{"id":162481,"date":"2026-07-05T09:30:00","date_gmt":"2026-07-05T02:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/162481\/tracking-biodiversity-amazon-new-guinea"},"modified":"2026-08-26T14:47:13","modified_gmt":"2026-08-26T07:47:13","slug":"melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini","title":{"rendered":"Dari Amazon ke Papua Nugini"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#87d552\" class=\"has-inline-color\"><em>Artikel ini merupakan bagian kedua dari serial tiga bagian yang menceritakan bagaimana masyarakat dan para peneliti menelusuri keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini.<\/em><\/mark><\/em><\/p>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\"><summary>PART 01: RINGKASAN<\/summary>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam seri pertama ini, masyarakat dan peneliti mulai memetakan kekayaan satwa liar di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan kamera jebak dan perekam akustik untuk membangun data dasar keanekaragaman hayati yang dapat mendukung pengembangan kredit keanekaragaman hayati.<\/p>\n<\/details>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<div class=\"wp-block-columns alignwide are-vertically-aligned-center is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-6b44f232 wp-block-columns-is-layout-flex\" style=\"border-top-style:dashed;border-top-width:1px;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:190px\">\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-left is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-4d114226 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button\"><a class=\"wp-block-button__link wp-element-button\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/161424\/menyingkap-kekayaan-hutan-hujan-papua-nugini\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#FFFFFF\" class=\"has-inline-color\">Baca juga<\/mark><\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<h2 id=\"h-menyingkap-kekayaan-sebuah-hutan-hujan\" class=\"wp-block-heading\" style=\"font-size:clamp(1.039rem, 1.039rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.88), 1.6rem);font-style:normal;font-weight:600\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/161424\/menyingkap-kekayaan-hutan-hujan-papua-nugini\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Menyingkap kekayaan sebuah hutan hujan<\/a><\/h2>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada Juli lalu, Gabriel Leite, seorang ahli biologi dan pengamat burung asal Brasil, berkesempatan mewujudkan salah satu impiannya: melihat\u2014dan mendengar\u2014burung cenderawasih di alam liar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Leite adalah pemimpin bidang sains keanekaragaman hayati di <a href=\"https:\/\/wildmon.ai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">WildMon<\/a>, sebuah organisasi nirlaba pemantauan satwa liar. Organisasi ini memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi berbagai spesies, memetakan persebarannya, serta memahami beragam faktor yang memengaruhi keberadaan spesies-spesies tersebut di suatu wilayah. Leite juga merupakan seorang perekam suara satwa liar yang aktif dan memiliki peringkat internasional di <a href=\"https:\/\/xeno-canto.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Xeno-canto<\/a>, sebuah wadah sains warga yang menghimpun rekaman suara satwa liar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan dari rumah Leite di Manaus, sebuah kota yang terletak di jantung Amazon, menuju <a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/?page_id=10713&#038;page_id=10713&#038;page_id=10713&#038;page_id=10713&#038;s=Managalas+Conservation+Area\">Kawasan Konservasi Managalas<\/a> (Managalas Conservation Area\/MCA) di Provinsi Oro, Papua Nugini, bukanlah perjalanan singkat. Ia harus menempuh perjalanan internasional selama 50 jam, dilanjutkan dengan penerbangan menggunakan pesawat kecil menuju Kota Popondetta, lalu perjalanan dengan jip yang penuh guncangan hingga mencapai dataran tinggi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam wawancara untuk Kabar Hutan ini, Leite menceritakan pekerjaannya di dataran tinggi tersebut, perbandingan antara hutan hujan Managalas dengan Amazon, serta apa yang bisa diungkap oleh teknologi mengenai kehidupan satwa liar di kawasan hutan terpencil.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:0;padding-bottom:0\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1440\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\" Gabriel Leite looks upward into the forest canopy while holding a directional microphone with a furry windscreen to record wildlife sounds.\" class=\"wp-image-161016\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-566x318.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-738x415.jpg 738w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-220x124.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-records-bird-calls-in-the-Managalas-forest.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-2048x1152.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gabriel Leite merekam suara burung di hutan Managalas. Foto oleh Russell Wai \/ Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 id=\"h-mengapa-papua-nugini-mengapa-managalas\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengapa Papua Nugini, mengapa Managalas?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#193b10\" class=\"has-inline-color\"><strong>Kabar Hutan: <\/strong><em>Bagaimana  Anda bisa sampai ke Papua Nugini?<\/em><\/mark><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tim saya di WildMon bertanggung jawab untuk mengumpulkan, mengunggah, dan menganalisis data yang diperoleh dari kamera jebak dan alat perekam suara. Dalam beberapa proyek, terutama di lingkungan baru yang belum begitu kami kenal kondisi hutannya, salah satu dari kami akan turun langsung ke lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya belum pernah mengunjungi Papua Nugini (PNG) sebelumnya. Berkunjung ke sana sudah lama menjadi impian saya, terutama karena ingin melihat burung-burung cenderawasih. Saya adalah seorang ahli burung (ornitolog), dan penelitian untuk gelar magister serta doktoral saya berfokus pada burung. Jadi, saya selalu ingin pergi ke sana, tetapi belum pernah memiliki kesempatan maupun dana untuk mewujudkannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"h-kegiatan-lapangan-di-dataran-tinggi-managalas\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Kegiatan lapangan di Dataran Tinggi Managalas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH: <\/strong><em>Seperti apa keseharian Anda selama di Managalas?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL: <\/strong>Tujuan utamanya adalah pelatihan: bekerja dengan para mitra dari <a href=\"https:\/\/www.landscapealliance.org\/?laregion=asia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Landscape Alliance<\/a> serta para pemuda setempat \u2014yang tergabung dalam Biodiversity Team Leaders \u2014 yang bertanggung jawab memasang perangkat-perangkat tersebut. Banyak dari mereka masih minim pengalaman dalam menggunakan ponsel pintar ataupun aplikasi yang kami andalkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya juga menghabiskan waktu di hutan untuk merekam berbagai spesies dan lebih mengenali medan di sana. Hal ini sangat penting untuk pekerjaan analisis kami nantinya. Baru ada sedikit rekaman yang terdokumentasi mengenai hal-hal seperti kicauan burung dari Papua Nugini, karena belum banyak orang yang datang ke sana untuk merekam spesies-spesies tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH:<\/strong> <em>Seberapa mudah atau sulit akses menuju kawasan hutan tempat Anda bekerja?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL:<\/strong> Kami harus mengunjungi setiap desa terlebih dahulu dan berbicara dengan para tokoh setempat untuk mendapatkan izin memasuki hutan. Lokasi tempat kami bekerja mencakup area seluas tiga kilometer kali tiga kilometer yang membentang melintasi lahan-lahan milik beberapa keluarga. Namun, setelah semuanya dibicarakan, para pemilik lahan mengizinkan kami untuk masuk ke sana.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"h-menemukan-dan-tidak-menemukan-spesies\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Menemukan \u2014 dan tidak menemukan \u2014 spesies<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH:<\/strong> <em>Apa yang paling mengejutkan Anda dari spesies yang Anda temui?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL:<\/strong> Saya memiliki ekspektasi yang tinggi, dan saya terkejut karena ternyata cukup sulit menemukan mamalia. Untuk menemukan satwa seperti kanguru pohon, Anda benar-benar harus pergi jauh dari permukiman masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi saya, perbedaannya sangat jelas. Di Amazon, struktur hutannya cukup mirip, tetapi Anda dapat melihat dan mendengar jauh lebih banyak spesies karena masyarakat jarang berburu, dan jika pun berburu, mereka hanya mengincar satu atau dua spesies tertentu. Di Managalas, masyarakat sering kali memburu apa saja yang mereka temukan, termasuk hewan-hewan berukuran kecil. Hal itu mengejutkan bagi saya, dan sayangnya, saya mengamati pola serupa di kawasan-kawasan hutan lain yang saya kunjungi di PNG.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH:<\/strong> <em>Apakah warga setempat membantu Anda dalam mengidentifikasi banyak spesies?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL:<\/strong> Sebagian besar hanya spesies yang umum dijumpai. Ada banyak burung parkit di sekitar sini, yang mudah mereka kenali. Namun, karena perburuan marak terjadi, banyak spesies lain menjadi langka dan sulit ditemukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu orang yang menemani saya masuk ke hutan, Reckson Kajiaki, cukup mengenal berbagai jenis burung buruan yang biasa diburu masyarakat. Suatu ketika, seekor burung mulai berkicau dan ia meminta saya merekamnya. Kemudian ia menunjuk ke arah burung tersebut\u2014ternyata itu adalah cenderawasih raja [<em>Cicinnurus regius<\/em>]. Momen itu sungguh luar biasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH:<\/strong> <em>Apakah Anda punya gambaran soal berapa banyak spesies yang berhasil Anda dokumentasikan, dan berapa banyak yang mungkin masih belum terdeteksi oleh sistem Anda?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL:<\/strong> Dalam perjalanan kami, kami berhasil merekam 130 spesies dan mengumpulkan rekaman suara dari 70 di antaranya. Namun, tentu saja, masih jauh lebih banyak spesies yang ada di sana daripada yang berhasil kami amati. Kamera jebak akan membantu kami mengidentifikasi lebih banyak spesies nokturnal. Kemungkinan masih banyak spesies lain yang terdapat di area yang lebih tinggi, yang lebih sulit dijangkau dan belum banyak kami eksplorasi.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20)\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1796\" height=\"2560\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"A full-length portrait of Gabriel Leite standing on a dirt path in field gear, wearing a cap, glasses, a multi-pocketed vest, and tall rubber boots, equipped with binoculars around his neck and audio recording equipment at his side.\" class=\"wp-image-161022\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 1796w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-281x400.jpg 281w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-291x415.jpg 291w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-768x1094.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-126x180.jpg 126w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-1078x1536.jpg 1078w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-prepares-to-record-bird-calls-in-Managalas.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-1437x2048.jpg 1437w\" sizes=\"auto, (max-width: 1796px) 100vw, 1796px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gabriel Leite bersiap merekam suara burung di Managalas. Foto oleh Russell Wai \/ Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 id=\"h-teknologi-dan-keterbatasannya\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Teknologi dan keterbatasannya<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH: <\/strong><em>Apa yang dilakukan terhadap data yang telah terkumpul itu?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL: <\/strong>Kami menggunakan kecerdasan buatan (AI) karena jumlah datanya sangat banyak, sehingga tidak mungkin bagi kami untuk memeriksa semuanya secara manual. Untuk data dari kamera jebak, program AI tersebut memilah data ke dalam kelompok-kelompok besar\u2014terkadang hingga tingkat famili atau genus, tergantung pada kualitas foto.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk data dari rekaman suara, kami memiliki model lain yang mendeteksi suara burung dan mencocokkannya dengan daftar yang mencakup sekitar 400 spesies burung. Namun, cara ini tidak selalu berhasil karena kami belum memiliki rekaman untuk banyak spesies yang ada di PNG. Jika suatu spesies belum tercakup di dalam model tersebut, kami mencari cara lain untuk mengidentifikasinya, misalnya dengan bertanya kepada penduduk setempat atau menggunakan platform lain. Saat ini, kami belum bisa mengandalkan model AI sepenuhnya; tim saya masih perlu memeriksa setiap data selama proses berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah kami mengetahui spesies apa saja yang ada di sana, tim lain melakukan analisis untuk tingkat berikutnya. Mereka mengukur berbagai variabel\u2014seperti ketinggian tempat, tingkat tutupan vegetasi, curah hujan, dan jarak ke permukiman\u2014serta mereka berupaya menentukan perkiraan sebaran wilayah dari setiap spesies tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH:<\/strong> <em>Apakah data semacam ini bisa digunakan untuk mengestimasi kepadatan populasi spesies?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><strong>GL:<\/strong> Hal itu memungkinkan untuk dilakukan dengan kamera jebak\u2014kita bisa memperoleh data kelimpahan karena dapat melihat jumlah individu yang terekam. Namun, dengan alat perekam suara, informasi semacam ini belum dapat diperoleh karena kita tidak bisa mengetahui berapa banyak individu yang berkicau dalam setiap rekaman. Kita tidak bisa memisahkan suara-suara tersebut dan mengatakan, \u201cYang ini Jo\u00e3o, yang itu Maria\u201d; bisa saja itu sebenarnya burung yang sama yang terus berkicau di sepanjang rekaman.<\/em><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20)\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1441\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"A group portrait of 14 local men standing and kneeling in a grassy field while holding up smartphones, with a traditional thatched-roof building and tropical vegetation in the background.\" class=\"wp-image-161290\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-566x319.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-737x415.jpg 737w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-220x124.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Managalas-Conservation-Area-Biodiversity-Team-Leaders-during-their-training.-Photo-by-Russell-Wai_CIFOR-ICRAF-2048x1153.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Para Biodiversity Team Leaders&nbsp;di Kawasan Konservasi Managalas saat mengikuti pelatihan. Foto oleh Russell Wai \/ Landscape Alliance.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 id=\"h-bekerja-bersama-masyarakat\" class=\"wp-block-heading\"><em><strong>Bekerja bersama masyarakat<\/strong><\/em><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><strong>KH:<\/strong> Bagaimana pengalaman Anda saat bekerja bersama masyarakat di Managalas?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL:<\/strong> Luar biasa. Sebelum berangkat, saya mendengar banyak cerita seperti, \u201cOh, Papua Nugini itu sangat berbahaya karena banyak terjadi konflik antarklan.\u201d Namun, saya sama sekali tidak mengalami masalah. Masyarakat di sana sangat terbuka dan menerima kehadiran kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami sering bersenda gurau karena saya sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dalam bahasa setempat, sementara bahasa Inggris pun sulit bagi hampir semua orang di antara kami. Namun, sungguh luar biasa rasanya bisa masuk ke hutan bersama mereka; mereka menceritakan berbagai hal kepada saya, seperti beragam kegunaan pohon dan tanaman yang kami temukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari segi logistik, memang cukup menantang. Masyarakat di sana tinggal di daerah terpencil dan sulit dijangkau, terutama ketika permukaan air sungai sedang tinggi, sementara kami membawa banyak orang dan peralatan. Sering kali kami harus menghabiskan waktu seharian hanya untuk mencapai sebuah permukiman karena kondisi jalan yang buruk dan Anda bisa terjebak di tengah perjalanan. Namun, semua itu merupakan bagian dari pekerjaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sering kali, setibanya di sebuah permukiman, kami semua bermalam di sebuah balai pertemuan yang besar. Saya membawa <em>hammock<\/em> (tempat tidur gantung), seperti ketika saya melakukan perjalanan ke hutan di Brasil. Jadi, hanya saya yang tidur di <em>hammock<\/em>, sementara yang lain tidur di lantai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH:<\/strong> <em>Lalu, bagaimana tanggapan Biodiversity Team Leaders terhadap pelatihan tersebut?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>GL:<\/strong> Mereka sudah paham medan hutan tersebut, tetapi kami melatih mereka untuk menggunakan GPS pada ponsel, memasang perangkat-perangkat perekam dengan benar, dan mencatat semua data menggunakan aplikasi bernama Survey123. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awalnya memang sedikit sulit. Mereka membutuhkan waktu satu atau dua hari untuk merasa percaya diri turun ke lapangan. Namun, setelah perangkat dipasang dan hasilnya mulai diperoleh, terlihat jelas bahwa mereka semua telah melakukan pekerjaan dengan baik. Tentu saja, yang lebih muda jauh lebih cepat mempelajari semuanya, tetapi pada akhirnya semua orang mampu melakukan pemasangan perangkat di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<div class=\"wp-block-columns alignfull is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-6b44f232 wp-block-columns-is-layout-flex\" style=\"border-top-style:dashed;border-top-width:1px;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:190px\">\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-left is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-4d114226 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button is-style-fill\"><a class=\"wp-block-button__link has-contrast-color has-text-color has-background has-link-color wp-element-button\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\" style=\"border-radius:3px;background-color:#bdedb9;padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20);font-style:normal;font-weight:700\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Baca juga<\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"line-height:1.5\">\n<h2 id=\"h-part-03-ketika-peta-berbeda-dengan-kondisi-nyata-perbincangan-dengan-ekolog-rhett-harrison\" class=\"wp-block-heading has-custom-green-dark-new-color has-text-color has-link-color wp-elements-aef4b9008c6c1cfffa7b37ffc8b38698\" style=\"font-size:clamp(1.039rem, 1.039rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.88), 1.6rem);font-style:normal;font-weight:600\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">PART 03: Ketika peta berbeda dengan kondisi nyata: Perbincangan dengan ekolog Rhett Harrison<\/a><\/h2>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<div style=\"height:100px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk informasi lebih lanjut mengenai proyek ini, silakan hubungi Will Unsworth, PNG Programme Lead di Landscape Alliance, melalui email <a href=\"mailto:w.unsworth@cifor-icraf.org\">w.unsworth@cifor-icraf.org<\/a>.<\/p>\n\n\n<div class=\"taxonomy-post_tag wp-block-post-terms\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/bioacoustics\" rel=\"tag\">bioacoustics<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/biodiversity-tracking\" rel=\"tag\">Biodiversity tracking<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/conservation-technology\" rel=\"tag\">conservation technology<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/managalas-plateau\" rel=\"tag\">Managalas Plateau<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/papua-new-guinea\" rel=\"tag\">Papua New Guinea<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/png\" rel=\"tag\">PNG<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/wildlife-monitoring\" rel=\"tag\">wildlife monitoring<\/a><span class=\"wp-block-post-terms__separator\">, <\/span><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/tag\/wildmon\" rel=\"tag\">WildMon<\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Brazilian biologist Gabriel Leite discusses his journey to Papua New Guinea\u2019s Managalas Plateau, comparing its dense rainforests to the Amazon and explaining how audio technology and local knowledge help track elusive wildlife species.<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":161012,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12114,12065,12052],"tags":[13396,13397,13398,12610,12641,13399,13400,13401],"language":[2168],"location":[12251,12340],"tag-bahasa":[],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[2427],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-162481","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news-id","category-makanan-diet","category-pengelolaan-restorasi-hutan","tag-bioacoustics","tag-biodiversity-tracking","tag-conservation-technology","tag-managalas-plateau","tag-papua-new-guinea","tag-png","tag-wildlife-monitoring","tag-wildmon","language-english","location-asia-pacific","location-papua-new-guinea","type-english-interview"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Memetakan keanekaragaman hayati Papua Nugini<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Ahli biologi asal Brasil, Gabriel Leite, berbagi pengalaman tentang pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan AI dan perekam suara.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Amazon ke Papua Nugini\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ahli biologi asal Brasil, Gabriel Leite, berbagi pengalaman tentang pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan AI dan perekam suara.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-05T02:30:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-26T07:47:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Dari Amazon ke Papua Nugini\",\"datePublished\":\"2026-07-05T02:30:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-26T07:47:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\"},\"wordCount\":1497,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"bioacoustics\",\"Biodiversity tracking\",\"conservation technology\",\"Managalas Plateau\",\"Papua New Guinea\",\"PNG\",\"wildlife monitoring\",\"WildMon\"],\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Makanan &amp; diet\",\"Pengelolaan &amp; restorasi hutan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2026\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\",\"name\":\"Memetakan keanekaragaman hayati Papua Nugini\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-05T02:30:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-26T07:47:13+00:00\",\"description\":\"Ahli biologi asal Brasil, Gabriel Leite, berbagi pengalaman tentang pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan AI dan perekam suara.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1440,\"caption\":\"Gabriel Leite (depan) dan BTL melakukan perjalanan menuju lokasi grid pemantauan.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari Amazon ke Papua Nugini\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/162481\\\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memetakan keanekaragaman hayati Papua Nugini","description":"Ahli biologi asal Brasil, Gabriel Leite, berbagi pengalaman tentang pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan AI dan perekam suara.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dari Amazon ke Papua Nugini","og_description":"Ahli biologi asal Brasil, Gabriel Leite, berbagi pengalaman tentang pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan AI dan perekam suara.","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2026-07-05T02:30:00+00:00","article_modified_time":"2026-08-26T07:47:13+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1440,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Dari Amazon ke Papua Nugini","datePublished":"2026-07-05T02:30:00+00:00","dateModified":"2026-08-26T07:47:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini"},"wordCount":1497,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg","keywords":["bioacoustics","Biodiversity tracking","conservation technology","Managalas Plateau","Papua New Guinea","PNG","wildlife monitoring","WildMon"],"articleSection":["Forests News","Makanan &amp; diet","Pengelolaan &amp; restorasi hutan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#respond"]}],"copyrightYear":"2026","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini","name":"Memetakan keanekaragaman hayati Papua Nugini","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg","datePublished":"2026-07-05T02:30:00+00:00","dateModified":"2026-08-26T07:47:13+00:00","description":"Ahli biologi asal Brasil, Gabriel Leite, berbagi pengalaman tentang pemantauan keanekaragaman hayati di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, menggunakan AI dan perekam suara.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg","width":2560,"height":1440,"caption":"Gabriel Leite (depan) dan BTL melakukan perjalanan menuju lokasi grid pemantauan."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari Amazon ke Papua Nugini"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/162481\/melacak-keanekaragaman-hayati-amazon-papua-nugini#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gabriel-Leite-front-and-BTLs-travel-to-a-monitoring-grid-site-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162481","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162481"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162481\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":162859,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162481\/revisions\/162859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161012"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162481"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162481"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162481"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=162481"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=162481"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=162481"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=162481"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=162481"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=162481"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=162481"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=162481"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=162481"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=162481"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}