{"id":24135,"date":"2014-09-15T13:10:42","date_gmt":"2014-09-15T06:10:42","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=24135"},"modified":"2015-10-13T16:09:32","modified_gmt":"2015-10-13T09:09:32","slug":"bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban","title":{"rendered":"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Mereka adalah hutan yang terlupakan.<\/p>\n<p>Hutan gundul atau hutan \u201cterganggu\u201d <a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/avsc.12125\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meluas dengan cepat<\/a> di seluruh daerah tropis, walaupun mereka tidak menerima cukup perhatian seperti pada hutan (\u201cpertumbuhan-tua\u201d) primer \u2013 hingga saat ini.<\/p>\n<p>Sebuah jaringan institusi kemitraan global baru \u2013 <a href=\"http:\/\/tmfo.org\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tropical Managed Forests Observatory (TMFO)<\/a> \u2013 menjadi yang pertama <a href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/avsc.12125\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meneliti<\/a> hutan kelola di tingkat regional dan global, membandingkan cara pemulihan hutan Amazon, di daerah aliran sungai Kongo dan Asia Tenggara setelah penebangan selektif.<\/p>\n<p>Waktu adalah musuh kita. Hutan tropis menghilang sangat cepat, jadi tantangan kita adalah menyatakan bahwa hutan tersebut bisa dimanfaatkan, namun dimanfaatkan dengan cara lestari dibandingkan apa yang terjadi saat ini.<\/p>\n<p>Gagasan hutan hujan tropis tak tersentuh, asli mendominasi imajinasi orang \u2013 dan prioritas riset dan donor, kata Plinio Sist, ilmuwan Pusat Penelitian Pertanian dan Pembangunan Internasional (<a href=\"http:\/\/www.cirad.fr\/en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIRAD<\/a>) yang mengkoordinasi jaringan, yang melibatkan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).<\/p>\n<p>Namun penting juga dipahami dinamika luas wilayah hutan \u2013 400 juta hektar seluruh dunia \u2013 yang dikelola untuk produksi kayu, tulis Sist dan rekan-rekannya dalam sebuah laporan baru yang memaparkan tujuan TMFO.<\/p>\n<p>\u201cAda celah besar di pengetahuan kita soal hutan telah ditebang di wilayah tropis, dan kami pikir terdapat banyak data yang belum digunakan, dan inilah saatnya membuat data tersebut berharga,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cWaktu adalah musuh kita. Hutan tropis menghilang sangat cepat, jadi tantangan kita adalah untuk mengatakan bahwa hutan tersebut dapat dimanfaatkan, tetapi dimanfaatkan dengan cara lebih berkelanjutan dibanding yang saat ini terjadi.\u201d<\/p>\n<p>Seperti <a href=\"http:\/\/www.cell.com\/trends\/ecology-evolution\/abstract\/S0169-5347(14)00154-2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian baru lain oleh para peneliti CIFOR<\/a> menjelaskan, hutan tebangan atau hutan \u201cproduksi\u201d memiliki nilai yang seringkali diabaikan, membuat mereka rentan terhadap degradasi parah seperti penggundulan atau kebakaran. Hutan tropis telah ditebang, tulis peneliti, berbeda dan menyediakan beragam jasa lingkungan penting \u2013 meningkatkan urgensi untuk memfokuskan strategi konservasinya.<\/p>\n<p><strong>MEMETAKAN PEMULIHAN HUTAN<\/strong><\/p>\n<p>Proyek ini dimulai dua tahun lalu dan memanfaatkan data yang dikumpulkan selama beberapa dekade oleh 20 lembaga riset dari hampir 500 petak penelitian permanen di sembilan negara.<\/p>\n<p>Para peneliti menggunakan sekumpulan besar data untuk memahami seberapa cepat hutan di wilayah berbeda memulihkan biomassa, volume kayu dan keragaman hayati setelah mereka ditebang.<\/p>\n<p>Tujuannya adalah menyediakan informasi bermanfaat bagi pengelola hutan dan pembuat kebijakan mengenai kompromi apa yang bisa mereka buat ketika mereka menyeimbangkan penebangan dengan konservasi dan nilai lain.<\/p>\n<p>\u201cApa yang ingin kami jawab adalah, merujuk komposisi hutan di Amazon, atau di Kalimantan, jika kita memanen katakanlah 10 pohon per hektare, maka pemuliah biomassa akan menghabiskan X waktu, pemulihan kayu membutuhkan Y dan keragaman hayati akan Z dalam 30, 40 atau 50 tahun,\u201d kata Sist.<\/p>\n<p>\u201cJadi setidaknya politikus tidak akan bisa bilang, kami tidak tahu.\u201d<\/p>\n<figure id=\"attachment_24062\" aria-describedby=\"caption-attachment-24062\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/24059\/how-do-forests-recover-after-logging-new-network-seeks-to-find-out\/tmfo-blog-foto-2\/\" rel=\"attachment wp-att-24062\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-24062\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/TMFO-blog-foto-2-500x333.jpg\" alt=\"Pekerja menurunkan kayu jati di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa konservasionis kini mengusulkan penggabungan wilayah terlindung dengan konsesi penebangan untuk menjaga lanskap hutan lebih luas daripada yang mungkin ada melalui wilayah terlindung sendiri, tulis peneliti CIFOR. Klik di sini untuk membaca lebih lengkap. Murdani Usman\/Foto CIFOR.\" width=\"500\" height=\"333\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-24062\" class=\"wp-caption-text\">Pekerja menurunkan kayu jati di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa konservasionis kini mengusulkan penggabungan wilayah terlindung dengan konsesi penebangan untuk menjaga lanskap hutan lebih luas daripada yang mungkin ada melalui wilayah terlindung sendiri, tulis peneliti CIFOR. Klik di sini untuk membaca lebih lengkap. Murdani Usman\/Foto CIFOR.<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong> PENEBANGAN UNTUK KONSERVASI<\/strong><\/p>\n<p>Ini adalah strategi yang mereflesikan kenyataan yang dihadapi hutan di negara tropis. Separuhnya telah digunduli atau ditebang, dan separuh tegakan hutan tropis primer direncanakan untuk produksi kayu.<\/p>\n<p>Dan ketika sebagian berkeinginan melindungi semua hutan tropis tersisa, Sist menyatakan hal ini sulit terwujud.<\/p>\n<p>\u201cSecara realistis wilayah tutupan terlindungi di dunia tidak akan mencapai 10 (persen), maksimum 20 persen tutupan lahan,\u201d kata Sist.<\/p>\n<p>\u201cJadi kita perlu mempertimbangkan bahwa hutan tropis, seperti banyak hutan terjaga, akan harus dikelola secara benar agar memberi dampak terhadap konservasi keragaman hayati.\u201d<\/p>\n<p>Hal baik apa yang bisa dilakukan dalam tata kelola hutan berkelanjutan, katanya, adalah menjaga tegakan hutan alami, seraya menghasilkan barang ekonomi \u2013 seperti kayu \u2013 dan jasa lingkungan seperti air dan simpanan karbon.<\/p>\n<p>\u201cHanya karena mereka kaya spesies dan sangat rumit untuk dipahami, tidak berarti tidak ada jalan mengelolanya secara teratur,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cIni tentu saja berarti Anda tidak akan kembali mendapati kondisi hutan perawan tetapi setidaknya Anda akan melindungi banyak spesies \u2013 dan mereka tidak akan berkurang untuk membuka jalan bagi perkebunan sawit,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sejauh ini, pengambil kebijakan tidak selalu mengakui pentingnya hutan seperti ini, kata Sist.<br \/>\nMisalnya, di Indonesia, perpanjangan moratorium konsesi penebangan baru di negara mencakup hanya hutan primer \u2013 masih banyak hutan terkena eksploitasi berlebihan, kata Sist. Sekali hutan terkuras maka tidak akan lagi menguntungkan, dan cenderung dikonversi menjadi perkebunan sawit.<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir ini jalan berbahaya, dan saya berharap hutan yang telah ditebang akan diberi lebih banyak perhatian atas peran mereka menyediakan tidak hanya kayu tetapi juga jasa lingkungan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJika ilmuwan juga mempertimbangkan hutan telah ditebang, maka kita akan menunjukkan pada pengambil keputusan bahwa mereka bagian ekosistem penting.\u201d<\/p>\n<figure id=\"attachment_24065\" aria-describedby=\"caption-attachment-24065\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/24059\/how-do-forests-recover-after-logging-new-network-seeks-to-find-out\/indonesia-mangroves-2\/\" rel=\"attachment wp-att-24065\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-24065\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/indonesia-mangroves-500x331.jpg\" alt=\"Peneliti mengukur akar mangrove di Indonsia. Menjadi memungkinkan bahwa penebangan selektif dan berkelanjutan pohon mangrove bisa dilakukan sambil menjaga karbon mereka \u2013 dan menjaga mereka dari nasib lebih buruk. Klik di sini untuk membaca. Kate Evans\/Foto CIFOR\" width=\"500\" height=\"331\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-24065\" class=\"wp-caption-text\">Peneliti mengukur akar mangrove di Indonsia. Menjadi memungkinkan bahwa penebangan selektif dan berkelanjutan pohon mangrove bisa dilakukan sambil menjaga karbon mereka \u2013 dan menjaga mereka dari nasib lebih buruk. Klik di sini untuk membaca. Kate Evans\/Foto CIFOR<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>PRAKTIK PARTISIPATORIS <\/strong><\/p>\n<p>Inilah tujuan TMFO: menyatukan dan menghasilkan pengetahuan global mengenai ekosistem tersebut.<\/p>\n<p>\u201cJaringan ini berlangsung sangat dinamis dalam periode waktu pendek,\u201d kata Sist. \u201cKami baru berusia dua tahun dan hasilnya cukup impresif: Kami telah mempublikasikan dua makalah; yang ketiga dalam persiapan.\u201d<\/p>\n<p>Bagian kunci sukses sejauh ini, kata Sist, adalah sifat alami partisipatoris tiap proyek. Tiap institusi menjaga kontrol data mentah mereka, dan menyediakan sistesis data untuk TMFO, untuk digunakan menciptakan meta-analisis.<\/p>\n<p>\u201cHal ini strategi yang sangat membantu, karena peneliti menjadi lebih percaya diri untuk bekerja sama karena tidak ada data mentah dibagi.\u201d<\/p>\n<p>Hal ini penting bagi institusi di negara tropis, mengingat banyak yang rendah-sumber daya dan mungkin menolak menyediakan data mereka pada organisasi negara berkembang yang memiliki kapasitas publikasi lebih besar.<\/p>\n<p>\u201cKami mempertimbangkan bahwa mereka yang mengimplementasi petak penelitian sebagai orang yang paling tahu data mereka. Dan ini artinya kami membantu peningkatan kapasitas tiap institusi,\u201d kata Sist.<\/p>\n<p>Langkah berikut, kata Sist, adalah memperkuat dan menghomogenisasi data, yang akan membutuhkan perjalanan ke lapangan untuk melakukan pengukuran tambahan.<\/p>\n<p>Dan para ilmuwan ingin memperluas kelompok dengan memasukkan lebih banyak institusi, katanya.<\/p>\n<p>\u201cOrang makin tertarik pada potensi jaringan ini.\u201d<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai artikel ini silahkan hubungi Plinio Sist di <\/strong><a href=\"mailto:plinio.sist@cirad.fr\">plinio.sist@cirad.fr<\/a><strong> atau Robert Nasi di <\/strong><a href=\"mailto:r.nasi@cgiar.org\">r.nasi@cgiar.org<\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/tmfo.org\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Tropical Managed Forest Observatory<\/em><\/a><em> dikoordinasikan oleh <\/em><em>CIRAD<\/em><em> d<\/em><em>an didukung oleh program <\/em><a href=\"http:\/\/www1.cifor.org\/sentinel-landscapes\/home.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><em>Sentinel Landscapes<\/em><\/a><em> Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon, dan Agroforestri (FTA)<\/em><em>. <\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Mereka adalah hutan yang terlupakan. Hutan gundul atau hutan \u201cterganggu\u201d meluas dengan cepat di seluruh daerah tropis, walaupun mereka tidak menerima cukup perhatian seperti pada hutan (\u201cpertumbuhan-tua\u201d) primer \u2013 hingga saat ini. Sebuah jaringan institusi kemitraan global baru \u2013 Tropical Managed Forests Observatory (TMFO) \u2013 menjadi yang pertama meneliti hutan kelola di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":24137,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[137,1072,186],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[3239,2523,2636,2520,3238,2862],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-24135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forest-management-restoration","category-landscapes","category-production-forests","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-cirad","tag-bahasa-degradasi","tag-bahasa-hutan-produksi","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-plinio-sist","tag-bahasa-tropical-managed-forests-observatory","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia \u2014 Mereka adalah hutan yang terlupakan. Hutan gundul atau hutan \u201cterganggu\u201d meluas dengan cepat di seluruh daerah tropis, walaupun mereka tidak menerima cukup perhatian seperti pada hutan (\u201cpertumbuhan-tua\u201d) primer \u2013 hingga saat ini. Sebuah jaringan institusi kemitraan global baru \u2013 Tropical Managed Forests Observatory (TMFO) \u2013 menjadi yang pertama meneliti hutan kelola di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-09-15T06:10:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-13T09:09:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban\",\"datePublished\":\"2014-09-15T06:10:42+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T09:09:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\"},\"wordCount\":1010,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/09\\\/9678795882_26d2d5480b.jpg\",\"articleSection\":[\"Forest management &amp; restoration\",\"Landscapes\",\"Production forests\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\",\"name\":\"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/09\\\/9678795882_26d2d5480b.jpg\",\"datePublished\":\"2014-09-15T06:10:42+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-13T09:09:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/09\\\/9678795882_26d2d5480b.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/09\\\/9678795882_26d2d5480b.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Hutan tebangan atau hutan \u201cproduksi\u201d memiliki nilai yang seringkali diabaikan, membuat mereka rentan terhadap degradasi parah seperti penggundulan atau kebakaran. Photo @CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/24135\\\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban","og_description":"BOGOR, Indonesia \u2014 Mereka adalah hutan yang terlupakan. Hutan gundul atau hutan \u201cterganggu\u201d meluas dengan cepat di seluruh daerah tropis, walaupun mereka tidak menerima cukup perhatian seperti pada hutan (\u201cpertumbuhan-tua\u201d) primer \u2013 hingga saat ini. Sebuah jaringan institusi kemitraan global baru \u2013 Tropical Managed Forests Observatory (TMFO) \u2013 menjadi yang pertama meneliti hutan kelola di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-09-15T06:10:42+00:00","article_modified_time":"2015-10-13T09:09:32+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban","datePublished":"2014-09-15T06:10:42+00:00","dateModified":"2015-10-13T09:09:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban"},"wordCount":1010,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg","articleSection":["Forest management &amp; restoration","Landscapes","Production forests"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban","name":"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg","datePublished":"2014-09-15T06:10:42+00:00","dateModified":"2015-10-13T09:09:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Hutan tebangan atau hutan \u201cproduksi\u201d memiliki nilai yang seringkali diabaikan, membuat mereka rentan terhadap degradasi parah seperti penggundulan atau kebakaran. Photo @CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana hutan pulih setelah penebangan? Jaringan kemitraan baru coba temukan jawaban"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/24135\/bagaimana-hutan-pulih-setelah-penebangan-jaringan-kemitraan-baru-coba-temukan-jawaban#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/9678795882_26d2d5480b.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24135","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24137"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24135"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=24135"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=24135"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=24135"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=24135"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=24135"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=24135"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=24135"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=24135"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=24135"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=24135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}