{"id":19212,"date":"2013-09-26T12:41:25","date_gmt":"2013-09-26T05:41:25","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=19212"},"modified":"2021-04-29T18:34:25","modified_gmt":"2021-04-29T11:34:25","slug":"menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan","title":{"rendered":"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (26 September, 2013)_Jean-Christophe Castella sering mengajak penduduk desa Laos untuk memainkan peran sebagai pengembang lahan, konservatoris, investor atau petani ketika mereka berkerumun di meja yang di atasnya dibangun desa virtual dari plester dan kardus.<\/p>\n<p>Para penduduk desa bergerak maju dan mundur, bernegosiasi lokasi di mana hutan ditebang untuk memperluas lahan pertanian, atau di mana jalan yang diusulkan diletakkan melintasi bentang lahan. Sesekali investor asing, dimainkan oleh Castella, melenggang masuk dan memberi penawaran menarik untuk lahan\u2014tawaran yang sulit ditolak, kata penduduk mengaku.<\/p>\n<p>Permainan berbasis \u201c<a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pendekatan bentang lahan<\/a>\u201d ini dirancang untuk menyeimbangkan kompetisi kebutuhan makanan, penghasilan, keragaman hayati dan jasa lingkungan (seperti air bersih dan sekuestrasi karbon), serta untuk mengintegrasikan kebutuhan pembangunan dan konservasi.<\/p>\n<p>Ini bukan konsep baru, tetapi satu konsep yang mendapat perhatian bersama dengan tuntutan para ahli untuk sebuah pendekatan holistik akan pembangunan desa yang lebih menyeimbangkan ekstraksi sumber daya dengan konservasi, keamanan pangan dan peningkatan penghidupan lokal. Pendekatan ini akan menjadi subjek perhatian internasional ketika lebih dari 1.000 orang berkumpul menghadiri <a href=\"http:\/\/www.landscapes.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forum Bentang Lahan Global<\/a> perdana bersamaan dengan konferensi Perubahan Iklim PBB di Warsawa, November.<\/p>\n<p>Para ilmuwan baru-baru ini menawarkan <a href=\"http:\/\/www.pnas.org\/content\/early\/2013\/05\/14\/1210595110.full.pdf?with-ds=yes\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">10 pokok \u201cpetunjuk praktik\u201d<\/a> mengelola bentang lahan, untuk membantu pengambil kebijakan, LSM dan praktisi bekerja dalam konservasi dan pembangunan di seluruh dunia dalam mengembangkan dan meningkatkan kebijakan perencanaan penggunaan lahan.<\/p>\n<p><b>Apa sebenarnya bentang lahan?<\/b><\/p>\n<p>Sebuah bentang lahan mencakup gambaran terlihat sebuah wilayah lahan, termasuk gunung, bukit, sungai, danau, kolam dan laut; elemen kehidupan tutupan lahan termasuk tumbuhan dan hewan; serta elemen manusia termasuk pertanian, rumah, jalan, pertambangan, struktur-struktur lain serta kelembagaan dan nilai kultural dan spiritualnya.<\/p>\n<p>Bagian bentang lahan berbeda memberikan barang dan jasa berbeda, serta apa yang terjadi di satu bagian bentang lahan berdampak pada bagian lain.<\/p>\n<p>Contohnya, ketika hutan ditebang, hal ini sering memberi dampak negatif terhadap kualitas tanah di bentang lahan. Ketika kualitas tanah menurun, hal ini bisa juga memberi dampak negatif pada produktivitas pertanian. Ketika produktivitas pertanian menurun dan pendapatan petani  terpengaruh, ini akan mendorong meningkatnya penebangan hutan.<\/p>\n<p>Tujuan pendekatan bentang lahan adalah untuk meyakinkan bahwa seluruh penggunaan lahan dan semua pengguna lahan ditangani dengan cara terintegrasi.<\/p>\n<p>\u201cJika Anda mengelola area dilindungi dan diminta untuk menangani masalah di bagian lain bentang lahan, akan cukup menakutkan jika Anda berjuang untuk fokus pada area tanggungjawab sendiri,\u201d kata Terry Sunderland, peneliti utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan penulis-pendamping <a href=\"http:\/\/www.pnas.org\/content\/early\/2013\/05\/14\/1210595110.full.pdf?with-ds=yes\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">laporan yang dipublikasikan baru-baru<\/a> ini dalam <i>Proceedings of the National Academy of Sciences<\/i>.<\/p>\n<p>\u201cOrang tidak hanya tinggal di satu sektor atau departemen, mereka tinggal secara holistik. Menjadi penting bagi kita secara kolektif memvisualisasi bagaimana bentang lahan akan terlihat, untuk siapa ini harus berguna dan bagaimana ini perlu berfungsi.\u201d<\/p>\n<p>Pada bagian inilah, Castella, ilmuwan <a href=\"http:\/\/www.ird.fr\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Institut de Recherche pour le D\u00e9veloppement<\/a>, dan timnya berkeliling desa di Laos sejak 2010 membawa sebentuk permainan-peran. Mereka menyebutnya \u201c<a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/11443\/with-3d-maps-villagers-able-to-see-benefits-of-good-land-use-planning\/\">Fiksi PLUP<\/a>\u201d (PLUP kepanjangan dari perencanaan penggunaan lahan partisipatoris) dan dengan memainkan peran berbeda pada peta 3 dimensi wilayah lahan mereka, penduduk desa belajar <a href=\"http:\/\/www.ecologyandsociety.org\/vol18\/iss2\/art9\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">bagaimana bagian berbeda bentang lahan berfungsi secara bersama<\/a>, agar bagaimana cara terbaik pengelolaan di masa depan.<\/p>\n<p>Seperti Castella, <a href=\"http:\/\/www.ecologyandsociety.org\/vol11\/iss2\/art30\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">praktisi konservasi dan pembangunan<\/a> lain mengakui bahwa mereka perlu mengelola lebih dari sekadar wilayah dilindungi, konsesi masyarakat atau wilayah penebangan sendiri.<\/p>\n<p>\u201cKita telah melihat organisasi konservasi merangkul mitra pembangunan dan begitu pula sebaliknya,\u201d katanya. \u201cTantangannya, tentu saja, membuat semua orang setuju pada visi bersama, dan kemudian merancang program kerja yang merefleksikan itu.\u201d<\/p>\n<p>Sebanyak 10 prinsip panduan dalam PNAS, dirinci di bawah, tidak dimaksudkan sekadar daftar periksa kelengkapan, kata Sunderland, tetapi sebagai kerangka kerja untuk membantu praktisi dan pengambil keputusan mengadopsi pendekatan bentang lahan.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/w.soundcloud.com\/player\/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F107811258\" width=\"100%\" height=\"166\" frameborder=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p><b>Bentang lahan bersifat dinamis, jadi belajarlah terbiasa dengan kejutan<\/b><\/p>\n<p>Pada 2003, Taman Nasional Halimun di Indonesia bersatu dengan Taman Nasional Salak di dekatnya hingga terbentuklah area konservasi lebih luas. Dalam prosesnya, 100.000 orang yang tinggal di antara dua taman tersebut tiba-tiba <a href=\"http:\/\/www.kcl.ac.uk\/sspp\/departments\/geography\/research\/epd\/criticalinstitutionalism\/abstracts\/hennemann.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menemukan dirinya tinggal di dalam batas taman.<\/a><\/p>\n<p>\u201cAturan dan regulasi taman dilanggar oleh orang yang tinggal, beternak atau mengambil sumber daya hutan, jelas saja menjadi masalah bagi mereka yang tiba-tiba menjadi penduduk taman,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Namun, dengan bantuan LSM lokal mereka membangun jaringan organisasi masyarakat untuk menegosiasi sejumlah kebijakan informal dengan pengelola taman.<\/p>\n<p>\u201cWalaupun mereka tidak bisa mengubah aturan dan regulasi formal, mereka bisa menciptakan ruang di antara batas-batas aturan untuk melanjutkan praktik pertanian mereka,\u201d ujar Sunderland.<\/p>\n<figure id=\"attachment_18889\" aria-describedby=\"caption-attachment-18889\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/18862\/special-dessins-jeux-de-role-et-cartes-3d-pour-appliquer-une-approche-paysagere-sur-le-terrain\/8450067012_0fe56cc175_b\/\" rel=\"attachment wp-att-18889\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-18889\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/8450067012_0fe56cc175_b-500x333.jpg\" alt=\"Pemandangan Taman Nasional Halimun-Salak, Jawa Barat, Indonesia. Mokhamad Edliadi\/CIFOR\" width=\"500\" height=\"333\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-18889\" class=\"wp-caption-text\">Pemandangan Taman Nasional Halimun-Salak, Jawa Barat, Indonesia. Mokhamad Edliadi\/CIFOR<\/figcaption><\/figure>\n<p>Setiap kejutan adalah peluang untuk belajar, kata Sunderland, dan seringkali mengantar pada pemahaman baru dan strategi manajemen lebih baik, sejalan dengan peningkatan resiliensi masyarakat lokal terhadap perubahan tak terduga.<\/p>\n<p>\u201cSituasi di Taman Nasional Halimun Salak dapat membantu kita memahami bagaimana tata kelola bentang lahan dibentuk melalui pengaturan informal yang  menjembatani kebijakan nasional dan praktik lokal.\u201d<\/p>\n<p><b>Kenali aktor lokal dan tingkatkan kapasitasnya sehingga mereka bisa terlibat<\/b><\/p>\n<p>Mengembangkan pendekatan bentang lahan membutuhkan kesabaran, kata Jeffrey Sayer dari Universitas James Cook Australia dan kepala penulis laporan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat sejumlah orang yang keputusannya berdampak pada bentang lahan dan mempengaruhi evolusinya. Setiap upaya untuk mengubah bentang lahan membutuhkan pemahaman dan pengaruh terhadap semua orang ini.\u201d<\/p>\n<p>Orang luar perlu mengidentifikasi seluruh rentang tanggungjawab orang dan entitas kerja dalam bentang lahan sehingga mereka dapat melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan, kata Sayer.<\/p>\n<p>\u201cKita mungkin tidak mendapat kesepakatan total, tetapi kegagalan untuk melibatkan semua orang dalam cara yang setara bisa mengarah pada hasil yang tidak etis.\u201d<\/p>\n<p>Ketika penduduk desa yang berpartisipasi dalam simulasi perencanaan penggunaan lahan buatan Castella tidak memahami proses pengambilan keputusan, ia menemukan bahwa perencanaan mereka sering berujung pada pengabaian dan dilupakan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_18892\" aria-describedby=\"caption-attachment-18892\" style=\"width: 460px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/18862\/special-dessins-jeux-de-role-et-cartes-3d-pour-appliquer-une-approche-paysagere-sur-le-terrain\/460x345xplup-460x345-jpg-pagespeed-ic-xuxjgdcf4z\/\" rel=\"attachment wp-att-18892\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-18892 \" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/460x345xPLUP-460x345.jpg.pagespeed.ic_.XuXjgdcF4z.jpg\" alt=\"Pemetaan 3 Dimensi dan permainan peran mengubah cara lahan dikelola di Laos. Jean-Christophe Castella\" width=\"460\" height=\"345\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/460x345xPLUP-460x345.jpg.pagespeed.ic_.XuXjgdcF4z.jpg 460w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/460x345xPLUP-460x345.jpg.pagespeed.ic_.XuXjgdcF4z-389x292.jpg 389w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/460x345xPLUP-460x345.jpg.pagespeed.ic_.XuXjgdcF4z-115x85.jpg 115w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/460x345xPLUP-460x345.jpg.pagespeed.ic_.XuXjgdcF4z-105x80.jpg 105w\" sizes=\"auto, (max-width: 460px) 100vw, 460px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-18892\" class=\"wp-caption-text\">Pemetaan 3 dimensi dan permainan peran mengubah cara lahan dikelola di Laos. Jean-Christophe Castella<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cDalam cara pertemuan perencanaan penggunaan lahan sebelumnya, penduduk lokal biasanya hanya duduk di bagian belakang ruang pertemuan menunggu selesai,\u201d kata Castella. \u201cHasilnya, penduduk desa sering terpaksa menerapkan rencana yang mereka tidak pahami dan itu mengarah pada kegagalan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKami mencoba untuk melibatkan mereka dalam sebuah proses belajar sehingga mereka dapat menjadi mitra yang baik dalam negosiasi masa depan,\u201d kata Castella.<\/p>\n<p><b>Tujuan bersama dan transparansi adalah kuncinya<\/b><\/p>\n<p>Keberhasilan atau kegagalan pendekatan bentang lahan sangat bergantung pada sebaik apa perhatian masyarakat diakomodasi dan sebaik apa kepercayaan terbangun, kata Sunderland.<\/p>\n<p>\u201cCara terbaik agar kepercayaan terbangun adalah setiap orang berbagi tujuan dan nilai-nilai pendekatan di awal sebuah projek.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHal ini dapat menyediakan dasar bagi pemangku kepentingan untuk mulai bekerja sama, dan akan membangun keyakinan dan kepercayaan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah lebih jauh.\u201d<\/p>\n<p><b>Kadang-kadang ada yang akan harus dipertukarkan<\/b><\/p>\n<p>Pertukaran tidak bisa dihindari ketika orang berbeda dengan kepentingan berbeda bersaing untuk menggunakan haknya pada sebidang lahan yang sama, kata Intu Boedhihartono, dosen senior Universitas James Cook dan juga penulis laporan ini.<\/p>\n<p>Boedhihartono telah mendorong para penggembala nomaden, peternak dan penduduk pegunungan di Afrika, Asia dan Amerika Latin untuk <a href=\"http:\/\/data.iucn.org\/dbtw-wpd\/edocs\/2012-002.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menggambarkan dan mewarnai visi masa depan mereka<\/a> untuk membantu menegosiasi pertukaran.<\/p>\n<figure id=\"attachment_18893\" aria-describedby=\"caption-attachment-18893\" style=\"width: 500px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/18862\/special-dessins-jeux-de-role-et-cartes-3d-pour-appliquer-une-approche-paysagere-sur-le-terrain\/630x230xmossapoula-women-landscape-scenarios-present-and-future-intu-jpg-630x230-jpeg-pagespeed-ic-ti-mwcfdqu\/\" rel=\"attachment wp-att-18893\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-18893 \" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x230xmossapoula-women-landscape-scenarios-present-and-future-INTU.jpg-630x230.jpeg.pagespeed.ic_.ti-MWCfDQU-500x182.jpg\" alt=\"Dibujos de un grupo de pigmeos BaAka en la Republica Gambar oleh kelompok pigmi BaAka di Republik Afrika Tengah. Gambar di kiri menunjukkan situasi merka saat ini. Gambar di kanan menjelaskan harapan mereka di masa depan: alam liar, sekolah dan produk hutan memainkan peran penting. Agni Klintuni Boedhihartono \" width=\"500\" height=\"182\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x230xmossapoula-women-landscape-scenarios-present-and-future-INTU.jpg-630x230.jpeg.pagespeed.ic_.ti-MWCfDQU-500x182.jpg 500w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x230xmossapoula-women-landscape-scenarios-present-and-future-INTU.jpg-630x230.jpeg.pagespeed.ic_.ti-MWCfDQU-566x207.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x230xmossapoula-women-landscape-scenarios-present-and-future-INTU.jpg-630x230.jpeg.pagespeed.ic_.ti-MWCfDQU.jpg 630w\" sizes=\"auto, (max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-18893\" class=\"wp-caption-text\">Gambar oleh kelompok pigmi BaAka di Republik Afrika Tengah. Gambar di kiri menunjukkan situasi merka saat ini. Gambar di kanan menjelaskan harapan mereka di masa depan: alam liar, sekolah dan produk hutan memainkan peran penting. Agni Klintuni Boedhihartono<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cKetika orang bisa memverbalisasi pemikiran mereka, mereka juga bisa memvisualisasikannya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Gambar tersebut dibuat dalam situasi kelompok sehingga beragam orang yang berbeda latar belakang, etnis, gender atau pekerjaan, dapat bekerja sama untuk mempelajari kompleksitas sebuah masalah.<\/p>\n<p>\u201cLangkah terpenting adalah membuat orang bekerja terpisah dan bergabung dengan yang lain untuk membandingkan skenario rujukan bagi masa depan bentang lahan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHampir selalu ada sebagian yang rugi dan sebagian yang untung. Seberapa banyak kerugian sebagian orang harus dinegosiasikan dengan seberapa banyak keuntungan yang didapatkan sebagian orang lain.\u201d<\/p>\n<p><b>Mengembangkan model yang mengintegrasi informasi<\/b><\/p>\n<p>Hal ini sangat penting namun menjadi medan yang diabaikan dalam manajemen lingkungan, kata Sayer.<\/p>\n<p>\u201cTidak seorang pun seharusnya memiliki hak khusus terhadap informasi mereka. Semua orang harus bisa mengembangkan, mengumpulkan dan mengintegrasikan informasi yang dibutuhkan untuk menafsirkan aktivitas, kemajuan dan ancaman.\u201d<\/p>\n<p>Masyarakat di bentang lahan Sangha tri-nasional Afrika Tengah, contohnya bekerja menggunakan \u201c<a href=\"http:\/\/www.ecologyandsociety.org\/vol15\/iss2\/art13\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">model komputer bekas<\/a>\u201d\u2014yang dibuat dalam waktu singkat untuk mensimulasi kecenderungan yang mungkin terjadi di lingkungan dan penghidupan.<\/p>\n<p>Membangun model adalah <a href=\"http:\/\/eprints.jcu.edu.au\/15865\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">proses partisipatoris<\/a>: \u201cKami menggelar pertemuan dengan kepala desa, LSM dan pemerintah lokal, dan secara bersama kami membangun pemahaman bentang lahan berdasarkan informasi berbeda yang mereka berikan\u2014mulai dari peta, data penghasilan keluarga, hingga opini bagaimana kejadian-kejadian lalu yang mengubah bentang lahan dikelola.\u201d<\/p>\n<p>Menggunakan model untuk menduga perubahan <i>real-time<\/i>, peserta bisa melihat dampak potensial perbedaan konservasi atau intervensi pembangunan.<\/p>\n<p>\u201cIni berfungsi sebagai uji realitas mengenai apa yang bisa terjadi jika intervensi berbeda terjadi,\u201d  kata Sayer.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" style=\"border: 1px solid #CCC; border-width: 1px 1px 0; margin-bottom: 5px;\" src=\"\/\/www.slideshare.net\/slideshow\/embed_code\/14741383?rel=0\" width=\"427\" height=\"356\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>Bagaimanapun, menjadi penting adanya fasilitasi kuat dalam proses pemodelan, menjaga fokus pada \u201cmodel sebagai cerita\u201d daripada model berakhir sendirinya.<\/p>\n<p>\u201cModel menjadi bagian terpenting untuk memfasilitasi curah ide dan diskusi, bukan sebagai penduga masa depan,\u201d kata Sayer.<\/p>\n<p><b>Hasil dari cara pandang pikiran-terbuka<\/b><\/p>\n<p>Bekerja pada level bentang lahan secara inheren mengubah bagaimana seharusnya praktisi menilai hasil intervensi mereka, kata Sunderland.<\/p>\n<p>\u201cTidak akan pernah ada satu hasil \u2018terbaik\u2019 untuk sebuah bentang lahan\u2014intervensi selalu berupa proses negosiasi terus menerus, dan konsep kaku keberhasilan atau kegagalan menjadi ambigu ketika seseorang mengambil keuntungan dari kerugian orang lain.\u201d<\/p>\n<p><b>Sepuluh prinsip pendekatan bentang lahan<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Belajar berkelanjutan dan manajemen adaptif.<\/li>\n<li>Kesamaan perhatian pada titik awal.<\/li>\n<li>Keragaman tingkat.<\/li>\n<li>Keragaman fungsi.<\/li>\n<li>Keragaman pemangku kepentingan.<\/li>\n<li>Perubahan logika yang bisa dinegosiasikan dan transparans.<\/li>\n<li>Kejelasan hak dan tanggungjawab.<\/li>\n<li>Partisipatoris dan pemantauan ramah-pengguna<\/li>\n<li>Resiliensi<\/li>\n<li>Penguatan kapasitas pemangku kepentingan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Donor dan LSM seringkali fokus pada menyelesaikan hasil projek sesuai rencana, katanya, seperti \u2018berapa banyak pemburu ditangkap\u2019.<\/p>\n<p>\u201cTidak sekadar itu, kita perlu mendorong sebuah hasil dari berpikir terbuka seperti \u2018seberapa baik metode berburu berkelanjutan diadopsi oleh masyarakat lokal\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Mengubah cara berbagai institusi bekerja setelah beratus tahun akan menjadi tantangan, kata penulis laporan PNAS mengakui, tetapi, Sunderland menyatakan, inilah saatnya pengambil kebijakan mempertimbangkan perspektif dan investasi untuk jangka lebih panjang dalam banyak bentang lahan.<\/p>\n<p>Perubahan telah menjejakkan kakinya di Laos, kata Castella.<\/p>\n<p>\u201cInvestasi besar dalam pembangunan membawa peluang dan tantangan bagi banyak penduduk desa di Laos,\u201d kata Castella. \u201cKami menggunakan simulasi ini untuk melibatkan penduduk lokal merancang masa depan mereka.\u201d<\/p>\n<p><i>Dengan tambahan laporan oleh Katherine Johnson<\/i><\/p>\n<p><b><i>Melalui konsultasi ekstensif, 10 prinsip dicatat oleh <\/i><\/b><a href=\"http:\/\/www.cbd.int\/doc\/meetings\/sbstta\/sbstta-15\/official\/sbstta-15-13-en.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><b><i>Konvensi Keragaman Biologi<\/i><\/b><\/a><b><i> (CBD), dan akan dipresentasikan November pada <\/i><\/b><a href=\"\/\/www.cifor.org\/glf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><b><i>Forum Bentang Lahan Global<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><b><i>Untuk informasi lebih mengenai isu yang didiskusikan dalam artikel ini, silahkan hubungi Terry Sunderlan di <\/i><\/b><a href=\"mailto:t.sunderland@cgiar.org\">t.sunderland@cgiar.org<\/a>.<\/p>\n<p><b><i>Riset ini merupakan bagian dari <\/i><\/b><a href=\"\/\/www.cifor.org\/crp6\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><b><i>Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agrofofestri.<\/i><\/b><\/a><b><i> <\/i><\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (26 September, 2013)_Jean-Christophe Castella sering mengajak penduduk desa Laos untuk memainkan peran sebagai pengembang lahan, konservatoris, investor atau petani ketika mereka berkerumun di meja yang di atasnya dibangun desa virtual dari plester dan kardus. Para penduduk desa bergerak maju dan mundur, bernegosiasi lokasi di mana hutan ditebang untuk memperluas lahan pertanian, atau di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":18866,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,188,137,173,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222,12271],"tag-bahasa":[2444,3054,3058,3053,3056,2560,2520,2586,3059,2769,2554,2943,3057],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[199],"class_list":["post-19212","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-food-and-diets","category-forest-management-restoration","category-gender-justice-tenure","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","location-laos-pdr","tag-bahasa-2013-forum-bentang-alam-global","tag-bahasa-institut-de-recherche-pour-le-developpement","tag-bahasa-intu-boedhihartono","tag-bahasa-jean-christophe-castella","tag-bahasa-jeffrey-sayer","tag-bahasa-jender","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-pendekatan-bentang-alam","tag-bahasa-sangha","tag-bahasa-taman-nasional-gunung-halimun-salak","tag-bahasa-tata-kelola-hutan","tag-bahasa-terry-sunderland","tag-bahasa-universitas-james-cook","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (26 September, 2013)_Jean-Christophe Castella sering mengajak penduduk desa Laos untuk memainkan peran sebagai pengembang lahan, konservatoris, investor atau petani ketika mereka berkerumun di meja yang di atasnya dibangun desa virtual dari plester dan kardus. Para penduduk desa bergerak maju dan mundur, bernegosiasi lokasi di mana hutan ditebang untuk memperluas lahan pertanian, atau di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-09-26T05:41:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-04-29T11:34:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"518\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Michelle Kovacevic\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@kovamic\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\"},\"author\":{\"name\":\"Michelle Kovacevic\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10\"},\"headline\":\"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan\",\"datePublished\":\"2013-09-26T05:41:25+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-29T11:34:25+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\"},\"wordCount\":1699,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/09\\\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Food &amp; diets\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Gender, justice &amp; tenure\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\",\"name\":\"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/09\\\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg\",\"datePublished\":\"2013-09-26T05:41:25+00:00\",\"dateModified\":\"2021-04-29T11:34:25+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/09\\\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/09\\\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg\",\"width\":630,\"height\":518,\"caption\":\"Menggambar bentang lahan sering digunakan untuk mendiskusikan dampak perubahan iklim dengan masyarakat hutan. Agni Klintuni Boedhihartono\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10\",\"name\":\"Michelle Kovacevic\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=gf09723b4498b0f4039b2359ebc29f05c\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Michelle Kovacevic\"},\"description\":\"Michelle is a science\u00a0communicator with an honours degree in neuroscience from the University of Melbourne, Australia. She has experience across many science communication platforms including magazines, radio, presenting (to students, policymakers and practitioners), corporate PR, academia and capacity building. She was formerly editor of Forests News and social media coordinator.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/@kovamic\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/michelle-kovacevic\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/19212\\\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan","og_description":"BOGOR, Indonesia (26 September, 2013)_Jean-Christophe Castella sering mengajak penduduk desa Laos untuk memainkan peran sebagai pengembang lahan, konservatoris, investor atau petani ketika mereka berkerumun di meja yang di atasnya dibangun desa virtual dari plester dan kardus. Para penduduk desa bergerak maju dan mundur, bernegosiasi lokasi di mana hutan ditebang untuk memperluas lahan pertanian, atau di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-09-26T05:41:25+00:00","article_modified_time":"2021-04-29T11:34:25+00:00","og_image":[{"width":630,"height":518,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Michelle Kovacevic","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@kovamic","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan"},"author":{"name":"Michelle Kovacevic","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10"},"headline":"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan","datePublished":"2013-09-26T05:41:25+00:00","dateModified":"2021-04-29T11:34:25+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan"},"wordCount":1699,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Food &amp; diets","Forest management &amp; restoration","Gender, justice &amp; tenure","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan","name":"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg","datePublished":"2013-09-26T05:41:25+00:00","dateModified":"2021-04-29T11:34:25+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg","width":630,"height":518,"caption":"Menggambar bentang lahan sering digunakan untuk mendiskusikan dampak perubahan iklim dengan masyarakat hutan. Agni Klintuni Boedhihartono"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menggambar, bermain peran dan peta 3 dimensi meningkatkan perencanaan lahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/ea3bb60d30245a7892854e6208008e10","name":"Michelle Kovacevic","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=gf09723b4498b0f4039b2359ebc29f05c","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bdd27143b32a221f7b8765de66dc686f70ed015e690112d4588896301cf8e684?s=96&d=mm&r=g","caption":"Michelle Kovacevic"},"description":"Michelle is a science\u00a0communicator with an honours degree in neuroscience from the University of Melbourne, Australia. She has experience across many science communication platforms including magazines, radio, presenting (to students, policymakers and practitioners), corporate PR, academia and capacity building. She was formerly editor of Forests News and social media coordinator.","sameAs":["https:\/\/x.com\/@kovamic"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/michelle-kovacevic"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/19212\/menggambar-bermain-peran-dan-peta-tiga-dimensi-meningkatkan-rencana-tata-guna-lahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/630x518xClimate-change-drawing-intu1-630x518.jpeg.pagespeed.ic_.T6j3Qs5y5V.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19212","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19212"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19212\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72299,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19212\/revisions\/72299"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18866"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19212"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19212"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19212"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=19212"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=19212"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=19212"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=19212"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=19212"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=19212"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=19212"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=19212"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=19212"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=19212"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}