{"id":16551,"date":"2013-05-28T14:08:17","date_gmt":"2013-05-28T07:08:17","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=16551"},"modified":"2015-10-27T17:00:42","modified_gmt":"2015-10-27T10:00:42","slug":"serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan","title":{"rendered":"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan"},"content":{"rendered":"<p>ROMA, Italia (28 Mei 2013) \u2013 Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar manusia,  sumber makanan bernutrisi tinggi dalam kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, demikian dikatakan para ilmuwan dalam sebuah laporan baru.<\/p>\n<p>Di negara berkembang, sebagian warga masyarakat termiskin\u2014seringkali wanita dan masyarakat tak memiliki lahan\u2014dapat dengan mudah, memanen dan menjual serangga, meningkatkan diet mereka dan memberi pemasukan, demikian laporan berjudul <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/docrep\/018\/i3253e\/i3253e00.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">\u201cSerangga Layak Makan: Prospek Masa Depan untuk Makanan dan Keamanan Pangan<\/a>\u201d, dirilis pada <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/forestry\/food-security\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">konferensi Hutan untuk Keamanan Pangan dan Nutrisi<\/a> yang digelar Organisasi Makanan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization\/FAO) Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Roma, beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Serangga kaya kandungan zinc, besi dan lemak, dapat dipanen secara berkelanjutan untuk meningkatkan diet dan pemanfaatan lahan, kata salah seorang penulis, Arnold van Huis, profesor entomology di <a href=\"http:\/\/www.wageningenur.nl\/en\/wageningen-university.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Wageningen<\/a> di Wageningen, Belanda.<\/p>\n<p>&#8220;Saat ini, 70 persen lahan pertanian di dunia digunakan untuk ternak, termasuk memproduksi pakan, dan kita perlu lebih sedikit lahan jika kita menernakkan serangga, mereka juga menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Data PBB mengindikasikan bahwa populasi dunia akan <a href=\"http:\/\/esa.un.org\/unpd\/wup\/Documentation\/final-report.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">meningkat<\/a> dari 7 miliar menjadi lebih dari 9 miliar pada 2050, memperbesar tekanan pada hutan\u2014yang saat ini menghadapi tingginya kecepatan deforestasi di wilayah tropis\u2014dan meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pangan.<\/p>\n<p>\u201cPenggenjotan besar-besaran produksi pertanian bisa menggerogoti sumber nutrisi yang ditemukan di hutan,\u201d kata Terry Sunderland, ilmuwan di Center for International Forestry Research (CIFOR) dan salah seorang penulis <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/4103.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">laporan baru mengenai keamanan pangan, nutrisi dan peran hutan<\/a> tersebut.<\/p>\n<p>Saat ini juga, sedikitnya <a href=\"https:\/\/www.wfp.org\/hunger\/stats\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">870 juta<\/a> orang kelaparan dan lebih dari <a href=\"http:\/\/www.fao.org\/docrep\/x0245e\/x0245e01.htm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">2 miliar<\/a> menderita defisiensi mikronutrien, atau \u201ckelaparan tersembunyi\u201d, menurut badan PBB yang menangani makanan, sementara 1,4 miliar orang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, banyak yang menderita akibat penyakit tak menular terkait seperti diabetes dan masalah jantung.<\/p>\n<p>Serangga sudah tersedia, sangat bergizi dan sangat belum termanfaatkan, kata Monica Ayieko, profesor ilmu makanan di departemen ketahanan pangan di <a href=\"http:\/\/www.jooust.ac.ke\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Universitas Sains dan Teknologi Jaramogi Oginga Odinga <\/a>di Kota Bondo, Kenya.<\/p>\n<p>Kuncinya adalah mencoba dan mengubah serangga menjadi produk berterima yang membuat orang lebih mudah mengidentifikasi dengan makanan ringan, biskuit, muffins, daging lembaran dan sosis, kata Ayieko.<\/p>\n<p>\u201cOrang harus memproduksi sendiri, jadi mereka tidak menghancurkan hutan,\u201d katanya seraya menambahkan bahwa sebagian serangga sulit diawetkan tanpa pendinginan.<\/p>\n<p>\u201cKetika terjadi darurat serangga akan muncul jadi ini adalah alternatif bagus untuk keamanan pangan.\u201d<\/p>\n<p>Di Kopenhagen, <a href=\"http:\/\/www.independent.co.uk\/life-style\/food-and-drink\/news\/worlds-best-restaurant-comes-to-town-and-its-serving-ants-7995007.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">restoran Noma<\/a> menyediakan dua jenis semut dan koki tengah mengolah resep jangkrik fermentasi, kata Van Huis, \u201cDi dunia barat Anda harus mengolahnya jadi enak,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>\u201cTradisi makan serangga telah lama hilang,\u201d kata Ayieko.<\/p>\n<p>\u201cKita berpikir tidak lagi asyik makan serangga, tetapi sekarang orang Eropa telah mengkonsumsinya, ini membuat lebih mudah untuk mendorong masyarakat menambahi diet mereka dengan cara ini.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ROMA, Italia (28 Mei 2013) \u2013 Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar manusia, sumber makanan bernutrisi tinggi dalam kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, demikian dikatakan para ilmuwan dalam sebuah laporan baru. Di negara berkembang, sebagian warga masyarakat termiskin\u2014seringkali wanita dan masyarakat tak memiliki lahan\u2014dapat dengan mudah, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":91,"featured_media":36742,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[188,95],"tags":[],"language":[2171],"location":[12215],"tag-bahasa":[4858,2550,2553,2589,4859,2615,2943,4860,4805],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[989],"class_list":["post-16551","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-food-and-diets","category-human-wellbeing","language-bahasa-indonesia","location-global","tag-bahasa-arnold-van-huis","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-makanan-hutan","tag-bahasa-mata-pencaharian","tag-bahasa-monica-ayieko","tag-bahasa-nutrisi","tag-bahasa-terry-sunderland","tag-bahasa-universitas-sains-dan-teknologi-jaramogi-oginga-odinga","tag-bahasa-universitas-wageningen","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ROMA, Italia (28 Mei 2013) \u2013 Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar manusia, sumber makanan bernutrisi tinggi dalam kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, demikian dikatakan para ilmuwan dalam sebuah laporan baru. Di negara berkembang, sebagian warga masyarakat termiskin\u2014seringkali wanita dan masyarakat tak memiliki lahan\u2014dapat dengan mudah, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-05-28T07:08:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-27T10:00:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"460\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"386\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Julie Mollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@jmollins\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\"},\"author\":{\"name\":\"Julie Mollins\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\"},\"headline\":\"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan\",\"datePublished\":\"2013-05-28T07:08:17+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-27T10:00:42+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\"},\"wordCount\":447,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Food &amp; diets\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\",\"name\":\"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2013-05-28T07:08:17+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-27T10:00:42+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg\",\"width\":460,\"height\":386,\"caption\":\"Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar orang, sumber makanan bergizi tinggi dengan kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, kata ilmuwan. CIAT\\\/ Neil Palmer\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467\",\"name\":\"Julie Mollins\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Julie Mollins\"},\"description\":\"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.\",\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/in\\\/juliemollins\\\/\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/jmollins\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/jmollins\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16551\\\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan","og_description":"ROMA, Italia (28 Mei 2013) \u2013 Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar manusia, sumber makanan bernutrisi tinggi dalam kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, demikian dikatakan para ilmuwan dalam sebuah laporan baru. Di negara berkembang, sebagian warga masyarakat termiskin\u2014seringkali wanita dan masyarakat tak memiliki lahan\u2014dapat dengan mudah, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-05-28T07:08:17+00:00","article_modified_time":"2015-10-27T10:00:42+00:00","og_image":[{"width":460,"height":386,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Julie Mollins","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@jmollins","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan"},"author":{"name":"Julie Mollins","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467"},"headline":"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan","datePublished":"2013-05-28T07:08:17+00:00","dateModified":"2015-10-27T10:00:42+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan"},"wordCount":447,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg","articleSection":["Food &amp; diets","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan","name":"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg","datePublished":"2013-05-28T07:08:17+00:00","dateModified":"2015-10-27T10:00:42+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg","width":460,"height":386,"caption":"Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar orang, sumber makanan bergizi tinggi dengan kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, kata ilmuwan. CIAT\/ Neil Palmer"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia \u2013 ilmuwan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/18a6edef8169e1c81d3306a074a16467","name":"Julie Mollins","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=gd7b35bd5dbca81f466deabc370b98c72","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1f55707cf05d0244c435d770653d563d9e6e2d686bddc75b68dc920cf5031404?s=96&d=mm&r=g","caption":"Julie Mollins"},"description":"Since 2013, Julie Mollins has served in various editorial and outreach roles with CGIAR-affiliated organizations, including as editor of Forests News for CIFOR (2013-2014, 2018 and November 2019 to June 2022), editor of Landscape News for the Global Landscapes Forum (GLF) and news editor and media manager for the International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT). She also works in communications at the World Bank. Previously, she worked for Reuters in Toronto and London, the former Reuters Foundation humanitarian website AlertNet in London, and several national news and business publications in Canada.","sameAs":["https:\/\/www.linkedin.com\/in\/juliemollins\/","https:\/\/x.com\/jmollins"],"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/jmollins"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16551\/serangga-layak-makan-meningkatkan-diet-dan-penghidupan-2-miliar-manusia-ilmuwan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/5660799730_630403cf2e_z_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/91"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16551"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16551\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36742"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16551"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=16551"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=16551"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=16551"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=16551"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=16551"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=16551"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=16551"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=16551"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=16551"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=16551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}