{"id":22794,"date":"2014-06-02T16:00:13","date_gmt":"2014-06-02T09:00:13","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=22794"},"modified":"2018-02-07T16:09:03","modified_gmt":"2018-02-07T09:09:03","slug":"taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi","title":{"rendered":"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia <a href=\"http:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/abs\/10.1080\/10549811.2014.888355#.U3Ly1K2SxOU\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">\u2014 Penelitian untuk peningkatan kemitraan<\/a> di antara pemangku kepentingan sebuah perkebunan bubur kertas di Sumatera, memperkuat kekuatan negosiasi masyarakat lokal, meringankan konflik dua dekade dan mendorong penghidupan di sebuah wilayah dengan 48 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan.<\/p>\n<p>Penelitian dilakukan sebagai respon terhadap kegagalan kemitraan yang ada antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitar untuk menyelesaikan perseteruan kepemilikan lahan, dan konflik masyarakat lokal atas pembayaran kompensasi kehilangan 296.400 hektare (732,420-akre) lahan perkebunan.<\/p>\n<p>Dalam beberapa kasus, konflik atas siapa yang berhak atas kompensasi memunculkan kekerasan, menurut makalah, \u201c<a href=\"http:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/10549811.2014.888355#.U3LzLa2SxOU\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Aksi Komunikatif untuk Menyejajarkan Medan Permainan dalam Perkebunan Hutan di Indonesia<\/a> (Communicative Action to Lvel the Playing Field in Forest Plantation in Indonesia),\u201d yang baru-baru dini dipublikasikan dalam Jurnal Sustainable Forestry.<\/p>\n<p>Penulis utama Herry Purnomo dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) menyatakan bahwa penelitian membangun forum bagi negosiasi lebih setara, dan pendekatan ini bisa digunakan sebagai model di seluruh Indonesia, sejalan dengan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/ard\/documents\/background\/Day5.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">rencana resmi<\/a> Kementerian Kehutanan 2011 untuk memperluas lahan perkebunan.<\/p>\n<p>Walaupun lahan ditawarkan kepada perusahaan perkebunan swasta secara formal dikategorikan lahan negara, pada praktiknya, sebagian besar dikelola masyarakat lokal yang bergantung padanya untuk penghidupan, papar makalah.<\/p>\n<p>Hasilnya, pemerintah Indonesia mengeluarkan regulasi \u201cmanajemen bersama\u201d perkebunan hutan.<\/p>\n<p>Makalah Herry Purnomo mengutip <a href=\"https:\/\/researchers.anu.edu.au\/publications\/9479\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penelitian sebelumnya<\/a> yang menunjukkan ekspansi perkebunan bubur kertas di Indonesia mengarah pada konflik pemberian lahan, dampak lingkungan dan akses ketenagakerjaan.<\/p>\n<p>\u201cPenelitian kami melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra penelitian untuk mengidentifikasi masalah dan bekerja sama menuju solusi,\u201d kata Purnomo.<\/p>\n<p>\u201cKetika penelitian dimulai pada 2005, 25 persen populasi lokal bergantung pada perkebunan untuk penghasilan dalam bentuk upah pekerjaan fisik, gaji kerja kantoran dan kontrak penanaman, penyiangan dan pemanenan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Masyarakat yang lahan tradisionalnya berada dalam batas perkebunan juga menerima pembayaran produksi, berdasar harga panen per meter kubik kayu (<em>Acacia mangium<\/em>), selain honor pemeliharaan dari perusahaan.<\/p>\n<p>\u201cKemitraan awal ini, dikembangkan oleh perusahaan, memberi uang pada masyarakat lokal, tetapi juga menghasilkan konflik karena tidak jelas siapa penerima pembayaran produksi, atau apakah jumlah uang itu cukup,\u201d kata Purnomo.<\/p>\n<p>Masalah intinya adalah ketidaksetaraan keseimbangan kekuatan antara pemangku kepentingan, uang seringkali masuk ke elit desa dan tidak secara jujur dibagikan, katanya.<\/p>\n<p>Terdapat pula konflik antara masyarakat pemilik klaim tradisional lahan perkebunan tetapi tinggal di luar batas konsesi, dan di antara migran baru yang pindah ke desa di dalam perkebunan untuk bekerja.<\/p>\n<p>\u201cSaya lihat konflik menjadi kekerasan jika tidak ada proses fasilitasi.\u201d<\/p>\n<p><strong>Riset Levelling the playing field<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini \u2013 bagian dari projek tiga tahun \u201cLevelling the Playing Field,\u201d didukung oleh Uni Eropa \u2013 mencakup survei rumah tangga, pertemuan dan forum pemangku kepentingan. Menurut Purnomo, forum memungkinkan anggota masyarakat untuk menyepakatai bagaimana pembayaran perusahaan seharusnya lebih terdistribusikan secara adil, dan melakukan negosiasi harga kayu dan upah kelola, dua hal yang dihargai rendah dalam temuan penelitian.<\/p>\n<p>Perusahaan sepakat menawarkan kontrak operasi perkebunan eksklusif kepada masyarakat lokal yang memiliki ikatan tradisional terhadap lahan, dan dengan ikatan hukum yang ditentukan untuk memperkokoh kemitraan.<\/p>\n<p>Masyarakat di luar perkebunan, tetapi memiliki klaim tradisional terhadap lahan, mengungkap keinginan untuk mendapat 25 persen lahan mereka untuk mengembangkan perkebunan karet, sawit dan lainnya sebagai sumber penghidupan. Meningkatnya akses ketenagakerjaan adalah tujuan bersama.<\/p>\n<p>Makalah ini mengakui tujuan jangka panjang hak kepemilikan lahan yang disepakati dan melaporkan bahwa \u201cproses penelitian mendorong transformasi sosial dan politik.\u201d<\/p>\n<p>Purnomo menulis bahwa penelitian ini berdasar teori aksi komunikasi <a href=\"http:\/\/plato.stanford.edu\/entries\/habermas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jurgen Habermas\u2019<\/a>, yaitu para aktor <a href=\"http:\/\/web.williams.edu\/Economics\/papers\/Habermas.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mencari kesamaan tindakan melalui konsensus dan kerjasama<\/a> dibanding semata memburu tujuan sendiri.<\/p>\n<p><strong>Manfaat lingkungan<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Herry Purnomo, jika masyarakat lokal yakin bahwa mereka akan menerima harga kayu yang adil dari perusahaan perkebunan, mereka cenderung akan bekerja keras melakukan penanaman dan mengamankan panen berikut, mereduksi degradasi utan dan emisi terkait perubahan iklim. Hasil seperti itu relvan dengan program termasuk <a href=\"http:\/\/www.un-redd.org\/AboutREDD\/tabid\/102614\/Default.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">REDD+<\/a> (Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan).<\/p>\n<p>Kerangka kerja membangun kemitraan lebih setara dari kajian ini bisa membantu pengembangan perkebunan masyarakat skala kecil yang bekerja dalam kemitraan dengan perkebunan sawit dan bubur kertas skala besar, katanya. \u201cKolaborasi seperti ini diperlukan jika produsen skala kecil ingin bersaing dengan negara seperti China,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat banyak hutan di seputar pulau Jawa Indonesia saat ini dibanding lima tahun lalu karena penanaman perkebuhan kehutanan skala kecil.\u201d<\/p>\n<p>Semua pemangku kepentingan dalam penelitian perkebunan bubur kayu Sumatra \u2013 perusahaan, masyarakat dan pemerintah lokal \u2013 meminta penelitian dan sepakat bahwa perkebuhan hutan milik perusahaan harus berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Untuk informasi lebih mengenai penelitian ini, hubungi Herry Purnomo di <\/strong><a href=\"mailto:h.purnomo@cgiar.org\"><strong>h.purnomo@cgiar.org<\/strong><\/a><strong>.<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini merupakanbagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri serta didanai sebagian oleh Uni Eropa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2014 Penelitian untuk peningkatan kemitraan di antara pemangku kepentingan sebuah perkebunan bubur kertas di Sumatera, memperkuat kekuatan negosiasi masyarakat lokal, meringankan konflik dua dekade dan mendorong penghidupan di sebuah wilayah dengan 48 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Penelitian dilakukan sebagai respon terhadap kegagalan kemitraan yang ada antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":108,"featured_media":22795,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[161,137,173,13,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2906,2670,2543,2590,2626,2819,2583],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1232],"class_list":["post-22794","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-gender-justice-tenure","category-governance","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-herry-purnomo","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-kesetaraan","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-perkebunan","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-tenaga-kerja","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia \u2014 Penelitian untuk peningkatan kemitraan di antara pemangku kepentingan sebuah perkebunan bubur kertas di Sumatera, memperkuat kekuatan negosiasi masyarakat lokal, meringankan konflik dua dekade dan mendorong penghidupan di sebuah wilayah dengan 48 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Penelitian dilakukan sebagai respon terhadap kegagalan kemitraan yang ada antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-06-02T09:00:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T09:09:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Katherine Johnson\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\"},\"author\":{\"name\":\"Katherine Johnson\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/8a0ecbbf9d949f1e03fbbc9dfa69969a\"},\"headline\":\"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi\",\"datePublished\":\"2014-06-02T09:00:13+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:09:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\"},\"wordCount\":726,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg\",\"articleSection\":[\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Governance\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\",\"name\":\"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg\",\"datePublished\":\"2014-06-02T09:00:13+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:09:03+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/06\\\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Truk sarat muatan kayu di Gunung Lumut, Kalimantan. Sebuah penelitian dekat perkebunan bubur kertas di Sumatera membantu meringankan konflik penggunaan lahan dan memberi manfaat terhadap masyarakat lokal dan perusahaan perkebunan. Foto @CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/8a0ecbbf9d949f1e03fbbc9dfa69969a\",\"name\":\"Katherine Johnson\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f480c1dccc7291c4e6d1fdd25a3fdad240907a24cd9920ee3dd03915e49cf004?s=96&d=mm&r=ga91e48be5de116a9769c22ecc47649c7\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f480c1dccc7291c4e6d1fdd25a3fdad240907a24cd9920ee3dd03915e49cf004?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f480c1dccc7291c4e6d1fdd25a3fdad240907a24cd9920ee3dd03915e49cf004?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Katherine Johnson\"},\"description\":\"Katherine Johnson holds degrees in science and journalism with honours in zoology from the University of Queensland, Australia. Katherine has worked as a science writer for the World Wildlife Fund-endorsed magazine, \\\"Living Planet\\\"; Australia's national research agency, CSIRO and universities. Her articles have appeared in \\\"Ecos\\\", \\\"Australasian Geo\\\", \\\"Australasian Science\\\", \\\"EuroPacific Observer\\\" and others. As well as having a passion for science communication, she is a novelist (Pescador\u2019s Wake, Fourth Estate\\\/HarperCollins, 2009). She lives in Australia.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/katherine-johnson\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22794\\\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi","og_description":"BOGOR, Indonesia \u2014 Penelitian untuk peningkatan kemitraan di antara pemangku kepentingan sebuah perkebunan bubur kertas di Sumatera, memperkuat kekuatan negosiasi masyarakat lokal, meringankan konflik dua dekade dan mendorong penghidupan di sebuah wilayah dengan 48 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Penelitian dilakukan sebagai respon terhadap kegagalan kemitraan yang ada antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-06-02T09:00:13+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T09:09:03+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Katherine Johnson","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi"},"author":{"name":"Katherine Johnson","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/8a0ecbbf9d949f1e03fbbc9dfa69969a"},"headline":"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi","datePublished":"2014-06-02T09:00:13+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:09:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi"},"wordCount":726,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg","articleSection":["Deforestation","Forest management &amp; restoration","Gender, justice &amp; tenure","Governance","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi","name":"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg","datePublished":"2014-06-02T09:00:13+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:09:03+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Truk sarat muatan kayu di Gunung Lumut, Kalimantan. Sebuah penelitian dekat perkebunan bubur kertas di Sumatera membantu meringankan konflik penggunaan lahan dan memberi manfaat terhadap masyarakat lokal dan perusahaan perkebunan. Foto @CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Taktik baru meringankan konflik tata guna perkebunan Indonesia: Studi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/8a0ecbbf9d949f1e03fbbc9dfa69969a","name":"Katherine Johnson","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f480c1dccc7291c4e6d1fdd25a3fdad240907a24cd9920ee3dd03915e49cf004?s=96&d=mm&r=ga91e48be5de116a9769c22ecc47649c7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f480c1dccc7291c4e6d1fdd25a3fdad240907a24cd9920ee3dd03915e49cf004?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f480c1dccc7291c4e6d1fdd25a3fdad240907a24cd9920ee3dd03915e49cf004?s=96&d=mm&r=g","caption":"Katherine Johnson"},"description":"Katherine Johnson holds degrees in science and journalism with honours in zoology from the University of Queensland, Australia. Katherine has worked as a science writer for the World Wildlife Fund-endorsed magazine, \"Living Planet\"; Australia's national research agency, CSIRO and universities. Her articles have appeared in \"Ecos\", \"Australasian Geo\", \"Australasian Science\", \"EuroPacific Observer\" and others. As well as having a passion for science communication, she is a novelist (Pescador\u2019s Wake, Fourth Estate\/HarperCollins, 2009). She lives in Australia.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/katherine-johnson"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22794\/taktik-baru-meringankan-konflik-tata-guna-perkebunan-indonesia-studi#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/Log-Truck_Mt-Lumut_Kalimantan.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22794","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/108"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22794"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22794\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22795"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22794"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22794"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22794"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=22794"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=22794"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=22794"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=22794"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=22794"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=22794"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=22794"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=22794"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=22794"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=22794"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}