{"id":23791,"date":"2014-08-19T17:20:40","date_gmt":"2014-08-19T10:20:40","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=23791"},"modified":"2015-10-16T15:08:48","modified_gmt":"2015-10-16T08:08:48","slug":"fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan","title":{"rendered":"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan"},"content":{"rendered":"<p>Montpellier, France \u2013 Ketika ilmuwan dan pembuat kebijakan mengeksplorasi cara-cara untuk membuat sistem-sistem sosial dan lingkungan lebih mampu bertahan terhadap goncangan, timbul kekhawatiran bahwa ketidakseimbangan kekuasaan dan ketidaksetaraan yang ada mungkin akan bangkit kembali dalam proses tersebut, riset yang dipresentasikan dalam sebuah konferensi terkini menyatakan.<\/p>\n<p>\u201cSaya khawatir daya lentur (resiliansi) akan termotivasi secara politik menjadi semacam instrumen yang menjadikan pihak berkuasa akan semakin berkuasa. Ini seharusnya menjadi instrumen yang berlaku sebaliknya,\u201d ujar Luca Alinovi, seorang ekonom di Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO), dalam <a href=\"http:\/\/www.resilience2014.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Konferensi Resiliensi 2014<\/a> di Montpellier, Perancis.<\/p>\n<p>Studi sains resiliensi mempelajari bagaimana sosio-ekosistem bereaksi untuk mengubah dan seberapa banyak yang dibutuhkan untuk menggeser titik tolak dari sebuah negara yang stabil menjadi bentuk lain.<\/p>\n<p>Banyak riset seperti itu di tingkat global telah difokuskan pada kemampuan bumi untuk mendukung kehidupan manusia lewat sebuah cakupan \u201cbatas-batas bumi\u201dsemisal perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati dan konsumsi air.<\/p>\n<p>\u201cSains resiliensi terlihat semakin lama semakin menjadi sebuah peta titik tolak yang berkaitan dengan perubahan iklim,\u201d kata Johan Rockstr\u00f6m, Direktur Eksekutif Stockholm Resilience Centre dan penulis utama dari <a href=\"http:\/\/www.ecologyandsociety.org\/vol14\/iss2\/art32\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">publikasi asli 2009<\/a> tentang batas-batas bumi.<\/p>\n<p>Meski <a href=\"http:\/\/blogs.oxfam.org\/en\/blog\/12-02-13-can-we-live-inside-doughnut-why-world-needs-planetary-and-social-boundaries\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sebuah badan penelitian yang berkembang<\/a> menyatakan bahwa batas-batas semacam itu seharusnya diseimbangkan dengan kebutuhan sosial minimum yang hendak dicapai jika kebutuhan dasar manusia \u2013 semisal akses bagi ketercukupan pangan dan air \u2013 diupayakan.<\/p>\n<p>&#8220;Tantangan bagi kehidupan manusia adalah membangun semacam cara untuk meningkatkan keberlanjutan dan resiliensi dengan mengintegrasikan integritas lingkungan dengan kesetaraan sosial, hak asasi, kesejahteraan dan keamanan,\u201d terang Melissa Leach, Direktur Institut Studi Pembangunan, Universitas Sussex.<\/p>\n<p>\u201cPertanyaan-pertanyaan terkait politik dan kekuasaan perlu lebih jauh dan lebih baik lagi diintegrasikan ke dalam aparatus konseptual yang sedang kita lihat di sekitar batas-batas bumi dan sosial,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Leach berargumen bahwa tren terkini adalah mencari perbaikan \u201ctekno-sains\u201d untuk mendorong korporasi, ilmuwan dan pemerintah tertarik untuk mempromosikannya, namun mengabaikan baik itu kebutuhan demokratik untuk melibatkan warga dalam prosesnya dan kesempatan untuk menggunakan solusi yang muncul dari inovasi-inovasi masyarakat bawah.<\/p>\n<p>\u201cBeberapa komentator sekarang ini menyinggung tentang bahaya batas-batas bumi yang akan menjadi bentukan pengalihan kekuasaan atas-bawah yang akan mengakhiri anti-demokratis yang telah terbukti,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><strong>KETIKA PERUBAHAN MENEGAKKAN STATUS QUO<\/strong><\/p>\n<p>Pembuat kebijakan juga khawatir jika bantuan bagi masyarakat akan menjadi semakin resisten terhadap goncangan yang mungkin akan menegakkan hubungan kekuasaan yang tidak diharapkan. \u201cApakah kita membutuhkan pembangunan resiliensi di Korea Utara, atau saat ini di Republik Afrika Tengah?\u201d ujar Jean-Marc Ch\u00e2taigner, yang memimpin program bantuan pembangunan untuk Kementerian Luar Negeri Perancis. \u201cResiliensi tanpa demokrasi akan menjadi nonpemula yang absolut.\u201d<\/p>\n<p>Riset lapangan terkini telah menggarisbawahi isu-isu ini dalam lanskap hutan di penjuru dunia. Raffaele Vignola dari <a href=\"http:\/\/catie.ac.cr\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Centro Agron\u00f3mico Tropical de Investigaci\u00f3n y Educaci\u00f3n(CATIE)<\/a>, sebuah institut penelitian pertanian berbasis di Kosta Rika, mempelajari keterlibatan pemangku kepentingan lokal dalam program mitigasi dan adaptasi lintas Amerika Latin dan merupakan ilmuwan partner dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Dia mencermati bahwa kebutuhan dan kepentingan agen eksternal yang tertarik menangani perubahan iklim jarang sesuai dengan masyarakat lokal, yang kerap diabaikan dari diskusi teknis terkait persiapan aksi mitigasi dan adaptasi.<\/p>\n<p>\u201cApa yang kerap terjadi adalah masing-masing terlihat memiliki arah yang berbeda dan tak ada titik temu,\u201d ungkap Vignola. \u201cAsimetris kekuatan harus diperhitungkan dalam proses dalam rangka kepemilikan pengetahuan dan bagaimana pengetahuan dapat dipakai dalam negosiasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam contoh lain, Cecilia Viana, seorang geografer di Universitas Brasilia sekaligus juga ilmuwan partner CIFOR, mengkaji bagaimana pemerintah kota Paragominas di Amazon telah menghilangkan daftar areal yang dinamakan dan mempermalukan pemerintah Brasil dikarenakan catatan deforestasi yang memprihatinkan. Ketika kepemimpinan walikota kota tersebut, dukungan dari perserikatan perdagangan lokal dan sumber daya keuangan dari industri pertambangan diidentifikasi dengan jelas dalam transformasi Paragominas menjadi \u201ckota hijau\u201d, Viana menggarisbawahi tantangan-tantangan yang dihadapi dalam upaya pemerintah untuk merancang model itu di tempat lain.<\/p>\n<p>\u201cMemahami hubungan kekuasaan di dalam sebuah kota masih belum cukup. Perubahan tidak berarti hal yang sama bagi pemilik lahan kecil atau besar. Hal ini dapat menegakkan ketidaksetaraan kekuasaan yang telah ada,\u201d<\/p>\n<p>Ilmuwan CIFOR Houra Djoudi dan Denis Gautier, yang sedang mempelajari implementasi pengelolaan hutan kemasyarakatan di Burkina Faso, mendapatkan temuan yang sama: Ketika keputusan terkait tata guna lahan di kawasan berhutan telah didesentralisasikan ke institusi lokal, yang kerap menegakkan struktur kekuasaan yang telah ada, hal itu kerap mengabaikan kelompok-kelompok seperti para pendatang, penggembala, atau kaum perempuan.<\/p>\n<p>\u201cBahkan, meski Anda menargetkan kelompok-kelompok rentan, Anda harus memastikan bahwa di balik perwakilan mereka, masyarakat benar-benar diberdayakan,\u201d ungkap Gautier.<\/p>\n<p>Dia dan Djoudi melanjutkan pertentangan pendekatan-pendekatan masyarakat secara keseluruhan atau bahkan rumah tangga sebagai kelompok-kelompok homogen dan bersikukuh akan pentingnya strategi-strategi individu dengan mereka.<\/p>\n<p>\u201cKami cenderung untuk mengabaikan masyarakat mengingat mereka telah memiliki distribusi kekuatan mereka sendiri,\u201d pungkas Djoudi.<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih lanjut terkait topik dalam artikel ini, silakan menghubungi Houra Djoudi di h.djoudi@cgiar.org.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Montpellier, France \u2013 Ketika ilmuwan dan pembuat kebijakan mengeksplorasi cara-cara untuk membuat sistem-sistem sosial dan lingkungan lebih mampu bertahan terhadap goncangan, timbul kekhawatiran bahwa ketidakseimbangan kekuasaan dan ketidaksetaraan yang ada mungkin akan bangkit kembali dalam proses tersebut, riset yang dipresentasikan dalam sebuah konferensi terkini menyatakan. \u201cSaya khawatir daya lentur (resiliansi) akan termotivasi secara politik menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":23794,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,137,13,1072,180],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2831,4266,4268,2865,4267,4263,4264,4260,2516,4259,2590,4262,2564,4265,2646,4261],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1041],"class_list":["post-23791","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forest-management-restoration","category-governance","category-landscapes","category-mitigating-climate-change","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-catie","tag-bahasa-cecilia-viana","tag-bahasa-denis-gautier","tag-bahasa-fao","tag-bahasa-houria-djoudi","tag-bahasa-institut-studi-pembangunan","tag-bahasa-jean-marc-chataigner","tag-bahasa-johan-rockstrom","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-luca-alinovi","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-melissa-leach","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-raffaele-vignola","tag-bahasa-resiliensi","tag-bahasa-stockholm-resilience-centre","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Montpellier, France \u2013 Ketika ilmuwan dan pembuat kebijakan mengeksplorasi cara-cara untuk membuat sistem-sistem sosial dan lingkungan lebih mampu bertahan terhadap goncangan, timbul kekhawatiran bahwa ketidakseimbangan kekuasaan dan ketidaksetaraan yang ada mungkin akan bangkit kembali dalam proses tersebut, riset yang dipresentasikan dalam sebuah konferensi terkini menyatakan. \u201cSaya khawatir daya lentur (resiliansi) akan termotivasi secara politik menjadi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-08-19T10:20:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-16T08:08:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"342\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Thomas Hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@tom_hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\"},\"author\":{\"name\":\"Thomas Hubert\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\"},\"headline\":\"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan\",\"datePublished\":\"2014-08-19T10:20:40+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-16T08:08:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\"},\"wordCount\":774,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/08\\\/Resiliance.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\",\"Landscapes\",\"Mitigation\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\",\"name\":\"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/08\\\/Resiliance.jpg\",\"datePublished\":\"2014-08-19T10:20:40+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-16T08:08:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/08\\\/Resiliance.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/08\\\/Resiliance.jpg\",\"width\":500,\"height\":342,\"caption\":\"Tantangan bagi kehidupan manusia adalah membangun semacam cara untuk meningkatkan keberlanjutan dan resiliensi dengan mengintegrasikan integritas lingkungan dengan kesetaraan sosial, hak asasi, kesejahteraan dan keamanan, menurut pakar. Foto @CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\",\"name\":\"Thomas Hubert\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Thomas Hubert\"},\"description\":\"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@tom_hubert\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/thomas-hubert\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/23791\\\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan","og_description":"Montpellier, France \u2013 Ketika ilmuwan dan pembuat kebijakan mengeksplorasi cara-cara untuk membuat sistem-sistem sosial dan lingkungan lebih mampu bertahan terhadap goncangan, timbul kekhawatiran bahwa ketidakseimbangan kekuasaan dan ketidaksetaraan yang ada mungkin akan bangkit kembali dalam proses tersebut, riset yang dipresentasikan dalam sebuah konferensi terkini menyatakan. \u201cSaya khawatir daya lentur (resiliansi) akan termotivasi secara politik menjadi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-08-19T10:20:40+00:00","article_modified_time":"2015-10-16T08:08:48+00:00","og_image":[{"width":500,"height":342,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Thomas Hubert","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@tom_hubert","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan"},"author":{"name":"Thomas Hubert","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077"},"headline":"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan","datePublished":"2014-08-19T10:20:40+00:00","dateModified":"2015-10-16T08:08:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan"},"wordCount":774,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forest management &amp; restoration","Governance","Landscapes","Mitigation"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan","name":"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg","datePublished":"2014-08-19T10:20:40+00:00","dateModified":"2015-10-16T08:08:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg","width":500,"height":342,"caption":"Tantangan bagi kehidupan manusia adalah membangun semacam cara untuk meningkatkan keberlanjutan dan resiliensi dengan mengintegrasikan integritas lingkungan dengan kesetaraan sosial, hak asasi, kesejahteraan dan keamanan, menurut pakar. Foto @CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Fokus dalam resiliensi bisa berisiko beralihnya kekuasaan, ilmuwan mengingatkan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077","name":"Thomas Hubert","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","caption":"Thomas Hubert"},"description":"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@tom_hubert"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/thomas-hubert"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/23791\/fokus-dalam-resiliensi-bisa-berisiko-berubahnya-arah-pengalihan-kekuasaan-ilmuwan-mengingatkan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Resiliance.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23791","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23791"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23791\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23791"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23791"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23791"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=23791"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=23791"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=23791"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=23791"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=23791"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=23791"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=23791"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=23791"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=23791"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=23791"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}