{"id":155628,"date":"2026-01-12T04:34:02","date_gmt":"2026-01-11T21:34:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.forestsnews.org\/155628\/okari-nuts-forest-conservation-managalas-plateau"},"modified":"2026-01-27T15:52:04","modified_gmt":"2026-01-27T08:52:04","slug":"kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas","title":{"rendered":"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kacang okari jatuh di hutan, Anda pasti akan mendengarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kacang okari punya kulit buah berwarna merah tua dan berbentuk oval\u2014ukurannya lebih besar dari telapak tangan orang dewasa. Kacang itu jatuh dalam jumlah ratusan dari kanopi pohon okari (<em>Terminalia kaernbachii<\/em>) setinggi 30 meter antara bulan Mei dan Agustus setiap tahunnya. Pohon ini berasal dari hutan hujan dataran rendah Provinsi Oro, Papua Nugini, dan diintroduksi ke Dataran Tinggi Managalas beberapa ratus tahun lalu, serta sejak itu menjadi bagian dari makanan dan mata pencaharian masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama beberapa generasi, masyarakat memilih pohon berdasarkan ukuran dan rasa kacangnya, menanamnya di kebun-kebun tua dan di sepanjang batas tanah klan. Biji-biji berwarna putih krem \u200b\u200byang melimpah itu, mirip dengan rasa almon, menyediakan sumber protein yang langka dan berharga di wilayah di mana makanan semacam itu bisa jadi langka. Kayunya sering digunakan untuk furnitur, sementara kulitnya yang berwarna cerah dapat direbus untuk menghasilkan pewarna untuk tapa, atau kain kulit kayu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPenguasaan lahan [di Managalas] memiliki banyak variasi,\u201d kata Will Unsworth, manajer program Papua Nugini (PNG) di the Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF). \u201cNamun jika Anda menanam pohon okari dan terus merawatnya \u2014 memotong rumput di sekitarnya, memanjatnya, memanennya \u2014 maka Anda dapat memilikinya dan semua kacang yang dihasilkannya. Anak-anak Anda juga dapat mewarisi pohon itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan beragam kegunaan dan nilai budayanya, pohon okari telah lama memainkan peran sentral dalam perekonomian lokal. Pohon-pohon ini juga menjadi kunci bagi pertanyaan yang jauh lebih besar yang terus membentuk Dataran Tinggi Managalas: bagaimana memperoleh mata pencaharian berkelanjutan tanpa mengorbankan hutan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-scaled.jpg\" alt=\"Close-up of freshly harvested okari nuts held in two hands, showing the red husk and inner kernel.\" class=\"wp-image-155130\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/20250628_155509-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kacang okari (<em>Terminalia kaernbachii<\/em>) yang baru dipanen, pangan hutan tradisional yang telah lama mendukung pola makan dan mata pencaharian masyarakat di Dataran Tinggi Managalas, Papua Nugini. Foto oleh CIFOR-ICRAF<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-mana-yang-lebih-berharga-hutan-mati-atau-hutan-hidup\"><strong><strong>Mana yang lebih berharga: Hutan mati atau hutan hidup?<\/strong><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Mike Olsen, seorang dosen linguistik kelahiran AS di University of PNG, mulai mengunjungi Managalas bersama kelompok mahasiswa sarjana pada tahun 1980-an, mereka terkesan oleh keindahan luar biasa dan kekayaan sumber daya alam daerah tersebut, serta tantangan terus-menerus yang dihadapi masyarakatnya \u2014 perjuangan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan pendapatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat itu, penebangan hutan kian intensif di seluruh negeri itu. Perusahaan-perusahaan internasional (secara harfiah) memasuki wilayah-wilayah baru, makin masuk ke daerah-daerah berhutan, dan banyak pemilik lahan adat mengalihkan hak mereka dengan imbalan uang tunai. Akibatnya, di banyak tempat, terjadi hilangnya hutan secara cepat dan disrupsi sosial. Olsen dan rekan-rekannya menyadari bahwa Managalas rentan terhadap ancaman yang serupa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelimpahan pohon okari di daerah tersebut menawarkan alternatif yang memungkinkan. Ukuran, kuantitas, dan kualitas kacang okari menunjukkan dasar untuk usaha di dataran tinggi yang dapat menghasilkan pendapatan sekaligus menjaga kelestarian hutan. Kelompok Olsen\u2014yang kemudian dikenal sebagai PNG Trust dan kemudian Partners with Melanesians\u2014mulai mengeksplorasi apakah okari dapat menjadi dasar usaha ramah lingkungan di dataran tinggi yang berkelanjutan. Mereka juga mulai menjalankan program pendidikan lingkungan untuk membantu penduduk setempat memahami nilai sumber daya alam mereka (termasuk pohon okari) dan implikasi jangka panjang dari keputusan pembangunan yang tidak berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull is-layout-flow wp-container-core-group-is-layout-fc71ee01 wp-block-group-is-layout-flow\" style=\"margin-top:0;margin-bottom:0;padding-top:var(--wp--preset--spacing--50);padding-right:0;padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--50);padding-left:0\">\n<div class=\"wp-block-cover is-light has-custom-content-position is-position-bottom-left\" style=\"margin-top:0;margin-bottom:0;padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0;min-height:80vh;aspect-ratio:unset;\"><video class=\"wp-block-cover__video-background intrinsic-ignore\" autoplay muted loop playsinline src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/1080p-1.mp4\" data-object-fit=\"cover\"><\/video><span aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-cover__background has-background-dim-0 has-background-dim\" style=\"background-color:#FFF\"><\/span><div class=\"wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-container-core-cover-is-layout-a2503c34 wp-block-cover-is-layout-flow\">\n<div class=\"wp-block-group has-background is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-0a36cb25 wp-block-group-is-layout-flex\" style=\"border-top-right-radius:10px;background-color:#07070780;margin-top:0;margin-bottom:0;padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-right:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20);padding-left:var(--wp--preset--spacing--20)\">\n<p class=\"has-text-align-right has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-50adf0aab6a3ffaaf397452d3a360621 wp-block-paragraph\" style=\"writing-mode:horizontal-tb\">Kabut menyelimuti lereng hutan di Dataran Tinggi Managalas, Provinsi Oro, Papua Nugini, tempat masyarakat setempat menjajaki berbagai cara untuk memperoleh penghasilan sambil tetap menjaga hutan agar tetap lestari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right has-base-color has-text-color has-link-color has-small-font-size wp-elements-7792407d473a82c8193b00f61c964afa wp-block-paragraph\" style=\"writing-mode:horizontal-tb\">Foto oleh CIFOR-ICRAF.<\/p>\n<\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ambisi awalnya bersifat global. Kelompok ini awalnya berharap untuk memasarkan kacang-kacang tersebut ke perusahaan-perusahaan penganan internasional sebagai pengganti almon dalam produk berbasis nugat. Namun, sebuah studi pendahuluan pada tahun 1993 mengklarifikasi bahwa hal ini tidak akan layak: kacang-kacang tersebut bersifat musiman, sedangkan produsen-produsen besar membutuhkan pasokan yang stabil dan konsisten sepanjang tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesuksesan yang lebih sederhana kemudian diraih di daerah yang lebih dekat. Kacang-kacang sempat diangkut ke Port Moresby, awalnya dengan kapal uap dan kemudian dengan pesawat terbang. Namun, kelemahan logistik segera terlihat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 1996, ancaman penebangan industri makin meningkat. Pemerintah nasional menetapkan dua lahan luas hutan hujan dataran tinggi tersebut untuk konsesi kehutanan. Namun kemudian, kesadaran akan nilai pohon okari\u2014dan hutan yang mendukungnya\u2014telah tumbuh. Sebagian besar pemilik lahan setempat menentang usulan tersebut. Dengan dukungan dari organisasi-organisasi advokasi, mereka berhasil mencabut konsesi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<div class=\"wp-block-columns alignfull is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-6b44f232 wp-block-columns-is-layout-flex\" style=\"border-top-style:dashed;border-top-width:1px;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:190px\">\n<div class=\"wp-block-buttons is-content-justification-left is-nowrap is-layout-flex wp-container-core-buttons-is-layout-4d114226 wp-block-buttons-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-button is-style-fill\"><a class=\"wp-block-button__link has-custom-green-dark-new-color has-custom-green-new-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-element-button\" href=\"https:\/\/forestsnews.cifor.org\/92311\/can-we-protect-old-trees-by-planting-new-ones?fnl=en\" style=\"border-radius:3px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--20);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--20);font-style:normal;font-weight:700\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Read also<\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"line-height:1.5\">\n<h2 class=\"wp-block-heading has-custom-green-dark-new-color has-text-color has-link-color wp-elements-04c41763c43eb7e1e04686df6c2fef78\" id=\"h-can-we-protect-old-trees-by-planting-new-ones-nbsp\" style=\"font-size:clamp(1.039rem, 1.039rem + ((1vw - 0.2rem) * 0.88), 1.6rem);font-style:normal;font-weight:600\"><a href=\"https:\/\/www.cifor-icraf.org\/svalbard-global-seed-vault\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><\/a><a href=\"https:\/\/forestsnews.cifor.org\/92311\/can-we-protect-old-trees-by-planting-new-ones?fnl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Can we protect old trees by planting new ones?<\/a>&nbsp;<\/h2>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keputusan itu menarik perhatian internasional. Rainforest Foundation of Norway (RFN) kemudian mendukung sebuah proses panjang yang berpuncak, pada tahun 2017, dengan deklarasi Kawasan Konservasi Managalas (Managalas Conservation Area \/MCA), yang mencakup 214.696 hektare. Namun, usaha okari yang membantu memicu hasil ini tidak pernah sepenuhnya stabil dan berkembang. Harga dan permintaannya di Moresby berfluktuasi, dan proses pengangkutannya terbukti tidak dapat diandalkan. Penduduk desa sering kali mengangkut karung-karung kacang yang berat dengan susah payah ke titik pengambilan yang terpencil, hanya untuk diberitahu bahwa kendaraan carter mereka telah dibatalkan \u2014 dan mungkin tidak akan kembali sampai kacang-kacang tersebut membusuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSituasi ini menimbulkan kegelisahan dan kesedihan,\u201d kata Caplin Sano, seorang penginjil Gereja Anglikan dan fasilitator komunitas dari Desa Suari, kepada evaluator eksternal Nancy Sullivan pada tahun 2010. \u201cDulu kami biasa memecahkan okari dan membuangnya, mengosongkan karung-karung kami, menangis, dan pulang ke rumah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cHanya orang-orang yang kuat dan sehat yang mampu membawa karung-karung itu sampai ke Stasiun Afore, menumpang [truk] di sana dan melanjutkan perjalanan ke Popondetta, menjualnya, membeli sabun dan garam, lalu kembali.\u201d Ketika biaya penerbangan pesawat carter meningkat pada awal tahun 2000-an setelah pemerintah berhenti mensubsidinya, penduduk Managalas berhenti mencoba menjual okari ke luar dataran tinggi itu.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-rezeki-tak-terduga-yang-layak-dipertahankan\"><strong>Rezeki tak terduga yang layak dipertahankan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Delapan tahun setelah deklarasi MCA, kacang okari kembali masuk dalam agenda sebagai sumber mata pencaharian potensial. Kali ini, tim proyek sedang menjajaki cara mengkomersialkan kacang tersebut menjadi produk jadi yang dapat dibuat di Managalas dan dijual di dalam negeri \u2014 dan berpotensi juga ke luar negeri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Upaya yang diperbarui ini dibangun berdasarkan pelajaran yang dipetik di tempat lain, dan memanfaatkan hasil kerja para perintis lainnya. Di Kokoda, wilayah dekat Managalas, para peneliti dari Griffith University Australia sudah bereksperimen dengan mengembangkan rantai nilai okari, dengan pendanaan dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Pekerjaan mereka sangat bergantung pada pengalaman dengan kacang asli lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama lebih dari satu dekade, Lektor Kepala Shahla Hosseini-Bai, pemimpin akademik bidang keberlanjutan dan manajemen lingkungan di Griffith University, telah bekerja sama dengan masyarakat di Provinsi New Ireland, PNG, untuk mengembangkan standar, prosedur pengolahan, dan strategi pemasaran untuk komersialisasi kacang kenari, yang tumbuh di pohon kenari asli (<em>Canarium indicum<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30)\">\n<div class=\"wp-block-columns alignwide is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-baaca9a6 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"1920\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-scaled.jpg\" alt=\"A woman in Kokoda uses a mechanical press to crack galip nuts during local processing.\" class=\"wp-image-155135\" style=\"aspect-ratio:3\/2;object-fit:cover\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-scaled.jpg 2560w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-533x400.jpg 533w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-553x415.jpg 553w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-220x165.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/A-woman-in-Kokoda-cracks-a-galip-nut.-Photo-by-Shahla-Pietromonaco_Griffith-University-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Seorang perempuan di Kokoda memecahkan kacang galip menggunakan alat pres mekanis, sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk hutan lokal dan mendukung mata pencaharian masyarakat setempat di Papua Nugini. Foto oleh Shahla Pietromonaco \/ Griffith Universit<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1600\" height=\"900\" src=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_.jpg\" alt=\"Shahla Hosseini-Bai and a Kokoda community member examine processed okari nuts during a local workshop.\" class=\"wp-image-155140\" style=\"aspect-ratio:3\/2;object-fit:cover\" srcset=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_.jpg 1600w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_-566x318.jpg 566w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_-738x415.jpg 738w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_-220x124.jpg 220w, https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/Shahla-Hosseini-Bai-right-and-a-Kokoda-local-after-an-okari-processing-workshop-in-June-2025.-Photo-by-Cinthia-Pietromonaco_-1536x864.jpg 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Shahla Hosseini-Bai (kanan) bersama seorang anggota komunitas Kokoda usai mengikuti lokakarya pengolahan kacang okari pada Juni 2025, di mana para peserta menjajaki berbagai pendekatan untuk meningkatkan nilai tambah produk hutan lokal. Foto oleh Cinthia Pietromonaco.<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami mengembangkannya sebagai produk kelas atas,\u201d kata Hosseini-Bai. \u201cIni bukan kacang tanah, dan kami tidak ingin bersaing dengan para perempuan lokal yang menjualnya dalam kondisi segar di pasar dan merugikan mereka sebagai akibatnya. Jadi harganya mirip dengan kacang-kacang kelas atas seperti almon dan makadamia, dan dijual di pasar-pasar formal seperti area toko bebas bea atau City Pharmacy Limited.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada kacang okari, Hosseini-Bai melihat \u201cbanyak potensi, dan banyak hal yang dapat kita terapkan\u201d dari pengalaman dengan kenari \u2014 termasuk pengetahuan tentang penambahan nilai, protokol pengolahan yang aman, ketentuan masa simpan, dan pendekatan pasar. Pengolahan kacang di tempat, dengan cara mengeringkan atau memanggangnya, dapat membantu proses transportasi karena membuat kacang lebih tahan lama dan lebih ringan, serta menambah nilai di tingkat desa<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika pendekatan ini berhasil, para pengunjung PNG suatu hari nanti mungkin akan menemukan Managalas bukan melalui jalan penebangan kayu atau peta konservasi, tetapi melalui cita rasa. Lebih penting lagi, masyarakat di dataran tinggi ini akhirnya dapat mewujudkan tujuan yang telah lama mereka impikan: memperoleh pendapatan yang stabil seraya menjaga kelestarian hutan yang menopang kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika kacang okari jatuh di hutan, Anda pasti akan mendengarnya. Kacang okari punya kulit buah berwarna merah tua dan berbentuk oval\u2014ukurannya lebih besar dari telapak tangan orang dewasa. Kacang itu jatuh dalam jumlah ratusan dari kanopi pohon okari (Terminalia kaernbachii) setinggi 30 meter antara bulan Mei dan Agustus setiap tahunnya. Pohon ini berasal dari hutan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":264,"featured_media":155126,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[12114,12065],"tags":[12595,12596,12597,12598,12599,12600],"language":[2171],"location":[12251,12340],"tag-bahasa":[2520,11958,2741],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[],"type-english":[2431],"type-francais":[],"coauthors":[7144],"class_list":["post-155628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-forests-news-id","category-makanan-diet","tag-community-forestry","tag-forest","tag-indigenous-livelihood","tag-livelihoods","tag-okari-nuts","tag-value-chains","language-bahasa-indonesia","location-asia-pacific","location-papua-new-guinea","tag-bahasa-konservasi","tag-bahasa-managalas","tag-bahasa-papua-nugini","type-english-news"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Peran kacang okari menjaga hutan Dataran Tinggi Managalas<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Di Dataran Tinggi Managalas, kacang okari berperan mendukung mata pencaharian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di Dataran Tinggi Managalas, kacang okari berperan mendukung mata pencaharian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-11T21:34:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-27T08:52:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1151\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Monica Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\"},\"author\":{\"name\":\"Monica Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\"},\"headline\":\"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0\",\"datePublished\":\"2026-01-11T21:34:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-27T08:52:04+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\"},\"wordCount\":1269,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg\",\"keywords\":[\"community forestry\",\"forest\",\"indigenous livelihood\",\"livelihoods\",\"Okari nuts\",\"value chains\"],\"articleSection\":[\"Forests News\",\"Makanan &amp; diet\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2026\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\",\"name\":\"Peran kacang okari menjaga hutan Dataran Tinggi Managalas\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg\",\"datePublished\":\"2026-01-11T21:34:02+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-27T08:52:04+00:00\",\"description\":\"Di Dataran Tinggi Managalas, kacang okari berperan mendukung mata pencaharian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1151,\"caption\":\"Perbukitan berhutan dan kebun-kebun desa di dalam Kawasan Konservasi Managalas, Provinsi Oro, Papua Nugini, tempat masyarakat menjajaki berbagai pilihan mata pencaharian yang tetap menjaga hutan agar tetap lestari. Foto oleh Dean Arek \\\/ CIFOR-ICRAF.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70\",\"name\":\"Monica Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Monica Evans\"},\"description\":\"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/monica-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/155628\\\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Peran kacang okari menjaga hutan Dataran Tinggi Managalas","description":"Di Dataran Tinggi Managalas, kacang okari berperan mendukung mata pencaharian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0","og_description":"Di Dataran Tinggi Managalas, kacang okari berperan mendukung mata pencaharian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2026-01-11T21:34:02+00:00","article_modified_time":"2026-01-27T08:52:04+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1151,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Monica Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas"},"author":{"name":"Monica Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70"},"headline":"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0","datePublished":"2026-01-11T21:34:02+00:00","dateModified":"2026-01-27T08:52:04+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas"},"wordCount":1269,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg","keywords":["community forestry","forest","indigenous livelihood","livelihoods","Okari nuts","value chains"],"articleSection":["Forests News","Makanan &amp; diet"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#respond"]}],"copyrightYear":"2026","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas","name":"Peran kacang okari menjaga hutan Dataran Tinggi Managalas","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg","datePublished":"2026-01-11T21:34:02+00:00","dateModified":"2026-01-27T08:52:04+00:00","description":"Di Dataran Tinggi Managalas, kacang okari berperan mendukung mata pencaharian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg","width":2048,"height":1151,"caption":"Perbukitan berhutan dan kebun-kebun desa di dalam Kawasan Konservasi Managalas, Provinsi Oro, Papua Nugini, tempat masyarakat menjajaki berbagai pilihan mata pencaharian yang tetap menjaga hutan agar tetap lestari. Foto oleh Dean Arek \/ CIFOR-ICRAF."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memecahkan masalah rantai pasok produk hutan: Satu kacang pohon pada satu waktu\u00a0"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/bbc4f31739de12be65a7163dcd213d70","name":"Monica Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g471b7862f77b1a636c78ad3c8970bfeb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8562fa393abdbd087bc88878fca914a643ddcdc460ce2de59f8fa7e1436c429d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Monica Evans"},"description":"Monica Evans is a writer and community development practitioner based in Aotearoa New Zealand. Since completing her Masters in Development Studies in 2010, she has worked on environmental and community development projects in NZ, the Pacific and Latin America. She's particularly passionate about participation, creativity and well-being, and has a keen interest in ecology and sustainability. She lives in a small town on New Zealand's wild West Coast, where she teaches dance, grows vegetables and tends to her pet alpacas.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/monica-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/155628\/kacang-okari-konservasi-hutan-dataran-tinggi-managalas#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/54267948780_106ab4e5bc_k.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/264"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=155628"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":155805,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155628\/revisions\/155805"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/155126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=155628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=155628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=155628"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=155628"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=155628"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=155628"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=155628"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=155628"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=155628"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=155628"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=155628"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=155628"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=155628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}