{"id":22504,"date":"2014-05-13T15:15:36","date_gmt":"2014-05-13T08:15:36","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=22504"},"modified":"2015-10-19T16:33:31","modified_gmt":"2015-10-19T09:33:31","slug":"mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar","title":{"rendered":"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar"},"content":{"rendered":"<p>Pertanian terkendali dan pembudidayaan memiliki potensi untuk memasok pasar secara berkelanjutan \u2014 baik dalam bentuk perkebunan jati untuk mebel kayu, budidaya sejenis tikus Nigeria (<i>cane-rat<\/i>) untuk konsumsi lokal, budidaya harimau untuk pengobatan tradisional, peternakan hewan potong untuk makanan dan olahraga berburu, atau <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/21473\/prostates-prunus-and-policy-a-remarkable-tree-a-contested-study-and-tough-choices-ahead\">budidaya tumbuhan<\/a> untuk pasaran farmasi.<\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Selain mengurangi tekanan terhadap sumber daya liar, budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar memiliki potensi bagi peningkatkan penghidupan pedesaan dan akses pangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Bahkan, artikel-artikel terbaru telah meminta <\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/conl.12082\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">intervensi seperti misalnya pembudidayaan tumbuhan liar<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dan peternakan satwa liar untuk membantu mengurangi perdagangan liar yang merajalela dari spesies kayu yang dilindungi dan perburuan gajah dan <\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/10629\/indonesia-brings-new-hope-for-rhino-conservation\">badak<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\"> pada tingkat yang mengejutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Meskipun ada sejumlah besar janji, penelitian menyarankan bahwa kita perlu <\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/conl.12094\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"> mengevaluasi lebih jauh berbagai usaha<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\"> budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar. Sedikitnya dua pertanyaan masih belum terjawab:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li>Dalam kondisi apakah intervensi budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar memberikan hasil konservasi?<\/li>\n<li>Bukti apakah yang ada bahwa intervensi budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar menghasilkan berbagai manfaat mata pencarian yang positif dan berkelanjutan?<\/li>\n<\/ol>\n<p>Para ilmuwan di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) sedang menjajaki kedua pertanyaan tersebut \u2014 mempertanyakan apakah &#8220;mata pencarian alternatif&#8221; seperti <a href=\"http:\/\/www.environmentalevidencejournal.org\/content\/pdf\/2047-2382-3-6.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar<\/a>, dan hasil-hasil konservasi terkait bersifat efektif.<\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Penelitian kami telah menyoroti bukti-bukti yang muncul bahwa budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar tidak <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">selalu <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">memberikan hasil-hasil konservasi yang dapat diandalkan, dan bahwa ada suatu kebutuhan untuk meninjau dengan lebih baik usaha-usaha yang ada<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Sampai tahap ini, <\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/cobi.12160\/suppinfohttp:\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/cobi.12160\/suppinfo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kami telah menyoroti 17 jenis kondisi biofisik, pasar dan pengaturan yang mungkin mendukung pembudidayaan tumbuhan\/ satwa liar untuk memberi manfaat konservasi<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\"> \u2014 diajukan sebagai daftar awal yang pasti akan berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Sebagai uji awal, kami menerapkan berbagai kondisi tadi pada pembudidayaan komersial suatu tanaman hias, untuk memahami lebih baik bagaimana usaha pembudidayaan tumbuhan liar dapat dilakukan dalam praktiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Daftar periksa kami, diuraikan dalam tinjauan kami baru-baru ini dalam <\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/www.iucn.org\/about\/union\/commissions\/sustainable_use_and_livelihoods_specialist_group\/sulinews\/issue_7\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SULiNews<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dari  International Union for Conservation of Nature, mempertimbangkan sejumlah kondisi untuk mengevaluasi usaha budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar, dan menyediakan pembenaran dan perangkat penganalisis yang mungkin untuk mengevaluasi masing-masing usaha.<\/span><\/p>\n<p><b style=\"line-height: 1.5em;\">KEINDAHAN YANG KURANG DIHARGAI<\/b><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Sebagai contoh, salah satu kondisi dalam daftar periksa tersebut menyarankan bahwa kualitas spesimen yang dibudidayakan harus sebanding atau lebih baik dari spesimen liar yang dikumpulkan, untuk memastikan penggantian yang berhasil di pasaran. Perangkat penganalisis yang potensial mencakup pengukuran karakteristik individual untuk membandingkan produk-produk liar dan yang dibudidayakan dan wawancara konsumen untuk menilai berbagai perbedaan yang dimiliki dalam hal kualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kami menerapkan berbagai kondisi dalam daftar periksa untuk melakukan salah satu penilaian kuantitatif awal dalam membandingkan dinamika perdagangan tanaman dan peternakan satwa liar yang dikumpulkan dari alam asalnya terhadap tumbuhan dan satwa liar yang dibudidayakan.<\/span><\/p>\n<p><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1111\/cobi.12160\/abstract\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Studi<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\"> kami berfokus pada <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">Rhynchostylis gigantea<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, sejenis anggrek hias yang dilindungi dari Asia Tenggara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Spesies tersebut diperbanyak secara ekstensif untuk penjualan komersial, tetapi juga dipanen liar secara ekstensif. Kami mengukur ratusan tanaman yang dibudidayakan (legal) dan liar (ilegal) di Pasar Jatujak di Bangkok, Thailand.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kami menemukan bahwa banyak dari kondisi dalam daftar periksa terpenuhi untuk <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">R. gigantea<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, yang menyarankan bahwa hasil konservasi dapat menjadi hasil yang mungkin dari budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Misalnya, tumbuhan yang dibudidayakan berkualitas super berdasarkan sebagian besar variabel fisik yang kami ukur (ukuran, kondisi, pembungaan), menunjukkan bahwa konsumen yang mencari tanaman terbesar dan tersehat yang sedang berbunga akan memilih tanaman yang dibudidayakan.<\/span><\/p>\n<p>Terlebih lagi, untuk seperangkat karakteristik fisik mana pun, asal tanaman tersebut (liar vs. budidaya) tidak mempengaruhi harga, jadi membeli tanaman hasil budidaya secara umum tidak mewakili alternatif yang lebih mahal.<\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Namun, wawancara dengan konsumen dan pedagang menyoroti berbagai perbedaan yang disadari antara tanaman liar dan yang dibudidayakan, termasuk perbedaan dalam kekuatan tanaman, &#8220;keaslian&#8221; dan keharuman. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Untuk paling sedikit beberapa orang penjual dan pembeli, tumbuhan liar dan hasil budidaya merupakan komoditi yang tidak dapat dipertukarkan, hal ini serupa dengan beberapa temuan terkait beberapa produk tumbuhan liar lainnya. (lihat \u201c<\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\"><a href=\"http:\/\/www.plosone.org\/article\/info:doi\/10.1371\/journal.pone.0021243\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">A stated preference investigation into the Chinese demand for farmed vs. wild bear bile<\/a><\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u201d dan \u201c<\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\"><a href=\"http:\/\/www.sciencemag.org\/content\/339\/6123\/1038\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Consumers\u2019 taste for rarity drives sturgeons to extinction<\/a><\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u201d).<\/span><\/p>\n<p><b style=\"line-height: 1.5em;\">DORONGAN LEGAL<\/b><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kami juga mengidentifikasi penghalang prospektif lainnya terhadap hasil-hasil konservasi pembudidayaan, termasuk insentif finansial rendah untuk budidaya <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">R. gigantea<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, penghalang teknis dan finansial untuk membudidayakan di antara para pemanen liar, dan kurangnya penegakan terhadap penjualan tumbuhan liar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Dengan cara ini, daftar kondisi kami menyediakan sebuah titik awal untuk mengidentifikasi secara proaktif potensi usaha pembudidayaan tumbuhan\/satwa liar untuk konservasi, dan mungkin diterapkan juga pada spesies lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Sebagai contoh, perdagangan yang dilegalkan dari cula yang dipanen secara berkelanjutan dari badak yang dibudidayakan (lihat \u201c<\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/www.sciencemag.org\/content\/339\/6123\/1038\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Legal trade of Africa\u2019s rhino horns<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u201d) mungkin mememenuhi banyak kondisi dalam daftar periksa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Namun, tinjauan sekilas dari faktor-faktor yang disoroti dalam daftar tersebut juga <\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/www.sciencemag.org\/content\/340\/6137\/1167.1.full.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mengidentifikasi kekurangan potensial<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\">, dan kebutuhan untuk penelitian lintas rantai nilai untuk mengantisipasi dampak konservasi yang mungkin dari pembudidayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Perdagangan dapat rentan terhadap &#8220;pencucian&#8221; spesimen liar melalui saluran-saluran perdagangan legal, karena para pelanggan dan pejabat penegakan mungkin akan berjuang untuk membedakan antara spesimen legal dan ilegal.  Kapasitas produksi spesimen yang dibudidayakan mungkin juga terbatas relatif terhadap permintaan saat ini dan masa mendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Evaluasi awal dari jenis-jenis ini penting untuk merancang berbagai usaha mitigasi. Dalam studi kami, tindakan mitigasi prospektif mencakup peningkatan penegakan terhadap tumbuhan yang dikumpulkan secara liar di pasar-pasar utama, dan pendidikan konsumen untuk menyoroti perbedaan antara tumbuhan liar dan yang dibudidayakan. Jelas terlihat, penggunaan daftar periksa kami menyoroti bahwa pembudidayaan tidak mungkin berhasil sebagai strategi konservasi yang berdiri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><b style=\"line-height: 1.5em;\">PENELITIAN PERDAGANGAN ILEGAL<\/b><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Ada banyak penghambat untuk meneliti dan mengatur perdagangan tumbuhan\/satwa liar ilegal. Mungkin tidak praktis untuk, misalnya, mengukur perbedaan antara produk-produk tumbuhan\/satwa liar dan yang dibudidayakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Serupa hal tersebut, ada keterbatasan untuk mewawancarai pedagang dan konsumen produk-produk budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar ilegal (meskipun lihat studi langsung dari penggunaan tumbuhan\/satwa liar oleh \u201c<\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/www.plosone.org\/article\/info:doi\/10.1371\/journal.pone.0021243\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">A stated preference investigation into the Chinese demand for farmed vs. wild bear bile<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u201d, dan \u201c<\/span><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"http:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/store\/10.1111\/cobi.12160\/asset\/cobi12160.pdf?v=1&amp;t=hswt3pax&amp;s=cdf7be40e726cf12ccd6048fd01a152b3033278c\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">A framework for assessing supply side wildlife conservation<\/a><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u201d<\/span><span style=\"text-decoration: underline;\">)<\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Ada juga proksi (kuasa) &#8211; termasuk pengukuran kasar seperti opini para ahli &#8211;yang dapat dipergunakan untuk melengkapi daftar periksa tersebut, dan mengidentifikasi kekurangan yang potensial dari intervensi budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar sebelum implementasinya. Bahkan bila tidak digunakan sebagai perangkat formal atau kuantitatif, daftar tersebut dapat membantu pemikiran struktur mengenai intervensi yang diusulkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Jelas terlihat, pendekatan kami menyoroti pentingnya untuk mempertimbangkan faktor-faktor biofisik, pasar dan pengaturan yang memengaruhi hasil-hasil budidaya dan konservasi di seluruh rantai nilai perdagangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5em;\">Hal tersebut menyoroti nilai dari pendekatan luas yang menimba sumber-sumber daya berwawasan luas dan metode yang beragam, dan menerima tingkatan kekakuan yang berbeda, untuk mengumpulkan gambar majemuk dari dinamika perdagangan. Daftar periksa yang telah diterapkan dan diuji dalam berbagai konteks tersebut, tampaknya akan meluas dan berubah untuk membantu kita memahami lebih baik berbagai kondisi di mana budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar dapat memberikan hasil-hasil konservasi.<\/span><\/p>\n<p><b style=\"line-height: 1.5em;\">Untuk informasi lebih lanjut mengenai berbagai topik yang dibicarakan dalam makalah ini, atau untuk salinan PDF dari artikel lengkapnya, silakan menghubungi Jacob Phelps di <\/b><a style=\"line-height: 1.5em;\" href=\"mailto:j.phelps@cgiar.org\"><b>j.phelps@cgiar.org<\/b><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanian terkendali dan pembudidayaan memiliki potensi untuk memasok pasar secara berkelanjutan \u2014 baik dalam bentuk perkebunan jati untuk mebel kayu, budidaya sejenis tikus Nigeria (cane-rat) untuk konsumsi lokal, budidaya harimau untuk pengobatan tradisional, peternakan hewan potong untuk makanan dan olahraga berburu, atau budidaya tumbuhan untuk pasaran farmasi. Selain mengurangi tekanan terhadap sumber daya liar, budi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":131,"featured_media":36304,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,137,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2489,2516,2550,2520,2682],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3087],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1468],"class_list":["post-22504","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-forest-management-restoration","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-keanekaragaman-hayati","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-perdagangan-satwa-liar","type-bahasa-analisis"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pertanian terkendali dan pembudidayaan memiliki potensi untuk memasok pasar secara berkelanjutan \u2014 baik dalam bentuk perkebunan jati untuk mebel kayu, budidaya sejenis tikus Nigeria (cane-rat) untuk konsumsi lokal, budidaya harimau untuk pengobatan tradisional, peternakan hewan potong untuk makanan dan olahraga berburu, atau budidaya tumbuhan untuk pasaran farmasi. Selain mengurangi tekanan terhadap sumber daya liar, budi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-05-13T08:15:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-19T09:33:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Jacob Phelps\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@_JPhelps\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\"},\"author\":{\"name\":\"Jacob Phelps\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956\"},\"headline\":\"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar\",\"datePublished\":\"2014-05-13T08:15:36+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-19T09:33:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\"},\"wordCount\":1150,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/05\\\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\",\"name\":\"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/05\\\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2014-05-13T08:15:36+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-19T09:33:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/05\\\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/05\\\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":375,\"caption\":\"Seorang warga menunjukkan budi daya anggrek (Liparis lacerata (Rindl)) di desa Pelaik. Spesies yang umumnya sulit tumbuh ini, berkembang subur di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Yves Laumonier\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956\",\"name\":\"Jacob Phelps\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g616b4ce8359fed2ae816e458fc993080\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Jacob Phelps\"},\"description\":\"Jacob Phelps is a scientist in CIFOR's Forest Governance Portfolio. He has broad research interests, including related to forest sector law enforcement, the illegal wildlife\\\/timber trade, and the design of Payment for Ecosystem Services schemes. Prior to joining CIFOR, he was based in Thailand, where he conducted research on region's illegal botanical trade. He holds a Ph.D. in biology from the National University of Singapore, and completed his M.Phil. in geography at the University of Cambridge and his B.S. in Environmental Science and Management at Michigan State University.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@_JPhelps\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jacob-phelps\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22504\\\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar","og_description":"Pertanian terkendali dan pembudidayaan memiliki potensi untuk memasok pasar secara berkelanjutan \u2014 baik dalam bentuk perkebunan jati untuk mebel kayu, budidaya sejenis tikus Nigeria (cane-rat) untuk konsumsi lokal, budidaya harimau untuk pengobatan tradisional, peternakan hewan potong untuk makanan dan olahraga berburu, atau budidaya tumbuhan untuk pasaran farmasi. Selain mengurangi tekanan terhadap sumber daya liar, budi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-05-13T08:15:36+00:00","article_modified_time":"2015-10-19T09:33:31+00:00","og_image":[{"width":500,"height":375,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Jacob Phelps","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@_JPhelps","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar"},"author":{"name":"Jacob Phelps","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956"},"headline":"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar","datePublished":"2014-05-13T08:15:36+00:00","dateModified":"2015-10-19T09:33:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar"},"wordCount":1150,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg","articleSection":["Community forestry","Forest management &amp; restoration","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar","name":"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg","datePublished":"2014-05-13T08:15:36+00:00","dateModified":"2015-10-19T09:33:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg","width":500,"height":375,"caption":"Seorang warga menunjukkan budi daya anggrek (Liparis lacerata (Rindl)) di desa Pelaik. Spesies yang umumnya sulit tumbuh ini, berkembang subur di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Yves Laumonier\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/b853fce73545f527eaece2748d2d1956","name":"Jacob Phelps","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g616b4ce8359fed2ae816e458fc993080","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/77e8a3c2d38efdb6463af53d8d04a7a3621982e14b2899c48bc03f48b49d11bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"Jacob Phelps"},"description":"Jacob Phelps is a scientist in CIFOR's Forest Governance Portfolio. He has broad research interests, including related to forest sector law enforcement, the illegal wildlife\/timber trade, and the design of Payment for Ecosystem Services schemes. Prior to joining CIFOR, he was based in Thailand, where he conducted research on region's illegal botanical trade. He holds a Ph.D. in biology from the National University of Singapore, and completed his M.Phil. in geography at the University of Cambridge and his B.S. in Environmental Science and Management at Michigan State University.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@_JPhelps"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jacob-phelps"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22504\/mencari-solusi-perdebatan-budi-daya-tumbuhan-dan-peternakan-satwa-liar#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/Budi-daya-anggrek-Liparis-lacerata-Rindl_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22504","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/131"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22504"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22504\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22504"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22504"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22504"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=22504"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=22504"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=22504"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=22504"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=22504"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=22504"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=22504"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=22504"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=22504"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=22504"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}