{"id":155930,"date":"2026-01-23T09:30:00","date_gmt":"2026-01-23T02:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/155930\/pods-of-promise-vanilla-managalas-papua-new-guinea"},"modified":"2026-02-10T15:17:26","modified_gmt":"2026-02-10T08:17:26","slug":"budidaya-vanili-managalas-papua-nugini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini","title":{"rendered":"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em><em>Apa yang bisa diperbuat anggrek Meksiko berwarna kuning kehijauan terhadap jalan raya dan sekolah di pedesaan Papua Nugini? Secara potensi, sangat banyak.<\/em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anggrek-anggrek itu adalah <em>Vanilla planifolia<\/em> dan <em>Vanilla tahitensis<\/em>, yang dibudidayakan di seluruh daerah tropis karena polong dan bijinya yang harum dan lezat. Vanili pertama kali ditanam di Papua Nugini (PNG) sekitar lima puluh tahun lalu, dan sejak itu negara tersebut menjadi salah satu produsen vanili terkemuka di dunia, memasok sekitar 10 persen dari ekspor global.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Dataran Tinggi Managalas di Provinsi Oro, masyarakat telah menanam vanili dalam skala kecil selama beberapa dekade. Iklim lembap dataran tinggi, hutan hujan yang rimbun, dan tanah vulkanik yang subur sangat mirip dengan kondisi asli tanaman ini di Meksiko.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada keuntungan lainnya. Vanili dapat ditanam dengan cara yang membantu melestarikan hutan. Hal ini menjadikannya sangat cocok untuk Managalas, yang baru-baru ini dideklarasikan sebagai sebuah kawasan konservasi dan tempat masyarakat secara aktif mencari opsi-opsi pendapatan yang berkelanjutan. Tanaman ini tumbuh subur di lahan kecil, merambat di pohon peneduh atau terintegrasi ke dalam sistem wanatani, dan dapat menghasilkan keuntungan tinggi dari lahan yang terbatas, sehingga mengurangi tekanan untuk membuka hutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasio nilai terhadap beratnya yang tinggi dan umur simpannya yang panjang makin memperkuat daya tarik vanili. Di daerah terpencil seperti Managalas, di mana transportasi sulit dan mahal, hasil panen yang dijual dengan harga sekitar 5 kina [1,20 dolar AS] atau kurang per kilogram jarang menguntungkan. Banyak yang gagal bahkan lebih awal, karena tidak mampu menanggung biaya memindahkan hasil panen dari dataran tinggi itu dan kemudian melalui jalur pelayaran pesisir Papua Nugini.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20)\">\n<div class=\"wp-block-columns alignwide is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-baaca9a6 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"Vanilla vines growing on support trees in a forest agroforestry system in Kawowogi village, Managalas Plateau, Papua New Guinea.\" class=\"wp-image-155587\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Vanilla-vines-in-Kawowogi-Village.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tanaman vanili merambat pada pohon penyangga di Desa Kawowogi, Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini, tempat para petani kecil membudidayakannya dalam sistem agroforestri yang ramah hutan. Foto: Monica Evans \/ CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"Household vegetable garden in Kawowogi village with young crops growing in the foreground and vanilla vines visible among trees in the background. \" class=\"wp-image-155597\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-household-garden-in-Kawowogi-with-vanilla-vines-in-the-background.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kebun rumah tangga di Desa Kawowogi memadukan tanaman pangan dengan tanaman vanili di sekitarnya, mencerminkan sistem pertanian terdiversifikasi yang menopang kebutuhan sehari-hari sekaligus produksi tanaman komoditas di Dataran Tinggi Managalas.<br>Foto: Monica Evans \/ CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSalah satu mantra kami untuk rantai nilai adalah nilai tinggi, volume rendah, dan tidak mudah rusak,\u201d kata Will Unsworth, manajer program PNG untuk Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), yang telah bekerja sama dengan LSM lokal Managalas Conservation Foundation (MCF) untuk menyusun dan menerapkan rencana pengelolaan konservasi wilayah tersebut sejak tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cVanili sangat sesuai dengan ketiga kriteria tersebut,\u201d lanjut Unsworth. \u201cNamun, kami menyadari bahwa tantangan sebenarnya adalah membantu para petani memahami pentingnya pengeringan yang tepat setelah panen, dan melakukan upaya yang diperlukan untuk mencapai kualitas premium.\u201d<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<div class=\"wp-block-columns alignfull is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-6b44f232 wp-block-columns-is-layout-flex\" style=\"border-top-style:dashed;border-top-width:1px;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:190px\">\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-left is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-4d114226 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button is-style-fill\"><a class=\"wp-block-button__link has-contrast-color has-text-color has-background has-link-color wp-element-button\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\" style=\"border-radius:3px;background-color:#bdedb9;padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20);font-style:normal;font-weight:700\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Baca juga<\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"line-height:1.5\">\n<h2 class=\"wp-block-heading has-custom-green-dark-new-color has-text-color has-link-color wp-elements-c53594679748afb70500abd999d23644\" id=\"h-memecahkan-masalah-rantai-pasok-produk-hutan-satu-kacang-pohon-pada-satu-waktu\" style=\"font-size:clamp(1.039rem, 1.039rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.88), 1.6rem);font-style:normal;font-weight:600\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><br>Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu<\/a><\/h2>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Upaya itu penting. Tanaman vanili membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menghasilkan biji dan memerlukan pemangkasan, pemberian mulsa, dan pengaturan yang cermat pada pohon penyangga. Ketika tanaman itu akhirnya berbunga, setiap bunga hanya mekar selama beberapa jam, sering kali sebelum fajar. Itu berarti para petani perlu bangun sangat pagi setiap hari selama musim berbunga untuk memeriksa bunga yang mekar dan melakukan penyerbukan secara manual, karena penyerbuk alami tanaman ini hanya hidup di Meksiko.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Panen, bagaimanapun, hanyalah permulaan. Biji-biji itu kemudian harus dikeringkan dan dijemur di bawah sinar matahari selama berbulan-bulan, dijaga agar terhindar dari jamur dan pencurian, sebelum dapat dijual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih dari itu, para petani menghadapi tantangan untuk mengangkut hasil panen mereka melalui jalan yang sering kali tidak dapat dilalui. Mengingat kendala-kendala ini, banyak rumah tangga memprioritaskan tanaman pangan, yang menawarkan keuntungan lebih cepat dan lebih dapat diandalkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, potensi vanili telah lama menjadikannya pusat pengembangan dan pekerjaan konservasi di Managalas. Pada awal tahun 2000-an, LSM Partners with Melanesians (PwM) yang berbasis di Port Moresby, yang didukung oleh Rainforest Foundation Norway, mulai menawarkan pelatihan tentang vanili. Pada tahun 2017, PwM mendatangkan ahli Mark Gozapao dari Highlands Vanilla untuk memimpin sebuah kursus selama seminggu mengenai penjaminan mutu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSangat menyenangkan untuk membudidayakan tanaman komersial yang dapat menghasilkan nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat kami, di tempat yang sangat kekurangan layanan pemerintah,\u201d kata Lusian Loibambe, ketua Asosiasi Vanili Managalas (Managalas Vanilla Association).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, rintangan baru terus muncul. Pada tahun 2023, Uni Eropa (UE) menetapkan batasan ketat terhadap residu nikotin dalam vanili impor. Di PNG, di mana penggunaan tembakau meluas dan biji vanili sering dikeringkan bersama daun tembakau di rumah-rumah, peraturan tersebut dengan cepat menjadi penghalang utama untuk akses pasar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai bentuk respons, perusahaan produk alami Kamapim Ltd telah melatih para petani melakukan praktik-praktik sederhana seperti mencuci tangan dan mengeringkan biji vanili di area terpisah dari tembakau. Tes mereka sekarang menunjukkan bahwa para petani yang mengikuti langkah-langkah ini menghasilkan vanili yang memenuhi standar Uni Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSelama 18 bulan terakhir, kami telah berkembang dari vanili berkualitas sangat rendah menjadi produk yang cocok untuk pasar-pasar terbaik di dunia,\u201d kata CEO Kamapim, Nancy Irwin.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20)\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg\" alt=\"Nancy Irwin of Kamapim Ltd addressing community members during a meeting on vanilla production and quality standards in Managalas, Papua New Guinea.\" class=\"wp-image-155607\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2-Nancy-Irwin-speaks-at-the-Combined-Forum.-Nancy-Irwin-of-Kamapim-speaks-at-the-Combined-Forum.-Photo-by-Monica-Evans_CIFOR-ICRAF-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Nancy Irwin, direktur utama Kamapim Ltd, berbincang dengan anggota komunitas dalam sebuah forum gabungan di Dataran Tinggi Managalas, sambil membagikan hasil upaya peningkatan kualitas vanili dan pemenuhan standar pasar internasional.<br>Foto: Monica Evans \/ CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangan lainnya lebih sulit diatasi. Semut api invasif telah menyebar di beberapa bagian Dataran Tinggi Managalas, melancarkan sengatan menyakitkan yang memaksa beberapa petani untuk meninggalkan perkebunan mereka sepenuhnya. \u201cBanyak petani memutuskan untuk meninggalkan perkebunan mereka,\u201d kata Joshua Ombo, seorang petugas proyek di CIFOR-ICRAF.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<div class=\"wp-block-columns alignfull is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-6b44f232 wp-block-columns-is-layout-flex\" style=\"border-top-style:dashed;border-top-width:1px;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:190px\">\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-left is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-4d114226 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button is-style-fill\"><a class=\"wp-block-button__link has-contrast-color has-text-color has-background has-link-color wp-element-button\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93092\/semut-api-dan-gulma-air-mengelola-spesies-invasif-di-managalas\" style=\"border-radius:3px;background-color:#bdedb9;padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20);font-style:normal;font-weight:700\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Baca juga<\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"line-height:1.5\">\n<h2 class=\"wp-block-heading has-custom-green-dark-new-color has-text-color has-link-color wp-elements-1c520c1b9f72d441e156c2a2b5d101d8\" id=\"h-semut-api-dan-gulma-air-mengelola-spesies-invasif-di-managalas\" style=\"font-size:clamp(1.039rem, 1.039rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.88), 1.6rem);font-style:normal;font-weight:600\"><a href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/93092\/semut-api-dan-gulma-air-mengelola-spesies-invasif-di-managalas\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Semut api dan gulma air: Mengelola spesies invasif di Managalas<\/a><\/h2>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski sudah ada pelatihan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas teknis, produksi vanili di Managalas belum berkembang pesat. Transportasi tetap menjadi kendala utama, bersamaan dengan lemahnya dan tidak dapat diandalkannya jejaring pasar. Bagi banyak penduduk, rasa frustrasi ini kian meningkat. Saat masyarakat setuju untuk melestarikan hutan mereka daripada membukanya untuk penebangan kayu atau pertambangan, mereka mengharapkan dukungan nyata untuk mata pencaharian alternatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPara pemilik lahan tidak melihat hasil dari program konservasi. Itulah mengapa mereka tidak terlalu senang,\u201d kata Lancealot Piritano, wakil ketua MCF, dalam sebuah wawancara tahun 2024.<br>\u201cKami membutuhkan pasar untuk kopi, kakao, dan vanili. Jalan-jalan kami sangat buruk. Sebuah jembatan hanyut akibat Siklon Guba pada 2007, dan sampai sekarang belum diganti.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua MCF, Malchus Kajia, menyuarakan kekhawatiran yang sama. \u201cMasyarakat menginginkan mata pencaharian dari kopi, kakao, dan vanili. Itulah yang telah mereka bicarakan selama lebih dari tiga puluh tahun,\u201d katanya. Ia menyarankan, pembukaan kembali landasan udara di dataran tinggi tersebut mungkin menawarkan solusi jangka pendek yang lebih realistis daripada perbaikan jalan. \u201cKopi, vanili, dan beberapa sayuran dapat diangkut dengan pesawat terbang dengan jauh lebih andal daripada melalui jalan darat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kondisi pertumbuhan yang ideal dan konsorsium yang berkomitmen untuk memperkuat rantai pasok, tanaman kecil yang rumit ini masih menyimpan harapan. Di lain waktu Anda mencicipi atau mencium aroma vanili\u2014mungkin dalam es krim, late, atau lilin aromaterapi\u2014ada baiknya Anda berhenti sejenak untuk memikirkan asal-usulnya. Bisa jadi perjalanannya dimulai di hutan hujan Papua Nugini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa yang bisa diperbuat anggrek Meksiko berwarna kuning kehijauan terhadap jalan raya dan sekolah di pedesaan Papua Nugini? Secara potensi, sangat banyak. Anggrek-anggrek itu adalah Vanilla planifolia dan Vanilla tahitensis, yang dibudidayakan di seluruh daerah tropis karena polong dan bijinya yang harum dan lezat. Vanili pertama kali ditanam di Papua Nugini (PNG) sekitar lima puluh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":155583,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12038,9284,188,6090,12114,12065,12073,184],"tags":[12396,12609,12610,12600,12611],"language":[2171],"location":[12251,12340],"tag-bahasa":[11958,2741,12617],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[2431],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-155930","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agroforestri","category-agroforestry","category-food-and-diets","category-forests-news","category-forests-news-id","category-makanan-diet","category-rantai-nilai-dan-keuangan","category-value-chains-finance","tag-agroforestry","tag-forest-conservation","tag-managalas-plateau","tag-value-chains","tag-vanilla","language-bahasa-indonesia","location-asia-pacific","location-papua-new-guinea","tag-bahasa-managalas","tag-bahasa-papua-nugini","tag-bahasa-vanili","type-english-news"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Apakah vanili bisa mendukung mata pencaharian di Papua Nugini?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Budidaya vanili menawarkan mata pencaharian bernilai tinggi bagi komunitas di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Budidaya vanili menawarkan mata pencaharian bernilai tinggi bagi komunitas di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-23T02:30:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-02-10T08:17:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?\",\"datePublished\":\"2026-01-23T02:30:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-10T08:17:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\"},\"wordCount\":1099,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"agroforestry\",\"forest conservation\",\"Managalas Plateau\",\"value chains\",\"Vanilla\"],\"articleSection\":[\"agroforestri\",\"Agroforestry\",\"Food &amp; diets\",\"Forests News\",\"Forests News\",\"Makanan &amp; diet\",\"Rantai nilai dan keuangan\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2026\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\",\"name\":\"Apakah vanili bisa mendukung mata pencaharian di Papua Nugini?\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2026-01-23T02:30:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-10T08:17:26+00:00\",\"description\":\"Budidaya vanili menawarkan mata pencaharian bernilai tinggi bagi komunitas di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707,\"caption\":\"Seorang petani melakukan penyerbukan tangan pada bunga vanili, sebuah proses padat karya yang diperlukan karena penyerbuk alami tanaman ini hanya terdapat di Meksiko. Penyerbukan manual menjadi kendala utama bagi petani vanili skala kecil di wilayah terpencil seperti Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Foto: Rawpixel (Domain Publik \\\/ Karya Pemerintah AS)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155930\\\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apakah vanili bisa mendukung mata pencaharian di Papua Nugini?","description":"Budidaya vanili menawarkan mata pencaharian bernilai tinggi bagi komunitas di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?","og_description":"Budidaya vanili menawarkan mata pencaharian bernilai tinggi bagi komunitas di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2026-01-23T02:30:00+00:00","article_modified_time":"2026-02-10T08:17:26+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?","datePublished":"2026-01-23T02:30:00+00:00","dateModified":"2026-02-10T08:17:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini"},"wordCount":1099,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg","keywords":["agroforestry","forest conservation","Managalas Plateau","value chains","Vanilla"],"articleSection":["agroforestri","Agroforestry","Food &amp; diets","Forests News","Forests News","Makanan &amp; diet","Rantai nilai dan keuangan","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#respond"]}],"copyrightYear":"2026","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini","name":"Apakah vanili bisa mendukung mata pencaharian di Papua Nugini?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg","datePublished":"2026-01-23T02:30:00+00:00","dateModified":"2026-02-10T08:17:26+00:00","description":"Budidaya vanili menawarkan mata pencaharian bernilai tinggi bagi komunitas di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg","width":2560,"height":1707,"caption":"Seorang petani melakukan penyerbukan tangan pada bunga vanili, sebuah proses padat karya yang diperlukan karena penyerbuk alami tanaman ini hanya terdapat di Meksiko. Penyerbukan manual menjadi kendala utama bagi petani vanili skala kecil di wilayah terpencil seperti Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Foto: Rawpixel (Domain Publik \/ Karya Pemerintah AS)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Polong yang menjanjikan: Bisakah vanili membawa pembangunan berkelanjutan ke Dataran Tinggi Managalas di Papua Nugini?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155930\/budidaya-vanili-managalas-papua-nugini#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/image-from-rawpixel-id-4031480-original-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155930","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=155930"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155930\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":156069,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155930\/revisions\/156069"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/155583"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=155930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=155930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=155930"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=155930"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=155930"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=155930"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=155930"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=155930"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=155930"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=155930"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=155930"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=155930"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=155930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}