{"id":13971,"date":"2013-02-18T04:16:59","date_gmt":"2013-02-18T04:16:59","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=13971"},"modified":"2015-10-28T15:58:50","modified_gmt":"2015-10-28T08:58:50","slug":"di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal","title":{"rendered":"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (18 Februari 2013)_Pemerintah di seantero Asia Tenggara memiliki harapan tinggi akan bahan bakar nabati beberapa tahun yang lalu: Pada saat harga minyak dan gas melambung, energi terbarukan dari bahan minyak kelapa sawit, tebu atau jarak pagar (<i>jatropha<\/i>) dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat pedesaan dan berperan dalam upaya global untuk mengurangi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Namun semua negara tersebut tidak berhasil memenuhi target mereka, demikian menurut <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3777.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">studi terbaru dari <i>Center for International Forestry Research<\/i><\/a>, sebagian karena \u2013 pada wilayah yang minyak dan gasnya telah lama mendapatkan subsidi yang besar \u2013 para konsumen memiliki sedikit insentif untuk berpindah ke alternatif yang lebih berkelanjutan, yang lebih mahal.<\/p>\n<p>Mereka juga harus bergulat dengan kekhawatiran internasional bahwa pembukaan atas hutan sedang berlangsung dan bahwa produksi dan pemanfaatan kelapa sawit, tebu dan hasil bumi lain untuk energi dapat membahayakan keamanan pangan. Sampai saat ini, hanya sebagian kecil proporsi (kurang dari 5%) dari semua kelapa sawit yang dibudidayakan di Indonesia yang telah dimanfaatkan sebagai bahan untuk bahan bakar nabati.<\/p>\n<p>\u201cSejumlah negara di Asia Tenggara belum berhasil mencapai tujuan mereka karena sebuah kombinasi dari kondisi ekonomi yang tidak mendukung dan insentif yang merugikan,\u201d ujar Ahmad Dermawan, peneliti CIFOR dan penulis utama studi: <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3777.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\"><i>Withering before full bloom?: Bioenergy development in Southeast Asia<\/i><\/a><i> <\/i>(Layu sebelum berkembang?: Pengembangan energi nabati di Asia Tenggara).<\/p>\n<p>Penulis dan anggota lain dalam tim ini meyakini bahwa bahan bakar nabati masih berpotensi memainkan peran penting dalam gabungan energi untuk masa depan pada wilayah ini. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah sudah harus mulai mengatasi isu sensitif terkait subsidi bahan bakar, demikian ungkap mereka.<\/p>\n<blockquote><p>Pada akhirnya, semua kembali pada komitmen politik \u2013 menghilangkan subsidi bahan bakar fosil merupakan sebuah tindakan yang tidak populer secara politis.<\/p><\/blockquote>\n<p>Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina perlu mengurangi subsidi secara perlahan-lahan untuk minyak dan gas (sesuatu yang ditakutkan pemerintah dapat memicu kemarahan publik dan menyebabkan ketidakstabilan politik), dan meletakkan subsidi yang lebih besar untuk pengembangan energi terbarukan. Terdapat berbagai tantangan yang dapat diperbandingkan di banyak bagian dari dunia maju dan berkembang, termasuk subsidi yang besar bagi budidaya jagung untuk memproduksi bahan bakar cair di Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Pemerintah juga perlu menghilangkan ketakutan bahwa penebangan atau pembakaran hutan guna perluasan perkebunan bahan bakar nabati serta mendemonstrasikan secara lebih baik bahwa substitusi tanaman pangan oleh bahan bakar nabati tidak serta merta menyebabkan kenaikan harga makanan.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat jutaan hektar lahan yang diklasifikasikan sebagai \u201cterdegradasi\u201d di Indonesia, yang dapat digunakan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit,\u201d ujar Dermawan.<\/p>\n<p>\u201cDan jagung dan kedelai bukan merupakan bahan utama untuk bahan bakar nabati di Asia Tenggara \u2013 yang terutama digunakan adalah kelapa sawit, tebu, dan jarak pagar dalam jumlah yang sangat terbatas.\u201d<\/p>\n<p>Walaupun pada awalnya dipasarkan sebagai ramah lingkungan hidup, \u2018testimoni hijau\u2019 atas banyak bahan bakar nabati mulai dipertanyakan pada beberapa tahun terakhir. Hal ini dikonfirmasikan dalam penelitian komparatif global tentang bahan bakar nabati oleh CIFOR, dan didukung oleh suatu <a href=\"\/\/www.cifor.org\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/3914.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">keputusan awal oleh Komisi Eropa (<i>European Commission<\/i>) pada Oktober 2012.<\/a><\/p>\n<p>Beberapa tanaman pangan yang digunakan \u2013 seperti <i>ethanol<\/i> yang terbuat dari jagung yang dibudidayakan di Amerika Serikat, tebu dari Brasil dan minyak yang diambil dari tanaman garapan \u2013 ternyata bersifat intensif terhadap lahan dan sering membutuhkan masukan energi yang besar untuk produksinya. Sebagian lain yang terbuat dari bahan-bahan berkayu dan buangan pertanian dianggap lebih hijau karena mereka memanfaatkan bahan-bahan sisa, namun tetap mahal untuk diproduksi pada skala industri.<\/p>\n<p><i>Dengan harga bahan bakar nabati yang kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil bersubsidi [di Asia Tenggara]<\/i>, <i>maka pasar tidak berkembang seperti yang diharapkan.<\/i><\/p>\n<p>Namun demikian, negara-negara di Asia Tenggara yang lapar energi \u2013 rumah bagi hampir 600 juta orang dengan sejumlah pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia \u2013 memiliki harapan penuh ketika mereka mulai menetapkan target untuk mengintegrasikan bahan bakar nabati ke dalam rencana energi nasional pada tahun 2005, sering menetapkan bahwa bahan bakar nabati digabungkan dengan bahan bakar fosil dengan persentase yang bervariasi.<\/p>\n<p>\u201cNegara-negara Asia Tenggara menyadari bahwa ketersediaan sumber-sumber energi tradisional, seperti halnya minyak, telah menipis, dan mereka perlu mencari alternatif,\u201d ujar Dermawan.<\/p>\n<p>\u201cDalam konteks ini, bahan bakar nabati terlihat menjanjikan, terutama dengan status \u2018terbarukan\u2019 mereka.\u201d<\/p>\n<p>Indonesia, yang membayar lebih dari 15 milyar dolar Amerika per tahun untuk subsidi bahan bakar fosil yang ditetapkan beberapa dekade yang lalu, mengumumkan bahwa 2 persen dari energinya harus diperoleh dari bahan bakar nabati pada tahun 2010 dan 5 persen pada tahun 2025. Thailand, yang sangat bergantung pada impor untuk menjalankan ekonomi berbasiskan manufaktur yang terus berkembang, menetapkan untuk mencapai setengah persen pada tahun 2002 dan yang meningkat menjadi 8 persen sampai pada tahun 2011.<\/p>\n<p>Namun, dalam laporannya CIFOR mencatat bahwa, semua negara pada wilayah tersebut gagal untuk memenuhi target campuran yang paling sederhana. Filipina sebagai contoh hanya mencapai 20 persen dari target awal mereka atas 10 persen <i>ethanol<\/i> nabati dan 5 persen diesel nabati sebagai bahan bakar transportasi sampai pada tahun 2011.<\/p>\n<p>Hambatan utamanya, ujar Dermawan, adalah berlanjutnya subsidi bagi industri bahan bakar fosil dan terbatasnya kemajuan dalam menerapkan teknologi untuk generasi kedua bahan bakar nabati berbasiskan serat.<\/p>\n<p>\u201cDengan harga bahan bakar nabati yang kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil bersubsidi, maka pasar tidak berkembang seperti yang diharapkan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cPada akhirnya, semua kembali pada komitmen politik \u2013 menghilangkan subsidi bahan bakar fosil merupakan sebuah tindakan yang tidak populer secara politis\u201d<\/p>\n<p>Publikasi baru ini merupakan bagian dari Program <a href=\"http:\/\/www.forestsnews.org\/13733\/in-southeast-asia-hope-for-biofuels-turns-to-early-disappointment\/www.cifor.org\/crp6\">Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon, dan Wanatani<\/a> dan didukung oleh Uni Eropa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (18 Februari 2013)_Pemerintah di seantero Asia Tenggara memiliki harapan tinggi akan bahan bakar nabati beberapa tahun yang lalu: Pada saat harga minyak dan gas melambung, energi terbarukan dari bahan minyak kelapa sawit, tebu atau jarak pagar (jatropha) dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":57,"featured_media":36824,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,188,180,186,184],"tags":[],"language":[2171],"location":[12251],"tag-bahasa":[4864,2749,2490,2541,2550,2618,2564,2820],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[270],"class_list":["post-13971","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-food-and-diets","category-mitigating-climate-change","category-production-forests","category-value-chains-finance","language-bahasa-indonesia","location-asia-pacific","tag-bahasa-ahmad-dermawan","tag-bahasa-asia-tenggara","tag-bahasa-bahan-bakar-hayati","tag-bahasa-energi","tag-bahasa-ketahanan-pangan","tag-bahasa-minyak-kelapa-sawit","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-standar-bahan-bakar-terbarukan","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (18 Februari 2013)_Pemerintah di seantero Asia Tenggara memiliki harapan tinggi akan bahan bakar nabati beberapa tahun yang lalu: Pada saat harga minyak dan gas melambung, energi terbarukan dari bahan minyak kelapa sawit, tebu atau jarak pagar (jatropha) dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-02-18T04:16:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-28T08:58:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Zoe Cormier\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\"},\"author\":{\"name\":\"Zoe Cormier\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/d0a817619485c380e02ec509a8e4ec03\"},\"headline\":\"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal\",\"datePublished\":\"2013-02-18T04:16:59+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T08:58:50+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\"},\"wordCount\":871,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/02\\\/palm-oil-500x333_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Food &amp; diets\",\"Mitigation\",\"Production forests\",\"Value chains &amp; finance\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2013\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\",\"name\":\"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/02\\\/palm-oil-500x333_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2013-02-18T04:16:59+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T08:58:50+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/02\\\/palm-oil-500x333_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/02\\\/palm-oil-500x333_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Pemandangan arial perkebunan kelapa sawit di lahan gundul di Sabah, Malaysia. WWF Belanda.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/d0a817619485c380e02ec509a8e4ec03\",\"name\":\"Zoe Cormier\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f744ff6ec3bbc133035b5f4e44e53386bc35b480b762d448f5351c466d1038d6?s=96&d=mm&r=g45ed519a3130f27d71504709aaec4443\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f744ff6ec3bbc133035b5f4e44e53386bc35b480b762d448f5351c466d1038d6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/f744ff6ec3bbc133035b5f4e44e53386bc35b480b762d448f5351c466d1038d6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Zoe Cormier\"},\"description\":\"Zoe Cormier is a freelance journalist and science writer with a background in biology who specialises in environmental reporting. Her work has featured in Nature News, The Guardian, The Globe and Mail, The Ecologist, and the New Internationalist. She has been shortlisted for the Canadian National Magazine Awards twice.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/zoe-cormier\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/13971\\\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal","og_description":"BOGOR, Indonesia (18 Februari 2013)_Pemerintah di seantero Asia Tenggara memiliki harapan tinggi akan bahan bakar nabati beberapa tahun yang lalu: Pada saat harga minyak dan gas melambung, energi terbarukan dari bahan minyak kelapa sawit, tebu atau jarak pagar (jatropha) dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2013-02-18T04:16:59+00:00","article_modified_time":"2015-10-28T08:58:50+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Zoe Cormier","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal"},"author":{"name":"Zoe Cormier","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/d0a817619485c380e02ec509a8e4ec03"},"headline":"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal","datePublished":"2013-02-18T04:16:59+00:00","dateModified":"2015-10-28T08:58:50+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal"},"wordCount":871,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Food &amp; diets","Mitigation","Production forests","Value chains &amp; finance"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#respond"]}],"copyrightYear":"2013","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal","name":"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg","datePublished":"2013-02-18T04:16:59+00:00","dateModified":"2015-10-28T08:58:50+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Pemandangan arial perkebunan kelapa sawit di lahan gundul di Sabah, Malaysia. WWF Belanda."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Di Asia Tenggara, harapan untuk bahan bakar nabati berubah menjadi kekecewaan awal"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/d0a817619485c380e02ec509a8e4ec03","name":"Zoe Cormier","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f744ff6ec3bbc133035b5f4e44e53386bc35b480b762d448f5351c466d1038d6?s=96&d=mm&r=g45ed519a3130f27d71504709aaec4443","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f744ff6ec3bbc133035b5f4e44e53386bc35b480b762d448f5351c466d1038d6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f744ff6ec3bbc133035b5f4e44e53386bc35b480b762d448f5351c466d1038d6?s=96&d=mm&r=g","caption":"Zoe Cormier"},"description":"Zoe Cormier is a freelance journalist and science writer with a background in biology who specialises in environmental reporting. Her work has featured in Nature News, The Guardian, The Globe and Mail, The Ecologist, and the New Internationalist. She has been shortlisted for the Canadian National Magazine Awards twice.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/zoe-cormier"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/13971\/di-asia-tenggara-harapan-untuk-bahan-bakar-nabati-berubah-menjadi-kekecewaan-awal#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/02\/palm-oil-500x333_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/57"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13971"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13971\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13971"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=13971"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=13971"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=13971"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=13971"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=13971"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=13971"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=13971"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=13971"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=13971"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=13971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}