{"id":18019,"date":"2013-07-22T15:54:48","date_gmt":"2013-07-22T08:54:48","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=18019"},"modified":"2018-02-07T15:16:12","modified_gmt":"2018-02-07T08:16:12","slug":"bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah","title":{"rendered":"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?"},"content":{"rendered":"<p>Skema untuk mengurangi emisi karbon dengan memperlambat deforestasi di negara berkembang telah berubah drastis dan menjadi \u201cbantuanisasi\u201d sejak ia dimunculkan pada 2005, demikian menurut publikasi baru soal ini.<\/p>\n<p>Semenjak awal, Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) telah mendapatkan ketertarikan luas, dipandang sebagai pendekatan baru dan segar untuk memitigasi perubahan iklim, dengan memberi pendanaan skala besar berbasis pasar untuk pelaku yang bisa membuktikan penurunan emisi dengan menghindari deforestasi.<\/p>\n<p>Sejak itu, bagaimanapun, konsepnya berevolusi dan kita melihat \u201cbantuanisasi REDD+\u201d\u2014ketika pendanaan datang utamanya dari anggaran bantuan internasional daripada pasar karbon\u2014demikian menurut penulis <em><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3805.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Analysing REDD+: Challenges and Choices,<\/a> sebuah buku yang <\/em><em>diterbitkan <\/em><em>oleh <\/em><a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Centre for International Forestry Research (CIFOR)<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cPertama ini berarti Anda membawa lebih banyak tujuan,\u201d kata Arild Angelsen, ilmuwan ekonomi lingkungan CIFOR dan profesor di Norwegian University of Life Sciences, editor utama buku ini.<\/p>\n<p>\u201cTujuan utama bantuan adalah pembangunan ekonomi dan penurunan kemiskinan. Semua ini, tentu saja, merupakan tujuan sangat baik, tetapi ini menjadi bagian pelemahan atau pelumpuhan tujuan asli REDD+ dan gagasan REDD+, yaitu untuk mengurangi emisi karbon.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBanyak bantuan pembangunan bersifat bilateral, jadi berkurang kepentingan donor untuk memiliki semacam standar universal untuk menselaraskannya\u2014karakter bantuan pembangunan adalah masing-masing dan setiap donor memiliki prosedur sendiri, binatang peliharaan sendiri yang ingin mereka tumbuhkan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cPada dasarnya ini keraguan mengapa tidak menjadi efektif dalam mengurangi emisi.\u201d<\/p>\n<p><a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/Books\/BAngelsen1301.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Buku ini<\/a> berargumen bahwa sebagian perubahan dihasilkan dari proses belajar dan pematangan alami, sementara yang lain diturunkan dari permainan politik dan kecenderungan internasional atas perjalanan hidup REDD+.<\/p>\n<p>Menjelang pertemuan Copenhagen 2009, secara luas\u2014dan optimis\u2014diharapkan sebuah ikatan kesepakatan iklim internasional pasca-Protokol Kyoto bisa diperkuat, termasuk REDD+, dan langsung mendorong sumber utama pendanaan melalui pasar karbon.<\/p>\n<p>Tiga tahun berlalu, harapan itu tidak terwujud, kesepakatan tidak dicapai, dan pandangan kemudian berbuah.<\/p>\n<p>Apalagi, kenaikan harga komoditas sejak pertengahan 2000-an mendorong peningkatan kompetisi lahan hutan, membuat REDD+ makin mahal\u2014dan krisis finansial dunia pada 2008 mengalihkan perhatian dari perubahan iklim serta menekan anggaran nasional.<\/p>\n<p>Secara bersama, faktor-faktor itu membuat pendanaan REDD+ tidak mencapai tingkat yang awalnya dibayangkan\u2014dan dua pertiga pendanaan yang diwujudkan tidak datang dari pasar karbon tetapi dari anggaran bantuan negara maju, dengan tujuan dan strategi masing-masing.<\/p>\n<p>Kekhawatirannya adalah perubahan ini merusak kebaruan REDD+, dan membawanya mendekat pada format biasa bantuan pembangunan digabung dengan pengelolaan hutan di masa lalu yang terbukti terbatas keberhasilannya.<\/p>\n<p>REDD+ juga berubah fokusnya. Alasan kunci REDD+ saat diluncurkan adalah fokus pada kekuatan nasional, gagasan di dalamnya adalah membantu mendorong pergeseran signifikan dalam perlindungan hutan, ketika pemerintah nasional menjadi pelaku utama dalam konservasi hutan.<\/p>\n<p>Bagaimanapun sejauh ini, sebagian besar pendanaan REDD+ diberikan kepada projek berbasis inisiatif tingkat lokal dan subnasional.<br \/>\n\u201cBanyak projek itu bisa berhasil, tetapi jika mereka menjadi pulau konservasi di tengah rimba deforestasi\u2014hal ini tidak akan membuat banyak perubahan,\u201d kata Angelsen.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Analysing REDD+: Challenges and Choices\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/0iC_O90QDlg?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Ia mengatakan reformasi besar di tingkat nasional\u2014termasuk memapankan wilayah terlindung, reformasi kebijakan konsesi hutan, mengintegrasikan perhatian lingkungan dalam perencanaan jalan dan infrastruktur, serta menghilangkan insentif jahat\u2014penting bagi REDD+, tetapi sulit dicapai karena perlawanan kuat dari aktor berkuasa yang bertahan habis-habisan.<\/p>\n<p>\u201cREDD+ diawali sebagai gagasan untuk mengubah cara kita mengelola hutan tropis, mengubahnya secara fundamental. Serta dengan cara yang sedikit idealistik dan berani bagi REDD+ untuk benar-benar menjadi jawaban, membawa perubahan transformasional dalam cara hutan dikelola,\u201d kata Angelsen.<\/p>\n<p>\u201cSekarang sudah termodifikasi, dan ditambah realisme politik, apa yang layak dilakukan. Ini juga bergulat dengan bagaimana menciptakan pembayaran berbasis hasil\u2014dan sulit sekali untuk membangun sistem yang baik untuk pembayaran berbasis hasil, jadi ini menghadapi baik realitas politik maupun realitas praktik.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDengan caranya politik adalah soal menemukan kompromi yang diterima koalisi luas. Dan hal itu diperlukan untuk mendapatkan dukungan, tetapi Anda juga bisa menemukan di banyak bidang bahwa kompromi bisa menjadi begitu cair hingga mereka memberi dampak terbatas.\u201d<\/p>\n<p>Akhirnya, katanya, dilema REDD+ adalah keharusan berubah dalam rangka membangun prasyarat dukungan politis\u2014tanpa kehilangan elemen yang membuatnya atraktif dan berbeda sejak awal.<\/p>\n<p>CATATAN: Artikel di blog ini pertama kali terbit tanggal 20 Juni 2012, bertepatan dengan publikasi <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/Books\/BAngelsen1301.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Menganalisis REDD+: Sejumlah tantangan dan pilihan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Skema untuk mengurangi emisi karbon dengan memperlambat deforestasi di negara berkembang telah berubah drastis dan menjadi \u201cbantuanisasi\u201d sejak ia dimunculkan pada 2005, demikian menurut publikasi baru soal ini. Semenjak awal, Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) telah mendapatkan ketertarikan luas, dipandang sebagai pendekatan baru dan segar untuk memitigasi perubahan iklim, dengan memberi pendanaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":36650,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,137,13,95,11,151,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[2882,2522,2500,4779,2564,2819],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-18019","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-governance","category-human-wellbeing","category-mrv-2","category-redd-2","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-arild-angelsen","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-norwegian-university-of-life-sciences","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-redd","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Skema untuk mengurangi emisi karbon dengan memperlambat deforestasi di negara berkembang telah berubah drastis dan menjadi \u201cbantuanisasi\u201d sejak ia dimunculkan pada 2005, demikian menurut publikasi baru soal ini. Semenjak awal, Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) telah mendapatkan ketertarikan luas, dipandang sebagai pendekatan baru dan segar untuk memitigasi perubahan iklim, dengan memberi pendanaan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-07-22T08:54:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:16:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"334\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?\",\"datePublished\":\"2013-07-22T08:54:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:16:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\"},\"wordCount\":667,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"MRV\",\"REDD+\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\",\"name\":\"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2013-07-22T08:54:48+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:16:12+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":334,\"caption\":\"Konsep REDD+ berevolusi, melihatnya sebagai \u201cbantuanisasi \u201d\u2014 ketika pendanaan datang utamanya dari anggaran bantuan internasional daripada pasar karbon. Yayan Indriatmoko\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/18019\\\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?","og_description":"Skema untuk mengurangi emisi karbon dengan memperlambat deforestasi di negara berkembang telah berubah drastis dan menjadi \u201cbantuanisasi\u201d sejak ia dimunculkan pada 2005, demikian menurut publikasi baru soal ini. Semenjak awal, Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) telah mendapatkan ketertarikan luas, dipandang sebagai pendekatan baru dan segar untuk memitigasi perubahan iklim, dengan memberi pendanaan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-07-22T08:54:48+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:16:12+00:00","og_image":[{"width":500,"height":334,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?","datePublished":"2013-07-22T08:54:48+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:16:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah"},"wordCount":667,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Governance","Human well-being","MRV","REDD+","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah","name":"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg","datePublished":"2013-07-22T08:54:48+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:16:12+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg","width":500,"height":334,"caption":"Konsep REDD+ berevolusi, melihatnya sebagai \u201cbantuanisasi \u201d\u2014 ketika pendanaan datang utamanya dari anggaran bantuan internasional daripada pasar karbon. Yayan Indriatmoko\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"\u201cBantuanisasi\u201d REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/18019\/bantuanisasi-redd-bagaimana-hal-ini-berubah-dan-mengapa-menjadi-masalah#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/Bantuanisasi-REDD-_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18019","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18019"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18019\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36650"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18019"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18019"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18019"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=18019"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=18019"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=18019"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=18019"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=18019"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=18019"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=18019"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=18019"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=18019"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=18019"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}