{"id":14606,"date":"2013-03-26T07:11:59","date_gmt":"2013-03-26T07:11:59","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=14606"},"modified":"2015-10-28T15:50:16","modified_gmt":"2015-10-28T08:50:16","slug":"mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia","title":{"rendered":"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?"},"content":{"rendered":"<p>Upaya itu terdengar kontra-intuitif.<\/p>\n<p>Luasnya hamparan hutan mangrove di Indonesia, menurut <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3233.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penemuan<\/a> CIFOR baru-baru ini, merupakan wadah penyimpanan karbon yang penting. Hutan mangrove menjadi rumah untuk  spesies-spesies unik, <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/11920\/why-negotiators-at-doha-should-care-about-the-worlds-forgotten-mangroves\/\">melindungi kawasan pesisir dari hantaman ombak<\/a>. Namun, hutan mangrove juga <a href=\"http:\/\/www.nature.com\/ngeo\/journal\/v4\/n5\/abs\/ngeo1123.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">mudah cepat lenyap. <\/a><\/p>\n<p>Para konservasionis ingin agar hutan mangrove terlindung dari gergaji para pembabat hutan.<\/p>\n<p>Namun, masih memungkinkan bila penebangan hutan-hutan ini dilakukan selektif dan lestari seraya terus menjaga jumlah karbon yang telah ditangkap \u2013 dan menyelamatkannya dari kehancuran.<\/p>\n<p>\u201cAncaman bagi hutan mangrove  bukan menebangi pohon-pohon diatas tanah, namun  konversi untuk pengunaan lain-lain,\u201d kata Muljadi Tantra, Deputi Direktur dan Kepala Keuangan sebuah grup perusahaan-perusahaan yang memanen kayu mangrove untuk arang dan bubur kertas di provinsi Kalimantan dan Papua.<\/p>\n<p>\u201cSekali dirubah menjadi tambak udang, seluruh kandungan tanah berubah, dan semua karbon lenyap.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSedangkan penebangan, jika dilakukan secara benar dan anda hanya mengambil sedikit saja porsi dari hutan setiap tahunnya, dampak terhadap lingkungan akan sangat kecil, sebab hutan mangrove mempunyai kemampuan untuk sanggup mempebaharui dirinya.<\/p>\n<p>\u201cSelama anda tidak melakukan konversi, keberadaannya tidak akan hilang.\u201d<\/p>\n<p>Guna menguji klaim-klaim tersebut secara ilmiah, Tantra memberi ijin para ilmuwan dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Center for International Forestry Research<\/a> untuk masuk ke dalam konsesi milik PT Kandelia Alam di Kubu Raya, Kalimantan Barat.<\/p>\n<p>Daniel Murdiyarso, ilmuwan senior dan ahli mangrove dari CIFOR, akan memimpin usaha-usaha pengukuran jumlah karbon yang tersimpan serta dampak dari kandungan karbon ini dengan berbagai cara pengelolaan hutan-hutan.<\/p>\n<p>\u201cRiset terbaru kami menyarankan bahwa penebangan menghilangkan sekitar 20 \u2013 25 persen cadangan karbon sementara sebagian besar cadangan tersebut masih ada di dalam tanah,\u201d ujar Murdiyarso.<\/p>\n<p>Namun, suatu pendekatan cermat dibutuhkan, sama halnya dengan sejumlah penelitian, katanya.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia memiliki sekitar 3 juta hektar hutan mangrove \u2013 tapi berada dalam tahapan dan status yang berbeda-beda,\u201d ujar Murdiyarso. \u201cSejumlah hutan sangat produktif dan, ya, bisa diekploitasi\u2013 tapi bukan dengan cara yang dahulu marak dilakukan, cara yang pernah dipakai untuk membabat hutan di daratan. Penebangan harus dilakukan secara berbeda \u2013 dan sangat hati-hati.\u201d<\/p>\n<blockquote><p>Penebangan kayu, jika Anda melakukannya dengan benar &#8230; akan memiliki dampak minimal terhadap lingkungan karena kemampuan mangrove untuk berregenerasi sendiri. Selama Anda tidak mengubahnya, mereka akan tumbuh kembali.<\/p><\/blockquote>\n<p>Tantra, sementara itu, yakin bahwa riset \u2013 serta transparansi perusahaannya \u2013 dapat memberikan gambaran tentang cara pengelolaan hutan yang baik dan berkelanjutan. Ia berharap hal tersebut, sebaliknya, bisa mengubah persepsi masyarakat mengenai penebangan hutan mangrove.<\/p>\n<p><b>Bisnis Keluarga <\/b><\/p>\n<p>Anda bisa berpendapat mangrove mengalir di dalam darah Tantra.<\/p>\n<p>Sebagai peranakan Tionghoa-Indonesia dari Sumatera, ayahnya memulai usaha di tahun 1970an, menjual kayu mangrove untuk bisnis bubur kayu. Sebelumnya, di tahun 1940an, ibu buyutnya   memanfaatkan mangrove untuk produksi arang dan kayu bakar.<\/p>\n<p>Saat ini, perusahaannya memiliki dua konsesi di Kalimantan dan satu yang lebih luas di Papua Barat-140 ribu hektar hutan mangrove secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Perusahaan bertujuan untuk mendapatkan panenan sampai tiga persen dari masing-masing konsesi per tahun, dengan masa pengembalian setidaknya 20 tahun di masing-masing lahan.<\/p>\n<p>Kayu diekspor untuk produksi arang dan kayu potongan, meski Tantra mengatakan perusahaannya kehilangan suatu pembeli besar: perusahaan-perusahaan Jepang, yang biasanya menghargai produksi arang kayu mangrove berkualitas tinggi, sebagian besar telah berhenti mengimpor kayu mangrove dari Indonesia karena masalah lingkungan hidup, ujarnya.<\/p>\n<p>Hal ini melenceng dari maksud secara keseluruhan, ujar Tantra.<\/p>\n<p>Pelestarian timbul dari 3 hal. Dampak sosial, dampak lingkungan, dan dampak ekonomi \u2013 dan ketiga lingkaran ini harus bekerja sama, dalam rangka membuat hutan lestari. Jika sisi ekonomi hilang, itu bukan Lestari.\u201d<\/p>\n<p>Ia mengatakan bahwa jika pasar kayu mangrove hancur, akibat keprihatinan dunia atas kelestarian hutan ini, ironisnya hal itu justru bisa menimbulkan lebih banyak dampak negatif terhadap ekosistem mangrove.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia masih berusaha menjadi negara makmur, jadi masih banyak penduduk yang bergantung dengan sumber daya alam, dan jika sumber ini tidak dihargai, masyarakat akan mencari berbagai cara untuk memanfaatkan lahan: merubahnya menjadi pertambangan udang, atau sawah atau perkebunan kelapa sawit, yang mereka harapkan dapat menghasilkan lebih banyak uang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJika kami harus menutup konsesi kami, secara perlahan wilayah-wilayah itu akan dikonversi untuk keperluan lain-lain,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>&#8220;Tapi, jika kami kami bisa memetik lebih banyak nilai dari hutan mangrove, termasuk nilai-nilai lingkungan yang dihasilkan seperti karbon dan lain sebagainya, banyak hal-hal yang bisa dijadikan pembenaran untuk melestarikan hutan mangrove.\u201d<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Dirty Science Part 1: Excavating the truth about mangroves and carbon\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/5tNQGOlPtA4?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Atas alasan tersebut, Tantra tertarik dengan potensi skema seperti REDD+ (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan) yang bertujuan memberi kompensasi bagi negara-negara yang menjaga hutan tetap lestari \u2013 dan saat ini ia tengah menjalani proses pengajuan sertifikasi dengan <a href=\"http:\/\/www.fsc.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Forest Stewardship Council (FSC)<\/a>.<\/p>\n<p>Sertifikasi ini akan memberi jaminan kepada para konsumen bahwa konsesi  perusahan dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan \u2013 dan jika hal ini terjadi, perusahaan kami  akan menjadi pelaksana penebangan mangrove pertama yang mendapat sertifikasi FSC, ujar Tantra.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini, kami memang tengah bertaruh dengan percobaan ini.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi apa yang kami harapkan bahwa dunia luar mengakui upaya kami mendapatkan sertifikasi ini, mereka mengakui bahwa kami melakukannya dengan cara yang benar,\u201d ujarnya.  \u201cKami berharap dunia luar mampu menyadari bahwa dengan mendapat sertifikasi ini, kami beroperasi dengan cara yang benar.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSaya pikir hal ini benar untuk dilakukan.\u201d<\/p>\n<p><b>Satu ukuran belum tentu cocok untuk semua<\/b><\/p>\n<p>Namun dalam prakteknya apa arti dari pemanenan Lestari?<\/p>\n<p>Saat ini,  ketika PT Kandelia Alam memanen kayu di suatu wilayah hutan mangrove, mereka membalak sebagian besar kayu,  meninggalkan jurang lebih  40 pohon per hektar guna menjadi bibit bagi generasi mendatang, ujar Tantra. Begitu benih-benih pohon baru mulai tumbuh, perusahaan  akan mengawasi setiap kesenjangan, dan mengisinya dengan  menanam bibit-bibit yang dibiakkan di lahan pembibitan milik perusahaan.<\/p>\n<p>Dibutuhkan 20 tahun, menurut teori, agar pepohonan menjadi matang dan kembali siap dipanen lagi.<\/p>\n<p>Semua hal ini berdasarkan regulasi pemerintah Indonesia \u2013 namun semua peraturan dan regulasi, menurut Tantra, sebenarnya menghambat perusahaan-perusahaan untuk beroperasi lebih lestari<\/p>\n<p>\u201cAda berbagai eksperimen yang dilakukan \u2013 di Malaysia, seperti yang dahulu kami pernah kerjakan, pada dasarnya memberitahukan kepada kami bahwa ada banyak cara lain untuk membuat hutan kembali produktif seraya memperkecil dampak kerusakan lingkungan dan bagi hutan secara keseluruhan.\u201d<\/p>\n<p>Termasuk mengurangi jumlah pohon-pohon besar di wilayah yang lebih luas, ungkapnya, yang menurut aturan tidaklah dibolehkan.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu tantangan terbesar kami adalah kekakuan aturan pemerintah yang berlaku saat ini. Kami perlu dipimpin oleh prinsip dibandingkan peraturan-peraturan dan regulasi -regulasi.\u201d<\/p>\n<p>&#8220;Saya pikir, jika pemerintah mengijinkan lebih banyak keluasaan,  akan lebih baik bagi kami dan lebih baik untuk hutan, karena kami dapat beradaptasi dan mengoptimalkan cara-cara yang kami lakukan \u2013 dan pemerintah dapat mencabut ijin kami jika melihat kami melakukan hal-hal yang buruk.\u201d<\/p>\n<p>Namun, Daniel Murdiyarso yakin pemerintah mempunyai peran penting dalam pengaturan sektor.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah harus mengupayakan ketersediaan panduan. Kebebasan bisa berbeda makna bagi tiap-tiap orang atau tiap-tiap perusahaan.\u201d<\/p>\n<p>Dan, menurutnya, mencabut ijin-ijin pengusahaan hutan bukanlah proses mudah secara hukum, selain membutuhkan verifikasi dari pihak ketiga \u2013 suatu proses padat karya untuk melaksanakan untuk setiap konsesi.<\/p>\n<p>Ia setuju, meskipun, peraturan yang mengatur konsesi bakau di Indonesia perlu ditinjau kembali &#8211; mereka saat ini persis sama dengan yang untuk hutan terestrial.<\/p>\n<p>\u201cEkosistem ini sangat unik, dan apa yang telah diterapkan di hutan terrestrial dan hutan daratan sama sekali berbeda dari apa yang terjadi di sini,\u201d katanya.<\/p>\n<blockquote><p>Peraturan yang mengatur konsesi bakau di Indonesia perlu ditinjau kembali &#8211; kondisinya saat ini sama persis dengan situasi hutan terestrial.<\/p><\/blockquote>\n<p>\u201cSyarat dan rencana pengelolaan penebangan mangrove tidak harus sama dengan yang berlaku dengan hutan daratan \u2013 dan semuanya harus berdasar atas penelitian,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Hutan mangrove menghasilkan dedaunan dalam jumlah besar, yang ketika berguguran, menjadi sampah organick dan menyimpan karbonnya di dalam tanah. Hutan dataran tinggi, di sisi lain, menyimpan sebagian besar karbon pada kayu pepohonan. Artinya, jika pepohonan itu ditebang, maka hampir seluruh karbon yang disimpan lenyap.<\/p>\n<p>Jika mungkin, maka mangrove dapat ditebang dengan lebih insentif dibandingkan hutan-hutan lain seraya terus menyimpang jumlah karbon yang signifikan di dalam tanah \u2013 meskipun, hal ini memerlukan dibuktikan secara ilimiah, kata Murdiyarso \u201cSampai kita bisa tahu secara persis bagaimana pembalakan hutan mangrove mempengaruhi eksosistem karbon serta jasa lingkungan ekosistem lainnya, kita harus berhati-hati,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Tantra, sementara itu, mengatakan bahwa perusahaannya menawarkan lahan konsesinya sebagai lokasi penelitian karena ia butuh jawaban-jawaban \u2013 baik untuk alasan komersil maupun etis.<\/p>\n<p>\u201cJika anda melakukannya secara Lestari, hal itu berarti pemasukan tak ada habisnya, bagi kami, bagi masyarakat di sekitar hutan, dan bagi negara,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cTetapi jika kita tidak melakukan cara lestari, anda hanya akan mendapat sekali pemasukan, hutan binasa, dan meski secara ekonomi dibenarkan hanya saja anda tidak melakukannya secara lestari.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJika Anda berpandangan sempit, Anda bisa kena masalah.\u201d<\/p>\n<p><em>Penelitian ini merupakan bagian dari <a href=\"\/\/www.cifor.org\/forests-trees-agroforestry\/crp.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Program Penelitian CGIAR tentang Forests, Trees and Agroforestry<\/a> dan didukung oleh USAID.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Untuk keterangan lebih lengkap tentang riset lahan basah CIFOR, kunjungi: Sustainable Wetlands Adaptation and Mitigation Program (<a href=\"\/\/www.cifor.org\/swamp\/home.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">SWAMP<\/a>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Upaya itu terdengar kontra-intuitif. Luasnya hamparan hutan mangrove di Indonesia, menurut penemuan CIFOR baru-baru ini, merupakan wadah penyimpanan karbon yang penting. Hutan mangrove menjadi rumah untuk spesies-spesies unik, melindungi kawasan pesisir dari hantaman ombak. Namun, hutan mangrove juga mudah cepat lenyap. Para konservasionis ingin agar hutan mangrove terlindung dari gergaji para pembabat hutan. Namun, masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":63,"featured_media":14237,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,13,95,96,11,186,151,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2503,2891,2721,2803,3656,2680,2596,3132,2574,2958,2819,2507],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3085],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[545],"class_list":["post-14606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-governance","category-human-wellbeing","category-mangroves","category-mrv-2","category-production-forests","category-redd-2","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-cadangan-karbon","tag-bahasa-daniel-murdiyarso","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kalimantan-barat","tag-bahasa-kubu-raya","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-mangrove","tag-bahasa-muljadi-tantra","tag-bahasa-pembalakan-liar","tag-bahasa-program-lestari-dalam-kerangka-adaptasi-dan-mitigasi-lahan-basah","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-sertifikasi","type-bahasa-video"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Upaya itu terdengar kontra-intuitif. Luasnya hamparan hutan mangrove di Indonesia, menurut penemuan CIFOR baru-baru ini, merupakan wadah penyimpanan karbon yang penting. Hutan mangrove menjadi rumah untuk spesies-spesies unik, melindungi kawasan pesisir dari hantaman ombak. Namun, hutan mangrove juga mudah cepat lenyap. Para konservasionis ingin agar hutan mangrove terlindung dari gergaji para pembabat hutan. Namun, masih [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-03-26T07:11:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-28T08:50:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"680\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kate Evans\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"Kate Evans\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\"},\"headline\":\"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?\",\"datePublished\":\"2013-03-26T07:11:59+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T08:50:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\"},\"wordCount\":1387,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/03\\\/indonesia-mangroves.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"mangroves\",\"MRV\",\"Production forests\",\"REDD+\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\",\"name\":\"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/03\\\/indonesia-mangroves.jpg\",\"datePublished\":\"2013-03-26T07:11:59+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T08:50:16+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/03\\\/indonesia-mangroves.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/03\\\/indonesia-mangroves.jpg\",\"width\":1024,\"height\":680,\"caption\":\"Carbon stock assessment of mangrove trees in West Kalimantan, Indonesia. Photo credit: Kate Evans\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e\",\"name\":\"Kate Evans\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kate Evans\"},\"description\":\"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/kate-evans\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/14606\\\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?","og_description":"Upaya itu terdengar kontra-intuitif. Luasnya hamparan hutan mangrove di Indonesia, menurut penemuan CIFOR baru-baru ini, merupakan wadah penyimpanan karbon yang penting. Hutan mangrove menjadi rumah untuk spesies-spesies unik, melindungi kawasan pesisir dari hantaman ombak. Namun, hutan mangrove juga mudah cepat lenyap. Para konservasionis ingin agar hutan mangrove terlindung dari gergaji para pembabat hutan. Namun, masih [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-03-26T07:11:59+00:00","article_modified_time":"2015-10-28T08:50:16+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":680,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kate Evans","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia"},"author":{"name":"Kate Evans","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e"},"headline":"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?","datePublished":"2013-03-26T07:11:59+00:00","dateModified":"2015-10-28T08:50:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia"},"wordCount":1387,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Governance","Human well-being","mangroves","MRV","Production forests","REDD+","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia","name":"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg","datePublished":"2013-03-26T07:11:59+00:00","dateModified":"2015-10-28T08:50:16+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg","width":1024,"height":680,"caption":"Carbon stock assessment of mangrove trees in West Kalimantan, Indonesia. Photo credit: Kate Evans\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mampukah penebangan lestari menyelamatkan hutan mangrove Indonesia?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/4876a00a383e40d407811a87baf4130e","name":"Kate Evans","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g3f27c3c2db0b6432a0c0a78c2749a7a0","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9d6bfe3bf6898ca5dd59ede60b0498880dbc1baa454f47ca9bb4d6f757f0b8c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kate Evans"},"description":"Kate Evans is a freelance journalist originally from New Zealand. After studying journalism at the University of Sydney and international relations at the Australian National University, she worked as a multimedia journalist at the Australian Broadcasting Corporation for three years...and then ran off to West Africa armed with a video camera and a love of African dance. She is now a writer, filmmaker and photographer.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/kate-evans"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/14606\/mampukah-penebangan-lestari-menyelamatkan-hutan-mangrove-di-indonesia#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/indonesia-mangroves.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/63"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14606"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14606\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14237"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14606"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=14606"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=14606"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=14606"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=14606"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=14606"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=14606"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=14606"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=14606"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=14606"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=14606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}