{"id":25102,"date":"2014-11-06T15:23:54","date_gmt":"2014-11-06T08:23:54","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=25102"},"modified":"2015-10-13T15:48:19","modified_gmt":"2015-10-13T08:48:19","slug":"bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu","title":{"rendered":"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Namakan saja &#8220;buku masak pembuat kebijakan.&#8221;<\/p>\n<p>Sekelompok pakar internasional dari akademi, lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mengembangkan tipologi untuk menganalisis &#8220;ekosistem&#8221; kebijakan untuk berbagai alat pengelolaan lahan yang berbeda.<\/p>\n<p>&#8220;Sasaran kami yaitu mengetahui kombinasi aksi apa yang dilakukan oleh penduduk, konsumen, LSM, perusahaan dan pemerintah yang paling cocok untuk meningkatkan penggunaan lahan berkelanjutan,&#8221;ujar Eric Lambin, profesor dari Georges Lema\u00eetre Centre for Earth and Climate Research di Belgia dan Stanford University di AS.<\/p>\n<blockquote><p><em>Kita tidak dapat menunda <\/em><em>aksi-aksi <\/em><em>kita sampai kita mengumpulkan cukup bukt<\/em><em>i<\/em><em> &#8212; kita hanya dapat maju dengan mengevaluasi tindakan sambil jalan.<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Lambin adalah penulis utama <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/4887\/effectiveness-and-synergies-of-policy-instruments-for-land-use-governance-in-tropical-regions\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah makalah penelitian<\/a>, yang baru-baru ini dipublikasikan di Global Environmental Change, yang berasal dari suatu lokakarya yang diselenggarakan di Brussel pada 2013 ketika para peserta mengkaji efektivitas berbagai kebijakan seperti misalnya eko-sertifikasi , <a href=\"\/\/www.cifor.org\/pes\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembayaran untuk jasa-jasa lingkungan<\/a> (PES), penzonaan tata guna lahan dan kesepakatan komoditas. Bergerak melampaui banyak studi kasus individual, mereka melakukan badai otak (brainstorming) untuk <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/4887\/effectiveness-and-synergies-of-policy-instruments-for-land-use-governance-in-tropical-regions\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mengembangkan suatu tipologi<\/a> untuk mencakup berbagai pendekatan publik, swasta atau gabungan keduanya, dan bagaimana semuanya itu berinteraksi.<\/p>\n<p>&#8220;Ini bukan berarti bahwa kita perlu memahami instrumen yang sempurna, dan kemudian menerapkannya di mana-mana,&#8221; kata Lambin. &#8220;Sebaliknya, kita perlu mengevaluasi karena kami menerapkan dan mencoba untuk belajar, berevolusi dan beradaptasi. Dalam dunia yang ideal, Anda akan merancang instrumen, menerapkan selama dua tahun, membuat kesimpulan tentang apa yang berhasil dan kemudian mereproduksi itu di tempat lain. Tapi kita dihadapkan dengan satu set jauh lebih dinamis dari interaksi. &#8221;<\/p>\n<p><strong>BAGAIMANA BERBAGAI KEBIJAKAN BERINTERAKSI<\/strong><\/p>\n<p>Para penulis menyarankan tiga interaksi utama di antara instrumen-instrumen publik, swasta dan gabungan:  <strong>saling melengkapi, substitusi<\/strong> dan <strong>antagonisme<\/strong>. Berdasarkan <a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/rego.12005\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian sebelumnya<\/a>, mereka menyarankan beberapa interaksi ini terjadi pada tiga tahapan proses pengaturan: penetapan agenda dan negosiasi; implementasi: dan pemantauan dan penegakan.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Di\u00a0<\/strong><a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><strong>Forum<\/strong><strong> Bentang Alam<\/strong><strong> Global<\/strong><\/a><strong>:<\/strong>Bagaimana instrumen kebijakan yang terus berubah mengurangi deforestasi? Ini akan menjadi salah satu topik yang didiskusikan dalam suatu sesi pada <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/glf-2014\/agenda-item\/day-2-dec-7\/five-parallel-high-level-dialogues-2\/turning-tide-fiscal-trade-policy-instruments-can-used-stimulate-resilient-landscapes-reduce-deforestation\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Alam Global<\/a> mendatang, 6-7 Desember di Peru.\u00a0<a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/glf-2014\/agenda-item\/day-2-dec-7\/five-parallel-high-level-dialogues-2\/turning-tide-fiscal-trade-policy-instruments-can-used-stimulate-resilient-landscapes-reduce-deforestation\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Klik di sini<\/a>\u00a0untuk mengetahui lebih jauh.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dua sistem tata kelola dapat saling <strong>melengkapi<\/strong> bila agenda mereka masing-masing saling menguatkan. Dalam suatu pendekatan gabungan (hibrida), instrumen-instrumen berbeda membagi berbagai fungsi; suatu skema sertifikasi yang digagas swasta, misalnya, dapat mengimplementasikan agenda yang digagas pemerintah.<\/p>\n<p>Sertifikasi organik dalam pertanian misalnya, dimulai sebagai inisiatif swasta, tetapi ketika berbagai kelompok berbeda mengembangkan standar yang saling bersaing, pemerintah melangkah masuk untuk mengatur. Melalui kegiatan saling melengkapi ini, baik petani maupun konsumen kemampuannya lebih baik dalam memahami kriteria eko-sertifikasi.<\/p>\n<p>Pemantauan dan penegakan juga sering kali dicapai melalui berbagai interaksi saling melengkapi. Pemerintah, misalnya, dapat menyediakan berbagai teknologi yang memampukan inisiatif yang digagas swasta untuk memantau dan mengevaluasi berbagai standar. Catatan publik juga dapat menyediakan informasi mengenai kepatuhan dan efektivitas bagi para mitra swasta.<\/p>\n<p>Interaksi publik-swasta sering kali saling melengakapi dalam tahap implementasi, tetapi juga dapat mengarah pada <strong>substitusi<\/strong>. Substitusi mungkin muncul bila suatu kebijakan publik mendukung suatu inisiatif yang digagas swasta untuk menghindari pengembangan berbagai peraturan baru yang akan menggandakan biaya implementasi. Misalnya, skema sertifikasi swasta Forest Stewardship Council (FSC) baru-baru ini disetujui oleh Pemerintah Kamerun sebagai satu &#8220;bukti&#8221; yang mungkin bahwa kayu telah diproduksi secara legal, jadi menghindari pengendalian ganda terhadap perusahaan kayu bersertifikat dan mengurangi biaya implementasi standar nasional untuk memerangi pembalakan liar.<\/p>\n<p>Kadang-kadang skema sertifikasi, kesepakatan, moratorium dan berbagai bentuk pengaturan swasta lainnya dapat merusak berbagai usaha pemerintah untuk mengedarkan peraturan-peraturan yang lebih kuat; sebaliknya, pengembangan norma-norma legal dapat mengurangi insentif untuk berpegang pada standar-standar swasta yang lebih ketat. Hal-hal di atas merupakan contoh dari hubungan <strong>antagonistik<\/strong>.<\/p>\n<p><strong>JANGAN MELUPAKAN BASELINE (GARIS AWAL)<\/strong><\/p>\n<p>Berbagai interaksi di antara instrumen-instrumen kebijakan menjadikannya menantang untuk menetapkan suatu hubungan sebab-akibat. Selanjutnya, banyak LSM yang bermaksud baik menetapkan skema eko-sertifikasi tanpa menetapkan suatu garis awal yang dapat menunjukkan perbedaan &#8220;sebelum dan sesudahnya.&#8221; Sebagai akibatnya, bahkan bila dampak-dampak positif menyeluruh diamati di lapangan, sangatlah sulit untuk mempertalikannya dengan satu kebijakan tunggal, baik pemerintah maupun swasta.<\/p>\n<p>\u201cTidaklah cukup untuk mengamati kondisi ekonomi, lingkungan dan sosial yang lebih baik dalam atau di sekitar, misalkan, suatu perkebunan atau suatu konsesi kayu,&#8221; ujar Paolo Cerutti, penulis pendamping, seorang ilmuwan senior di <a href=\"\/\/cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR).<\/p>\n<p>&#8220;Hasil-hasil positifnya mungkin telah terjadi karena komitmen sebuah perusahaan individual terhadap keberlanjutan. Bila dampak positif muncul, itu tentu saja sangat baik, tetapi untuk lebih efektif dalam merancang dan mengimplementasikan kebijakan &#8216;baik&#8217; melintasi skala kewaktuan dan geografis, kita harus memahami lebih baik berbagai alasan mengapa dampak tersebut timbul dan peran yang dimainkan oleh kebijakan publik dan swasta.<\/p>\n<p>Sifat dinamis dari berbagai instrumen kebijakan juga menjadikannya sulit untuk ditetapkan.<\/p>\n<p>&#8220;Kita hidup dalam dunia di mana berbagai instrumen baru secara terus-menerus dirancang, direvisi dan diimplementasikan,&#8221; ujar Lambin. \u201cItu sebabnya mengapa kami mengakhiri makalah ini dengan mempromosikan konsep tentang &#8216;manajemen adaptif&#8217; atau \u2018<a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/j.1748-5991.2012.01133.x\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tata kelola eksperimentalis<\/a>\u2019. Kita tidak dapat menunda tindakan kita sampai kita mengumpulkan cukup bukti &#8212; kita hanya dapat maju dengan mengevaluasi tindakan sambil jalan.&#8221;<\/p>\n<p>Untuk Lambin, menyadari kerumitannya sudah merupakan langkah menuju arah yang benar.<\/p>\n<p>&#8220;Berbagai studi kasus diperlukan untuk memahami kisah dari suatu komoditi atau konteks spesifik,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Pada waktu bersamaan, penting untuk membawa masuk 12 orang ke dalam sebuah ruangan untuk mencari pola-pola umum yang dapat menginspirasi pertanyaan-pertanyaan penelitian baru. Sekarang kami akan melanjutkan kerja kami pada berbagai instrumen kebijakan spesifik kami, tetapi dengan kesadaran yang lebih besar mengenai berbagai interaksinya. Ini mungkin akan membantu kami melakukan pekerjaan yang lebih baik.&#8221;<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih jauh mengenai topik-topik yang dibicarakan dalam artikel ini, silakan menghubungi Paolo Cerutti di <\/strong><a href=\"mailto:p.cerutti@cgiar.org\"><strong>p.cerutti@cgiar.org<\/strong><\/a><\/p>\n<p><em>Makalah ini didasarkan pada lokakarya yang didanai oleh Francqui Foundation.<\/em> Penelitian ini merupakan bagian dari <a href=\"http:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan <\/em><em>Agroforestri<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Namakan saja &#8220;buku masak pembuat kebijakan.&#8221; Sekelompok pakar internasional dari akademi, lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mengembangkan tipologi untuk menganalisis &#8220;ekosistem&#8221; kebijakan untuk berbagai alat pengelolaan lahan yang berbeda. &#8220;Sasaran kami yaitu mengetahui kombinasi aksi apa yang dilakukan oleh penduduk, konsumen, LSM, perusahaan dan pemerintah yang paling cocok untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":107,"featured_media":35947,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[137,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[4248,2925,2623,2638,2584,4249],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1141],"class_list":["post-25102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forest-management-restoration","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-eric-lambin","tag-bahasa-paolo-cerutti","tag-bahasa-pembayaran-jasa-lingkungan","tag-bahasa-swasta-publik","tag-bahasa-tata-guna-lahan","tag-bahasa-universitas-stanford","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia \u2014 Namakan saja &#8220;buku masak pembuat kebijakan.&#8221; Sekelompok pakar internasional dari akademi, lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mengembangkan tipologi untuk menganalisis &#8220;ekosistem&#8221; kebijakan untuk berbagai alat pengelolaan lahan yang berbeda. &#8220;Sasaran kami yaitu mengetahui kombinasi aksi apa yang dilakukan oleh penduduk, konsumen, LSM, perusahaan dan pemerintah yang paling cocok untuk [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-11-06T08:23:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T08:48:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mark Foss\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\"},\"author\":{\"name\":\"Mark Foss\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\"},\"headline\":\"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu\",\"datePublished\":\"2014-11-06T08:23:54+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:48:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\"},\"wordCount\":930,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Zambia_bahasa.jpg\",\"articleSection\":[\"Forest management &amp; restoration\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\",\"name\":\"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Zambia_bahasa.jpg\",\"datePublished\":\"2014-11-06T08:23:54+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:48:19+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Zambia_bahasa.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/11\\\/Zambia_bahasa.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Mempelajari dinamika penggunaan lahan di Zambia. Sebuah studi baru berusaha untuk mengkategorikan berbagai instrumen kebijakan pengelolaan lahan, dan juga interaksinya di antara berbagai instrumen tersebut. Jeff Walker\\\/foto CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\",\"name\":\"Mark Foss\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mark Foss\"},\"description\":\"Mark Foss is a Canadian freelance writer\\\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/mark-foss\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/25102\\\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu","og_description":"BOGOR, Indonesia \u2014 Namakan saja &#8220;buku masak pembuat kebijakan.&#8221; Sekelompok pakar internasional dari akademi, lembaga penelitian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mengembangkan tipologi untuk menganalisis &#8220;ekosistem&#8221; kebijakan untuk berbagai alat pengelolaan lahan yang berbeda. &#8220;Sasaran kami yaitu mengetahui kombinasi aksi apa yang dilakukan oleh penduduk, konsumen, LSM, perusahaan dan pemerintah yang paling cocok untuk [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-11-06T08:23:54+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T08:48:19+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mark Foss","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu"},"author":{"name":"Mark Foss","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d"},"headline":"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu","datePublished":"2014-11-06T08:23:54+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:48:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu"},"wordCount":930,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg","articleSection":["Forest management &amp; restoration","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu","name":"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg","datePublished":"2014-11-06T08:23:54+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:48:19+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Mempelajari dinamika penggunaan lahan di Zambia. Sebuah studi baru berusaha untuk mengkategorikan berbagai instrumen kebijakan pengelolaan lahan, dan juga interaksinya di antara berbagai instrumen tersebut. Jeff Walker\/foto CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana interaksi aneka kebijakan tata guna lahan? Studi terbaru berusaha mencari tahu"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d","name":"Mark Foss","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mark Foss"},"description":"Mark Foss is a Canadian freelance writer\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/mark-foss"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/25102\/bagaimana-berbagai-kebijakan-penggunaan-lahan-yang-berbeda-berinteraksi-suatu-studi-baru-berusaha-mencari-tahu#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Zambia_bahasa.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/107"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25102"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25102\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35947"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25102"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=25102"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=25102"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=25102"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=25102"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=25102"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=25102"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=25102"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=25102"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=25102"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=25102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}