{"id":24766,"date":"2014-10-15T15:23:04","date_gmt":"2014-10-15T08:23:04","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=24766"},"modified":"2015-10-13T15:56:36","modified_gmt":"2015-10-13T08:56:36","slug":"uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset","title":{"rendered":"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Di atas kertas, premis ini sederhana: Meningkatkan tata kelola lingkungan dengan memberikan penghargaan finansial bagi masyarakat yang bertanggungjawab terhadap konservasi.<\/p>\n<p>Konsep ini, dikenal sebagai <a href=\"\/\/www.cifor.org\/pes?_ga=1.45752231.2037507436.1376965167\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembayaran jasa lingkungan (PJL)<\/a>, merebut hati banyak pendukung termasuk para pengambil kebijakan yang putus asa untuk mencapai manfaat ekologi nyata dengan anggaran ketat. Skema-skema PJL kini digunakan secara global, untuk memberikan insentif konservasi daerah aliran sungai yang berharga, spesies langja dan kepunahan hutan.<\/p>\n<p>Namun, sama dengan paradigma lainnya, dalam kenyataanya hal ini rumit \u2013 dan uang saja tidak bisa membeli kesukseskan, sebuah studi menunjukkan.<\/p>\n<blockquote><p><em>\u2018Variabel lunak\u2019 bisa tampak nyata untuk menekan tujuan konservasi kami, tapi bukti menyatakan bahwa mereka sangat penting dalam membentuk hasil \u2013 apa yang masyarakat rasakan, berhubungan, terlibat dalam berbagai cara akan hal-hal yang nyata<\/em><\/p><\/blockquote>\n<p>Dalam <a href=\"\/\/www.cifor.org\/library\/5076\/social-equity-matters-in-payments-for-ecosystem-services\/?_ga=1.45752231.2037507436.1376965167\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah laporan terbaru<\/a> terbit di jurnal <em>BioScience<\/em>, \u201cMasalah Kesetaran Sosial dalam Pembayaran Jasa Lingkungan,\u201d para penulis berpendapat, fokus yang sempit dengan efisiensi dan memaksimalkan anggaran konservasi dapat menguras biaya konservasi.<\/p>\n<p>Penelitian ini dipimpin oleh para peneliti dari Pusat Perubahan Iklim Basque dan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) serta didukung proyek European Union EcoFINDERS, menyoroti adanya ketegangan antara efisiensi dengan kesetaraan dalam rancangan skema PJL. Menurut para peneliti, dimensi kesetaraan sosial \u2013 termasuk didalamnya kemampuan berpartisipasi, bentuk \u2013bentuk skema, pengakuan akan keragaman hak lokal, distribusi merata biaya serta manfaat \u2013 seringkali diabaikan dalam rancangan.<\/p>\n<p>Bagaimanapun, banyak bukti menyatakan akan pentingnya  faktor sosial, bukan sekedar alasan moral, bukan juga karena alasan praktis. Kesetaraan sosial dapat memberi dampak jangka panjang baik bagi hasil ekologis maupun biaya proyek.<\/p>\n<p>\u201cKesetaraan sosial terus mengambil peran dalam pemikiran konservasi, walaupun sering dipisahkan dari PJL,\u201d kata salah seorang penulis, Jacob Phelps, ilmuwan CIFOR. \u201cLogika pembayaran-efisien-pasar yang ada dalam kebanyakan PJL membiaskan dimensi kesetaraan. Ketika PJL berkembang secara cepat di negara dan lingkungan, berkembang juga kebutuhan untuk mempertimbangkan bagaimana dimensi kesetaraan bisa membentuk rancangan dan hasil.\u201d<\/p>\n<p><strong>STUDI KASUS<\/strong><\/p>\n<p>Studi ini menegaskan \u201ckesetaraan buta\u201d PJL dapat menjadi umpan balik negatif yang mengacaukan tujuan konservasi jangka panjang. Sebaliknya, penulis menunjukkan bukti bahwa skema yang mengabungkan pertimbangan kesetaraan bisa menguntungkan dari diterimanya masukan-masukan positif.<\/p>\n<p>Makalah ini menyoroti berbagai contoh yang mengambarkan berbagai kerumitan:<\/p>\n<ul>\n<li>Penulis mencatat umpan balik negatif sebagai hasil dari ketidakpantasan apresiasi kesetaraan sosial dalam rancangan skema PJL untuk <a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/gcs\/global-comparative-study-on-redd.html?_ga=1.267130381.2037507436.1376965167\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Mengurangi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD)<\/a>. Di Ekuador, banyak masyarakat asli \u2013 yang menempati kurang lebih 60 persen lahan hutan yang masih ada \u2013 tidak setuju dengan skema-skema PJL ini, <a href=\"http:\/\/www.mdpi.com\/1999-4907\/2\/2\/525\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">baru-baru ini dilaporkan<\/a> menderita akibat lemahnya komunikasi, kurangnya pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, dan ketidakpercayaan akan program pemerintah jangka panjang.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Penulis juga menyoroti umpan balik positif dari\u00a0 kesetaraan. Mereka <a href=\"https:\/\/ueaeprints.uea.ac.uk\/37871\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mendiskusikan sebuah penelitian<\/a> di Taman Nasional Nyungwe Rwanda, skema PJL yang dibangun melalui konsultasi masyarakat, termasuk isu indikator, target dan distribusi pembayaran, yang bervariasi di berbagai lokasi. Hasil riset menunjukkan, berkurangnya tingkat perburuan dan penebangan pohon di wilayah yang menekankan kesetaraan dibandingkan wilayah \u201cpagar-dan-denda\u201d. Wilayah-wilayah yang memberlakukan secara ketat kebijakan kawasan menunjukkan reduksi pelanggaran yang sama. Meskipun demikian, di wilayah yang mengutamakan kesetaraan sosial, masyarakat juga merasakan perilaku positif terhadap tata kelola hutan, menganjurkan bahwa peraturan-peraturan akan lebih lestari dibandingkan di wilayah-wilayah yang dikelola hanya dengan mengandalkan penegakan hukum<\/li>\n<\/ul>\n<p>\u201cSaat kesetaraan sosial masuk dalam perencanaan PJL, seringkali ditafsirkan hanya distribusi manfaat semata, yaitu, siapa yang akan dibayar akan usaha konservasi ini,\u201d kata Phelps.<\/p>\n<p>\u201cIni penting, tapi mengabaikan dimensi kesetaraan yang lain-lain, seperti pengakuan hak, distribusi beban, partisipasi, dan kemampuan masyarakat untuk terlibat. \u2018Variabel lunak\u2019 tersebut tampak nyata terhadap tekanan tujuan konservasi, namun bukti menunjukkan bahwa hal tersebut sangat penting guna membentuk hasil \u2013 bagaimana orang merasakan, mengkaitkan, melibatkan dalam cara yang nyata.\u201d<\/p>\n<p>Penulis menjelaskan bahwa hal ini memiliki implikasi mendalam dalam kebijakan lingkungan, khususnya yang mungkin mengantisipasi bahwa menggunakan pembayaran dan insentif bisa menyederhanakan rancangan skema.<\/p>\n<p>Para penulis menyerukan upaya &#8220;penyelamatan ekuitas di era efisiensi&#8221; dengan memastikan bahwa skema PJL melihat lebih dari sekedar upaya efisiensi anggaran konservasi jangka pendek. Hal ini akan mengharuskan rancangan skema PJL partisipatif dan pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang menggunakan dan mengelola sasaran bentang alam, serta perluasan penghargaan bagi nilai-nilai dan identitas yang melekat pada ekosistem yang beragam. Kesimpulan para penulis, hal ini memerlukan ikatan perlindungan sosial dan lingkungan, juga pengakuan bahwa keadilan sosial adalah pusat dari fungsi PJL.<\/p>\n<p>Peneliti mengakui, akan timbul biaya tambahan di awal perencanaan konservasi bila memasukkan pertimbangan kesetaraan, seraya mengusulkan riset tentang kemungkinan timbal balik dengan efektivitas, efisiensi dan kesetaraan sosial dengan skala berbeda dan di bawah kondisi berbeda.<\/p>\n<p>Secara khusus, peneliti menyadari pentingnya menentukan kapan dan bagaimana kesadaraan akan skema kesetaraan dapat meningkatkan hasil, dan juga memberikan potensi keuntungan ekonomi bersih<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih jauh mengenai topik penelitian ini, silahkan menghubungi Jacob Phelps di <\/strong><a href=\"mailto:j.phelps@cgiar.org\"><strong>j.phelps@cgiar.org<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Penelitian ini merupakan bagian dari Program Penelitian mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri <\/em><a href=\"http:\/\/www.foreststreesagroforestry.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>CGIAR <\/em><\/a><em>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Di atas kertas, premis ini sederhana: Meningkatkan tata kelola lingkungan dengan memberikan penghargaan finansial bagi masyarakat yang bertanggungjawab terhadap konservasi. Konsep ini, dikenal sebagai pembayaran jasa lingkungan (PJL), merebut hati banyak pendukung termasuk para pengambil kebijakan yang putus asa untuk mencapai manfaat ekologi nyata dengan anggaran ketat. Skema-skema PJL kini digunakan secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":152,"featured_media":35966,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_hide_featured_image":false,"_jetpack_featured_image_duplicate_dismissed":0,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,137,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[4244,2623,2554],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1695],"class_list":["post-24766","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forest-management-restoration","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-jacob-phelps","tag-bahasa-pembayaran-jasa-lingkungan","tag-bahasa-tata-kelola-hutan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.8 (Yoast SEO v28.8) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia \u2014 Di atas kertas, premis ini sederhana: Meningkatkan tata kelola lingkungan dengan memberikan penghargaan finansial bagi masyarakat yang bertanggungjawab terhadap konservasi. Konsep ini, dikenal sebagai pembayaran jasa lingkungan (PJL), merebut hati banyak pendukung termasuk para pengambil kebijakan yang putus asa untuk mencapai manfaat ekologi nyata dengan anggaran ketat. Skema-skema PJL kini digunakan secara [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-10-15T08:23:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T08:56:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Whit Mason\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\"},\"author\":{\"name\":\"Whit Mason\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/27ec60d42f8a91e2a0f41e0763f345db\"},\"headline\":\"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset\",\"datePublished\":\"2014-10-15T08:23:04+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:56:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\"},\"wordCount\":781,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/10\\\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\",\"name\":\"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/10\\\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg\",\"datePublished\":\"2014-10-15T08:23:04+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T08:56:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/10\\\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/10\\\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Gadis Kichwa membawa buah-buahan di hutan Amazon Provinsi Napo, timur laut Ekuador. Riset mengindikasikan bahwa masalah kesetaraan sosial dan pembelian lokal sangat penting bagi keberhasilan program pembayaran jasa lingkungan. Tomas Munita\\\/Foto CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/27ec60d42f8a91e2a0f41e0763f345db\",\"name\":\"Whit Mason\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b310936cf6e326766c60e2515423f1fa763428fac40103592b0f7819e1e7be16?s=96&d=mm&r=g6cc98523d50a93597f12809b797e26ea\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b310936cf6e326766c60e2515423f1fa763428fac40103592b0f7819e1e7be16?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b310936cf6e326766c60e2515423f1fa763428fac40103592b0f7819e1e7be16?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Whit Mason\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/whit-mason\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24766\\\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset","og_description":"BOGOR, Indonesia \u2014 Di atas kertas, premis ini sederhana: Meningkatkan tata kelola lingkungan dengan memberikan penghargaan finansial bagi masyarakat yang bertanggungjawab terhadap konservasi. Konsep ini, dikenal sebagai pembayaran jasa lingkungan (PJL), merebut hati banyak pendukung termasuk para pengambil kebijakan yang putus asa untuk mencapai manfaat ekologi nyata dengan anggaran ketat. Skema-skema PJL kini digunakan secara [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-10-15T08:23:04+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T08:56:36+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Whit Mason","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset"},"author":{"name":"Whit Mason","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/27ec60d42f8a91e2a0f41e0763f345db"},"headline":"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset","datePublished":"2014-10-15T08:23:04+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:56:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset"},"wordCount":781,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forest management &amp; restoration","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset","name":"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg","datePublished":"2014-10-15T08:23:04+00:00","dateModified":"2015-10-13T08:56:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Gadis Kichwa membawa buah-buahan di hutan Amazon Provinsi Napo, timur laut Ekuador. Riset mengindikasikan bahwa masalah kesetaraan sosial dan pembelian lokal sangat penting bagi keberhasilan program pembayaran jasa lingkungan. Tomas Munita\/Foto CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dengan uang saja belum cukup menyangga skema pembayaran lingkungan: Riset"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/27ec60d42f8a91e2a0f41e0763f345db","name":"Whit Mason","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b310936cf6e326766c60e2515423f1fa763428fac40103592b0f7819e1e7be16?s=96&d=mm&r=g6cc98523d50a93597f12809b797e26ea","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b310936cf6e326766c60e2515423f1fa763428fac40103592b0f7819e1e7be16?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b310936cf6e326766c60e2515423f1fa763428fac40103592b0f7819e1e7be16?s=96&d=mm&r=g","caption":"Whit Mason"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/whit-mason"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24766\/uang-saja-tidak-cukup-menyangga-skema-pembayaran-lingkungan-temuan-riset#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/MASON-PES-foto-500x332_bahasa.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24766","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/152"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24766"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24766\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35966"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24766"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24766"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24766"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=24766"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=24766"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=24766"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=24766"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=24766"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=24766"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=24766"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=24766"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=24766"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=24766"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}