{"id":21341,"date":"2014-02-13T16:04:32","date_gmt":"2014-02-13T09:04:32","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=21341"},"modified":"2015-10-19T16:47:16","modified_gmt":"2015-10-19T09:47:16","slug":"laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan","title":{"rendered":"Laporan: Kendala kultur &#8211; membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (13 Februari 2014) _ Hutan dapat memainkan peran lebih besar untuk secara berkelanjutan memberi makan pertumbuhan populasi global, tetapi kontribusi ini terhambat, karena menurut <a href=\"http:\/\/www.mdpi.com\/2071-1050\/5\/11\/4797\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kajian baru<\/a>, disebabkan faktor kultural dan keterbatasan data mengenai komposisi nutrisi sumber pangan hutan.<\/p>\n<p>Penulis kajian merekomendasikan pendekatan holistik untuk mengkaji dan meningkatkan pangan berbasis hutan dan perannya dalam \u201cdiet berkelanjutan,\u201d sebuah usulan kerangka untuk mengatasi keamanan pangan, bagi pertumbuhan pendudukan yang diproyeksikan PBB lebih dari <a href=\"http:\/\/www.unfpa.org\/pds\/trends.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">9 miliar<\/a> pada 2050, dan sejalan dengan perubahan iklim yang membuat pola panen dalam risiko.<\/p>\n<p>Pemahaman lebih baik mengenai pangan hutan juga dapat mengurangi tekanan penebangan hutan untuk ekspansi pertanian dan bisa membantu mengatasi malnutrisi masyarakat miskin.<\/p>\n<p>Pangan hutan sangat bernilai nutrisi. \u201cMakanan dari hutan menawarkan sumber nutrisi esensial seperti zat besi, vitamin A dan seng \u2013 yang sering kurang dalam diet negara berkembang,\u201d kata Amy Ickowitz, ilmuwan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pusat Penelitian Kehutanan Internasional<\/a> (CIFOR), salah seorang penulis kajian dan <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/21069\/study-highlights-link-between-tree-cover-and-nutrition-in-children#.UuXk4GT-JUN\">riset terbaru lainnya<\/a> yang menemukan korelasi kuat antara tutupan hutan dan nutrisi anak di wilayah Afrika.<\/p>\n<p>Walaupun konsumsi masyarakat terhadap pangan hutan \u2013 dari buah-buahan, kacang dan jamur hingga daging buruan \u2013 sangat bergantung pada kecenderungan dan praktik lokal, demikian menurut kajian tersebut.<\/p>\n<p>\u201cMeningkatkan perubahan perilaku yang diperlukan untuk menggunakan dan mengkonsumsi apa yang sering dipandang sebagai makanan inferior masih merupakan tantangan terbesar,\u201d kata Barbara Vinceti, ilmuwan <a href=\"http:\/\/www.bioversityinternational.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Bioversity International<\/a> dan penulis kepala kajian.<\/p>\n<p>Di Afrika Selatan, misalnya, kebanyakan pangan hutan diperdagangkan di pasar lokal dihargai, dan sumber alam liar lebih disukai bahkan ketika produk alternatif dapat ditemukan, demikian menurut kajian.<\/p>\n<p>Tetapi di sub-Sahara Afrika secara umum, beragam buah-buahan tersedia bagi kebutuhan besi harian anak-anak sangat jarang dikonsumsi \u2013 walaupun fakta menyebutkan sekitar <a href=\"http:\/\/www.harvestplus.org\/content\/iron\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">48 persen dari 68 persen penduduk menderita malnutrisi<\/a>, dengan kekurangan zat besi sebagai ukuran rendah nutrisi umumnya, menurut <a href=\"http:\/\/www.harvestplus.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Harvest Plus<\/a>.<\/p>\n<p>Kendala yang ada tidak hanya kultural, kata Vinceti. Kurangnya data dan ilmu mengenai jenis-jenis buah asli berarti tidak ada ukuran akurat komposisi nutrisi atau keberlanjutan terhadap jenis makanan tertentu.<\/p>\n<p>Dengan data yang lebih baik mengenai komposisi nutrisi pangan berbasis-hutan, menggabungkan \u201cportofolio\u201d beragam spesies pohon buah asli untuk penanaman dalam sistem agroforestri berdasar kalender musiman waktu panen buah \u201cbisa menghasilkan suplai terus menerus nutrisi kunci,\u201d kata Vinceti.<\/p>\n<p>Di antara rekomendasi dalam laporan tersebut adalah bahwa ilmuwan perlu melakukan kajian komparatif mengenai diet bergantung pangan hutan dalam sistem pangan asli dengan tipe lain diet dalam cakupan ketahanan, kesehatan, efektivitas biaya dan keberlanjutan.<\/p>\n<p>\u201cPenekanannya harus mendorong langkah ke depan mengelola keragaman pangan tersedia dalam lanskap heterogen,\u201d kata Vinceti.<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih mengenai topik diskusi dalam artikel ini, silahkan hubungi Amy Ichowitz di <a href=\"mailto:a.ichowitz@cgiar.org\">a.ichowitz@cgiar.org<\/a><\/p>\n<p>Penelitian CIFOR tentang hutan dan gizi merupakan bagian dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/crp6?_ga=1.6419377.2037507436.1376965167\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Program CGIAR Hutan, Pohon dan Agroforestri<\/a> dan didukung oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID) dan Badan Pembangunan Austria.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (13 Februari 2014) _ Hutan dapat memainkan peran lebih besar untuk secara berkelanjutan memberi makan pertumbuhan populasi global, tetapi kontribusi ini terhambat, karena menurut kajian baru, disebabkan faktor kultural dan keterbatasan data mengenai komposisi nutrisi sumber pangan hutan. Penulis kajian merekomendasikan pendekatan holistik untuk mengkaji dan meningkatkan pangan berbasis hutan dan perannya dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":21109,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,188,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12245],"tag-bahasa":[2876,3271,2830,2516,2550,2553,2615,2674,2751],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[206],"class_list":["post-21341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-food-and-diets","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-africa","tag-bahasa-amy-ickowitz","tag-bahasa-barbara-vinceti","tag-bahasa-bioversity-international","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-makanan-hutan","tag-bahasa-nutrisi","tag-bahasa-pengetahuan-dan-praktik-tradisional","tag-bahasa-sub-sahara-afrika","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Laporan: Kendala kultur - membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Laporan: Kendala kultur - membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (13 Februari 2014) _ Hutan dapat memainkan peran lebih besar untuk secara berkelanjutan memberi makan pertumbuhan populasi global, tetapi kontribusi ini terhambat, karena menurut kajian baru, disebabkan faktor kultural dan keterbatasan data mengenai komposisi nutrisi sumber pangan hutan. Penulis kajian merekomendasikan pendekatan holistik untuk mengkaji dan meningkatkan pangan berbasis hutan dan perannya dalam [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-02-13T09:04:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-19T09:47:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"480\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Angela Dewan\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\"},\"author\":{\"name\":\"Angela Dewan\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/efec1cc7a813967b317c946276a31005\"},\"headline\":\"Laporan: Kendala kultur &#8211; membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan\",\"datePublished\":\"2014-02-13T09:04:32+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-19T09:47:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\"},\"wordCount\":453,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/01\\\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Food &amp; diets\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2014\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\",\"name\":\"Laporan: Kendala kultur - membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/01\\\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg\",\"datePublished\":\"2014-02-13T09:04:32+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-19T09:47:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/01\\\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2014\\\/01\\\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg\",\"width\":640,\"height\":480,\"caption\":\"Rendahnya promosi akan perubahan perilaku untuk mendorong konsumsi makanan masih merupakan tantangan, kata Barbara Vinceti, ilmuwan dari Bioversity International. CIFOR \\\/ Yayan Indriatmoko\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Laporan: Kendala kultur &#8211; membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/efec1cc7a813967b317c946276a31005\",\"name\":\"Angela Dewan\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d130b01d07ae03c49cacf680cb1b0ac93903ab03ed0751d9bec1a4c78742e3bb?s=96&d=mm&r=g251b528a6078188450ac049561e21123\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d130b01d07ae03c49cacf680cb1b0ac93903ab03ed0751d9bec1a4c78742e3bb?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d130b01d07ae03c49cacf680cb1b0ac93903ab03ed0751d9bec1a4c78742e3bb?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Angela Dewan\"},\"description\":\"Angela Dewan is an Australian print and multimedia journalist based in Jakarta. She reports on all things Indonesian, including politics and social issues, as well as the environment.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/angeladewan\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/21341\\\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Laporan: Kendala kultur - membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Laporan: Kendala kultur - membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan","og_description":"BOGOR, Indonesia (13 Februari 2014) _ Hutan dapat memainkan peran lebih besar untuk secara berkelanjutan memberi makan pertumbuhan populasi global, tetapi kontribusi ini terhambat, karena menurut kajian baru, disebabkan faktor kultural dan keterbatasan data mengenai komposisi nutrisi sumber pangan hutan. Penulis kajian merekomendasikan pendekatan holistik untuk mengkaji dan meningkatkan pangan berbasis hutan dan perannya dalam [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2014-02-13T09:04:32+00:00","article_modified_time":"2015-10-19T09:47:16+00:00","og_image":[{"width":640,"height":480,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Angela Dewan","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan"},"author":{"name":"Angela Dewan","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/efec1cc7a813967b317c946276a31005"},"headline":"Laporan: Kendala kultur &#8211; membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan","datePublished":"2014-02-13T09:04:32+00:00","dateModified":"2015-10-19T09:47:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan"},"wordCount":453,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg","articleSection":["Community forestry","Food &amp; diets","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#respond"]}],"copyrightYear":"2014","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan","name":"Laporan: Kendala kultur - membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg","datePublished":"2014-02-13T09:04:32+00:00","dateModified":"2015-10-19T09:47:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg","width":640,"height":480,"caption":"Rendahnya promosi akan perubahan perilaku untuk mendorong konsumsi makanan masih merupakan tantangan, kata Barbara Vinceti, ilmuwan dari Bioversity International. CIFOR \/ Yayan Indriatmoko"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Laporan: Kendala kultur &#8211; membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/efec1cc7a813967b317c946276a31005","name":"Angela Dewan","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d130b01d07ae03c49cacf680cb1b0ac93903ab03ed0751d9bec1a4c78742e3bb?s=96&d=mm&r=g251b528a6078188450ac049561e21123","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d130b01d07ae03c49cacf680cb1b0ac93903ab03ed0751d9bec1a4c78742e3bb?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d130b01d07ae03c49cacf680cb1b0ac93903ab03ed0751d9bec1a4c78742e3bb?s=96&d=mm&r=g","caption":"Angela Dewan"},"description":"Angela Dewan is an Australian print and multimedia journalist based in Jakarta. She reports on all things Indonesian, including politics and social issues, as well as the environment.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/angeladewan"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/21341\/laporan-kendala-kultur-membatasi-tersedianya-data-peran-hutan-bagi-ketahanan-pangan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/7792980790_8ef3446b17_z.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21341"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21341\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21109"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21341"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=21341"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=21341"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=21341"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=21341"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=21341"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=21341"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=21341"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=21341"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=21341"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=21341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}