{"id":26102,"date":"2014-12-18T13:49:34","date_gmt":"2014-12-18T06:49:34","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=26102"},"modified":"2015-09-17T13:53:22","modified_gmt":"2015-09-17T06:53:22","slug":"ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel","title":{"rendered":"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"\/\/www.youtube.com\/embed\/cQvx04b-RQw?feature=player_embedded\" width=\"500\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>LIMA, Peru\u2014Para ilmuwan dan para pemimpin masyarakat adat dalam suatu sesi jender di <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Alam Global<\/a> \u2014 dalam berbagai acara dampingan di konferensi tahunan perubahan iklim UNFCCC di Lima, Peru \u2014 menekankan kebutuhan untuk mempertimbangkan bagaimana perubahan iklim mungkin mempengaruhi kaum laki-laki dan perempuan secara berbeda, dan untuk memasukkan jender dalam studi-studi mitigasi dan adaptasi.<\/p>\n<p>&#8220;Relasi kekuasaan menentukan pengalaman, pendidikan dan peluang, dan hal itu berarti berbagai dampak perubahan iklim akan terdistribusi secara tidak merata,&#8221; ungkap Eleanor Blomstrom dari Organisasi Lingkungan dan Pembangunan Perempuan (WEDO) kepada hadirin.<\/p>\n<blockquote><p><em>Kami <\/em><em>perlu <\/em><em>lebih banyak informasi&#8211;bagaimana perubahan iklim <\/em><em>mempengaruhi <\/em><em>kaum perempuan yang terblokir dari pengambilan keputusan, dan <\/em><em>ketika<\/em><em> kepemimpinan kaum perempuan masuk dalam jenis pengambilan keputusan seperti ini.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Struktur kekuasaan terjender menimbulkan berbagai dampak di kawasan pedesaan &#8211; dan dalam berbagai negosiasi internasional.<\/p>\n<p>Bahkan di dalam UNFCCC itu sendiri, katanya, ada suatu <a href=\"http:\/\/climate-l.iisd.org\/news\/policy-guide-on-mandates-and-entry-points-for-gender-equality-under-unfccc-published\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ketidakseimbangan jender<\/a>. Dalam dewan Dana Iklim Hijau, misalnya, terdapat 21 laki-laki dan tiga perempuan; dalam keseluruhan dewan dan badan UNFCCC kaum laki-laki juga secara signifikan jumlahnya mengalahkan jumlah kaum perempuan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami memerlukan lebih banyak informasi&#8211;bagaimana perubahan iklim mempengaruhi kaum perempuan yang terblokir dari pengambilan keputusan, dan ketika kepemimpinan kaum perempuan masuk dalam jenis pengambilan keputusan seperti ini,&#8221; ujar Blomstrom.<\/p>\n<p>Claudia Ringler, Wakil Direktur dari Divisi Lingkungan dan Teknologi Produksi di Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) membagikan <a href=\"http:\/\/www.ifpri.org\/publication\/enhancing-women-s-assets-manage-risk-under-climate-change\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian<\/a> baru tentang para petani kecil perempuan dan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/gender-resilience-across-landscape-latin-america-africa-asia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><strong>Saksikan sesi lengkapnya<\/strong><\/a><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/gender-resilience-across-landscape-latin-america-africa-asia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Klik di sini<\/a>\u00a0untuk melihat rekaman sesi ini dalam Forum Bentang Alam Global.<\/li>\n<li>Dapatkan berita, penelitian dan analisis terkait dengan COP 20 dan\u00a0Forum Bentang Alam Global: <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/lima\">cifor.org\/lima<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>ADAPTASI JENDER<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.ifpri.org\/sites\/default\/files\/publications\/gcc_pn2014.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Penelitian<\/a> IPFRI mengkaji berbagai dampak diferensiasi jender dari perubahan iklim dan lingkup untuk adaptasi berbasis komunitas di Bangladesh, Etiopia, Kenya, dan Mali, ujar Ringler.<\/p>\n<p>&#8220;Ada suatu kesenjangan jender yang nyata baik dalam aset berwujud maupun aset tak nyata,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>&#8220;Kami menemukan bahwa kaum laki-laki lebih langsung terdampak yang merugikan oleh perubahan iklim, tetapi aset kaum perempuan, sering kali lebih kecil dan lebih cair &#8211; seperti misalnya perhiasan &#8212; lebih mudah diuangkan dalam keadaan kejut klimaks.&#8221;<\/p>\n<p>Mereka menemukan bahwa kaum perempuan paling sedikit kelengkapannya dalam mengadaptasikan praktik-praktik pertanian mereka terhadap perubahan iklim.<\/p>\n<blockquote><p><em>Informasi perubahan iklim semakin rumit, dan bila kaum perempuan tidak memiliki saluran resmi untuk mendapatkan informasi, mereka tidak akan memahami bahwa memang ada masalah.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>&#8220;Kaum perempuan lebih sedikit aksesnya ke teknologi pertanian yang akan membantu mereka beradaptasi terhadap perubahan iklim.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Di Mali, kaum laki-laki mampu menutupi kekurangan produksi karena ada akses ke irigasi&#8211;kaum perempuan tidak mempunyai akses dan tidak dapat menutupi kekurangan produksi tersebut.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kaum laki-laki mampu menggunakan teknologi terbaik yang mereka miliki; kaum perempuan menggunakan cangkul.&#8221;<\/p>\n<p>Juga ada kesenjangan pengetahuan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, ujarnya, karena kaum laki-laki di Mali lebih mudah menerima informasi tentang strategi adaptasi terhadap perubahan iklim melalui jejaring sosial.<\/p>\n<p>&#8220;Informasi perubahan iklim semakin rumit, dan bila kaum perempuan tidak memiliki saluran resmi untuk mendapatkan informasi, mereka tidak akan memahami bahwa memang ada masalah.&#8221;<\/p>\n<p>Di Kenya, mereka menemukan bahwa kaum perempuan kemungkinan tidak banyak mengetahui tentang berbagai teknik pertanian cerdas- iklim&#8211;namun mereka yang mengetahui hal tersebut kemungkinannya sama besar dengan kaum laki-laki dalam mengadopsi praktik-praktik tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Hal itu berarti kita harus menargetkan informasi iklim lebih langsung kepada kaum perempuan,&#8221; ujar Ringler.<\/p>\n<p>&#8220;Kita perlu membangun pendidikan kaum perempuan secara proaktif untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dan mengembangkan potensi penuh mereka.&#8221;<\/p>\n<p><strong>MENJENDERKAN MITIGASI <\/strong><\/p>\n<p>Isu jender menerima perhatian yang semakin berkurang bila berbicara tentang mitigasi perubahan iklim, panel tersebut mengungkapkakn.<\/p>\n<p>Sepuluh keputusan UNFCCC tentang adaptasi telah memikirkan maslaah jender; hanya tiga keputusan tentang mitigasi yang memikirkan jender.<\/p>\n<blockquote><p><em>Jender bersifat relevan karena setiap kebijakan yang mulai mengubah berbagai aturan Anda tentang lahan dan penggunaan hutan mungkin memengaruhi kaum perempuan sebagaimana hal tersebut juga memengaruhi kaum laki-laki.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Namun ketika mendiskusikan REDD+, suatu skema yang bertujuan untuk memitigasi perubahan iklim dengan mereduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan&#8211;merupakan hal penting bahwa para ilmuwan dan mereka yang mengimplementasikan berbagai inisiatif untuk mempertimbangkan jender, ujar Anne Larson, seorang Peneliti Kepala di <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/a>.<\/p>\n<p>&#8220;Jender bersifat relevan karena setiap kebijakan yang mulai mengubah berbagai aturan Anda tentang lahan dan penggunaan hutan mungkin memengaruhi kaum perempuan sebagaimana hal tersebut juga memengaruhi kaum laki-laki-dan tergantung pada pembagian kerja, mereka mungkin terpengaruh secara berbeda,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>&#8220;&#8221;Ketika Anda berbicara mengenai berbagai tindakan dan strategi yang dilakukan untuk mengubah penggunaan lahan, Anda perlu berpikir mengenai apa yang Anda minta agar dilakukan orang.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Apakah Anda meminta mereka untuk menghentikan perladangan berpindah, apakah Anda meminta mereka untuk berproduksi di area yang lebih kecil? Dan bila demikian, siapakah yang akan terkena pengaruhnya? Apakah kegiatan itu dilakukan oleh kaum perempuan, atau oleh kaum laki-laki? Beberapa pertanyaan tentang jender seperti itulah yang perlu untuk diajukan.&#8221;<\/p>\n<p>Itulah hal yang telah dilakukan selama ini oleh Larson dan ilmuwan CIFOR lainnya.<\/p>\n<p><a href=\"\/\/www.cifor.org\/gcs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi Komparatif Global tentang REDD+<\/a> telah <a href=\"\/\/www.cifor.org\/redd-case-book\/part-3-synthesis\/redd-ground-global-insights-local-contexts\/#box-k\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mengkaji berbagai isu jender<\/a> sebagai bagian dari penilaiannya terhadap 23 inisiatif perintis REDD+ di enam negara di seluruh wilayah tropis.<\/p>\n<p>Mereka menyelenggarakan berbagai kelompok fokus khusus perempuan dan juga campuran konsultasi desa, di mana kaum laki-laki berjumlah sekitar 66 persen.<\/p>\n<p>Berbagai temuan dari 20 proyek awal di 77 desa menunjukkan bahwa ketika tanggapannya dibandingkan antara kelompok fokus campuran dan kelompok fokus perempuan, kelompok fokus wanita secara signifikan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/redd-case-book\/part-3-synthesis\/redd-ground-global-insights-local-contexts\/#box-k\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tidak luas pengetahuannya<\/a> tentang berbagai intervensi proyek REDD+.<\/p>\n<p>Empat puluh satu persen dalam kelompok perempuan memiliki pengertian dasar tentang REDD+, sementara di kelompok campuran adalah sebanyak 67 persen.<\/p>\n<p>&#8220;Hal itu sebenarnya agak mengejutkan, menemukan perbedaan ini berlaku untuk semuanya,&#8221; ujar Larson.<\/p>\n<p>Bahkan dalam masyarakat di mana kaum perempuan memainkan peran aktif&#8211;di mana mereka menduduki posisi kepemimpinan yang penting dan merasa seakan mereka memilik pengaruh terhadap berbagai keputusan desa&#8211;pengetahuan mereka tentang REDD+ tetap lebih sedikit dari kaum perempuan.<\/p>\n<p>Demikian juga, dalam masyarakat di mana tampaknya penggunaan hutan oleh laki-laki dan perempuan kurang lebih setara, atau bahkan di mana perempuan lebih banyak menggunakan hutan daripada laki-laki: &#8220;Anda tetap tidak melihat perbedaannya&#8211;masih tetap ada kesenjangan besar dalam pengetahuan kaum perempuan tentang REDD+,&#8221;ujar Larson.<\/p>\n<p>&#8220;Mereka merupakan kaum perempuan yang Anda duga akan memiliki kelompok kepentingan terhadap hutan, namun Anda tidak melihat mereka mendapat informasi yang setara dengan kaum laki-laki di komunitas mereka sendiri.&#8221; &#8220;Hanya dalam masyarakat di mana kaum perempuan memainkan peran penting dalam pembuatan aturan kami melihat kesenjangan ini sempit.&#8221;<\/p>\n<p>Ini berarti bahwa intervensi dalam banyak masyarakat, seperti REDD+, yang memengaruhi bagaimana orang dapat menggunakan sumber daya hutan, perlu bersungguh-sungguh memerhatikan kesenjangan ini.<\/p>\n<p>&#8220;Bila kita tidak melakukan pendekatan jender, kita kemungkinan melakukan lebih banyak keburukan daripada kebaikan terhadap kaum perempuan,&#8221; ujar Larson.<\/p>\n<p>&#8220;Dalam konteks REDD+, bila status quo tersebut tidak setara berarti intervensi yang tidak memahami dan menangani ketidaksetaraan ini dari awal tidak akan berhasil mengabadikannya.&#8221;<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih lanjut mengenai penelitian ini, silakan menghubungi Anne Larson di<\/strong><a href=\"mailto:a.larson@cgiar.org\"><strong>a.larson@cgiar.org<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LIMA, Peru\u2014Para ilmuwan dan para pemimpin masyarakat adat dalam suatu sesi jender di Forum Bentang Alam Global \u2014 dalam berbagai acara dampingan di konferensi tahunan perubahan iklim UNFCCC di Lima, Peru \u2014 menekankan kebutuhan untuk mempertimbangkan bagaimana perubahan iklim mungkin mempengaruhi kaum laki-laki dan perempuan secara berbeda, dan untuk memasukkan jender dalam studi-studi mitigasi dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":25917,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,173,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215,12222],"tag-bahasa":[2445,2476,2880,2587,3037,2454,2843,3034,3797,3039,2560,2869,3038,2727,2604,3035,2513,3680,2659,2819,2669,3036],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-26102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-gender-justice-tenure","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-global","location-indonesia","tag-bahasa-2014-forum-bentang-alam-global","tag-bahasa-adaptasi","tag-bahasa-anne-larson","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-claudia-ringler","tag-bahasa-cop20","tag-bahasa-dana-iklim-hijau","tag-bahasa-eleanor-blomstrom","tag-bahasa-hak-perempuan","tag-bahasa-ifpri","tag-bahasa-jender","tag-bahasa-konvensi-kerangka-kerja-tentang-perubahan-iklim-pbb","tag-bahasa-lembaga-penelitian-kebijakan-pangan-internasional","tag-bahasa-mali","tag-bahasa-mitigasi","tag-bahasa-organisasi-lingkungan-dan-pembangunan-perempuan","tag-bahasa-pertanian-cerdas-iklim","tag-bahasa-perubahan-iklim","tag-bahasa-petani-kecil","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-transfer-teknologi","tag-bahasa-wedo","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"LIMA, Peru\u2014Para ilmuwan dan para pemimpin masyarakat adat dalam suatu sesi jender di Forum Bentang Alam Global \u2014 dalam berbagai acara dampingan di konferensi tahunan perubahan iklim UNFCCC di Lima, Peru \u2014 menekankan kebutuhan untuk mempertimbangkan bagaimana perubahan iklim mungkin mempengaruhi kaum laki-laki dan perempuan secara berbeda, dan untuk memasukkan jender dalam studi-studi mitigasi dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-12-18T06:49:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-09-17T06:53:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"427\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel\",\"datePublished\":\"2014-12-18T06:49:34+00:00\",\"dateModified\":\"2015-09-17T06:53:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\"},\"wordCount\":1110,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/14307475085-001cdf9827-z.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\",\"name\":\"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/14307475085-001cdf9827-z.jpg\",\"datePublished\":\"2014-12-18T06:49:34+00:00\",\"dateModified\":\"2015-09-17T06:53:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/14307475085-001cdf9827-z.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/12\\\/14307475085-001cdf9827-z.jpg\",\"width\":640,\"height\":427,\"caption\":\"There is little awareness among the community about REDD+ programs in Myanmar, according to research.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/26102\\\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel","og_description":"LIMA, Peru\u2014Para ilmuwan dan para pemimpin masyarakat adat dalam suatu sesi jender di Forum Bentang Alam Global \u2014 dalam berbagai acara dampingan di konferensi tahunan perubahan iklim UNFCCC di Lima, Peru \u2014 menekankan kebutuhan untuk mempertimbangkan bagaimana perubahan iklim mungkin mempengaruhi kaum laki-laki dan perempuan secara berbeda, dan untuk memasukkan jender dalam studi-studi mitigasi dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-12-18T06:49:34+00:00","article_modified_time":"2015-09-17T06:53:22+00:00","og_image":[{"width":640,"height":427,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel","datePublished":"2014-12-18T06:49:34+00:00","dateModified":"2015-09-17T06:53:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel"},"wordCount":1110,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Gender, justice &amp; tenure","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel","name":"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg","datePublished":"2014-12-18T06:49:34+00:00","dateModified":"2015-09-17T06:53:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg","width":640,"height":427,"caption":"There is little awareness among the community about REDD+ programs in Myanmar, according to research."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketidaksetaraan jender mendapat imbalan atensi dalam keputusan iklim : Panel"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/26102\/ketidaksetaraan-jender-mendapat-imbalan-atensi-lebih-besar-dalam-keputusan-iklim-panel#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/14307475085-001cdf9827-z.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26102"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26102\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25917"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26102"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=26102"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=26102"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=26102"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=26102"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=26102"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=26102"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=26102"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=26102"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=26102"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=26102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}