{"id":18191,"date":"2013-07-29T16:32:43","date_gmt":"2013-07-29T09:32:43","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=18191"},"modified":"2018-02-07T13:55:51","modified_gmt":"2018-02-07T06:55:51","slug":"pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong","title":{"rendered":"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (29 Juli 2013) \u2013 Pembayaran untuk jasa lingkungan (PJL) dapat menyelamatkan baik lingkungan dan mengurangi kemiskinan: benar, salah atau tidak keduanya?<\/p>\n<p>Bagi dua ilmuwan, tujuan dan potensi dampak PJL menjadi bagian debat berkepanjangan yang kini mendapat arah baru.<\/p>\n<p>Bersama dengan 32 penulis lainnya, Roldan Muradian\u2014peneliti senior dari universitas Radboud Nijmegen di Belanda\u2014mempublikasikan \u201cPembayaran jasa ekosistem dan daya tarik fatal solusi menang-menang\u201d dalam Conservation Letters, sebuah jurnal yang berfokus di bidang ilmu biologi dan sosial.<\/p>\n<p>Sven Wunder, ilmuwan utama Center for International Forestry Research (CIFOR), mempublikasikan respon dalam jurnal yang sama: \u201cKetika pembayaran jasa lingkungan akan bermanfaat untuk konservasi\u201d.<\/p>\n<p>Para peneliti menyatakan mereka tidak terlalu khawatir apakah PJL berdiri untuk jasa \u201cekosistem\u201d atau \u201clingkungan\u201d. Menilai dari pekerjaan mereka, masih terdapat perbedaan mendalam, bahkan diawali dari definisi PJL yang berbeda.<\/p>\n<p><strong>ESENSI PJL<\/strong><\/p>\n<p>Ekosistem memberi manfaat yang dikenal sebagai jasa, terentang mulai dari air, simpanan karbon dan keragaman hayati hingga kenikmatan estetis, peluang rekreasi serta kegunaan spiritual. Melalui transaksi PJL, pemilik lahan atau \u2013pengguna\u2014bisa menerima uang atau sejenis insentif sebagai imbal balik karena mengamankan atau meningkatkan manfaat ini.<\/p>\n<p>Transaksi ini dapat diorganisasi secara informal di antara pembeli dan penjual, atau menjadi bagian inisiatif skala besar dipimpin oleh negara dan disubsidi donor. Di Bolivia, misalnya, petani yang tinggal berdekatan dengan Taman Nasional Amboro menerima sejenis pembayaran (sarang lebah, kawat berduri, pohon buah) untuk membiarkan hutan bagi konservasi.<\/p>\n<p>\u201cPJL terdengar sederhana karena satu pihak mengkompensasi pihak lain untuk melakukan sesuatu yang disepakati berdua,\u201d kata Wunder.<\/p>\n<p>\u201cTetapi jika banyak pemangku kepentingan terlibat mengklaim hak berbeda yang mungkin tidak bisa didefinisikan dengan baik dalam terminologi penggunaan lahan dan perubahan penggunaan lahan, maka tiba-tiba ini menjadi rumit. Atau mungkin pembeli tidak cukup terorganisasi untuk mencapai kesepakatan membayar sebagai unit kolektif. Dengan demikian, walaupun ada contoh bagus PJL, ini tidak akan bisa berjalan.\u201d<\/p>\n<p>Mengutip penelitiannya terdahulu, Wunder mendefinisikan prinsip PJL sebagai, \u201ctransaksi sukarela, bersyarat antara setidaknya satu pembeli dan satu penjual dari jasa yang terdefinisi jelas.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIni terlalu sempit,\u201d kata Muradian. \u201cApa artinya sebuah definisi yang hanya bisa menggambarkan sejumlah terbatas skema? Kita perlu kerangka analitik berbeda untuk memahami mereka.\u201d<\/p>\n<p><strong>MENANG-MENANG ATAU MENANG-TENANG?<\/strong><\/p>\n<p>Perbedaan lain di antara peneliti terletak pada bagaimana mereka mempersepsi PJL dalam hubungannya dengan projek konservasi dan pembangunan terintegrasi (ICDPs). Dalam makalah 2005, Wunder mengambarkan ICPs dan tata kelola hutan lestari sebagai instrumen yang didisain untuk meningkatkan pemasukan secara simultan dan konservasi lingkungan. \u201cWalaupun ada sukses terserak,\u201d tulisnya, \u201ctidak ada penedekatan yang sejauh ini memberikan pergeseran besar dalam trend penggunaan lahan tropis.\u201d<\/p>\n<p>Dalam artikelnya di Conservation Letters, Muradian dan rekan-rekannya menulis bahwa ICDPs sampai dengan \u201cjanji solusi menang-menang\u201d bagi masyarakat dan lingkungan. Dan, seperti Wunder, mereka mencatat bahwa keberhasilan ISDPs sulit dipahami. Walaupun mereka menambahkan bahwa pengambil kebijakan seharusnya belajar dari ekspektasi tidak realistis menang-menang terkait dengan ICDPs: \u201cHari ini, kita bisa membuat kesalahan yang sama dengan PJL,\u201d tulisnya.<\/p>\n<p>Dalam responnya, Wunder bertanya, \u201cApakah PJL merupakan bagian dari keluarga menang-menang?\u201d PJL adalah alternatif langsung dari ICDPs, meremunerasi orang untuk menjaga ekosistem daripada berinvestasi dalam penghidupan lain, tulisnya. Mengutip riset sebelumnya, Wunder menyatakan PES lebih bersifat \u201cmenang-tenang\u201d: mencapai satu tujuan, sementara meyakinkan yang lain setidaknya tidak semakin buruk.<\/p>\n<p><strong>KOMPENSASI: JEBAKAN ATAU PELUANG?<\/strong><\/p>\n<p>Kompensasi\u2014baik dalam bentuk uang atau jenis pembayaran lain\u2014adalah titik masalah lain. Harapan untuk menetralkan keuntungan tinggi tetapi merupakan perilaku merusak lingkungan melalui pembayaran bisa mengarah pada \u201cjebakan\u201d meningkatnya level kompensasi, kata Muradian.<\/p>\n<p>\u201cKetika biaya peluang besar, kita perlu bergerak keluar dari alasan pasar untuk menjaga ekosistem,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cJebakan\u201d ini dapat menjadi peluang, dan kekuatan besar PJL, kata Wunder.<\/p>\n<p>Dengan demikian, penyesuaian tingkat kompensasi dapat menjadi bagian diskusi transparan mengenai bagaimana sebenarnya biaya konservasi.<\/p>\n<p>\u201cKonservasi ternegosiasi seperti PJL jelas bukan yang paling mudah, tidak juga menjadi satu-satunya cara sah untuk mencapai konservasi, tetapi bisa dibilang sebagai bentuk praktik konservasi berkeadilan dalam bentuk terbaik,\u201d kata Wunder.<\/p>\n<p><strong>LANGKAH LANJUT<\/strong><\/p>\n<p>Kedua peneliti sepakat perlunya lebih banyak riset terapan lebih banyak. Muradian, kini akademisi tamu di Federal Rural University di Rio de Janeiro, tengah mengerjakan tiga studi kasus empiris berkaitan dengan daerah aliran sungai.<\/p>\n<p>Sementara, Wunder mengaku tengah melanjutkan menganalisa beragam kasus PJL, memberi panduan pada opsi disain paling menjanjikan bagi konteks yang berbeda.<\/p>\n<p>\u201cPJL bisa berjalan dalam situasi tertentu, tetapi tidak dalam situasi lain,\u201d kata Muradian. \u201cInilah mengapa kita perlu meningkatkan pengetahuan: di bawah kondisi institusi, budaya dan perilaku tertentu dapatkah PJL bekerja?<\/p>\n<p>Kedua peneliti mengungkapkan rencana untuk bertemu secara informal sehingga debat mereka bisa meluap dari halaman Conservation Letters ke rumah-rumah minum di Rio de Janeiro.<\/p>\n<p>Muradian mengaku tahu mengenai lokakarya yang dikelola bersama CIFOR tentang evaluasi inisiatif konservasi hutan Desember di Barcelona. Lokakarya akan mengevaluasi beragam pendekatan, termasuk PJL, pengelolaan wilayah terlindung dan hutan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, diharapkan dapat mengintensifkan debat teknis lintas disiplin dan dialog kebijakan-sains mengenai konservasi.<\/p>\n<p>\u201cPara skeptis diundang,\u201d kata Wunder.<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih mengenai isu yang didiskusikan dalam artikel ini, silahkan menghubungi Sven Wunder di s.wunder@cgiar.org.<\/p>\n<p>Penelitian ini merupakan bagian dari Program Riset tentang Hutan, Pohon dan Agroforestri CGIAR.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (29 Juli 2013) \u2013 Pembayaran untuk jasa lingkungan (PJL) dapat menyelamatkan baik lingkungan dan mengurangi kemiskinan: benar, salah atau tidak keduanya? Bagi dua ilmuwan, tujuan dan potensi dampak PJL menjadi bagian debat berkepanjangan yang kini mendapat arah baru. Bersama dengan 32 penulis lainnya, Roldan Muradian\u2014peneliti senior dari universitas Radboud Nijmegen di Belanda\u2014mempublikasikan \u201cPembayaran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":107,"featured_media":36428,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,137,95,1072,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2476,2532,2633,2520,2623,4850,2942,2584,4851],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[1141],"class_list":["post-18191","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-forest-management-restoration","category-human-wellbeing","category-landscapes","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-adaptasi","tag-bahasa-jasa-ekosistem","tag-bahasa-kemiskinan","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-pembayaran-jasa-lingkungan","tag-bahasa-roldan-muradian","tag-bahasa-sven-wunder","tag-bahasa-tata-guna-lahan","tag-bahasa-universitas-radboud-nijmegen","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (29 Juli 2013) \u2013 Pembayaran untuk jasa lingkungan (PJL) dapat menyelamatkan baik lingkungan dan mengurangi kemiskinan: benar, salah atau tidak keduanya? Bagi dua ilmuwan, tujuan dan potensi dampak PJL menjadi bagian debat berkepanjangan yang kini mendapat arah baru. Bersama dengan 32 penulis lainnya, Roldan Muradian\u2014peneliti senior dari universitas Radboud Nijmegen di Belanda\u2014mempublikasikan \u201cPembayaran [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-07-29T09:32:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T06:55:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"332\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mark Foss\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\"},\"author\":{\"name\":\"Mark Foss\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\"},\"headline\":\"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?\",\"datePublished\":\"2013-07-29T09:32:43+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T06:55:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\"},\"wordCount\":821,\"commentCount\":1,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Honey-Bee_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Human well-being\",\"Landscapes\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\",\"name\":\"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Honey-Bee_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2013-07-29T09:32:43+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T06:55:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Honey-Bee_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Honey-Bee_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":332,\"caption\":\"Ekosistem memberi manfaat yang dikenal sebagai jasa, terentang mulai dari air, simpanan karbon dan keragaman hayati hingga kenikmatan estetis, peluang rekreasi dan manfaat spiritual. CIFOR\\\/Aulia Erlangga\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d\",\"name\":\"Mark Foss\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mark Foss\"},\"description\":\"Mark Foss is a Canadian freelance writer\\\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/mark-foss\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18191\\\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?","og_description":"BOGOR, Indonesia (29 Juli 2013) \u2013 Pembayaran untuk jasa lingkungan (PJL) dapat menyelamatkan baik lingkungan dan mengurangi kemiskinan: benar, salah atau tidak keduanya? Bagi dua ilmuwan, tujuan dan potensi dampak PJL menjadi bagian debat berkepanjangan yang kini mendapat arah baru. Bersama dengan 32 penulis lainnya, Roldan Muradian\u2014peneliti senior dari universitas Radboud Nijmegen di Belanda\u2014mempublikasikan \u201cPembayaran [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-07-29T09:32:43+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T06:55:51+00:00","og_image":[{"width":500,"height":332,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mark Foss","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong"},"author":{"name":"Mark Foss","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d"},"headline":"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?","datePublished":"2013-07-29T09:32:43+00:00","dateModified":"2018-02-07T06:55:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong"},"wordCount":821,"commentCount":1,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Forest management &amp; restoration","Human well-being","Landscapes","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong","name":"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg","datePublished":"2013-07-29T09:32:43+00:00","dateModified":"2018-02-07T06:55:51+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg","width":500,"height":332,"caption":"Ekosistem memberi manfaat yang dikenal sebagai jasa, terentang mulai dari air, simpanan karbon dan keragaman hayati hingga kenikmatan estetis, peluang rekreasi dan manfaat spiritual. CIFOR\/Aulia Erlangga"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pembayaran untuk jasa lingkungan: gelas setengah penuh atau setengah kosong?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4d82a8658eb9f83e3855271ca0de667d","name":"Mark Foss","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g4cd11896dd55f9648cc15e125890d23a","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/990d924cb514898e2592729ab92b8a225ce0680b7c84aefef7d55aaa20c65939?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mark Foss"},"description":"Mark Foss is a Canadian freelance writer\/editor specializing in sustainable development issues. In 1995, following seven years as communications coordinator for the Canadian Organization for Development through Education (CODE) and Partnership Africa Canada (PAC), he began consulting for government, NGOs and international organizations. A collection of stories about a hapless NGO fundraiser appeared in 2005 followed by a novel, Spoilers, in 2011. He holds a Bachelor of Journalism (Highest Honours) and a Bachelor of Arts in Film Studies (With Distinction) from Carleton University in Ottawa.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/mark-foss"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18191\/pembayaran-untuk-jasa-lingkungan-gelas-setengah-penuh-atau-setengah-kosong#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Honey-Bee_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18191","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/107"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18191"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18191\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36428"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18191"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=18191"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=18191"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=18191"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=18191"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=18191"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=18191"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=18191"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=18191"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=18191"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=18191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}