{"id":163145,"date":"2026-09-11T02:36:05","date_gmt":"2026-09-10T19:36:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/163145\/papua-new-guinea-cocoa-farmers"},"modified":"2026-09-11T15:50:33","modified_gmt":"2026-09-11T08:50:33","slug":"petaniui-kakao-papua-nugini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini","title":{"rendered":"Bisakah kakao menjadi &#8216;tiket emas&#8217; bagi petani Pasifik?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Pastor Samuel Namba masih bayi, ibunya menyaksikan langit berubah menjadi hitam dan merah akibat abu dan lava dari letusan Gunung Lamington pada 1951. Ia membungkus Samuel dengan tapa basah\u2014kain yang terbuat dari kulit kayu\u2014lalu berlari membawanya untuk berlindung di sebuah gua hingga asap akibat letusan gunung menghilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namba masih terlalu kecil untuk mengingat letusan tersebut. Namun, 75 tahun kemudian, jejak letusan itu masih terlihat pada tanah vulkanik yang subur di sekitar desanya, Kawowoki, di Dataran Tinggi Managalas, Provinsi Oro. Tanah tersebut ternyata sangat cocok untuk menanam <em>Theobroma cacao<\/em>, tanaman perdu yang menghasilkan bahan baku cokelat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sela-sela tugasnya sebagai pendeta, Namba juga membudidayakan kakao. Ia merawat bibit-bibit kakao dalam tabung bambu hingga cukup kuat untuk ditanam di hutan. Ia juga membeli biji kakao basah dari petani lain, kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari di atas lembaran seng bergelombang sebelum menjualnya kepada para pembeli di luar Dataran Tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSekarang saya sedang mencoba membuat alat fermentasi agar biji kakao bisa lebih cepat dikeringkan dan kualitasnya meningkat, karena terkadang biji yang saya keringkan ditolak,\u201d ujarnya kepada saya sambil menunjukkan hamparan biji kakao berwarna cokelat kemerahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah Namba mencerminkan kondisi kakao <a href=\"https:\/\/www.landscapealliance.org\/locations\/asia\/papua-new-guinea\/?utm_source=cifor-icraf.org&amp;utm_medium=site-search&amp;utm_campaign=traffic-source\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Papua Nugini (PNG<\/a>) secara keseluruhan: tanah vulkanik yang subur, pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, biji kakao berkualitas dunia\u2014serta kerja keras untuk membawa hasil panen keluar dari pedalaman, mengolahnya dengan baik, dan memasarkannya dengan harga yang layak.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20)\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-scaled.jpg\" alt=\"    Samuel Namba and his daughter Rosta standing behind cocoa beans drying in the sun in Kawowogi Village.\" class=\"wp-image-162611\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Samuel-Namba-right-and-his-daughter-Rosta-Namba-left-sun-dry-cocoa-beans-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Samuel Namba (kanan) dan putrinya, Rosta Namba, menjemur biji kakao di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans\/Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 id=\"h-pohon-pohon-tua-peluang-peluang-baru\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Pohon-pohon tua, peluang-peluang baru<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sepanjang Dataran Tinggi Managalas, pohon-pohon kakao tua yang ditanam puluhan tahun lalu masih terlihat dari jalan. Sebagian telah ditinggalkan dan kini ditumbuhi lumut kerak. Letaknya yang terpencil membuat biaya membawa biji kakao ke pasar mahal dan tidak selalu mudah. Fluktuasi harga kakao global juga membuat banyak petani merasa kakao tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang mereka keluarkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, terinspirasi oleh kenaikan harga kakao global yang dipicu oleh penurunan produksi di Afrika Barat, sejumlah pemilik lahan di Managalas mulai kembali merawat pohon-pohon tua tersebut dan menanam pohon baru. Kali ini, mereka mendapat dukungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/?page_id=10713&#038;page_id=10713&#038;s=Managalas+Conservation+Foundation+\">Managalas Conservation Foundation (MCF)<\/a>, dengan dukungan <a href=\"https:\/\/www.landscapealliance.org\/?laregion=asia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Landscape Alliance<\/a> dan Uni Eropa (EU), telah memetakan keberadaan dan volume produksi kakao di seluruh Dataran Tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para klan kini merencanakan pembangunan jaringan gudang untuk menyimpan kakao bersama komoditas lainnya, seperti kopi, kacang okari, vanili, telur, dan sayuran. Langkah ini akan memudahkan mereka menggabungkan biaya transportasi, menjaga standar mutu, serta memenuhi persyaratan ketertelusuran yang diwajibkan kepada eksportir melalui peraturan baru, seperti Peraturan Bebas Deforestasi Uni Eropa  (EU Deforestation Regulation\/EUDR<strong>)<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"h-emas-yang-tumbuh-di-kebun\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Emas yang tumbuh di kebun<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kakao cocok dikembangkan di Papua Nugini (PNG). <em>Theobroma cacao<\/em> tumbuh subur di iklim tropis, tanah vulkanik yang kaya unsur hara, dan di bawah naungan pepohonan dengan cahaya matahari yang masuk melalui sela-selanya. Kondisi ini sesuai dengan praktik agroforestri masyarakat setempat sekaligus mendorong upaya mempertahankan tutupan hutan hujan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masyarakat telah membudidayakan kakao di wilayah ini sejak 1884, ketika pengusaha perempuan asal Samoa, Emma Coe\u2014yang kini menjadi nama salah satu peritel cokelat lokal terbesar di PNG\u2014menanam pohon <em>Theobroma<\/em> pertama di Kokopo, East New Britain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini, petani kecil masyarakat adat menghasilkan lebih dari 95% kakao negara tersebut. Sekitar dua juta dari 11 juta penduduk kepulauan PNG bergantung pada kakao sebagai sumber pendapatan utama mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika diolah dengan baik, biji kakao Papua Nugini memiliki nilai yang tinggi. Keragaman kondisi iklim dan jenis tanah di negara ini menghasilkan beragam profil cita rasa khas yang secara khusus dicari oleh produsen cokelat <em>single-origin<\/em> dan para pencinta cokelat.Tahun lalu, Perdana Menteri Papua Nugini James Marape mendorong jutaan petani kecil di negaranya untuk memanfaatkan minat tersebut. \u201cDunia menginginkan apa yang kita tanam,\u201d katanya, \u201cdan mereka bersedia membayar dengan harga tinggi untuk mendapatkannya. Emas kita tidak hanya berada di dalam tanah. Emas itu ada di kebun kita.\u201d<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-columns alignwide is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-baaca9a6 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1920\" height=\"2560\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"    Red cocoa pod growing in a garden in Kawowogi Village, Papua New Guinea.\" class=\"wp-image-162617\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 1920w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-300x400.jpg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-311x415.jpg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-135x180.jpg 135w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/A-cocoa-pod-in-a-Kawowogi-Village-garden.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1536x2048.jpg 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Polong kakao di sebuah kebun di Desa Kawowogi, Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Foto: Monica Evans\/Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1920\" height=\"2560\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"Cocoa beans spread out to dry in the sun.\" class=\"wp-image-162622\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 1920w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-300x400.jpg 300w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-311x415.jpg 311w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-135x180.jpg 135w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying-in-the-sun.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1536x2048.jpg 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Biji kakao dijemur di bawah sinar matahari di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans\/Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 id=\"h-dari-atm-menjadi-komoditas-premium\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Dari \u201cATM\u201d menjadi komoditas premium<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, kesenjangan antara potensi kakao PNG dan kenyataan yang dihadapi para petani kecil masih sangat besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSecara historis, petani di PNG menyebut kakao sebagai ATM: kakao adalah sesuatu yang bisa mereka datangi ketika membutuhkan sedikit uang tunai,\u201d ujar Tom Swan, peneliti kakao di University of Sydney. Kondisi itu berubah sejak 2006, ketika hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella) menyebar ke seluruh negeri, merusak buah yang sedang berkembang dan memangkas hasil panen. Pengelolaan hama dan penyakit secara intensif pun menjadi keharusan\u2014sebuah tantangan besar bagi petani subsisten yang hanya memiliki sedikit dukungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Managalas, belum ada persemaian bersertifikat maupun kebun sumber entres (<em>budwood garden<\/em>) di provinsi tersebut. Kondisi ini membatasi akses petani terhadap benih berkualitas. \u201cArtinya, banyak petani kakao baru menggunakan pohon kakao tua yang sudah lama ditinggalkan sebagai sumber benih,\u201d ujar Will Unsworth, Manajer Program Landscape Alliance di PNG. \u201cVarietas-varietas tua ini lebih rentan terhadap hama dan penyakit, serta pada akhirnya menghasilkan volume produksi yang lebih rendah dibandingkan varietas-varietas baru.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penurunan kesuburan tanah menjadi kendala lainnya. \u201cBanyak masyarakat di PNG mengandalkan kesuburan alami tanah, karena banyak lahan yang ditanami kakao berada di tanah vulkanik, aluvial, atau tanah yang terbentuk dari terumbu karang yang terangkat\u2014semuanya kaya akan mineral dan unsur hara,\u201d ujar Swan. \u201cNamun, kesuburan tersebut akan berkurang seiring waktu. Jika petani tidak mengembalikan unsur hara ke dalam tanah, hasil panen akan menurun secara drastis.\u201d Langkah-langkah sederhana, seperti membuat parit untuk mengubur buah kakao yang telah dibuang atau membuat kompos di sekitar pohon, dapat membantu. Penggunaan pupuk biasanya terlalu mahal bagi petani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian, ada persoalan pengolahan. Setelah dipanen, biji kakao perlu difermentasi dan dikeringkan dengan benar untuk mengembangkan cita rasa sekaligus mencegah kerusakan. Sebagian petani di Managalas mengolahnya sendiri, seperti yang dilakukan Samuel dengan lembaran seng bergelombang dan alat fermentasi sederhana yang dibuatnya. Petani lainnya menjual biji kakao basah kepada pengolah di tingkat lokal atau di Popondetta. Namun, kualitas hasil pengolahan tersebut beragam, dan hasil yang tidak konsisten membatasi akses ke pasar dengan nilai yang lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cCemaran asap telah menghantui kakao PNG di pasar global,\u201d ujar Howard-Yana Shapiro, pakar kakao global sekaligus <em>distinguished senior fellow<\/em> di Landscape Alliance. Sekitar 20 tahun lalu, reputasi PNG terkait cemaran asap\u2014yang disebabkan oleh kebocoran pada alat pengering berbahan bakar kayu\u2014\u201cmembuat pembelian biji kakaonya turun hingga setengahnya\u201d. Masalah tersebut semakin diperparah oleh munculnya jamur akibat penyimpanan pascapanen yang buruk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di samping berbagai tantangan di tingkat petani dan pengolahan, \u201cproses mendapatkan izin untuk menanam, memfermentasi, membeli, menjual, dan mengekspor kakao juga rumit dan tidak transparan,\u201d ujar Unsworth. \u201cHal ini menjadi hambatan lain bagi banyak komunitas petani untuk mengakses pasar.\u201d<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-scaled.jpg\" alt=\"    Pastor Samuel Namba standing behind materials for a cocoa bean fermenter.\" class=\"wp-image-162627\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Pastor-Samuel-Namba-with-the-materials-he-is-using-to-build-a-better-fermenter-for-cocoa-beans.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pastor Samuel Namba bersama bahan-bahan yang digunakannya untuk membuat alat fermentasi biji kakao yang lebih baik. Foto: Monica Evans\/Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 id=\"h-lebih-dari-sekadar-biji-kakao\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Lebih dari sekadar biji kakao<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jaringan gudang yang dibangun oleh komunitas di Managalas bersama para mitra konservasi mereka dirancang untuk mengatasi beberapa kendala tersebut sekaligus: penyimpanan yang aman dan dikelola secara kolektif; transportasi bersama; pengolahan yang konsisten; serta dokumentasi yang semakin dibutuhkan oleh pasar ekspor untuk memastikan ketertelusuran produk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dukungan sistemik semacam ini telah membawa perubahan di tempat lain. Di Wilayah Otonom Bougainville, komunitas yang berkomitmen mengembangkan kakao dan membenahi rantai nilainya kini mulai menikmati manfaat dari kenaikan harga kakao. Model yang mereka terapkan\u2014<strong>One Health Initiative<\/strong> yang dipimpin oleh David Guest dari University of Sydney\u2014\u201cmencakup jauh lebih banyak daripada sekadar produksi; ini merupakan rencana sistematis untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,\u201d ujar Shapiro. \u201cModel ini kini telah diterapkan secara luas.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah model yang ingin dikembangkan Managalas. Prosesnya berjalan perlahan: infrastruktur masih terus dibangun, sementara kepercayaan dengan para pembeli di sepanjang rantai nilai perlu kembali diperkuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, di seluruh Dataran Tinggi, petani seperti Samuel Namba menunjukkan bahwa masa depan kakao tidak hanya bergantung pada bijinya. Masa depan kakao justru akan ditentukan oleh sistem yang dibangun di sekelilingnya\u2014mulai dari ketersediaan bahan tanam dan fermentasi hingga jalan, gudang, dan pasar.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:100px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan menghubungi Will Unsworth, Pimpinan Program Landscape Alliance di PNG: <strong><a href=\"mailto:w.unsworth@cifor-icraf.org\">w.unsworth@cifor-icraf.org<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n<div class=\"taxonomy-post_tag wp-block-post-terms\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/agroforestry\" rel=\"tag\">agroforestry<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/climate-resilience\" rel=\"tag\">climate resilience<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/cocoa\" rel=\"tag\">cocoa<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/cocoa-value-chains\" rel=\"tag\">Cocoa value chains<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/european-union\" rel=\"tag\">European Union<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/landscape-alliance\" rel=\"tag\">Landscape Alliance<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/managalas-conservation-foundation\" rel=\"tag\">Managalas Conservation Foundation<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/managalas-plateau\" rel=\"tag\">Managalas Plateau<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/papua-new-guinea\" rel=\"tag\">Papua New Guinea<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/rural-livelihoods\" rel=\"tag\">rural livelihoods<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/smallholder-farmers\" rel=\"tag\">smallholder farmers<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/sustainable-agriculture\" rel=\"tag\">sustainable agriculture<\/a><\/div>\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 id=\"h-further-readings\" class=\"wp-block-heading\"><strong>FURTHER READINGS<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pods of promise: Could vanilla bring sustainable development to Papua New Guinea\u2019s&nbsp;Managalas&nbsp;Plateau?<\/a>&nbsp;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/156537\/managalas-kopi-papua-nugini-pencaharain\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Magic beans: Can&nbsp;Managalas&nbsp;capitalize on coffee?<\/a>&nbsp;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/93491\/reclaiming-sumbiripa-mount-lamington\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Speaking for Sumbiripa<\/a>&nbsp;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Papua Nugini menghasilkan salah satu kakao terbaik di dunia. Di Dataran Tinggi Managalas, petani kembali merawat pohon-pohon tua dan menanam pohon baru. Namun, mengubah biji kakao berkualitas menjadi sumber pendapatan yang andal membutuhkan upaya mengatasi hama, pengolahan, transportasi, dan akses pasar.<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":162602,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12114,12065,12073],"tags":[12396,12567,13545,13546,13547,13067,13548,12610,12641,12495,13549,12456],"language":[2168],"location":[12251,12340],"tag-bahasa":[],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[2432],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-163145","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news-id","category-makanan-diet","category-rantai-nilai-dan-keuangan","tag-agroforestry","tag-climate-resilience","tag-cocoa","tag-cocoa-value-chains","tag-european-union","tag-landscape-alliance","tag-managalas-conservation-foundation","tag-managalas-plateau","tag-papua-new-guinea","tag-rural-livelihoods","tag-smallholder-farmers","tag-sustainable-agriculture","language-english","location-asia-pacific","location-papua-new-guinea","type-english-feature"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Bisakah kakao menjadi &#039;tiket emas&#039; bagi petani Pasifik?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Papua Nugini menghasilkan kakao berkualitas tinggi, tetapi petani Managalas masih menghadapi kendala dari hama hingga akses pasar.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bisakah kakao menjadi &#039;tiket emas&#039; bagi petani Pasifik?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Papua Nugini menghasilkan kakao berkualitas tinggi, tetapi petani Managalas masih menghadapi kendala dari hama hingga akses pasar.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-10T19:36:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-11T08:50:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Bisakah kakao menjadi &#8216;tiket emas&#8217; bagi petani Pasifik?\",\"datePublished\":\"2026-09-10T19:36:05+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-11T08:50:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini\"},\"wordCount\":1363,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"agroforestry\",\"climate resilience\",\"cocoa\",\"Cocoa value chains\",\"European Union\",\"Landscape Alliance\",\"Managalas Conservation Foundation\",\"Managalas Plateau\",\"Papua New Guinea\",\"rural livelihoods\",\"smallholder farmers\",\"sustainable agriculture\"],\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Makanan &amp; diet\",\"Rantai nilai dan keuangan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2026\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini\",\"name\":\"Bisakah kakao menjadi 'tiket emas' bagi petani Pasifik?\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-10T19:36:05+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-11T08:50:33+00:00\",\"description\":\"Papua Nugini menghasilkan kakao berkualitas tinggi, tetapi petani Managalas masih menghadapi kendala dari hama hingga akses pasar.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1920,\"caption\":\"Biji kakao dijemur di bawah sinar matahari di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans\\\/Landscape Alliance.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bisakah kakao menjadi &#8216;tiket emas&#8217; bagi petani Pasifik?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/163145\\\/petaniui-kakao-papua-nugini#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bisakah kakao menjadi 'tiket emas' bagi petani Pasifik?","description":"Papua Nugini menghasilkan kakao berkualitas tinggi, tetapi petani Managalas masih menghadapi kendala dari hama hingga akses pasar.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bisakah kakao menjadi 'tiket emas' bagi petani Pasifik?","og_description":"Papua Nugini menghasilkan kakao berkualitas tinggi, tetapi petani Managalas masih menghadapi kendala dari hama hingga akses pasar.","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2026-09-10T19:36:05+00:00","article_modified_time":"2026-09-11T08:50:33+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1920,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Bisakah kakao menjadi &#8216;tiket emas&#8217; bagi petani Pasifik?","datePublished":"2026-09-10T19:36:05+00:00","dateModified":"2026-09-11T08:50:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini"},"wordCount":1363,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg","keywords":["agroforestry","climate resilience","cocoa","Cocoa value chains","European Union","Landscape Alliance","Managalas Conservation Foundation","Managalas Plateau","Papua New Guinea","rural livelihoods","smallholder farmers","sustainable agriculture"],"articleSection":["Forests News","Makanan &amp; diet","Rantai nilai dan keuangan"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2026","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini","name":"Bisakah kakao menjadi 'tiket emas' bagi petani Pasifik?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg","datePublished":"2026-09-10T19:36:05+00:00","dateModified":"2026-09-11T08:50:33+00:00","description":"Papua Nugini menghasilkan kakao berkualitas tinggi, tetapi petani Managalas masih menghadapi kendala dari hama hingga akses pasar.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg","width":2560,"height":1920,"caption":"Biji kakao dijemur di bawah sinar matahari di Desa Kawowogi. Foto: Monica Evans\/Landscape Alliance."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bisakah kakao menjadi &#8216;tiket emas&#8217; bagi petani Pasifik?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/163145\/petaniui-kakao-papua-nugini#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Cocoa-beans-drying.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/163145","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=163145"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/163145\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":163150,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/163145\/revisions\/163150"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=163145"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=163145"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=163145"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=163145"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=163145"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=163145"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=163145"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=163145"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=163145"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=163145"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=163145"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=163145"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=163145"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}