{"id":17676,"date":"2013-07-05T16:47:07","date_gmt":"2013-07-05T09:47:07","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=17676"},"modified":"2015-10-27T16:29:33","modified_gmt":"2015-10-27T09:29:33","slug":"tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara","title":{"rendered":"T&#038;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (5 Juli, 2013) \u2013 Kebakaran di hutan dan bekas lahan hutan terjadi di Indonesia setiap tahun saat musim kering, khususnya di provinsi Riau, Kalimantan Barat, Jambi dan Kalimantan Tengah. Asap menyebar ke negara-negara lain ini kebanyakan disebabkan oleh kebakaran di lahan gambut.<\/p>\n<p>Kebakaran berawal dan menyebar karena berbagai alasan, sehingga sangat menyesatkan untuk berpikir bahwa \u201capi\u201d merupakan masalah\u2014atau bahkan masalah <i>tunggal<\/i>. Faktor kompleksitas sosioekonomi, ekologi dan tata pemerintahan terlibat, berarti bahwa masalah\u2014dan solusinya\u2014berada di atas orang yang sebenarnya menyalakan api.<\/p>\n<p><b>Bagaimana dan di mana api dimulai?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li>Sebagian besar api sengaja dinyalakan. Sebagian kemudian membara di lahan gambut berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.<\/li>\n<li>Klaim bahwa perusahaan perkebunan minyak sawit besar bertanggungjawab atas kebakaran 2013 <a href=\"http:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2013\/06\/26\/indonesia-arrests-8-fires-causing-choking-haze.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sedang diselidiki<\/a>; pada saat bersamaan, <a href=\"http:\/\/www.ft.com\/intl\/cms\/s\/0\/a6d8c050-dbf5-11e2-a861-00144feab7de.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">perusahaan menyatakan<\/a> bahwa petani dan masyarakat lokal bertanggung jawab.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/insights.wri.org\/news\/2013\/06\/peering-through-haze-what-data-can-tell-us-about-fires-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">World Resources Institute\u00a0<\/a>meletakkan<del cite=\"mailto:Daniel%20Cooney\" datetime=\"2013-07-04T13:49\">\u00a0<\/del>data satelit NASA di atas peta konsesi Kementerian Kehutanan untuk mengidentifikasi lokasi.<\/li>\n<li>CIFOR juga membuat <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/17493\/new-data-on-riau-fires-generate-important-insights\/#.UdUa8uvoPQY\">analisis citra satelit<\/a> wilayah Provinsi Riau, Sumatera, yang tampak menjadi area terdampak paling parah oleh kebakaran yang menyebabkan masalah asap di atas Sumatera, Singapura dan Malaysia. Sementara beberapa asesmen terbaru menggunakan peringatan kebakaran harian NASA, CIFOR menambahkan penggunaan citra satelit resolusi lebih tinggi dari satelit LANDSAT 8 yang baru diluncurkan, untuk memetakan titik api.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Mengapa orang melakukan pembakaran? <\/b><\/p>\n<ul>\n<li>Perusahaan besar menggunakan pembakaran untuk membersihkan lahan dalam perkebunan minyak sawit dan kayu baik di <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/PDFwebdocs\/AGEE_special_Murdiyarso_Policy_responses.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">wilayah gambut<\/a> maupun non-gambut.<\/li>\n<li>Bagi masyarakat lokal dan petani kecil, <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">pembakaran merupakan cara termurah dan efektif<\/a> untuk membersihkan lahan bagi pertanian potong-dan-bakar dan untuk mengakses rawa-rawa.<\/li>\n<li>Pembakaran digunakan sebagai <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2158.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">\u201csenjata\u201d dalam konflik tenurial lahan<\/a>, biasanya antara perusahaan dan masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Bagaimana pengaruh iklim terhadap hal ini?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/fire\/Abstract_indonesia_02.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kejadian cuaca ekstrim<\/a>, seperti ENSO (El Nino-Osilasi Selatan) dan kekeringan panjang membuat wilayah cenderung mudah terbakar.<\/li>\n<li>Pengembangan skala besar, seperti perkebunan minyak sawit dan kayu, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2101.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">juga membuat bentang alam cenderung lebih mudah terbakar<\/a> menyusul terjadinya degradasi tanah akibat penebangan dan pengeringan. Contohnya, penebangan hutan untuk konversi lahan menjadi perkebunan minyak sawit lebih rentan terhadap kebakaran besar.<\/li>\n<li>Ketika lahan gambut dikeringkan berlebihan, seperti terjadi di pengembangan perkebunan, <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2158.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">lapisan atas mengering dan cenderung mudah terbakar<\/a>.<\/li>\n<li>Vegetasi yang <a href=\"\/\/www.cifor.org\/fire\/pdf\/pdf45.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">sering terbakar cenderung mudah terbaka<\/a>r.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2101.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pengembangan skala besar berkontribusi kepada perluasan penggunaan api<\/a> oleh masyarakat karena pengembangan menarik migran dan memperluas akses pada area yang sebelumnya terpencil.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pengembangan skala besar dapat memicu konflik<\/a> ketika masyarakat lokal merasa lahan mereka direbut secara tidak adil.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Apa hukum di Indonesia yang melarang pembakaran?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li>Pembakaran untuk membersihkan lahan dilarang di bawah hukum no. 32\/2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan dan Peraturan Pemerintah No. 4\/2001 mengenai Pengelolaan Degradasi Lingkungan dan\/atau Polusi berkaitan dengan Hutan atau Kebakaran Lahan.<\/li>\n<li>Hukuman bagi mereka yang ditemukan melanggar Hukum No. 32\/2009 termasuk denda dan penjara.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2158.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Menegakkan pembatasan hukum pada perusahaan besar terbukti sulit<\/a>, sebagian karena tanggungjawab terpecah-pecah pada tingkat berbeda pemerintah dan kehakiman.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Mengumpulkan bukti cukup untuk mendukung tuntutan hukum menjadi berat<\/a>. Dalam beberapa kasus di pengadilan yang berupaya menuntut pembakar ilegal, baik tanggungjawab kriminal atau kewajiban sipil terbukti sulit dibuktikan.<\/li>\n<li>Institusi lokal sering <a href=\"\/\/www.cifor.org\/fire\/pdf\/pdf45.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tidak memiliki kapasitas, sumber daya atau tekad politik<\/a> untuk menegakkan hukum; bagi pejabat regional menegakkan hukum larangan pembakaran bisa jadi \u201cbunuh diri politis\u201d<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2158.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Riset tahun sebelumnya<\/a> menunjukkan bahwa beberapa perusahan besar lebih memilih risiko bersalah dan membayar denda daripada mengeluarkan biaya untuk melakukan tindakan pencegahan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Apakah ada mekanisme lain yang bisa menolong?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li>Moratorium hutan Indonesia, baru diperpanjang untuk dua tahun, melarang otoritas mengeluarkan ijin baru untuk pengembangan di lahan gambut. Walaupun konversi perkebunan minyak sawit dapat terus dilakukan untuk konsesi yang telah diberikan; sebagiannya berada di lahan gambut.<\/li>\n<li>Pemerintah Indonesia memperkenalkan skema <a href=\"http:\/\/www.ispo-org.or.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Indonesian Sustainable Palm Oil<\/a> (ISPO), yang melarang pembakaran dalam membangun perkebunan. Ini menjadi wajib bagi semua perusahaan minyak sawit di Indonesia pada akhir 2014.<\/li>\n<li>Perusahaan yang berusaha patuh pada persyaratan <a href=\"http:\/\/www.rspo.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Roundtable on Sustainable Palm Oil<\/a> harus tidak melakukan pembakaran dalam operasi lapangan; kepatuhan ini penting jika perusahaan mau menjual minyak sawit pada pasar sensitif-lingkungan seperti Uni Eropa.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Mengapa asap lebih buruk dalam beberapa tahun?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li>Asap di Singapura dan tempat lain <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/1130.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dihasilkan sebagian besar oleh kebakaran di lahan gambut<\/a>. Asap dari kebakaran jenis lahan lain kurang memberi kontribusi signifikan.<\/li>\n<li>Asap bisa disebabkan oleh pembakaran gambut terbaru, atau oleh api yang dinyalakan terdahulu yang membara dan menyala kembali. Ketika musim kering, <a href=\"http:\/\/www.thejakartapost.com\/news\/2013\/06\/22\/a-hazy-climate-will-anyone-do-right-thing.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">gambut di bawah permukaan juga terjebak api<\/a> dan membara selama berbulan-bulan.<\/li>\n<li>Asap berkepanjangan karena apinya juga. Api di gambut berada 3-4 meter di bawah permukaan. Pemadam api harus memasukkan selang ke dalam gambut untuk merendam api.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Apa implikasinya bagi upaya pengurangan emisi untuk mitigasi perubahan iklim?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3876.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kebakaran gambut adalah penyumbang utama<\/a> emisi dari Indonesia. Menurut <a href=\"http:\/\/unfccc.int\/files\/national_reports\/non-annex_i_natcom\/submitted_natcom\/application\/pdf\/indonesia_snc.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Second National Communication<\/a> Indonesia kepada U.N. Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), emisi gas rumah kaca dari kebakaran gambut meningkat dari 172,000 Gg CO<sub>2<\/sub>-eq. pada \u00a02000 menjadi 451,000 in 2005.<\/li>\n<li>Kebakaran gambut menjadi sumber tunggal terbesar emisi gas rumah kaca pada 2005 (lebih besar dari energi), ketika <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3876.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">kebakaran gambut tercatat mencapai 40 persen dari emisi gas rumah kaca Indonesia<\/a>.<\/li>\n<li><a href=\"http:\/\/www.forestforclimate.org\/attachments\/680_Reducing%20Carbon%20Emissions%20from%20Indonesia%27s%20Peat%20Land.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sebuah asesmen 2009 dari Bappenas<\/a> (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) menyatakan bahwa, antara 2000 hingga 2006, emisi gas rumah kaca Indonesia berasal dari kebakaran, oksidasi gambut dan kehilangan biomasa permukaan melalui deforestasi mencapai rata-rata 903.000 Gg CO2 setiap tahun.<\/li>\n<li><a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2100.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Estimasi lain<\/a> menempatkan lepasan karbon pada kebakaran 1997 adalah 1,45 Gt, setara dengan 0,73 ppmv CO2, atau hampir separuh pertumbuhan CO2 atmosferik global tahunan.<\/li>\n<li>Indonesia secara sukarela berkomitmen untuk memitigasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020 dan 41 persen pada 2050. <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3876.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Lebih dari separuh penurunan ini<\/a> dimaksudkan berasal dari sektor kehutanan\/lahan gambut. Oleh karena itu, menghindari kebakaran gambut menjadi krusial bagi Indonesia untuk mencapai target ini.<\/li>\n<li>Pada 1997-1998, emisi karbon sudah cukup tinggi untuk mendorong Indonesia <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">menjadi salah satu negara pembuat polusi terbesar dunia<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Apa hubungan antara minyak sawit dan krisis asap 2013?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li>Krisis asap terkahir, setidaknya sebagian, disebabkan oleh pembersihan lahan bagi pengusahaan perkebunan.<\/li>\n<li>Menurut <a href=\"http:\/\/insights.wri.org\/news\/2013\/06\/peering-through-haze-what-data-can-tell-us-about-fires-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">blog World Resources Institue<\/a>, 20 persen kebakaran dari 12-20 Juni berada di konsesi minyak sawit, berdasarkan data satelit NASA dan dipetakan ke atas peta konsesi Kementerian Kehutanan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Seberapa besar krisis asap ini menyebabkan kerugian?<\/b><\/p>\n<p>Terlalu dini untuk memberi estimasi menyeluruh kerugian kebakaran dan asap tahun ini karena <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/1130.htmlhttp:\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/1130.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">banyak kerugian yang harus dihitung<\/a>:<\/p>\n<p>&#8211;     Kerugian lahan pertanian, kayu, produk hutan non-kayu<\/p>\n<p>&#8211;     Biaya pemadaman<\/p>\n<p>&#8211;     Kerusakan infrastruktur<\/p>\n<p>&#8211;     Gangguan kesehatan, pariwisata dan transportasi<\/p>\n<p>&#8211;     Kerusakan layanan ekosistem hutan, seperti perlindungan banjir, pengaturan air, proteksi pendangkalan, keragaman hayati serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim<\/p>\n<p>&#8211;     Emisi karbon<\/p>\n<p>&#8211;     Penurunan produktivitas kerja<\/p>\n<ul>\n<li>\u00a0Pada kebakaran 1997\/1998, estimasi WWF dan Environmental Emergency Project (EEP) Kementerian Kehutanan Indonesia memunculkan angka <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/PDFwebdocs\/AGEE_special_Murdiyarso_Policy_responses.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">lebih dari 6 miliar dolar AS<\/a>.<\/li>\n<li>Berdasarkan harga pasar karbon 2004, emisi dari episode kebakaran 1997 <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/2100.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">berharga sekitar 3,6 miliar dolar<\/a>.<\/li>\n<li>Kebakaran 1997 memberi pengaruh buruk pada kesehatan, kemiskinan dan penghidupan <a href=\"http:\/\/www.asb.cgiar.org\/content\/fire-people-and-pixels-linking-remote-sensing-and-social-science-understand-underlying-cause\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">bagi 75 juta orang<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari situasi berulang sendiri?<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><b>Pemerintah Indonesia bisa:<\/b>\n<ul>\n<li>Menerapkan dan menegakkan larangan membakar lahan gambut. Indonesia memiliki kapasitas teknologi dan penegak hukum untuk melakukan itu.<\/li>\n<li>Meningkatkan perencanaan spasial untuk melindungi lahan gambut dan hutan bernilai karbon tinggi lain. Ini bisa menolong Indonesia mencapai kebijakan \u201cpertumbuhan hijau berkeadilan\u201d, menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan perlindungan lingkungan.<\/li>\n<li>Merehabilitasi lahan gambut, merupakan cara terbaik untuk mencegah api dan dekomposisi gambut (sebagai sumber utama emisi karbon), karena gambut basah tidak terbakar atau terdekomposisi.<\/li>\n<li>Terus melanjutkan moratorium hutan dan meluaskannya ke seluruh lahan gambut.<\/li>\n<li>Menjamin bahwa setiap pembangunan yang melibatkan penggunaan skala besar perubahan penggunaan lahan hanya terjadi pada lahan yang telah terdegradasi\/terdeforestasi.<\/li>\n<li>Menggunakan teknologi penginderaan jauh, pemetaan digital untuk mendukung upaya prediksi, deteksi dan merespon potensi krisis kebakaran; mencegah kebakaran tak diinginkan; dan untuk menegakkan penegakkan hukum pelarangan pembakaran.<\/li>\n<li>Mendukung semua tingkatpemerintah Indonesia untuk bekerja sama memperkuat penegakkan hukum.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><b>Singapore and Malaysia<\/b>\u00a0menjadi kantor pusat banyak perusahaan perkebunan yang beroperasi di Indonesia. Seperti yang dikatakan Perdana Menteri Singapura, pemerintah bisa membantu pemerintah Indonesia menjamin bahwa perusahaan dan kontraktor yang mereka pekerjakan, menghargai hukum, begitu pula dengan tanggungjawab Indonesia terhadap perusahaan Indonesia.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><b>Perusahaan, <\/b>di manapun mereka berada biasanya memiliki tanggungjawab korporasi. Contohnya Consumer Goods Forum (CGF)\u2014sebua jaringan global pebisni barang konsumer, termasuk yang menggunakan hasil pertanian di lahan gambut-telah berkomitmen dalam <a href=\"http:\/\/www.usaid.gov\/climate\/tfa2020\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Tropical Forest Alliance<\/a> dengan pemerintah AS untuk mendorong nol deforestasi bersih pada 2020. CGF bisa mengambil posisi keras menghadapi konversi lahan gambut.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><b>\u00a0<\/b><b>Konsumen <\/b>bisa menuntut minak sawit dan kertas mereka tidak dibudidayakan di lahan gambut, atau pada lokasi dari konversi gambut.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><b>Bank dan institusi pembiayaan internasional <\/b>yang meminjamkan uang bagi perusahaan perkebunan bisa menjamin keberlanjutan komitmen (contoh: World Bank &amp; International Finance Corporate mengikuti Kerangka Kerja Keberlanjutan; bank swasta mengikuti Prinsip Equator) mengakui isu asap sebagai masalah lingkungan serius.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><b><b>Masyarakat internasional dapat:<\/b><\/b>\n<ul>\n<li>Mendukung inisiatif seperti <a href=\"http:\/\/www.iafcp.or.id\/content\/page\/44\/KFCP\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Kalimantan Forests and Climate Partnership<\/a> yang dilakukan Australia yang mempelajari bagaimana merestorasi lahan gambut terdegradasi agar mereka tidak mudah rentan kebakaran.<\/li>\n<li>Membuka kebuntuan negosiasi iklim internasional untuk mendukung implementasi REDD+, yang dapat memberi alternatif arus pemasukan bagi pemilik lahan dan masyarakat, hingga mereka dapat meningkatkan penghidupan tanpa mengkonversi hutan.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Bagi jurnalis yang ingin wawancara dan informasi lebih mengenai topik ini, silahkan menghubungi Bruno Vander Velde, CIFOR media manajer melalui email B.VanderVelde@cgiar.org atau melalui telefon +62 811 800 6150<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (5 Juli, 2013) \u2013 Kebakaran di hutan dan bekas lahan hutan terjadi di Indonesia setiap tahun saat musim kering, khususnya di provinsi Riau, Kalimantan Barat, Jambi dan Kalimantan Tengah. Asap menyebar ke negara-negara lain ini kebanyakan disebabkan oleh kebakaran di lahan gambut. Kebakaran berawal dan menyebar karena berbagai alasan, sehingga sangat menyesatkan untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":17592,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,190],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2587,2522,2721,2568,2548,2516,2616,2680,2622,2645,2659,3166],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3088],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[208],"class_list":["post-17676","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-peatlands","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-bentang-alam","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kabut-asap","tag-bahasa-kebakaran-hutan","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-penginderaan-jauh","tag-bahasa-petani-kecil","tag-bahasa-tebas-dan-bakar","type-bahasa-berkas-fakta"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>T&amp;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"T&amp;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (5 Juli, 2013) \u2013 Kebakaran di hutan dan bekas lahan hutan terjadi di Indonesia setiap tahun saat musim kering, khususnya di provinsi Riau, Kalimantan Barat, Jambi dan Kalimantan Tengah. Asap menyebar ke negara-negara lain ini kebanyakan disebabkan oleh kebakaran di lahan gambut. Kebakaran berawal dan menyebar karena berbagai alasan, sehingga sangat menyesatkan untuk [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-07-05T09:47:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-27T09:29:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"480\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"CIFOR\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@cifor\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\"},\"author\":{\"name\":\"CIFOR\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d\"},\"headline\":\"T&#038;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara\",\"datePublished\":\"2013-07-05T09:47:07+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-27T09:29:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\"},\"wordCount\":1462,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Peatlands\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\",\"name\":\"T&J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg\",\"datePublished\":\"2013-07-05T09:47:07+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-27T09:29:33+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg\",\"width\":640,\"height\":480,\"caption\":\"Faktor kompleksitas sosioekonomi, ekologi dan tata pemerintahan terlibat dalam pengaturan kebakaran, artinya bahwa masalah\u2014dan solusi\u2014berada di atas orang yang sebenarnya menyalakan api. CIFOR\\\/Rini Sulaiman, Kedutaan Norwegia\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"T&#038;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d\",\"name\":\"CIFOR\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=ge7d947aa879a614a2298e7a079243687\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"CIFOR\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/x.com\\\/cifor\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/cifor\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17676\\\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"T&J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"T&J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara","og_description":"BOGOR, Indonesia (5 Juli, 2013) \u2013 Kebakaran di hutan dan bekas lahan hutan terjadi di Indonesia setiap tahun saat musim kering, khususnya di provinsi Riau, Kalimantan Barat, Jambi dan Kalimantan Tengah. Asap menyebar ke negara-negara lain ini kebanyakan disebabkan oleh kebakaran di lahan gambut. Kebakaran berawal dan menyebar karena berbagai alasan, sehingga sangat menyesatkan untuk [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-07-05T09:47:07+00:00","article_modified_time":"2015-10-27T09:29:33+00:00","og_image":[{"width":640,"height":480,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"CIFOR","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@cifor","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara"},"author":{"name":"CIFOR","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d"},"headline":"T&#038;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara","datePublished":"2013-07-05T09:47:07+00:00","dateModified":"2015-10-27T09:29:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara"},"wordCount":1462,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Peatlands"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara","name":"T&J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg","datePublished":"2013-07-05T09:47:07+00:00","dateModified":"2015-10-27T09:29:33+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg","width":640,"height":480,"caption":"Faktor kompleksitas sosioekonomi, ekologi dan tata pemerintahan terlibat dalam pengaturan kebakaran, artinya bahwa masalah\u2014dan solusi\u2014berada di atas orang yang sebenarnya menyalakan api. CIFOR\/Rini Sulaiman, Kedutaan Norwegia"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"T&#038;J soal kebakaran dan asap di Asia Tenggara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/33964b2bd6b16891f0f4e65f2ead043d","name":"CIFOR","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=ge7d947aa879a614a2298e7a079243687","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d0edacc662331b3e7f1482139a1705cd2919ba8ff1d7457d158c9c5fdcfc56ae?s=96&d=mm&r=g","caption":"CIFOR"},"sameAs":["https:\/\/x.com\/cifor"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/cifor"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17676\/tj-soal-kebakaran-dan-asap-di-asia-tenggara#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6347179406_eacd4fe8cf_z.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17676\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17592"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17676"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=17676"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=17676"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=17676"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=17676"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=17676"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=17676"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=17676"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=17676"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=17676"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=17676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}