{"id":25360,"date":"2014-11-25T17:38:25","date_gmt":"2014-11-25T10:38:25","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=25360"},"modified":"2015-10-13T15:53:00","modified_gmt":"2015-10-13T08:53:00","slug":"apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan","title":{"rendered":"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?"},"content":{"rendered":"<p>Saya sering ditanya, apakah hutan mendapat manfaat dari pendekatan bentang alam. Seringkali saya mendengar kekhawatiran, pendekatan bentang alam malah mengarah pada hilangnya lebih banyak hutan \u2013 bukannya berkurang \u2013 seiring prioritas pemanfaatan lahan, seperti ketika intensifikasi pertanian merasuk. Dengan kata lain, dapatkah pendekatan bentang alam menjadi ancaman bagi hutan?<\/p>\n<p>Untuk memulai, saya berpendapat bahwa memang ada <strong><em>nilai<\/em> <\/strong>hutan (dan kehutanan) yang perlu dihitung, bukan semata bentang atau keberhadaan hutan. Oleh karena itu, kita seharusnya fokus menjamin keberlanjutan dan peningkatan beragam manfaat hutan dan kehutanan pada kemanusiaan dalam menjaga keberlanjutan dan keadilan masa depan. Pertanyaannya kemudian, apakah pendekatan bentang alam dapat membantu dalam meningkatkan manfaat hutan dan kehutanan ini.<\/p>\n<p>Meningkatkan nilai hutan dan kehutanan jelas merupakan hal \u201cbaik\u201d. Walaupun, pertanyaan kemudian muncul terkait dengan pendekatan bentang alam juga menunjukkan kegigihan pandangan hutan dan penggunaan lahan terus bersaing, dibanding melengkapi satu sama lain. Inilah, dikotomi antara, misalnya, (institusi) hutan dan (institusi) pertanian tetap terjadi dibanding upaya mencari solusi terintegrasi. Saya pikir, kita perlu mencari solusi terintegasi jika kita ingin secara tepat menjaga dan meningkatkan nilai hutan dan kehutanan.<\/p>\n<blockquote><p><em>Tidak ada jaminan pendekatan bentang alam akan selalu mengarah pada peningkatan nilai hutan dan kehutanan (atau penghargaan terhadap nilai tersebut). Nilai-nilai tersebut menjadi bagian keseluruhan aspirasi dalam sebuah bentang alam<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Pertama, mari kita mengambil perspektif dari dalam institusi kehutanan dan melihat ke luar. <a href=\"http:\/\/www.un.org\/climatechange\/summit\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2014\/09\/FORESTS-New-York-Declaration-on-Forests.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Deklarasi Hutan New York<\/a> adalah contoh bagus, mengekspresikan ambisi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat sipil dan sektor perusahaan swasta. Delapan dari 10 komitmen adalah tentang menurunkan deforestasi dan\/atau emisi gas rumah kaca hutan. Karena deforestasi terikat dengan perluasan penggunaan lahan lain, khususnya pertanian, tampaknya perlu kerja sama dengan sektor itu untuk mencapai komitmen bersama. Lebih jauh, komitmen tersebut menyoroti komoditas pertanian, hak atas lahan dan sumber daya \u201cmata pencaharian peternakan,\u201d serta peningkatan keberlanjutan dan keadilan pembangunan. Lagi-lagi, tampak bahwa keberhasilan komitmen hutan akan bergantung pada kerja sama ragam sektor dan keluasan perspektif pembangunan.<\/p>\n<p>Kedua, mari kita lihat hutan dari luar melalui <a href=\"http:\/\/www.un.org\/climatechange\/summit\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2014\/07\/AGRICULTURE-Action-Statement_revised.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pernyataan Aksi Pertanian <\/a>dari Konferensi Iklim PBB yang sama, September lalu. Fokus di sini adalah pada Pertanian cerdas-iklim, sebuah <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/docrep\/018\/i3325e\/i3325e.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">konsep<\/a> yang melibatkan kehutanan dan perikanan, bersama peran krusial yang dimainkan ekosistem dalam mendukung produktivitas dan ketahanan penghidupan desa serta produksi pangan. Pernyataan tersebut menekankan perlunya mengurangi emisi pertanian, termasuk yang memberi dampak pada ekosistem. Lagi-lagi, komitmen ini tidak bisa dicapai tanpa mempertimbangkan dan menjaga nilai hutan dan kehutanan dalam keseluruhan sistem pangan.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Di <\/strong><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25308\/www.landscapes.org\"><strong>Forum Bentang Alam Global<\/strong><\/a><strong>:<\/strong>Peran hutan dalam bentang alam akan menjadi topik kunci diskusi Forum Bentang alam Global, pada 6-7 Desember di Lima, Peru pada UNFCCC COP20. Ikuti semua berita dari Froum di <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/25308\/www.forestsnews.cifor.org\/lima\">cifor.org\/lima<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Jadi terlepas apakah kita akan mengambil perspektif \u201cdalam\u201d atau \u201cluar\u201d, hutan dan kehutanan sangat penting dalam mencapai komitmen menuju masa depan berkelanjutan. Hal ini meyakinkan, dan mendukung gagasan pendekatan bentang alam. Tampak bahwa kita akan merundingkan solusi keseluruhan lebih baik jika sektor-sektor dan para pemangku kepentingan bekerja sama \u2013 yang sekaligus merupakan titik berangkat <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Alam Global<\/a>.<\/p>\n<p>Kita seharusnya menjadi jelas, walaupun, tidak ada jaminan pendekatan bentang alam akan selalu mengarah pada meningkatnya nilai hutan dan kehutanan (atau penghargaan terhadap nilai-nilai tersebut). Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari aspirasi keseluruhan dalam sebuah bentang alam, dan mungkin saja pemangku kepentingan dalam bentang alam tertentu memilih skenario alternatif dan memprioritaskan hasil ain \u2013 memilih tidak memaksimalkan nilai hutan.<\/p>\n<p>Apakah ini masalah? Tidak juga. Akan menjadi masalah jika negosiasi terlemahkan akibat ketidakseimbangan kekuatan atau perilaku ilegal \u2013 tetapi hal ini seharusnya tidak digunakan menghalangi pendekatan bentang alam. <a href=\"http:\/\/dotearth.blogs.nytimes.com\/2014\/11\/17\/peru-prepares-to-host-climate-talks-as-its-indigenous-forest-defenders-die\/?mabReward=RI%3A10&amp;src=recg&amp;mabReward=RI%3A10&amp;module=Ribbon&amp;version=origin&amp;region=Header&amp;action=click&amp;contentCollection=Recommended&amp;pgtype=article&amp;_r=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Laporan<\/a> kekerasan terhadap pemangku kepentingan lokal adalah pengingat nyata bahwa kondisi mendasar pendekatan bentang alam dalam menyusun prioritas seringkali tidak tersedia. Jelas sekali, penerapan hak asasi manusia dan penerapan hukum adalah prasyarat.<\/p>\n<p>Juga bisa menjadi masalah jika konsekuensi hilangnya hutan tidak secara benar dipahami atau dihitung. Walaupun, jika terjadi, maka hasil dari proses informatif, terbuka dan inklusif yang mempertimbangkan nilai hutan\/kehutanan secara tepat seharusnya bisa diterima, bahkan jika dalam kasus tersebut hal ini bisa mengarah pada hilangnya hutan.<\/p>\n<p>Tampaknya malah akan hutan hilang jika kita tidak mencari solusi terintegrasi antar sektor. Kebijakan spesifik sektor seringkali berkontradiksi satu dengan lain dan terus menerus mendorong, misalnya, perluasan pertanian dan proteksi hutan tanpa mempertimbangkan dampak konflik subsidi. Lebih jauh, lemahnya koordinasi antar kepentingan sektor melatarbelakangi ekspansi destruktif pertanian komersial, seperti perkebunan sawit masuk ke hutan gambut.<\/p>\n<p>Akankah hutan diuntungkan dari pendekatan bentang alam? Anda tidak bisa yakin di semua kasus, tetapi saya yakin bahwa pilihan terbuka dan jujur selalu lebih baik daripadai aksi terisolasi, dan bahwa pilihan tersebut akan selalu meningkatkan nilai hutan, bukan merusaknya. Bersama dengan berkembangnya basis bukti, saya berhadap bahwa kita dapat, dalam waktu dekat, menegaskan atau menolak klaim ini melalui hasil ilmiah.<\/p>\n<p>Dan akhirnya, menjadi pantas membalikkan pertanyaan: Apakah pantas mempertahankan pendapat untuk menjaga hutan dengan mengisolasi tanpa mempertimbangkan <a href=\"http:\/\/www.rightsandresources.org\/publication\/tenure-trends-november-2014\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kebutuhan dan aspirasi masyarakat<\/a>?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya sering ditanya, apakah hutan mendapat manfaat dari pendekatan bentang alam. Seringkali saya mendengar kekhawatiran, pendekatan bentang alam malah mengarah pada hilangnya lebih banyak hutan \u2013 bukannya berkurang \u2013 seiring prioritas pemanfaatan lahan, seperti ketika intensifikasi pertanian merasuk. Dengan kata lain, dapatkah pendekatan bentang alam menjadi ancaman bagi hutan? Untuk memulai, saya berpendapat bahwa memang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":71,"featured_media":35954,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2445,2522,2818,2516,2550,2586,2513,2584],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[2967],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[680],"class_list":["post-25360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-2014-forum-bentang-alam-global","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-deklarasi-new-york-tentang-hutan","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-pendekatan-bentang-alam","tag-bahasa-pertanian-cerdas-iklim","tag-bahasa-tata-guna-lahan","type-bahasa-kolom-dirjen"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Saya sering ditanya, apakah hutan mendapat manfaat dari pendekatan bentang alam. Seringkali saya mendengar kekhawatiran, pendekatan bentang alam malah mengarah pada hilangnya lebih banyak hutan \u2013 bukannya berkurang \u2013 seiring prioritas pemanfaatan lahan, seperti ketika intensifikasi pertanian merasuk. Dengan kata lain, dapatkah pendekatan bentang alam menjadi ancaman bagi hutan? Untuk memulai, saya berpendapat bahwa memang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-11-25T10:38:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T08:53:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Peter Holmgren\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\"},\"author\":{\"name\":\"Peter Holmgren\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122\"},\"headline\":\"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?\",\"datePublished\":\"2014-11-25T10:38:25+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:53:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\"},\"wordCount\":791,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg\",\"articleSection\":[\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\",\"name\":\"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg\",\"datePublished\":\"2014-11-25T10:38:25+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:53:00+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Seorang wanita memetik teh di Imenti, Kenya, di mana area berhutan diubah menjadi tanaman produksi. Foto: Erik Nordman\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122\",\"name\":\"Peter Holmgren\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g0c3481ae3266f4336ce557c5eb1271ec\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Peter Holmgren\"},\"description\":\"Dr. Peter Holmgren was the Director General of the Center for International Forestry Research (CIFOR) from 2012 to October 2017. Under his leadership, CIFOR updated its strategy in 2016, emphasizing the role of forestry in achieving each of the 17 Sustainable Development Goals. Dr. Holmgren has a PhD in Forestry and 26 years of experience in international forestry and agriculture. Prior to CIFOR, Dr. Holmgren worked at the Food and Agriculture Organization (FAO), where he led FAO\u2019s work on climate change and its contributions to the UNFCCC process. While at FAO he also coordinated the Global Forest Resources Assessment, played a leading role in establishing the UN-REDD program and led the development of the Climate Smart Agriculture concept. Dr. Holmgren is credited for leading the dialogue to enhance and broaden the role of forestry in the Global Development Agenda to address the major challenges of our time: poverty, food security, climate change and green economy. An early champion of the landscape approach, Dr. Holmgren launched the Global Landscapes Forum, which is today the world\u2019s largest conference on integrated land use.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/peter-holmgren\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25360\\\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?","og_description":"Saya sering ditanya, apakah hutan mendapat manfaat dari pendekatan bentang alam. Seringkali saya mendengar kekhawatiran, pendekatan bentang alam malah mengarah pada hilangnya lebih banyak hutan \u2013 bukannya berkurang \u2013 seiring prioritas pemanfaatan lahan, seperti ketika intensifikasi pertanian merasuk. Dengan kata lain, dapatkah pendekatan bentang alam menjadi ancaman bagi hutan? Untuk memulai, saya berpendapat bahwa memang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-11-25T10:38:25+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T08:53:00+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Peter Holmgren","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan"},"author":{"name":"Peter Holmgren","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122"},"headline":"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?","datePublished":"2014-11-25T10:38:25+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:53:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan"},"wordCount":791,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg","articleSection":["Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan","name":"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg","datePublished":"2014-11-25T10:38:25+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:53:00+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Seorang wanita memetik teh di Imenti, Kenya, di mana area berhutan diubah menjadi tanaman produksi. Foto: Erik Nordman"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apakah pendekatan bentang alam itu baik bagi hutan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4c6a8d0ab7b85160a0d57a15381a8122","name":"Peter Holmgren","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g0c3481ae3266f4336ce557c5eb1271ec","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aa69ea55c5eb3ce7e51b7a48f9770470173b080e13f619a8240df8f0566c2ccb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Peter Holmgren"},"description":"Dr. Peter Holmgren was the Director General of the Center for International Forestry Research (CIFOR) from 2012 to October 2017. Under his leadership, CIFOR updated its strategy in 2016, emphasizing the role of forestry in achieving each of the 17 Sustainable Development Goals. Dr. Holmgren has a PhD in Forestry and 26 years of experience in international forestry and agriculture. Prior to CIFOR, Dr. Holmgren worked at the Food and Agriculture Organization (FAO), where he led FAO\u2019s work on climate change and its contributions to the UNFCCC process. While at FAO he also coordinated the Global Forest Resources Assessment, played a leading role in establishing the UN-REDD program and led the development of the Climate Smart Agriculture concept. Dr. Holmgren is credited for leading the dialogue to enhance and broaden the role of forestry in the Global Development Agenda to address the major challenges of our time: poverty, food security, climate change and green economy. An early champion of the landscape approach, Dr. Holmgren launched the Global Landscapes Forum, which is today the world\u2019s largest conference on integrated land use.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/peter-holmgren"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25360\/apakah-pendekatan-bentang-alam-itu-baik-bagi-hutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Picking-tea-Erik-NORDMAN-1024x682-500x333_bahasa.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/71"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25360"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25360\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35954"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25360"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=25360"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=25360"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=25360"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=25360"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=25360"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=25360"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=25360"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=25360"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=25360"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=25360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}