{"id":20560,"date":"2013-12-04T16:43:21","date_gmt":"2013-12-04T09:43:21","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=20560"},"modified":"2018-02-07T16:48:50","modified_gmt":"2018-02-07T09:48:50","slug":"ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan","title":{"rendered":"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan"},"content":{"rendered":"<p>WARSAW, Polandia (4 Desember 2013) \u2014 Tata kelola hutan sering berarti penanganan ketidakpastian dari tata guna lahan, pohon dan sumber daya, sebuah proses yang seringkali menjadi rumit akibat adanya interaksi antar pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil, demikian menurut ilmuwan.<\/p>\n<p>\u201cAdanya standarisasi bisa menjadi salah satu upaya pendekatan perbaikan tata kelola, meski di banyak kasus, standarisasi sukarela global tetap menjadi patokan berlaku tanpa syarat kepatuhan \u2013 kami belajar dari pengalaman, standarisasi jenis ini harus dihindari, \u201c ujar Andrew Wardell, Direktur riset portfolio hutan dan tata kelola Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)<\/p>\n<p>CIFOR, bekerja sama dengan Organisasi Persatuan Riset Hutan Internasional (IUFRO) dan Organisasi Pengembangan Hukum Internasional (IDLO), telah mengadakan <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/agenda-item\/day-2-nov-17-2\/discussion-forums\/governance-legal-frameworks-sustainable-landscapes\/#.UnY7Y5T4gtA\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">forum diskusi<\/a> di dalam konferensi <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Alam Global<\/a> di Warsawa, bersamaan dengan negosiasi kebijakan iklim internasional mengenai siapa mengelola hutan, bagaimana hutan dikelola dan dengan dampak apa.<\/p>\n<p>Diskusi terfokus pada apakah standar keberlanjutan dapat mendukung kerangka tata kelola terintegrasi, misalnya, dengan mengatur akses biofuel ke pasar Eropa atau menciptakan pengaman sosial dan lingkungan untuk mendampingi projek REDD (Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan), program dukungan PBB, di negara-negara berkembang.<\/p>\n<p>Pengambil kebijakan membangun kerangka kerja untuk menjamin bahwa upaya konservasi hutan tidak malah berbalik mempengaruhi hak masyarakat lokal mendapatkan insentif bantuan dari negara maju setelah ada pembuktian bahwa mereka telah mereduksi emisi karbon.<\/p>\n<p><b>MENGATUR PARAMETER<\/b><\/p>\n<p>Sebuah standar untuk tata kelola hutan dapat didefinisikan sebagai \u201cbatas tertentu atau praktik terbaik untuk dicapai,\u201d kata Caroline Haywood, pengacara perubahan iklim dan spesialis ekonomi hijau IDLO, yang membantu legislasi di negara berkembang.<\/p>\n<p>Kelompok ini tengah melakukan projek penelitian dalam kaitannya dengan fokus CIFOR untuk menciptakan kerangka kerja keberlanjutan investasi rendah-karbon.<\/p>\n<p>Standar Internasional seharusnya tetap berfungsi seluas mungkin, sementara legislasi menjadi alat untuk menerapkannya dalam konteks spesifik, kata Haywood.<\/p>\n<p>Standar internasional \u201cadalah acuan bagus untuk melihat bagaimana negara menerapkan \u2013 sejenis standar emas tersebut,\u201d kata Renee Gift, spesialis Iklim IDLO.<\/p>\n<p>Ketika sebuah negara mengambil kebijakan, seseorang dapat menilai keragaman isu yang diatasi, sebagai tahap awal proses pembuatan hukum, katanya.<\/p>\n<p>Peneliti harus fokus pada hikmah pelajaran mengenai bagaimana upaya kebijakan tertentu didukung, kata <a href=\"http:\/\/environment.yale.edu\/profile\/cashore\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Ben Cashore<\/a>, profefor tata kelola dan politik lingkungan Universitas Yale. \u201cTerdapat perbedaan ketika institusi mendapatkan otoritas yang mereka butuhkan untuk menjalankan kebijakan, dan isi standar yang mereka terapkan pada kebijakan itu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sejarah standar keberlanjutan dalam manajemen hutan dapat dilacak pada kegagalan upaya menandatangani Konvensi Hutan Global di awal 1990-an, kata Cashore.<\/p>\n<p>Pendukung manajemen hutan yang baik, setelahnya berbalik pada mekanisme berbasis pasar seperti sertifikasi kayu untuk mengatur kebijakan perdaganan. Bagaimanapun, standar pengukuran seperti itu tidak melingkupi seluruh produk hutan.<\/p>\n<p>\u201cSertifikasi itu terlalu kompleks dan terlalu mahal untuk usaha kecil dan menengah,\u201d kata Wardell.<\/p>\n<p><b>STRATEGI AGAR BERHASIL<\/b><\/p>\n<p>Wardell dan Cashore telah berkontribusi pada bagian utama literatur terbaru yang mengintepretasikan tata kelola hutan sebagai arena komplek yang harus diterapkan pada institusi tingkat global, nasional dan lokal.<\/p>\n<p>Kepentingan saat ini dalam verifikasi legal asal kayu dan memisahkan produk ilegal menempatkan pemerintah kembali sebagai pusat tata kelola hutan, kata Cashore.<\/p>\n<p>Kebijakan Uni Eropa tentang Voluntary Partnership Agreements (<a href=\"http:\/\/www.euflegt.efi.int\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kesepakatan Kemitraan Sukarela<\/a>) memungkinan pengapalan kapal hanya dari negara yang memverifikasi ekspor mereka sesuai dengan hukum nasional mereka adalah satu contoh standar sukarela berubah menjadi dasar legal, kata Wardell \u2013 menambahkan bahwa terlalu dini untuk menyatakan bahwa ini adalah keberhasilan.<\/p>\n<p>Dukungan untuk proses verifikasi legal ini cukup mencolok, kata Cashor. \u201cIni karena pendekatannya bawah-atas, standar-rendah, melibatkan multi-level pemerintah,\u201d kata Cashore. Seharusnya saat ini ilmuwan menjelaskan apa motivasi di balik penerimaan meluas, yang bisa saja didorong oleh kepentingan sendiri: perusahaan legal melihat hal ini sebagai peluang untuk menghadapi persaingan dari penebang lebih kecil, ilegal; lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan berharap melihat hasil lebih baik muncul dari aksi mereka melalui pendekatan ini; dan negara merdeka dapat menggunakannya untuk mengklaim kedaulatan, katanya.<\/p>\n<p>\u201cHanya ketika kita belajar mengapa tingkat standar tertentu menarik dukungan luas, kita dapat melihatnya lebih jauh,\u201d kat Cashore.<\/p>\n<p><b>Informasi lebih mengenai topik diskusi dalam artikel ini, silahkan kotank Andrew Wardell di <\/b><a href=\"mailto:a.wardell@cgiar.org\"><b>a.wardell@cgiar.org<\/b><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WARSAW, Polandia (4 Desember 2013) \u2014 Tata kelola hutan sering berarti penanganan ketidakpastian dari tata guna lahan, pohon dan sumber daya, sebuah proses yang seringkali menjadi rumit akibat adanya interaksi antar pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil, demikian menurut ilmuwan. \u201cAdanya standarisasi bisa menjadi salah satu upaya pendekatan perbaikan tata kelola, meski di banyak kasus, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":20562,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,137,173,13,95,1072,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12299],"tag-bahasa":[2877,4799,4798,2670,2520,2589,4797,2825,2819,2507,2554,4800],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1041],"class_list":["post-20560","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forest-management-restoration","category-gender-justice-tenure","category-governance","category-human-wellbeing","category-landscapes","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-poland","tag-bahasa-andrew-wardell","tag-bahasa-ben-cashore","tag-bahasa-caroline-haywood","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-organisasi-pengembangan-hukum-internasional","tag-bahasa-perjanjian-kemitraan-sukarela","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-sertifikasi","tag-bahasa-tata-kelola-hutan","tag-bahasa-universitas-yale","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"WARSAW, Polandia (4 Desember 2013) \u2014 Tata kelola hutan sering berarti penanganan ketidakpastian dari tata guna lahan, pohon dan sumber daya, sebuah proses yang seringkali menjadi rumit akibat adanya interaksi antar pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil, demikian menurut ilmuwan. \u201cAdanya standarisasi bisa menjadi salah satu upaya pendekatan perbaikan tata kelola, meski di banyak kasus, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-12-04T09:43:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T09:48:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Thomas Hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@tom_hubert\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\"},\"author\":{\"name\":\"Thomas Hubert\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\"},\"headline\":\"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan\",\"datePublished\":\"2013-12-04T09:43:21+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:48:50+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\"},\"wordCount\":646,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/12\\\/10901367606_b84028ba59.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"Landscapes\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\",\"name\":\"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/12\\\/10901367606_b84028ba59.jpg\",\"datePublished\":\"2013-12-04T09:43:21+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T09:48:50+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/12\\\/10901367606_b84028ba59.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/12\\\/10901367606_b84028ba59.jpg\",\"width\":333,\"height\":500,\"caption\":\"Para pembuat kebijakan perlu mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk memastikan bahwa upaya konservasi hutan tidak merugikan masyarakat lokal dan mereka berhak menerima insentif bantuan dari negara maju atas kegiatan pengurangan emisi karbon. Neil Palmer (IMWI)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077\",\"name\":\"Thomas Hubert\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Thomas Hubert\"},\"description\":\"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@tom_hubert\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/thomas-hubert\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/20560\\\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan","og_description":"WARSAW, Polandia (4 Desember 2013) \u2014 Tata kelola hutan sering berarti penanganan ketidakpastian dari tata guna lahan, pohon dan sumber daya, sebuah proses yang seringkali menjadi rumit akibat adanya interaksi antar pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil, demikian menurut ilmuwan. \u201cAdanya standarisasi bisa menjadi salah satu upaya pendekatan perbaikan tata kelola, meski di banyak kasus, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-12-04T09:43:21+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T09:48:50+00:00","og_image":[{"width":333,"height":500,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Thomas Hubert","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@tom_hubert","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan"},"author":{"name":"Thomas Hubert","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077"},"headline":"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan","datePublished":"2013-12-04T09:43:21+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:48:50+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan"},"wordCount":646,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forest management &amp; restoration","Gender, justice &amp; tenure","Governance","Human well-being","Landscapes","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan","name":"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg","datePublished":"2013-12-04T09:43:21+00:00","dateModified":"2018-02-07T09:48:50+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg","width":333,"height":500,"caption":"Para pembuat kebijakan perlu mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk memastikan bahwa upaya konservasi hutan tidak merugikan masyarakat lokal dan mereka berhak menerima insentif bantuan dari negara maju atas kegiatan pengurangan emisi karbon. Neil Palmer (IMWI)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ilmuwan mendesak pembuatan kebijaksanaan sistem tata kelola hutan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/6bc131e53dfe93de1243f49aef0b9077","name":"Thomas Hubert","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g1da90ffdcb089d054a1e50a0bb6dd967","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fa468faf5c365d1f34175f4c097ace9576f4dfda24c09c9902bbe56dce52e1f0?s=96&d=mm&r=g","caption":"Thomas Hubert"},"description":"Thomas Hubert is a journalist who has spent the last decade between France, Ireland and the Democratic Republic of Congo. Following a two-year stint as Kinshasa correspondent for the BBC, he is now based in Paris, covering issues ranging from human rights to farm policy and the environment for French- and English-speaking media houses and NGOs.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@tom_hubert"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/thomas-hubert"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/20560\/ilmuwan-mendesak-pembuatan-kebijaksanaan-sistem-tata-kelola-hutan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/10901367606_b84028ba59.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20560","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20560"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20560\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20562"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20560"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20560"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20560"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=20560"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=20560"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=20560"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=20560"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=20560"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=20560"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=20560"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=20560"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=20560"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=20560"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}