{"id":16367,"date":"2013-05-22T15:44:59","date_gmt":"2013-05-22T08:44:59","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=16367"},"modified":"2015-10-27T17:04:35","modified_gmt":"2015-10-27T10:04:35","slug":"saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal","title":{"rendered":"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &#038; satwa liar"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Terry Sunderland - Human-wildlife conflict in Indonesia&#039;s national parks\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/QN4_uUcdvXI?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>BOGOR, Indonesia (22 Mei, 2013)_Ketika taman nasional di Indonesia menghadapi ancaman deforestasi dan perambahan manusia, menjadi penting agar harimau, macan tutul dan mamalia besar lainnya dimonitor sebagai salah satu upaya konservasi \u2013 jika tidak ingin bentrokan dengan manusia meningkat, kata peneliti senior di CIFOR mengingatkan.<\/p>\n<p>\u201cProgram atau kebijakan baru yang mengarah pada perlindungan hewan liar hanya memberikan dampak kecil kecuali teritori dan pola perilaku spesies kunci betul-betul diawasi,\u201d kata Terry Sunderland.<\/p>\n<p>Dia berkomentar setelah dikeluarkannya <a href=\"http:\/\/wp.me\/p2jL8H-3Wt\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">rilis foto langka tiga macan tutul Jawa (<i>Panthera pardus melas<\/i>)<\/a>, tertangkap oleh kamera di taman nasional di Jawa Barat, Indonesia \u2013 sebagai bagian dari riset CIFOR tentang pengamatan penurunan populasi macan tutul.<\/p>\n<p>Diharapkan dari <a href=\"http:\/\/www.flickr.com\/photos\/cifor\/sets\/72157633482953564\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">foto-foto<\/a> tersebut, yang juga termasuk spesies langka lainnya, kijang, bereang-berang cakar kecil dan musang palem, dapat memberikan data penting bagi taman nasional untuk lebih memahami ruang jelajah macan tutul dalam mengembangkan kebijakan mengurangi konflik dengan manusia.<\/p>\n<p>\u201cKucing besar seringkali memiliki teritori yang mereka tandai sebagai wilayah kedaulatannya,  jadi Anda sebenarnya  bisa mengelola taman nasional untuk menghindari situasi konflik di titik tertentu,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Upaya ini mencakup pemetaan ulang zonasi taman nasional beserta perbatasannya guna menjamin masyarakat  untuk tidak mengumpulkan hasil hutan di wilayah kucing besar tersebut diketahui beranak; melakukan intervensi untuk mengusir hewan liar dari peternakan kecil dan perkebunan; dan menerapkan skema kompensasi untuk membayar masyarakat ketika ternak dibunuh atau lahan pertanian dirusak.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Javan leopard caught on camera trap\" src=\"https:\/\/player.vimeo.com\/video\/65886739?dnt=1&amp;app_id=122963\" width=\"500\" height=\"281\" frameborder=\"0\" allow=\"autoplay; fullscreen; picture-in-picture; clipboard-write\"><\/iframe><\/p>\n<p><b>Perebutan ruang di taman nasional di Indonesia. <\/b><\/p>\n<p>Kebutuhan survei dan melacak keragaman hayati di Indonesia &#8212; pemilik hutan hujan terbesar kedua di dunia dan  salah satu ekosistem terkaya &#8212;  <a href=\"http:\/\/www.cbd.int\/doc\/world\/id\/id-nbsap-01-p01-en.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">semakin hilang<\/a> dalam dekade terakhir.<\/p>\n<p>Walaupun <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/WPapers\/WP-76Murdiyarso.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">moratorium<\/a> dua tahun akhir-akhir ini diperpanjang, untuk membatasi penebangan untuk minyak sawit, perkebunan tanaman pangan dan penebangan komersial, membuat 1,1 juta hektare hutan hilang setiap tahun, menurut <a href=\"\/\/www.cifor.org\/publications\/pdf_files\/WPapers\/WP92Resosudarmo.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">data Kementerian Kehutanan<\/a>. Kehilangan tersebut melemahkan habitat yang ada. <a href=\"http:\/\/data.iucn.org\/dbtw-wpd\/edocs\/RL-2009-001.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Sementara negara ini adalah rumah bagi sejumlah spesies mamalia terbesar di dunia, yang sepertiga di antaranya menghadapi kepunahan.<\/a><\/p>\n<p>Pada saat yang sama, <a href=\"http:\/\/www.ecologyandsociety.org\/vol17\/iss1\/art25\/#social\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">banyak masyarakat lokal dipindahkan dari tanah tradisional mereka, seringkali ke dalam taman nasional dan wilayah yang dilindungi.<\/a><\/p>\n<p>Di Sumatera<a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3996.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">, riset CIFOR<\/a> menunjukkan bahwa petani tak berlahan mengkonversi area penyangga sekitar Taman Nasional Bukit Barisan menjadi pertanian skala kecil dan perkebunan kopi \u2013 seperempat kopi Indonesia dikembangkan di taman nasional.<\/p>\n<p>\u201cIni menunjukkan bahwa pendorong perpindahan lahan hutan tak dilindungi menjadi sangat kuat  dan orang kini akan mengambil risiko dan membangun pertanian di taman nasional&#8230; Mereka menjadi wilayah hutan terakhir dimana orang bergantung,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>Pada kondisi ini, hewan liar dan manusia menjadi lebih sering terlibat kontak.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.bbc.co.uk\/news\/world-asia-21241380\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Pada Januari 2013 dilaporkan bahwa 10 gajah pigmi,<\/a> salah satu sub-spesies langka gajah di dunia, diracuni di Kalimantan, sebuah pulau yang terbagi atas Indonesia, Malaysia dan Brunei. Walaupun tidak terkonfirmasi, pembunuhan balas dendam oleh petani lokal akibat kerusakan tanaman ini dikutip sebagai penyebab utama.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"The race for space: Human-wildlife conflict in Indonesia&#039;s national parks\" src=\"https:\/\/player.vimeo.com\/video\/66559345?dnt=1&amp;app_id=122963\" width=\"500\" height=\"281\" frameborder=\"0\" allow=\"autoplay; fullscreen; picture-in-picture; clipboard-write\"><\/iframe><\/p>\n<p><b>Bentrok harimau dan manusia di Sumatera<\/b><\/p>\n<p>Konflik manusia-harimau dilihat tim <a href=\"http:\/\/www.zsl.org\/conservation\/regions\/asia\/indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Zoological Society of London (ZSL)<\/a> cabang Indonesia sebagai sebagai sesuatu yang biasa terjadi.<\/p>\n<p>Dalam empat tahun terakhir, mereka telah memantau populasi harimau dan ruang jelajah di Berbak dan wilayah tetangga Taman Nasional Sembilang di Sumatera. Pulau ini adalah rumah bagi 350 harimau sumatera di alam liar.<\/p>\n<p>Ketika perkebunan akasia dan minyak sawit berkembang di sekitar batas taman nasional, harimau makin bergerak ke area yang sering dilalui manusia, kata Laura D\u2019Arcy, Manajer ZSL Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cBuah dan tanaman yang dihasilkan perkebunan ini menarik sejumlah buruan harimau, seperti babi dan rusa, yang kemudian memancing harimau keluar dari hutan,\u201d katanya. \u201cKambing dan ternak yang dipelihara petani kecil juga menjadi santapan empuk bagi harimau yang sakit atau terluka.\u201d<\/p>\n<p>Ketika harimau masuk ke area ini, akibatnya bisa mematikan.<\/p>\n<p>\u201cMinyak sawit adalah perkebunan yang sangat menggiurkan, jadi untuk melindungi perkebunan dari serangan babi, petani kini menggunakan pagar listrik, membentang beberapa kilometer, dengan tegangan mematikan. Kita telah kehilangan dua harimau jantan dalam satu bulan akibat eksekusi-elektronik.\u201d<\/p>\n<p>Selama masa patroli tahun lalu, tim ini menemukan sekelompok tulang harimau ketika memasang kamera pengintai untuk mengamati kucing besar di wilayah itu. Dengan kulit dan gigi yang masih tersisa, serta badan yang telah membusuk, tim menyimpulkan telah terjadi pembunuhan sengaja.<\/p>\n<figure id=\"attachment_16154\" aria-describedby=\"caption-attachment-16154\" style=\"width: 512px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/15162\/as-forests-disappear-indonesia-must-monitor-big-cats-to-reduce-human-wildlife-conflict-says-scientist\/zsl\/\" rel=\"attachment wp-att-16154\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-16154 \" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/zsl.jpg\" alt=\"A team from the Zoological Society of London (ZSL) examine the bones of a tiger caught in a snare. CIFOR\" width=\"512\" height=\"384\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/zsl.jpg 640w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/zsl-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/zsl-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/zsl-115x85.jpg 115w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/zsl-105x80.jpg 105w\" sizes=\"auto, (max-width: 512px) 100vw, 512px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-16154\" class=\"wp-caption-text\">Tim dari Zoological Society of London (ZSL) memeriksa tulang-tulang dari seekor harimau yang terjerat di sebuah perangkap. CIFOR<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cHarimau seringkali dibunuh oleh pemburu karena mereka sangat berharga dalam ekspor pasar hewan liar ilegal, tetapi merek bisa tertangkap tak sengaja dalam jaring untuk menangkap buruan lainnya,\u201d kata D\u2019arcy. \u201cSepertinya perangka ini ditempatkan untuk menangkap binatang besar, seperti rusa, dan kemudian dilupakan oleh pemburu dengan akibat yang tragis.\u201d<\/p>\n<p>Selalu membuat sedih kehilangan seekor harimau, katanya, terlebih banyak kematian dapat dihindarkan. Bagaimanapun, ZSL, dalam kemitraannya dengan Wildlife Crime and Conflict Response Team (WCCRT) \u2013 sebuah tim staf taman nasional, kementerian, dan petugas kehutanan bertugas menegakkan hukum melindungi taman nasional dan harimau \u2013 sudah melihat hasil aktivitas mereka di lapangan.<\/p>\n<p>WCCRT melakukan patroli untuk menangkap pemburu ilegal dan mengumpulkan jebakan, kata D\u2019Arcy. Mereka juga mengajari masyarakat untuk menggunakan alat pengusir harimau, seperti tembakan api, dan menolong mereka membuat cara lebih bersahabat untuk melindungi pertanian mereka.<\/p>\n<figure id=\"attachment_16311\" aria-describedby=\"caption-attachment-16311\" style=\"width: 512px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/15162\/as-forests-disappear-indonesia-must-monitor-big-cats-to-reduce-human-wildlife-conflict-says-scientist\/tiger-canine\/\" rel=\"attachment wp-att-16311\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-16311\" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine.jpg\" alt=\"tiger canine\" width=\"512\" height=\"342\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine.jpg 640w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine-566x379.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine-621x415.jpg 621w\" sizes=\"auto, (max-width: 512px) 100vw, 512px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-16311\" class=\"wp-caption-text\">Penemuan gigi taring harimau menunjukkan kecil kemungkinan sengaja dibunuh oleh pemburu untuk diperdagangkan bagian tubuhnya.<\/figcaption><\/figure>\n<p>\u201cKami bahkan memiliki saluran khusus harimau yang digunakan masyarakat untuk menelepon ketika ada kejadian. Kejadian konflik manusia-harimau berkurang, jadi kita tahu apa yang kita lakukan cukup berhasil.\u201d<\/p>\n<p>Teknologi juga memainkan peranan besar. Data yang dikumpulkan dari kamera pengintai, patroli jalan kaki dan penjejak di leher harimau ketika mereka bergerak dalam hutan dipancarkan setiap hari melalui sistem basis data terpusat telah membantu mengurangi konflik manusia-harimau dan meningkatkan upaya perlindungan.<\/p>\n<p>\u201cTeknologi telah begitu maju di tahun-tahun terakhir, hingga kita sekarang dapat mengidentifikasi setiap harimau dan dapat secara akurat memotret perilakau mereka ketika bergerak di bentang alam. Basis data juga memberi masyarakat tambahan untuk berbagi informasi.<\/p>\n<p>\u201cIni semua adalah bukti penting untuk menjamin perlindungan harimau di masa depan.\u201d<\/p>\n<p><b>Dapatkah hewan liar dan manusia hidup berdampingan?<\/b><\/p>\n<p>Pemantauan seperti itu, kata Sunderland, adalah salah satu cara untuk menjamin bahwa peraturan dan inisiatif diarahkan untuk melindungi spesies penting \u2013 yang biasanya harus mengorbankan baik manusia atau hewan liar \u2013 menjadi efektif.<\/p>\n<p>\u201cPada saat ini banyak kebingungan antara hak dan akses terhadap sumber daya hutan, dimana hutan dan habitat hewan liar berkelindan, hanya akan memperparah konflik manusia-hewan liar di masa depan.<\/p>\n<p>\u201cAda kebutuhan untuk pertukaran, dan keputusan ini harus didasari data akurat,\u201d tambahnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_16302\" aria-describedby=\"caption-attachment-16302\" style=\"width: 512px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/15162\/as-forests-disappear-indonesia-must-monitor-big-cats-to-reduce-human-wildlife-conflict-says-scientist\/8449030645_78f298c28a_z-1\/\" rel=\"attachment wp-att-16302\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-16302 \" src=\"\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/8449030645_78f298c28a_z-1.jpg\" alt=\"A CIFOR scientist and national park staff set up a camera trap to monitor leopard populaitons in west Java. \" width=\"512\" height=\"342\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/8449030645_78f298c28a_z-1.jpg 640w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/8449030645_78f298c28a_z-1-263x176.jpg 263w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/8449030645_78f298c28a_z-1-566x378.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/8449030645_78f298c28a_z-1-622x415.jpg 622w\" sizes=\"auto, (max-width: 512px) 100vw, 512px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-16302\" class=\"wp-caption-text\">Seorang ilmuwan CIFOR dan petugas taman nasional mempersiapkan sebuah kamera pengintai untuk mengamati populasi macan tutul\u00a0 in Jawa Barat.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Contohnya, skema kompensasi yang memungkinkan membayar petani akibat kehilangan ternak atau tanaman bisa menjadi jalan mencegah pembunuhan balas dendam terhadap hewan liar. Walaupun Indonesia belum memiliki skema tersebut , hal ini dilakukan oleh organisasi kecil non-pemerintah  seperti <a href=\"http:\/\/www.irdnc.org.na\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Integrated Rural Development and Nature Conservation (IRNDC)<\/a> di Namibia, Afrika, menutupi kerusakan tanaman akibat serangan hewan liar,  telah memberikan dampak positif.<\/p>\n<p>Bagaimanapun, memantau kucing besar di Indonesia akan menjadi penting untuk menghapus klaim kompensasi palsu, lanjut Sunderland, setelah hal ini sering dikaitkan dengan masalah lebih besar dan lebih serius dari perdagangan hewan liar, menurut <a href=\"http:\/\/www.traffic.org\/trade\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">TRAFFIC<\/a> mencapai angka 323 miliar dolar AS pada 2009.<\/p>\n<p>\u201cPerdagangan hewan liar dan konflik manusia bergandengan tangan. Pembunuhan balas dendam karena kerusakan tanaman atau ternak seringkali dijadikan alasan untuk memburu spesies berharga dan dilindung, yang sering dijual di pasar gelap pada pembelinya,\u201d kata Sunderland.<\/p>\n<p>\u201cAda kasus dimana orang mengklaim tanaman mereka dirusak dan ternak dibawa dengan sedikit bukti yang mengarah pada harimau, macan tutul atau gajah, mereka lebih menjadi \u2018korban\u2019 kejahatan.\u201d<\/p>\n<p>Tantangan untuk menjamin bahwa manusia dan hewan liar hidup berdampingan secara damai, kata Sunderland, sebagai sebuah keberhasilan seringkali tergantung pada program konservasi yang mendapat dana cukup dan didukung oleh  masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan penghidupan mereka.<\/p>\n<p>\u201cSangat menyedihkan bahwa taman nasional di Indonesia tidak mampu beradaptasi terhadap tekanan yang diletakkan pada mereka karena sedikit sekali uang yang disediakan untuk biaya operasional.\u201d<\/p>\n<p>\u201cHal ini membuat keterlibatan masyarakat dalam mengelola hewan liar menjadi lebih kritis,\u201d katanya. \u201cMereka tahu taman nasional, mereka tahu hewan liar, dan sebagai \u2018penjaga pintu\u2019 sumber daya di dalam, mereka sering tahu bagaiman mengelola lahan secara berkelanjutan. Di banyak kasus sistem pengelolan mereka lebih baik daripada instrumen legal yang ada.<\/p>\n<p>\u201cJadi melibatkan masyarakat dalam cara yang benar-benar bermakna \u2013 tidak sekadar bicara \u2018partisipasi, \u2018ayo berpartisipasi\u2019 &#8212; merupakan langkah maju.*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (22 Mei, 2013)_Ketika taman nasional di Indonesia menghadapi ancaman deforestasi dan perambahan manusia, menjadi penting agar harimau, macan tutul dan mamalia besar lainnya dimonitor sebagai salah satu upaya konservasi \u2013 jika tidak ingin bentrokan dengan manusia meningkat, kata peneliti senior di CIFOR mengingatkan. \u201cProgram atau kebijakan baru yang mengarah pada perlindungan hewan liar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":36746,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[161,137],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2522,2516,2520,3557,2681,2590,2540,2943,4857],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[213],"class_list":["post-16367","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-laura-darcy","tag-bahasa-margasatwa","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-spesies-langka","tag-bahasa-terry-sunderland","tag-bahasa-zoological-society-of-london","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &amp; satwa liar - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &amp; satwa liar\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (22 Mei, 2013)_Ketika taman nasional di Indonesia menghadapi ancaman deforestasi dan perambahan manusia, menjadi penting agar harimau, macan tutul dan mamalia besar lainnya dimonitor sebagai salah satu upaya konservasi \u2013 jika tidak ingin bentrokan dengan manusia meningkat, kata peneliti senior di CIFOR mengingatkan. \u201cProgram atau kebijakan baru yang mengarah pada perlindungan hewan liar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-05-22T08:44:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-27T10:04:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"512\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"342\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Catriona Moss\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\"},\"author\":{\"name\":\"Catriona Moss\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34\"},\"headline\":\"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &#038; satwa liar\",\"datePublished\":\"2013-05-22T08:44:59+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-27T10:04:35+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\"},\"wordCount\":1367,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/tiger-canine_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\",\"name\":\"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia & satwa liar - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/tiger-canine_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2013-05-22T08:44:59+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-27T10:04:35+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/tiger-canine_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/05\\\/tiger-canine_bhs.jpg\",\"width\":512,\"height\":342,\"caption\":\"Penemuan taring harimau.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &#038; satwa liar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34\",\"name\":\"Catriona Moss\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=gdc56a385fbc9842c355ac3e587cb2edb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Catriona Moss\"},\"description\":\"Catriona Moss studied journalism at Cardiff University in Wales, she then went on to travel around South America. It was during a conservation volunteer placement in the Amazon rainforest, Ecuador, that she gained a real passion for learning about and protecting rainforests. Since then her career has been in humanitarian and development communications having worked for the Big Issue magazine in South Africa, Muslim Aid UK, Oxfam UK and the Overseas Development Institute. As well as a love for blogging and creative writing, she is also a keen filmmaker.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/catriona-moss\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/16367\\\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia & satwa liar - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia & satwa liar","og_description":"BOGOR, Indonesia (22 Mei, 2013)_Ketika taman nasional di Indonesia menghadapi ancaman deforestasi dan perambahan manusia, menjadi penting agar harimau, macan tutul dan mamalia besar lainnya dimonitor sebagai salah satu upaya konservasi \u2013 jika tidak ingin bentrokan dengan manusia meningkat, kata peneliti senior di CIFOR mengingatkan. \u201cProgram atau kebijakan baru yang mengarah pada perlindungan hewan liar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-05-22T08:44:59+00:00","article_modified_time":"2015-10-27T10:04:35+00:00","og_image":[{"width":512,"height":342,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Catriona Moss","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal"},"author":{"name":"Catriona Moss","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34"},"headline":"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &#038; satwa liar","datePublished":"2013-05-22T08:44:59+00:00","dateModified":"2015-10-27T10:04:35+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal"},"wordCount":1367,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg","articleSection":["Deforestation","Forest management &amp; restoration"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal","name":"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia & satwa liar - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg","datePublished":"2013-05-22T08:44:59+00:00","dateModified":"2015-10-27T10:04:35+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg","width":512,"height":342,"caption":"Penemuan taring harimau."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Saat hutan habis, Indonesia harus memantau konflik manusia &#038; satwa liar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/8cc71df6edb901e6a73a591b9e895c34","name":"Catriona Moss","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=gdc56a385fbc9842c355ac3e587cb2edb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/296853558a16f8fde2e8a0fe842ffff42d0287f7861a4f0d1915d4134c2a9850?s=96&d=mm&r=g","caption":"Catriona Moss"},"description":"Catriona Moss studied journalism at Cardiff University in Wales, she then went on to travel around South America. It was during a conservation volunteer placement in the Amazon rainforest, Ecuador, that she gained a real passion for learning about and protecting rainforests. Since then her career has been in humanitarian and development communications having worked for the Big Issue magazine in South Africa, Muslim Aid UK, Oxfam UK and the Overseas Development Institute. As well as a love for blogging and creative writing, she is also a keen filmmaker.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/catriona-moss"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/16367\/saat-hutan-habis-indonesia-harus-memantau-kucing-besar-agar-konflik-manusia-satwa-minimal#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/tiger-canine_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16367","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16367"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16367\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16367"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16367"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16367"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=16367"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=16367"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=16367"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=16367"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=16367"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=16367"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=16367"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=16367"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=16367"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=16367"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}