{"id":22870,"date":"2014-06-04T10:51:06","date_gmt":"2014-06-04T03:51:06","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=22870"},"modified":"2018-02-07T16:09:02","modified_gmt":"2018-02-07T09:09:02","slug":"bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara","title":{"rendered":"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara"},"content":{"rendered":"<p>Catatan Editor: The Forest Dialogue diselenggarakan dalam sebuah sesi diskusi di Pertemuan Puncak Forests Asia, 5-6 Mei di Jakarta. Forum ini, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/forestsasia\/agenda-item\/monday-may-5th\/discussion-forums-2\/food-security-dialogue-changing-outlooks-food-fuel-fibre-forests-4fs-indonesia-case-central-kalimantan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><strong>Dialogue on changing outlooks for food, fuel, fiber and forests (4Fs) in Indonesia: The case of Central Kalimantan<\/strong><\/a> (Dialog untuk merubah pandangan terkait pangan, bahan bakar, kayu dan hutan (4Fs) di Indonesia: Kasus Kalimantan Tengah), menyajikan sebuah \u2018mini dialog\u2019, yang diambil dari Field Dialogue yang secara aktif mengikat para partisipan dalam Pertemuan Puncak Forests Asia berdiskusi bagaimana mendukung transisi lanskap yang lebih berkelanjutan di Asia. Baca <a href=\"\/\/www.cifor.org\/forestsasia\/agenda-item\/monday-may-5th\/discussion-forums-2\/food-security-dialogue-changing-outlooks-food-fuel-fibre-forests-4fs-indonesia-case-central-kalimantan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">di sini<\/a> untuk detil lebih lanjut. Artikel ini telah dipublikasikan dalam edisi <a href=\"http:\/\/www.thejakartaglobe.com\/business\/better-manage-forests-farms-start-talking\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">24 April di harian Jakarta Globe<\/a>.<\/p>\n<p>Masalah asap yang terus-menerus, berdampak besar dan dalam skala besar di Riau, telah menjadi sebuah pengingat yang berharga mengenai betapa sulitnya mengelola lanskap ketika \u201ctipping points\/titik balik\u201d telah dilewati. Seperti kata pepatah yang menyatakan memperbaiki sesuatu baru setelah masalah muncul. Namun isu terkini di Riau hanyalah sebuah contoh dari banyak contoh lainnya di dunia \u2013 semisal sejarah konflik tata guna lahan di Amazon, atau yang disebut sebagai \u201cperebutan lahan\u201d untuk ekspansi pertanian di Afrika.<\/p>\n<p>Lanskap telah ditransformasikan oleh masyarakat sejak nenek moyang kita memulai praktik pertanian. Skala dan laju perubahan telah meningkat pesat dalam 100 tahun terakhir, terutama di 50 tahun terakhir. Dengan adanya kebutuhan sosial dan ekonomi, seperti peningkatan kebutuhan akan pangan dan biofuel, serta perubahan demografis, akan terus merubah lanskap secara global.<\/p>\n<p>Mengelola transformasi lanskap dengan baik adalah kunci untuk mewujudkan hasil yang berkelanjutan sekaligus menyediakan manfaat sosial dan ekonomi tanpa menghabiskan biaya sosial dan lingkungan yang tidak perlu. Indonesia, dan negara-negara lain yang memiliki sumber daya alam dan lahan yang kaya, akan terus menjadi fokus bagi transformasi ini. Namun mengelola transformasi lanskap dengan baik memang sulit \u2013 bahkan kerap kali, sangat sulit. Yang telah terjadi, proses-proses yang direncanakan seperti yang telah dirancang oleh para akademik atau birokrat, yang terlihat bagus di peta dalam layar komputer, kebanyakan hampir tidak mungkin terwujud secara praktik. Terdapat banyak kepentingan yang harus direkonsiliasikan: dimana beberapa diantaranya sangat menekan dan penting, semisal meningkatkan pendapatan penduduk miskin; beberapa bahkan sulit untuk dinilai, semisal keanekaragaman hayati dan mitigasi perubahan iklim. Selain itu, di semua negara, terdapat batas kekuasaan sebenarnya bagi pemerintah untuk mengelola perubahan di lapangan.<\/p>\n<p>Karena alasan-alasan itulah, transformasi lanskap biasanya berantakan ketimbang rapi, bersaing ketimbang sepakat, dan kerap membawa hasil yang suboptimal \u2013 bagi masyarakat dan lingkungan, dan antara kepentingan jangka pendek dan panjang. Proses perubahan menuntut mereka agar menjadi lebih dari yang lain, dan kerap mengabaikan kaum miskin; pemerintah, pebisnis dan masyarakat berada di dalam konflik; serta hasil yang buruk dan tak diharapkan \u2013 semisal adanya kebakaran lahan gambut \u2013 menjadi sesuatu yang umum.<\/p>\n<p>Jadi, apa yang harus dilakukan?<\/p>\n<p>Sebuah konklusi pembelajaran dari pengalaman-pengalaman yang terjadi di dunia adalah kebutuhan untuk memahami lanskap \u2013 bukan hanya secara geografis dan ekosistem, namun juga masyarakat dan nilai-nilainya \u2013 secara keseluruhan, serta berbagi dan mengintegrasikan ilmu pengetahuan tersebut secara lintas kepentingan sektoral. Konklusi pembelajaran lain yang dirasa sulit adalah bahwa hal ini sangat mudah dikatakan namun sulit dipraktikkan. Dan ketiga, akan ada banyak manfaat jika bisa mendudukkan bersama semua kelompok pemangku kepentingan dalam sebuah lanskap, lewat sebuah pembicaraan dan negosiasi, lebih cepat sebelum kondisi semakin gawat.<\/p>\n<p>Sebulan lalu, inilah yang dilakukan oleh Center for International Forestry Research, sebuah lembaga penelitian interpemerintah global yang berkantor pusat di Bogor, dan The Forests Dialogue, sebuah platform multipemangku kepentingan yang berkantor di Universitas Yale, melakukannya dengan dukungan dari pemerintah Kalimantan Tengah dan kementerian terkait di Indonesia. 70 orang berpartisipasi, termasuk 30 partisipan dari luar Indonesia yang memiliki pengalaman terkait tantangan situasi ini di wilayah mereka, serta bentangan beragam kepentingan lanskap yang ada; masyarakat lokal dan tradisional; organisasi nonpemerintah dan berbasis komunitas; badan pemerintah dengan tanggung jawab lintas spektrum untuk perencanaan, pengelolaan dan pengembangan lahan; perusahaan kelapa sawit beserta badan perwakilan mereka; serta para peneliti dan praktisi.<\/p>\n<p>Mereka berdiskusi selama empat hari di kota dan sekitar Palangkaraya untuk memahami serta belajar tentang bagaimana pemerintah tingkat lokal, provinsi dan nasional merencanakan dan mengelola perubahan lanskap di Kalimantan Tengah \u2013 dimana gubernur dan pemerintah provinsi sedang mempromosikan pertumbuhan hijau yang akan menguntungkan penduduk lokal, dimana tengah terjadi degradasi lanskap yang telah menguntungkan investor skala besar semisal lewat perkebunan kelapa sawit, dan dimana banyak tersedia nilai-nilai lingkungan hidup yang penting secara global semisal cadangan karbon di lahan gambut dan keanekaragaman hayati dengan adanya orangutan di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>Partisipan diminta untuk mengidentifikasi pendekatan-pendekatan yang relevan, tidak hanya bagi Kalimantan Tengah, namun juga bagi hampir 40 negara perwakilan atau tempat dimana mereka bekerja.<\/p>\n<p>Prioritas pertama adalah mereka mengidentifikasi rencana pembangunan provinsi (untuk memajukan ekonomi dan kehidupan sosial) dengan rencana spasial (untuk menentukan dimana dan bagaimana rencana dilaksanakan).<\/p>\n<p>Kedua adalah kebutuhan untuk memperkuat kapasitas penduduk lokal \u2013 termasuk lewat inklusi yang lebih luas, transparansi, dan pertukaran informasi \u2013 untuk berkontribusi terhadap rencana ini, serta memastikan bahwa rencana yang ada dapat menjadi sarana hingga selesainya pelaksanaan, bukan justru untuk mengakhirinya.<\/p>\n<p>Ketiga adalah kebutuhan untuk meningkatkan status petani skala kecil dan pemilik tanah sebagai agen-agen pembangunan, lewat pilihan yang lebih bebas, kemitraan yang lebih setara dan koneksi pasar yang lebih baik.<\/p>\n<p>Keempat, melengkapi yang ketiga, adalah keterlibatan sektor swasta, apakah itu korporasi multinasional atau perusahaan kecil maupun menengah, sangat penting untuk mewujudkan pembangunan secara lestari.<\/p>\n<p>Dan prioritas keempat yang menyeluruh adalah bahwa seluruh partisipan menyadari akan kebutuhan untuk memahami hutan sebagai bagian dari lanskap yang lebih luas, subjek bagi upaya pembangunan dan perekonomian yang lebih luas; dan bahwa isu-isu sosial \u2013 termasuk masyarakat adat dan hak asasi manusia, serta penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat \u2013 merupakan bagian yang sama banyak dengan lanskap yang ada seperti halnya pepohonan dan perkebunan.<\/p>\n<p>Dialog Kalimantan Tengah hanyalah salah satu dari sekian banyak langkah yang dibutuhkan untuk membantu mengelola transformasi lanskap. Dibutuhkan lebih banyak lagi dialog antar pemangku kepentingan, lebih kuat lagi komitmen untuk aksi dan lebih banyak lagi penelitian untuk mendukung keputusan yang benar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Editor: The Forest Dialogue diselenggarakan dalam sebuah sesi diskusi di Pertemuan Puncak Forests Asia, 5-6 Mei di Jakarta. Forum ini, Dialogue on changing outlooks for food, fuel, fiber and forests (4Fs) in Indonesia: The case of Central Kalimantan (Dialog untuk merubah pandangan terkait pangan, bahan bakar, kayu dan hutan (4Fs) di Indonesia: Kasus Kalimantan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":36278,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,137,173,13,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2587,2568,2548,2670,2463,2591],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1458],"class_list":["post-22870","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forest-management-restoration","category-gender-justice-tenure","category-governance","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-kabut-asap","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-ktt-hutan-asia","tag-bahasa-partisipasi-lokal","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Catatan Editor: The Forest Dialogue diselenggarakan dalam sebuah sesi diskusi di Pertemuan Puncak Forests Asia, 5-6 Mei di Jakarta. Forum ini, Dialogue on changing outlooks for food, fuel, fiber and forests (4Fs) in Indonesia: The case of Central Kalimantan (Dialog untuk merubah pandangan terkait pangan, bahan bakar, kayu dan hutan (4Fs) di Indonesia: Kasus Kalimantan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-06-04T03:51:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T09:09:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Peter Kanowski\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\"},\"author\":{\"name\":\"Peter Kanowski\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/2c01517e1f8fa98bd91b93badc54e6ac\"},\"headline\":\"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara\",\"datePublished\":\"2014-06-04T03:51:06+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:09:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\"},\"wordCount\":962,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Riau_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Governance\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\",\"name\":\"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Riau_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2014-06-04T03:51:06+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:09:02+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Riau_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Riau_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Asap akibat kebakaran hutan di perkebunan kelapa sawit di provinsi Riau, Sumatera, Indonesia, menyelimuti lanskap. Foto @CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/2c01517e1f8fa98bd91b93badc54e6ac\",\"name\":\"Peter Kanowski\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/23975911743b78f513b5b42dd9972915509a86270f6459982559bfc74320da33?s=96&d=mm&r=g103d90bf283710bbbe4860caad741107\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/23975911743b78f513b5b42dd9972915509a86270f6459982559bfc74320da33?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/23975911743b78f513b5b42dd9972915509a86270f6459982559bfc74320da33?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Peter Kanowski\"},\"description\":\"Peter Kanowski is Deputy Director General, Science - Cross Cutting &amp; Impact at the Center for International Forestry Research, where his responsibilities include science quality, capacity development, and the Evidence Based Forestry initiative. Through the EBF initiative, CIFOR is working with partners to strengthen the quality of research conclusions relevant to policy and practice. Prior to joining CIFOR, Peter was Professor of Forestry at the Australian National University, and a Lecturer at Oxford University\u2019s Forestry Institute, where his research focused on forest governance and practices, smallholder forestry, and planted forests.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/peter-kanowski\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22870\\\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara","og_description":"Catatan Editor: The Forest Dialogue diselenggarakan dalam sebuah sesi diskusi di Pertemuan Puncak Forests Asia, 5-6 Mei di Jakarta. Forum ini, Dialogue on changing outlooks for food, fuel, fiber and forests (4Fs) in Indonesia: The case of Central Kalimantan (Dialog untuk merubah pandangan terkait pangan, bahan bakar, kayu dan hutan (4Fs) di Indonesia: Kasus Kalimantan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-06-04T03:51:06+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T09:09:02+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Peter Kanowski","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara"},"author":{"name":"Peter Kanowski","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/2c01517e1f8fa98bd91b93badc54e6ac"},"headline":"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara","datePublished":"2014-06-04T03:51:06+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:09:02+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara"},"wordCount":962,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forest management &amp; restoration","Gender, justice &amp; tenure","Governance","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara","name":"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg","datePublished":"2014-06-04T03:51:06+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:09:02+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Asap akibat kebakaran hutan di perkebunan kelapa sawit di provinsi Riau, Sumatera, Indonesia, menyelimuti lanskap. Foto @CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana cara yang lebih baik mengelola hutan dan perkebunan? Mulailah bicara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/2c01517e1f8fa98bd91b93badc54e6ac","name":"Peter Kanowski","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/23975911743b78f513b5b42dd9972915509a86270f6459982559bfc74320da33?s=96&d=mm&r=g103d90bf283710bbbe4860caad741107","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/23975911743b78f513b5b42dd9972915509a86270f6459982559bfc74320da33?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/23975911743b78f513b5b42dd9972915509a86270f6459982559bfc74320da33?s=96&d=mm&r=g","caption":"Peter Kanowski"},"description":"Peter Kanowski is Deputy Director General, Science - Cross Cutting &amp; Impact at the Center for International Forestry Research, where his responsibilities include science quality, capacity development, and the Evidence Based Forestry initiative. Through the EBF initiative, CIFOR is working with partners to strengthen the quality of research conclusions relevant to policy and practice. Prior to joining CIFOR, Peter was Professor of Forestry at the Australian National University, and a Lecturer at Oxford University\u2019s Forestry Institute, where his research focused on forest governance and practices, smallholder forestry, and planted forests.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/peter-kanowski"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22870\/bagaimana-cara-yang-lebih-baik-mengelola-hutan-dan-perkebunan-mulailah-bicara#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Riau_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22870","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22870"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22870\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36278"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22870"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22870"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22870"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=22870"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=22870"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=22870"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=22870"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=22870"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=22870"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=22870"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=22870"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=22870"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=22870"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}