempat data dikumpulkan. Mereka juga mengembangkan metodologi dengan standar dan siap bekerja menghitung data penghidupan, lingkungan dan lembaga di seluruh jaringan tujuh bentang alam.<\/p>\n<figure id=\"attachment_25990\" aria-describedby=\"caption-attachment-25990\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25987\/how-are-trees-good-for-us-sentinels-may-hold-the-answer\/15777412217_b4943246a2_z\/\" rel=\"attachment wp-att-25990\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-25990\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z-500x375.jpg\" alt=\"Alto Mayo, Peru,\u00a0di wilayah Barat Amazon\u2014satu dari tujuh \u201cbentang alam penjaga\u201d dimonitor dalam rentang waku oleh para ilmuwan.\u00a0Bruno Locatelli\/CIFOR photo\" width=\"500\" height=\"375\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-25990\" class=\"wp-caption-text\">Alto Mayo, Peru,\u00a0di wilayah Barat Amazon\u2014satu dari tujuh \u201cbentang alam penjaga\u201d dimonitor dalam rentang waku oleh para ilmuwan.\u00a0Bruno Locatelli\/CIFOR photo<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Penjaga Bentang Alam <\/strong><strong>Regional<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Kalimantan \u2013 Sumatra<\/li>\n<li>Lintang Tropis Lembab Afrika Tengah<\/li>\n<li>Mekong<\/li>\n<li>Nikaragua \u2013 Honduras<\/li>\n<li>Afrika Barat (termasuk Daerah Aliran Sungai Niger di tenggara Mali dan DAS Volta di Burkina Paso, utara Ghana dan utara Togo<\/li>\n<li>Ghats Barat di India<\/li>\n<li>Amazon Barat (Peru, Bolivia and Brazil)<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>KOMODITAS DAN BENTANG ALAM<\/strong><\/p>\n<p>Mengingat FTA juga memiliki tema riset terfokus dampak perdagangan dan rantai nilai global pada bentang alam, peneliti mengakui perlunya dua \u201cbasis-tema\u201d bentang alam tambahan pada seluruh tiga benua yang memiliki kesamaan komoditas khusus.<\/p>\n<p>Pertama, <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/24059\/how-do-forests-recover-after-logging-new-network-seeks-to-find-out\">Observatori Hutan Tropis Terkelola<\/a>, terfokus pada kayu. Ini terkait 24 lokasi uji coba dengan 462 lokasi dan total hampir 1.000 tahun pemantauan pengumpulan data oleh perusahaan perkayuan dan peneliti lebih dari beberapa dekade, yang digunakan untuk menilai dampak penebagan selektif terhadap dinamika hutan, simpanan karbon dan komposisi spesies pohon. Empat puluh lima peneliti terlibat dalam meta-analisis data Daerah Aliran Sungai Amazon dan Kongo, serta di Asia Tenggara.<\/p>\n<blockquote><p><em>Jika kita benar-benar bisa mengkuantifikasi tantangan lingkungan dan kelembagaan yang memungkinkan orang menghargai pohon di hutan dan di perkebunan, maka kita bisa memberi rekomendasi pada pengambil kebijakan untuk memungkinkan masyarakat lokal dan politisi memetik manfaat terbaik dari pepohonan di bentang alam.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Bentang Alam Rantai Nilai Sawit terlihat sebagai salah satu komoditas perkebunan paling cepat tumbuh. Walaupun sawit berasal dari Afrika Barat, kini ditanam di Malaysia dan Indonesia dalam perkebunan skala besar sebagai komoditas global. <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/24742\/development-miracle-or-environmental-disaster-a-look-behind-the-oil-palm-controversy\">Sebagai satu tanaman paling kontroversial saat ini<\/a>, sawit juga menjadi tanaman penghasil minyak paling efisien, dengan pemasukan paling menarik bagi petani kecil. Kecepatan ekspansinya sudah terlokalkan, menghancurkan habitat unik, yang menimbulkan protes lingkungan, kata Gassner.<\/p>\n<p>\u201cSaya melakukan survei helikopter di atas Provinsi Sabah, Malaysia,\u201d katanya. \u201cDan Anda tidak lihat apa-apa selain sawit sepanjang bermil-mil.\u201d<\/p>\n<p>Sementara sawit menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi impresif Malaysia, sawit juga memakan korban. Hari ini, hutan dipterokarpa dataran rendah Sabah, tempat spesies penting seperti orangutan dan badak sumatera, hanya dapat ditemukan di area terlindung; peternak tradisional kecil yang mendukung strategi keragaman penghidupan dan tulang punggung produksi pangan domestik diganti oleh tegakan monokultur sawit. Jadi kita ingin belajar dari tempat-tempat sawit mulai berkembang dalam skala masif.<\/p>\n<p>Untuk alasan ini, tim penjaga bentang alam mencari bagaimana bentang alam sawit ditetapkan di Indonesia dan Malaysia dan yang baru dari Kolumbia, Peru, Kamerun dan Nigeria.<\/p>\n<p>\u201cTujuannya,\u201d kata Gassner, \u201cadalah untuk melihat bagaimana pengaturan lokal di tiap bentang alam tersebut mempengaruhi rantai nilai komoditas global dan membentuk model bisnis sawit berbeda dan dampaknya pada skala bentang alam.\u201d<\/p>\n<p>Tim Penjaga Bentang Alam berada dalam tahap final pengumpulan data, untuk memberi jawaban terhadap banyak pertanyaan mengenai interaksi antara pohon dan lingkungan serta pohon dan manusia.<\/p>\n<p>\u201cJika kita benar-benar dapat mengkuantifikasi tantangan lingkungan dan kelembagaan yang memungkinkan atau menghambat orang menghargai pohon di hutan dan di peternakan, maka kita bisa memberi rekomendasi pada pengambil kebijakan untuk memungkinkan masyarakat lokal dan politisi untuk memetik manfaat terbaik dari pohon dalam bentang alam,\u201d kata Gassner.<\/p>\n<p>\u201cJadi pada Juni 2015 kita berharap bisa menyatakan pada Anda apakah pohon baik untuk Anda.\u201d<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai penjaga bentang alam, hubungi Anja Gassner di <\/strong><a href=\"mailto:a.gassner@cgiar.org\"><strong>a.gassner@cgiar.org<\/strong><\/a><strong> atau <\/strong><strong>Robert Nasi di<\/strong><strong> <\/strong><a href=\"mailto:r.nasi@cgiar.org\"><strong>r.nasi@cgiar.org<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Riset CIFOR mengenai bentang alam penjaga merupakan bagian dari <\/em><a href=\"http:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Program Riset CGIAR mengenai hutan, pohon dan Agroforestri.<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NAIROBI, Kenya\u2014Inisiatif riset ini unik, masif\u2014dan sangat ambisius\u2014, meliputi sembilan bentang alam di 20 negara di tiga benua. Melibatkan sejumlah ilmuwan dan praktisi dari 60 organisasi, dan mengerahkan persenjataan lengkap metode riset dari survei kepala keluarga hingga sampel tanah, dari inventarisasi tumbuhan hingga citra satelit. Dan ini semua dilakukan untuk menjawab pertanyaan tidak biasa, mungkin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":139,"featured_media":25990,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,95,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[4206,2587,2586,2657,2929,3017],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1525],"class_list":["post-26144","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-human-wellbeing","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-anja-gassner","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-pendekatan-bentang-alam","tag-bahasa-penjaga-bentang-alam","tag-bahasa-peter-holmgren","tag-bahasa-pusat-penelitian-agroforestri-dunia","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"NAIROBI, Kenya\u2014Inisiatif riset ini unik, masif\u2014dan sangat ambisius\u2014, meliputi sembilan bentang alam di 20 negara di tiga benua. Melibatkan sejumlah ilmuwan dan praktisi dari 60 organisasi, dan mengerahkan persenjataan lengkap metode riset dari survei kepala keluarga hingga sampel tanah, dari inventarisasi tumbuhan hingga citra satelit. Dan ini semua dilakukan untuk menjawab pertanyaan tidak biasa, mungkin [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-12-30T03:00:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-09-28T06:28:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"480\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Joan Baxter\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@joan_baxter\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\"},\"author\":{\"name\":\"Joan Baxter\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/c9872d7ad610f1951f89f10f56f0c44f\"},\"headline\":\"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban\",\"datePublished\":\"2014-12-30T03:00:29+00:00\",\"dateModified\":\"2015-09-28T06:28:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\"},\"wordCount\":1073,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/15777412217-b4943246a2-z.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Human well-being\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\",\"name\":\"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/15777412217-b4943246a2-z.jpg\",\"datePublished\":\"2014-12-30T03:00:29+00:00\",\"dateModified\":\"2015-09-28T06:28:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/15777412217-b4943246a2-z.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/15777412217-b4943246a2-z.jpg\",\"width\":640,\"height\":480,\"caption\":\"Alto Mayo, Peru,\u00a0di wilayah Barat Amazon\u2014satu dari tujuh \u201cbentang alam penjaga\u201d dimonitor dalam rentang waku oleh para ilmuwan.\u00a0Bruno Locatelli\\\/CIFOR photo\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/c9872d7ad610f1951f89f10f56f0c44f\",\"name\":\"Joan Baxter\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9cc860f36f68d8607cc40aeda43db4c7558b74dde3f8b72a7eebf3ec36024fae?s=96&d=mm&r=gd66d156748db28f1c455b09514eaf521\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9cc860f36f68d8607cc40aeda43db4c7558b74dde3f8b72a7eebf3ec36024fae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9cc860f36f68d8607cc40aeda43db4c7558b74dde3f8b72a7eebf3ec36024fae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Joan Baxter\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@joan_baxter\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/joan-baxter\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26144\\\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban","og_description":"NAIROBI, Kenya\u2014Inisiatif riset ini unik, masif\u2014dan sangat ambisius\u2014, meliputi sembilan bentang alam di 20 negara di tiga benua. Melibatkan sejumlah ilmuwan dan praktisi dari 60 organisasi, dan mengerahkan persenjataan lengkap metode riset dari survei kepala keluarga hingga sampel tanah, dari inventarisasi tumbuhan hingga citra satelit. Dan ini semua dilakukan untuk menjawab pertanyaan tidak biasa, mungkin [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-12-30T03:00:29+00:00","article_modified_time":"2015-09-28T06:28:36+00:00","og_image":[{"width":640,"height":480,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Joan Baxter","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@joan_baxter","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban"},"author":{"name":"Joan Baxter","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/c9872d7ad610f1951f89f10f56f0c44f"},"headline":"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban","datePublished":"2014-12-30T03:00:29+00:00","dateModified":"2015-09-28T06:28:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban"},"wordCount":1073,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg","articleSection":["Community forestry","Human well-being","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban","name":"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg","datePublished":"2014-12-30T03:00:29+00:00","dateModified":"2015-09-28T06:28:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg","width":640,"height":480,"caption":"Alto Mayo, Peru,\u00a0di wilayah Barat Amazon\u2014satu dari tujuh \u201cbentang alam penjaga\u201d dimonitor dalam rentang waku oleh para ilmuwan.\u00a0Bruno Locatelli\/CIFOR photo"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana pepohonan baik bagi kita? \u2018Para Penjaga\u2019 mungkin punya jawaban"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/c9872d7ad610f1951f89f10f56f0c44f","name":"Joan Baxter","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cc860f36f68d8607cc40aeda43db4c7558b74dde3f8b72a7eebf3ec36024fae?s=96&d=mm&r=gd66d156748db28f1c455b09514eaf521","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cc860f36f68d8607cc40aeda43db4c7558b74dde3f8b72a7eebf3ec36024fae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9cc860f36f68d8607cc40aeda43db4c7558b74dde3f8b72a7eebf3ec36024fae?s=96&d=mm&r=g","caption":"Joan Baxter"},"sameAs":["https:\/\/x.com\/@joan_baxter"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/joan-baxter"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26144\/bagaimana-pepohonan-baik-bagi-kita-para-penjaga-mungkin-punya-jawaban#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/15777412217-b4943246a2-z.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26144","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/139"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26144"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26144\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26144"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26144"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26144"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=26144"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=26144"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=26144"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=26144"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=26144"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=26144"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=26144"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=26144"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=26144"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=26144"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}