{"id":17593,"date":"2013-07-04T15:54:49","date_gmt":"2013-07-04T08:54:49","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=17593"},"modified":"2018-02-07T15:51:58","modified_gmt":"2018-02-07T08:51:58","slug":"pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan","title":{"rendered":"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (20 Juni 2013)_Pengambil kebijakan di Kalimantan Barat, Indonesia meyakini bahwa pembangunan pertambangan, pertanian dan minyak sawit tak bisa ditawar, tetapi kini mereka tahu bahwa dampak negatif bisa dihindari.<\/p>\n<p>Malah, pemimpin lokal dari satu-satunya area berhutan tersisa di salah satu provinsi Indonesia ini mulai belajar bagaimana mengantisipasi dan menyiapkan dampak ekonomi dan lingkungan dari peluang investasi, terima kasih kepada pengembangan metode perencanaan skenario pelibatan yang merupakan bagian dari projek <a href=\"http:\/\/www.colupsia.org\/about-us\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Collaborative Land-use Planning and Sustainable Institutional Arrangements (CoLUPSIA).<\/a><\/p>\n<p>\u201cInvestasi besar membawa serta peluang dan tantangan bagi pembangunan dan di sinilah perlu debat terbuka,\u201d kata Bayuni Shantiko, ilmuwan dari Center for International Forestry Research dan penulis <a href=\"http:\/\/www.egfar.org\/sites\/default\/files\/files\/Foresight%20Briefs\/Bayuni%20Shantiko_Brief%2018_Final.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">laporan<\/a> tentang manfaat metode Analisis Prospektif Pelibatan yang dikembangkan oleh <a href=\"http:\/\/www.uncapsa.org\/Publication\/cg46.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">CIRAD<\/a>.<\/p>\n<p>Bayuni dan rekan-rekannya menggunakan Analisis Prospektif Pelibatan dalam rangkaian lokakarya di Kapuas Hulu, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat. Lokakarya melibatkan beragam lapisan pemangku kepentingan lokal, termasuk pemimpin masyarakat, pelaku bisnis, pejabat pemerintahan provinsi, LSM internasional dan kelompok masyarakat sipil.<\/p>\n<p>Melalui skenario membangun praktik dan analisis, peserta menggali bagaimana pengelolaan lahan dan sumber daya alam bisa berkembang dalam 20 tahun mendatang, dan bagaimana perubahan yang ada bisa dipengaruhi.<\/p>\n<p>\u201cManfaat model ini memberi masyarakat kesempatan untuk menyuarakan harapan dan ketakutan serta menciptakan visi masa depan bersama,\u201d kata Bayuni dalam presentasi di <a href=\"http:\/\/www.iasc2013.org\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">14<sup>th<\/sup> International Conference of the Commons<\/a> di Kitafuji, Jepang.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" style=\"border: 1px solid #CCC; border-width: 1px 1px 0; margin-bottom: 5px;\" src=\"\/\/www.slideshare.net\/slideshow\/embed_code\/23216190?rel=0\" width=\"525\" height=\"356\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<div style=\"margin-bottom: 5px;\"><\/div>\n<p>Tujuan dari latihan ini yaitu untuk meningkatkan kebijakan pengelolaan lahan dengan membantu para pembuat kebijakan membangun &#8220;skenario&#8221; di mana mereka membayangkan dampak-dampak dari pembangunan di masa depan. Gagasannya, dengan mengantisipasi dan bersiap akan akibat yang mungkin terjadi, para pengambil kebijakan di Kapuas Hulu dapat mengindari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3434.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">dampak negatif<\/a> yang berasosiasi investasi lahan masa lalu di Indonesia, seperti meluasnya deforestasi serta konflik-konflik atas hak dan sumber daya.<\/p>\n<p><strong>Menuju alternatif masa depan<\/strong><\/p>\n<p>Kapuas hulu terentang lebih dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/4006.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">3 juta hektare<\/a> dan memiliki dua taman nasional, Danau Sentarum dan Batung Kerihun. Taman nasional ini menjadi rumah bagi sejumlah jenis tanaman, <a href=\"http:\/\/www.thefreelibrary.com\/Introduction+to+Danau+Sentarum+National+Park,+West+Kalimantan,...-a093827516\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">ikan, mamalia dan burung<\/a>, termasuk hingga <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/914.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">tiga persen populasi orang utan<\/a> seluruh Kalimantan.<\/p>\n<p>Kabupaten ini juga menjadi rumah lebih dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3436.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">220.000<\/a> orang, sebagian besarnya masyarakat asli Dayak Iban dan Embaloh di gunung dan masyarakat melayu di pantai, yang bergantung pada sumber daya ikan dan hutan bagi penghidupan.<\/p>\n<p>Namun demikian, di tahun 2007, sebanyak 19 perusahaan minyak sawit diberikan ijin di wilayah Kapuas Hulu <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3434.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meliputi 350.000 hektar<\/a>. Sebagian perusahaan ini gagal memberi masyarakat kompensasi atau pergi tanpa menyediakan lapangan kerja dan standar kehidupan lebih baik seperti dijanjikan, demikian temuan <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3434.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">riset CIFOR<\/a> sebelumnya<\/p>\n<p>Hal ini adalah jenis skenario yang sangat ingin dihindari peserta lokakarya. Dalam berbagai lokakarya, peserta menggambarkan empat skenario yang masuk akal bagi masa depan, dan kemudian didiskusikan bersama.<\/p>\n<figure id=\"attachment_17278\" aria-describedby=\"caption-attachment-17278\" style=\"width: 355px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/17277\/policymakers-in-kalimantan-choose-community-participation-as-best-for-the-future\/colupsia-skenario_1\/\" rel=\"attachment wp-att-17278\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-17278\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/CoLUPSIA-skenario_1-355x500.jpg\" alt=\"Participants chose this scenario of community participation as the most desirable future. Bayuni Shantiko\/CIFOR\" width=\"355\" height=\"500\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-17278\" class=\"wp-caption-text\">Participants chose this scenario of community participation as the most desirable future. <em>Bayuni Shantiko\/CIFOR<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Salah satu skenario paling diharapkan yang dipilih adalah ketika pemerintah melibatkan masyarakat dalam semua aspek pengelolaan lahan dan hutan, serta pengakuan dan akomodasi terhadap sistem adat.<\/p>\n<p>Yang paling tidak diharapkan adalah kelanjutan dari yang sekarang ada, pemerintah menggunakan pendekatan atas-ke-bawah terhadap perencanaan penggunaan lahan dan hak lahan masyarakat tidak jelas atau diabaikan.<\/p>\n<p>Ketika mayoritas peserta menemukan visi bersama, mereka merinci aksi atau solusi yang bisa membuat skenario menjadi kenyataan, seperti membangun asesmen kolaboratif kondisi lahan, mendisain alokasi lahan baru serta membuat ikatan legal rencana penggunaan lahan bagi semua pemangku kepentingan yang berkonsensus dengannya.<\/p>\n<p><strong>Suatu perdebatan jujur<\/strong><\/p>\n<p>Tapi perlu waktu untuk mencapai tahap itu, mengingat dinamika kelompok.<\/p>\n<p>\u201cMembuat pemangku kepentingan berbicara bebas adalah tantangan tersendiri, khususnya ketika relasi kekuasaan dan kepentingan tertentu ikut bermain,\u201d kata Bayuni. \u201cPembangunan minyak sawit itu isu sensitif bagi pejabat dan sulit sekali bagi mereka ditantang mengenai soal ini dalam suasana publik.\u201d<\/p>\n<p>Apalagi, peserta memiliki motivasi, latar belakang, tingkat pendidikan dan aspirasi berbeda.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya, mereka tidak bicara terus terang, tetapi seiring berjalannya proses dan mereka mulai kenal satu sama lain, mereka mulai membangun kepercayaan,\u201d tambah Bayuni. \u201cDalam lokakarya kedua, orang lebih berani berbicara dan berkata \u2018Saya tidak setuju pendapat Anda\u2019.<\/p>\n<p>Peserta umumnya setuju bahwa pembangunan tidak bisa dihindari tetapi reaksi mereka tidak sama. Banyak pemimpin komunitas menyuarakan ketakutan bahwa investor besar mengambil lahan mereka dan merusak penghidupan lokal.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin pembangunan,\u201d papar Luther, pemimpin adat Kapuas Hulu. \u201cTetapi itu seharusnya memberi manfaat bagi masyarakat lokal dan asli.\u201d<br \/>\nPejabat pemerintah memperhatikan akses ke jalan, pasar dan pendidikan bagi masyarakat yang terus berkembang dengan sumber daya terbatas.<\/p>\n<p>\u201cKami berkomitmen untuk menjadi kabupaten konservasi, tetapi ini tidak berarti bahwa kita tidak bisa melakukan aktivitas pembangunan,\u201d kata AM Nasir, Bupati Kapuas Hulu.<\/p>\n<p><strong>Janji untuk berubah<\/strong><\/p>\n<p>Meski lokakarya telah usai, namun kerja belum selesai.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu tantangan terbesar metode skenario adalah mengubah hasil menjadi kenyataan,\u201d kata Bayuni.<\/p>\n<p>\u201cKita bisa bicara sesuka kita, tetapi jika pengambil kebijakan belum berpikir bahwa pendekatan ini berguna atau hasilnya tidak menguntungkan mereka, mereka mungkin tidak berkomitmen mengubah kebijakan yang membuat hal ini bekerja.\u201d<\/p>\n<blockquote><p>Jika lebih banyak orang sadar bagaimana pembangunan mempengaruhi penghidupan dan lingkungan mereka, maka hal ini bisa mendorong pemerintah untuk bertindak.<\/p><\/blockquote>\n<p>Pemerintah yang bersungguh-sungguh membangun konsensus terhadap keputusan pengelolaan lahan harus coba melibatkan semua pemangku kepentingan dalam semua aspek pengambilan keputusan\u2014dan ini pun mungkin tidak cukup, tambah Bayuni.<\/p>\n<p>\u201cBahkan jika pemerintah sangat ingin melihat proses ini berjalan dan melibatkan lebih banyak orang, mereka mungkin tidak memiliki sumber daya atau kapasitas lembaga untuk mewujudkannya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menyusun langkah menuju skenario harapan, CoLUPSIA mengembangkan alokasi lahan dan peta penggunaan lahan dengan kategori lahan terinci, untuk mendukung pemerintah mendisain kebijakan dan menghadapi isu seperti perebutan batas, kepemilikan lahan dan akses sumber daya hutan.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu tantangan terbesar dengan metode skenario adalah mengubah hasil menjadi kenyataan,\u201d kata Bayuni.<\/p>\n<p>Menyebarkan kepada masyarakat mengenai temuan praktik membuat-skenario, seperti menyebarkan leaflet atau poster, bisa menciptakan tekanan yang cukup agar pemerintahan tetap berkomitmen.<\/p>\n<p>\u201cAkses terhadap informasi adalah kuncinya,\u201d lanjut Bayuni. \u201cJika lebih banyak orang menyadari bagaimana pembangunan mempengaruhi penghidupan dan lingkungan mereka, maka hal ini bisa mendorong pemerintah untuk bertindak.\u201d<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih jauh mengenai isu dalam artikel ini, silahkan hubungi Bayuni Shantiko di b.shantiko@cgiar.org.<\/p>\n<p>Projek CoLUPSIA yang didanai Uni Eropa dikerjakan oleh the International Center for Research in Agronomy and Development (CIRAD), bekerja sama dengan CIFOR, Perkumpulan TELAPAK, Asosiasi Reformasi Hukum berbasi komunitas dan ekologi (HuMA), TOMA (LSM lingkungan Ambon), Universitas Pattimura dand Universitas Gadjah Mada, Riak Bumi (LSM Lingkungan di Pontianak).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (20 Juni 2013)_Pengambil kebijakan di Kalimantan Barat, Indonesia meyakini bahwa pembangunan pertambangan, pertanian dan minyak sawit tak bisa ditawar, tetapi kini mereka tahu bahwa dampak negatif bisa dihindari. Malah, pemimpin lokal dari satu-satunya area berhutan tersisa di salah satu provinsi Indonesia ini mulai belajar bagaimana mengantisipasi dan menyiapkan dampak ekonomi dan lingkungan dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":34748,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[182,137,13,95,1072],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[4854,2949,2803,2516,2520,2590,2591,2564,2530,2554],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[213],"class_list":["post-17593","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-community-forestry","category-forest-management-restoration","category-governance","category-human-wellbeing","category-landscapes","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-bayuni-shantiko","tag-bahasa-colupsia","tag-bahasa-kalimantan-barat","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-partisipasi-lokal","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-pertumbuhan-ekonomi","tag-bahasa-tata-kelola-hutan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (20 Juni 2013)_Pengambil kebijakan di Kalimantan Barat, Indonesia meyakini bahwa pembangunan pertambangan, pertanian dan minyak sawit tak bisa ditawar, tetapi kini mereka tahu bahwa dampak negatif bisa dihindari. Malah, pemimpin lokal dari satu-satunya area berhutan tersisa di salah satu provinsi Indonesia ini mulai belajar bagaimana mengantisipasi dan menyiapkan dampak ekonomi dan lingkungan dari [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-07-04T08:54:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-02-07T08:51:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"312\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Catriona Moss\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\"},\"author\":{\"name\":\"Catriona Moss\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34\"},\"headline\":\"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan\",\"datePublished\":\"2013-07-04T08:54:49+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:51:58+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\"},\"wordCount\":1029,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/indonesia-community-500x312.jpg\",\"articleSection\":[\"Community forestry\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"Landscapes\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\",\"name\":\"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/indonesia-community-500x312.jpg\",\"datePublished\":\"2013-07-04T08:54:49+00:00\",\"dateModified\":\"2018-02-07T08:51:58+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/indonesia-community-500x312.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/07\\\/indonesia-community-500x312.jpg\",\"width\":500,\"height\":312,\"caption\":\"Skenario paling diharapkan pilihan masyarakat dalam lokakarya perencanaan penggunaan lahan adalah skenario ketika pemerintah melibatkan masyarakat dalam semua aspek pengelolaan lahan dan hutan. Achmad Ibrahim\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34\",\"name\":\"Catriona Moss\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=gdc56a385fbc9842c355ac3e587cb2edb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Catriona Moss\"},\"description\":\"Catriona Moss studied journalism at Cardiff University in Wales, she then went on to travel around South America. It was during a conservation volunteer placement in the Amazon rainforest, Ecuador, that she gained a real passion for learning about and protecting rainforests. Since then her career has been in humanitarian and development communications having worked for the Big Issue magazine in South Africa, Muslim Aid UK, Oxfam UK and the Overseas Development Institute. As well as a love for blogging and creative writing, she is also a keen filmmaker.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/catriona-moss\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/17593\\\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan","og_description":"BOGOR, Indonesia (20 Juni 2013)_Pengambil kebijakan di Kalimantan Barat, Indonesia meyakini bahwa pembangunan pertambangan, pertanian dan minyak sawit tak bisa ditawar, tetapi kini mereka tahu bahwa dampak negatif bisa dihindari. Malah, pemimpin lokal dari satu-satunya area berhutan tersisa di salah satu provinsi Indonesia ini mulai belajar bagaimana mengantisipasi dan menyiapkan dampak ekonomi dan lingkungan dari [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-07-04T08:54:49+00:00","article_modified_time":"2018-02-07T08:51:58+00:00","og_image":[{"width":500,"height":312,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Catriona Moss","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan"},"author":{"name":"Catriona Moss","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34"},"headline":"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan","datePublished":"2013-07-04T08:54:49+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:51:58+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan"},"wordCount":1029,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg","articleSection":["Community forestry","Forest management &amp; restoration","Governance","Human well-being","Landscapes"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan","name":"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg","datePublished":"2013-07-04T08:54:49+00:00","dateModified":"2018-02-07T08:51:58+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg","width":500,"height":312,"caption":"Skenario paling diharapkan pilihan masyarakat dalam lokakarya perencanaan penggunaan lahan adalah skenario ketika pemerintah melibatkan masyarakat dalam semua aspek pengelolaan lahan dan hutan. Achmad Ibrahim\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pengambil kebijakan di Indonesia memilih partisipasi masyarakat cara terbaik bagi masa depan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34","name":"Catriona Moss","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=gdc56a385fbc9842c355ac3e587cb2edb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g","caption":"Catriona Moss"},"description":"Catriona Moss studied journalism at Cardiff University in Wales, she then went on to travel around South America. It was during a conservation volunteer placement in the Amazon rainforest, Ecuador, that she gained a real passion for learning about and protecting rainforests. Since then her career has been in humanitarian and development communications having worked for the Big Issue magazine in South Africa, Muslim Aid UK, Oxfam UK and the Overseas Development Institute. As well as a love for blogging and creative writing, she is also a keen filmmaker.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/catriona-moss"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/17593\/pengambil-kebijakan-di-indonesia-memilih-partisipasi-masyarakat-cara-terbaik-bagi-masa-depan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/indonesia-community-500x312.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17593","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17593"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17593\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17593"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=17593"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=17593"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=17593"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=17593"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=17593"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=17593"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=17593"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=17593"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=17593"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=17593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}