{"id":22268,"date":"2014-04-28T09:56:44","date_gmt":"2014-04-28T02:56:44","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=22268"},"modified":"2015-10-19T17:12:03","modified_gmt":"2015-10-19T10:12:03","slug":"studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah","title":{"rendered":"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &#038; pengisi celah"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2013 Sumber daya hutan mungkin kurang penting sebagai penyangga antar masa panen dan saat rawan seperti yang diyakini sebelumnya, menurut sebuah studi global komprehensif.<\/p>\n<p>Studi global ini adalah hasil dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/pen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jaringan Lingkungan dan Kemiskinan (PEN)<\/a>, sebuah upaya kolaboratif yang dipimpin oleh Center for International Forestry Research (CIFOR). Proyek penelitian komparatif global kuantitatif terbesar yang masih berlangsung tentang hutan dan penghidupan pedesaan, menganalisis data yang didapat dari sekitar 8.000 rumah tangga di 24 negara berkembang.<\/p>\n<p><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/4494.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">\u201cSafety nets, gap filling and forests: a global-comparative perspective\u201d<\/a> (Jaring pengaman, pengisi celah dan hutan: sebuah perspektif komparatif global)\u201d adalah salah satu dari lima tulisan yang dihasilkan dari studi global ini; tulisan ini muncul dalam isu mendatang di jurnal <i>World Development<\/i>.<\/p>\n<p>Banyak penelitian sebelumnya yang mengindikasikan bahwa hutan mampu menyediakan sebuah kunci \u201ckebijakan asuransi alami\u201d bagi rumah tangga miskin pedesaan di negara berkembang. Ketika terjadi banjir, kebakaran atau hama yang mengurangi areal tanaman pangan, misalnya, studi menunjukkan bahwa petani kecil mungkin akan secara spontan mengkonversi lebih banyak lahan hutan menjadi lahan budidaya. Namun, banyak literatur, berfokus pada opsi rumah tangga untuk menambah mengekstraksi hasil hutan kayu dan nonkayu (HHNK) pada saat terjadi krisis.<\/p>\n<p>Menantang kearifan konvensional, tim penelitian PEN<\/p>\n<p>menemukan bahwa hanya satu dari sepuluh rumah tangga yang menempatkan ekstraksi hutan atau sumber daya nonbudidaya sebagai respons pertama menghadapi kondisi darurat. Strategi lainnya, semisal mengurangi tenaga perkebunan, meminta bantuan tetangga, atau mengurangi konsumsi, yang ternyata lebih diutamakan.<\/p>\n<p>\u201cOrang-orang kerap berpikir tentang produksi hutan sebagai sesuatu yang dapat diakses dengan mudah oleh rumah tangga untuk dijual atau dikonsumsi ketika mereka sangat membutuhkan,\u201d terang Sven Wunder, penulis utama tulisan tersebut dan kepala kantor regional CIFOR di Brasil. \u201cNamun ini mungkin bukan tentang bagaimana kita melihatnya. Mungkin saja ada pengecualian, seperti tegakan kayu yang secara komersial berharga yang ditebang sepanjang tahun, namun kebanyakan produk ekstraktif memiliki siklus produksi masing-masing, dan ada yang musiman atau bahkan mengalami hambatan dalam pasokan.\u201d<\/p>\n<p>Sebagai tambahan, studi ini mendapatkan sedikit bukti untuk mendukung pandangan populer bahwa untuk petani kecil, hutan mengisi celah di antara masa panen. Di banyak kasus, seperempat pendapatan dari hutan secara positif berkorelasi dengan pendapatan total dan dari tanaman pangan, yang secara efektif menggugurkannya dari posisi pengisi celah, lanjut Wunder. Bahkan, data menunjukkan bahwa petani kecil lebih memilih untuk mencari pekerjaan sementara atau pilihan lain di antara masa panen ketimbang mengeksploitasi hutan.<\/p>\n<p><b>Mencari alasan  <\/b><\/p>\n<p>Mengapa terdapat diskrepansi dari literatur yang ada?<\/p>\n<p>Salah satu alasan utama, ungkap Wunder, bahwa banyak peneliti yang mungkin terlalu terfokus pada sesuatu yang absolut daripada nilai relatif dari hutan setelah terjadinya krisis. \u201cJika Anda bertanya, \u2018Apakah Anda pergi ke hutan untuk memperoleh lebih banyak hasil hutan agar dapat bertahan lebih lama?\u201d<\/p>\n<p>Maka banyak orang menyatakan bahwa mereka melakukannya,\u201d tambahnya. \u201cNamun mungkin mereka juga melakukan banyak lagi hal lain, semisal memiliki kerabat di kota yang mengirimi uang, mengambil pekerjaan di luar sebagai tenaga perkebunan, atau meminta bantuan tetangga, yang dirasa lebih penting sebagai strategi respons mereka.\u201d<\/p>\n<p>Kemungkinan alasan lain yaitu resiliensi dalam studi kasus, ungkap peneliti bersama Jan B\u00f6rner, seorang CIFOR <i>associate<\/i> dari Universitas Bonn. \u201cTergantung pada bagaimana lokasi studi kasus ini dipilih, ada kemungkinan terjadi bias terhadap lokasi dimana hutan dipergunakan, faktanya, ini memiliki fungsi sebagai jaring pengaman penting,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Tulisan ini juga mengidentifikasi faktor-faktor lain yang dapat menjelaskan kenapa terjadi diskrepansi antara penelitian terdahulu dengan studi global. Ini termasuk peningkatan akan pentingnya pasar tenaga kerja, pentingnya kerjasama pembangunan dan bantuan kedaruratan, serta kemungkinan bahwa sumber daya hutan yang sebelumnya kaya telah dihabiskan.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak dapat benar-benar menyatakan bahwa apa yang ada di dunia telah berubah, atau jika banyak studi sebelumnya yang tidak hanya bertanya tentang hal-hal penting saja,\u201d ucap Wunder. \u201cKami secara sengaja meninggalkan dua opsi interpretatif agar tetap terbuka, karena kami tidak berada dalam studi panel dengan waktu terbatas, ini hanyalah sebuah snapshot yang tidak dapat diramalkan dari masa lalu.\u201d<\/p>\n<p>Akhirnya, tim peneliti juga mengakui potensi kekurangan dalam cakupan sampel PEN. \u201cKami tidak memiliki kejadian yang sangat dahsyat semisal Topan Mitch atau banjir parah yang dimasukkan dalam data kami,\u201d terang Wunder. \u201cKami tidak bisa sangat yakin bahwa orang-orang tidak akan pergi ke hutan lebih kerap lagi jika kejadian-kejadian ekstrem tersebut terjadi, dibandingkan kejadian-kejadian tidak terlalu parah yang kami masukkan.\u201d<\/p>\n<p>Ia juga mengarisbawahi bahwa tulisan ini tidak ingin membangun semacam spesialisasi kuesioner respons bencana. \u201cKekurangannya adalah kami tidak mengetahui secara detil tentang bencana alam dan respons terhadapnya, namun memiliki kelebihan bahwa kami tahu banyak tentang penghidupan rumah tangga dan bahwa respons ini dapat dikontekstualisasikan dengan baik,\u201d tambahnya. \u201cKami bisa mengambil semua variabel lain dan menggunakannya sebagai kendali untuk menjelaskan kenapa orang-orang mungkin bereaksi ketika mereka mengaku melakukannya.\u201d<\/p>\n<p><b>Implikasi kebijakan <\/b><\/p>\n<p>Jika tulisan ini mempertanyakan peran utama hutan sebagai jaring pengaman dalam kejadian krisis dan pengisi celah musiman, artikel lain dari studi global menemukan bahwa hutan dan lahan liar lain lebih penting dalam kontribusi pendapatan rumah tangga reguler ketimbang yang dipikirkan sebelumnya. \u201cHutan mungkin membantu masyarakat menciptakan pendapatan reguler, namun mungkin kurang penting untuk membantu mengatasi bencana,\u201d terang Wunder.<\/p>\n<p>\u201cAda lebih banyak lagi yang dapat dilakukan dengan set data PEN,\u201d ujar B\u00f6rner. \u201cDi sini kami melihat apa yang dikatakan orang-orang tentang yang mereka lakukan sebagai respons terhadap bencana. Namun data kami mungkin juga menawarkan sudut pandang tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan setelah mengalami kekurangan pendapatan yang serius,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya meragukan bahwa tindak lanjut analisis ini akan menggugurkan temuan utama, namun kita tentu saja dapat belajar lebih banyak lagi tentang<\/p>\n<p>bagaimana rumah tangga bereaksi terhadap kondisi krisis dan apa peran yang mungkin dimiliki hutan dalam gambaran yang lebih besar lagi.\u201d<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih lanjut mengenai isu dalam artikel ini, silakan kontak Sven Wunder <a href=\"mailto:s.wunder@cgiar.org\"><b>s.wunder@cgiar.org<\/b><\/a><b>.<\/b><\/p>\n<p><em>Studi ini didukung oleh ESRC-DFID, Danida, USAID (BASIS-CRSP), IFS dan CIFOR. <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia \u2013 Sumber daya hutan mungkin kurang penting sebagai penyangga antar masa panen dan saat rawan seperti yang diyakini sebelumnya, menurut sebuah studi global komprehensif. Studi global ini adalah hasil dari Jaringan Lingkungan dan Kemiskinan (PEN), sebuah upaya kolaboratif yang dipimpin oleh Center for International Forestry Research (CIFOR). Proyek penelitian komparatif global kuantitatif terbesar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":107,"featured_media":36344,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6090],"tags":[],"language":[2171],"location":[12231],"tag-bahasa":[4757,2954,2516,2659,2942,4758],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1141],"class_list":["post-22268","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news","language-bahasa-indonesia","location-brazil","tag-bahasa-jan-borner","tag-bahasa-jaringan-kemiskinan-dan-lingkungan","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-petani-kecil","tag-bahasa-sven-wunder","tag-bahasa-universitas-bonn","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &amp; pengisi celah - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &amp; pengisi celah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia \u2013 Sumber daya hutan mungkin kurang penting sebagai penyangga antar masa panen dan saat rawan seperti yang diyakini sebelumnya, menurut sebuah studi global komprehensif. Studi global ini adalah hasil dari Jaringan Lingkungan dan Kemiskinan (PEN), sebuah upaya kolaboratif yang dipimpin oleh Center for International Forestry Research (CIFOR). Proyek penelitian komparatif global kuantitatif terbesar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-04-28T02:56:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-19T10:12:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mark Foss\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\"},\"author\":{\"name\":\"Mark Foss\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\"},\"headline\":\"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &#038; pengisi celah\",\"datePublished\":\"2014-04-28T02:56:44+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-19T10:12:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\"},\"wordCount\":941,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/04\\\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Forests News\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\",\"name\":\"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman & pengisi celah - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/04\\\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2014-04-28T02:56:44+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-19T10:12:03+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/04\\\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/04\\\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Menantang kearifan konvensional, sebuah tim riset PEN menemukan bahwa hanya satu dari sepuluh rumah tangga yang memeringkatkan ekstraksi hutan alam atau sumber daya nonbudidaya sebagai respons pertama menghadapi kondisi darurat. CIFOR\\\/Tri Saputro\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &#038; pengisi celah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\",\"name\":\"Mark Foss\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mark Foss\"},\"description\":\"Mark Foss is a Canadian freelance writer\\\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/mark-foss\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/22268\\\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman & pengisi celah - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman & pengisi celah","og_description":"BOGOR, Indonesia \u2013 Sumber daya hutan mungkin kurang penting sebagai penyangga antar masa panen dan saat rawan seperti yang diyakini sebelumnya, menurut sebuah studi global komprehensif. Studi global ini adalah hasil dari Jaringan Lingkungan dan Kemiskinan (PEN), sebuah upaya kolaboratif yang dipimpin oleh Center for International Forestry Research (CIFOR). Proyek penelitian komparatif global kuantitatif terbesar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-04-28T02:56:44+00:00","article_modified_time":"2015-10-19T10:12:03+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mark Foss","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah"},"author":{"name":"Mark Foss","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d"},"headline":"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &#038; pengisi celah","datePublished":"2014-04-28T02:56:44+00:00","dateModified":"2015-10-19T10:12:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah"},"wordCount":941,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg","articleSection":["Forests News"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah","name":"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman & pengisi celah - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg","datePublished":"2014-04-28T02:56:44+00:00","dateModified":"2015-10-19T10:12:03+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Menantang kearifan konvensional, sebuah tim riset PEN menemukan bahwa hanya satu dari sepuluh rumah tangga yang memeringkatkan ekstraksi hutan alam atau sumber daya nonbudidaya sebagai respons pertama menghadapi kondisi darurat. CIFOR\/Tri Saputro"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Riset global mempertanyakan peran hutan sebagai jaring pengaman &#038; pengisi celah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d","name":"Mark Foss","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mark Foss"},"description":"Mark Foss is a Canadian freelance writer\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/mark-foss"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/22268\/studi-global-mempertanyakan-peran-utama-hutan-sebagai-jaring-pengaman-dan-pengisi-celah#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/04\/12492897184_d2ee365be2_z-500x333_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22268","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/107"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22268"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22268\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36344"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22268"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=22268"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=22268"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=22268"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=22268"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=22268"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=22268"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=22268"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=22268"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=22268"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=22268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}