{"id":12463,"date":"2012-12-02T08:55:20","date_gmt":"2012-12-02T08:55:20","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=12463"},"modified":"2015-10-28T16:30:53","modified_gmt":"2015-10-28T09:30:53","slug":"seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut","title":{"rendered":"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut"},"content":{"rendered":"<p>Pemerintah yang mencari cara untuk memperlambat perubahan iklim perlu mengurangi laju konversi lahan gambut sampai peneliti dapat mengumpulkan data ilmiah yang konkret terkait jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer, demikian diungkapkan sejumlah ilmuwan terkemuka.<\/p>\n<p>Hal ini akan membantu mereka memahami mengapa perlindungan ekosistem kaya yang berair ini sangat penting, ujar Daniel Murdiyarso dari Center for International Forestry Research (CIFOR), yang sedang mengembangkan metodologi untuk mengukur emisi lahan basah yang dapat diterima secara global bersama para rekannya.<\/p>\n<p>Lahan gambut, yang menyimpan hingga sepertiga karbon tanah dunia, selama bertahun-tahun dianggap sebagai lahan marginal. Kajian-kajian pada tahun 1970-an berfokus pada bagaimana cara terbaik untuk mengonversi lahan tersebut sehingga bisa menghasilkan pendapatan. Di Indonesia, hal ini diwujudkan dalam \u201cProyek Lahan Gambut Sejuta Hektar\u201d &#8212; pembudidayaan lebih dari satu juta hektar lahan di pulau Kalimantan pada tahun 1990-an.<\/p>\n<p>Pada tahun-tahun terakhir, lahan kaya karbon ini dibuka untuk menanam kelapa sawit \u2013 yang minyaknya digunakan untuk pembuatan berbagai produk mulai dari sabun dan pemulas bibir sampai dengan bahan bakar \u201cbersih\u201d \u2013 dan untuk <em>pulp<\/em> dan kayu.<\/p>\n<p>Indonesia, yang memiliki lahan gambut lebih luas dibandingkan dengan negara mana pun di dunia, kehilangan kira-kira 2 persen lahan gambut setiap tahunnya, ujar Murdiyarso.<\/p>\n<p>Penelitian tentang jumlah emisi yang dilepaskan dalam proses ini menjadi sangat penting mengingat dunia sedang berusaha memperlambat perubahan iklim melalui Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+), ungkap peneliti senior CIFOR ini.<\/p>\n<p>Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan oleh CIFOR dan para mitranya mengungkapkan bahwa 89 dari 99 negara tropis yang ikut mengambil bagian dalam skema yang didukung PBB ini belum memiliki kapasitas untuk memenuhi persyaratan pemantauan karbon.<\/p>\n<p>Beberapa negara, termasuk Brasilia dan Kenya, tidak menyadari sampai baru-baru ini bahwa mereka ternyata memiliki lahan gambut.<\/p>\n<p>Di Indonesia, banyak wilayah yang tidak memiliki data dasar dari ekosistem ini.<\/p>\n<p>Rawa Tripa di Aceh merupakan bagian dari ekosistem Gunung Leuser, satu-satunya tempat di dunia di mana orang utan, harimau, badak dan gajah masih hidup bersama di alam liar. Daerah ini mendapatkan perhatian dunia tahun lalu setelah beberapa lsm lingkungan melaporkan dugaan pelanggaran larangan untuk mengubah lahan gambut yang kaya ini menjadi bentangan perkebunan kelapa sawit, sebagian besar dengan menggunakan api untuk membuka lahan.<\/p>\n<p>Ketika para pejabat, akademia dan kelompok-kelompok LSM duduk bersama untuk mendiskusikan cara menyelamatkan Tripa bulan Juni lalu, sejumlah pertanyaan besar muncul: Seberapa dalam gambut yang ada di sana? Seberapa banyak karbon yang terkandung di dalamnya? Dan seberapa kayakah keanekaragaman hayatinya?<\/p>\n<p>\u201cKita harus bergerak untuk menyelamatkan Tripa, namun pada forum itu kami menyadari bahwa kita tidak memiliki informasi yang cukup,\u201d ujar Nirarta Samadhi, Ketua Kelompok Kerja Pemantauan Moratorium di Satgas REDD+.<\/p>\n<p>Samadhi dan rekan-rekannya meminta sejumlah lembaga pemerintah lokal dan nasional untuk membantu dengan cepat menghentikan perusakan di Rawa Tripa dan memandatkan beberapa studi tentang karakteristik, kondisi sosial ekonomi dan keanekaragaman hayati gambut di daerah tersebut.<\/p>\n<p>Informasi yang terkumpul akan digunakan untuk melakukan uji coba sejumlah cara untuk menyelamatkan lahan gambut yang sebagian telah hilang atau rusak.<\/p>\n<p>Studi yang dilakukan oleh CIFOR mengungkapkan bahwa 80 persen emisi Indonesia, atau sekitar 2 milyar ton, berasal dari pembuangan biomasa dan perubahan pemanfaatan lahan gambut, yang memposisikan ekosistem sebagai \u201cbuah yang tergantung paling rendah\u201d dalam upaya Indonesia untuk memenuhi target pengurangan emisi sebesar 26 persen dari tingkat <em>business-as-usual <\/em>pada tahun 2020.<\/p>\n<p>Murdiyarso menyampaikan bahwa dari lebih dari 20 juta hektar lahan gambut di Indonesia, sekitar setengah telah dibebankan ijin konsesi konversi menjadi perkebunan kayu pulp atau kelapa sawit. Masalah selanjutnya adalah, bukan saja bagaimana melindungi rawa gambut yang belum dibebankan lisensi, ungkap beliau, namun bagaimana mencari cara untuk mengelola lahan yang sudah memiliki ijin dengan baik.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin menunjukkan bagaimana dan mengapa lahan gambut bernilai penting,\u201d ujarnya, yang berarti berusaha mengetahui dengan tepat seberapa kaya lahan ini terkait karbon dan berbagai manfaat lain. \u201cNamun lebih dari itu, lahan gambut adalah ekosistem unik dan merupakan satu-satunya habitat yang bisa menjadi tempat hidup bagi orang utan, ikan Arwana dan jelutung (<em>Dyeracostulata<\/em>).\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah yang mencari cara untuk memperlambat perubahan iklim perlu mengurangi laju konversi lahan gambut sampai peneliti dapat mengumpulkan data ilmiah yang konkret terkait jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer, demikian diungkapkan sejumlah ilmuwan terkemuka. Hal ini akan membantu mereka memahami mengapa perlindungan ekosistem kaya yang berair ini sangat penting, ujar Daniel Murdiyarso dari Center for [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":80,"featured_media":13692,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,161,137,13,11,190,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2763,2476,2503,2891,2776,2500,2721,2616,2680,2622,3162,3629,2819,2807,3163,2584,3161],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[783],"class_list":["post-12463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-governance","category-mrv-2","category-peatlands","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-aceh","tag-bahasa-adaptasi","tag-bahasa-cadangan-karbon","tag-bahasa-daniel-murdiyarso","tag-bahasa-ekosistem-leuser","tag-bahasa-emisi-karbon","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-kelapa-sawit","tag-bahasa-lahan-basah","tag-bahasa-lahan-gambut","tag-bahasa-nirarta-samadhi","tag-bahasa-rawa-tripa","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-rencana-tata-ruang-aceh","tag-bahasa-satgas-redd","tag-bahasa-tata-guna-lahan","tag-bahasa-yayasan-ekosistem-lestari","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pemerintah yang mencari cara untuk memperlambat perubahan iklim perlu mengurangi laju konversi lahan gambut sampai peneliti dapat mengumpulkan data ilmiah yang konkret terkait jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer, demikian diungkapkan sejumlah ilmuwan terkemuka. Hal ini akan membantu mereka memahami mengapa perlindungan ekosistem kaya yang berair ini sangat penting, ujar Daniel Murdiyarso dari Center for [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2012-12-02T08:55:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-28T09:30:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Olivia Rondonuwu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\"},\"author\":{\"name\":\"Olivia Rondonuwu\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/b54e45ac39331d21012f1a7e91469c36\"},\"headline\":\"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut\",\"datePublished\":\"2012-12-02T08:55:20+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T09:30:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\"},\"wordCount\":641,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/01\\\/peat-measurements.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\",\"MRV\",\"Peatlands\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2012\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\",\"name\":\"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/01\\\/peat-measurements.jpg\",\"datePublished\":\"2012-12-02T08:55:20+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T09:30:53+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/01\\\/peat-measurements.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2013\\\/01\\\/peat-measurements.jpg\",\"width\":1024,\"height\":683,\"caption\":\"Seberapa dalamkah rawa gambut ? Indrianto, kanan, dan Suratman dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mengukur kedalaman gambut di Tripa hutan rawa gambut di provinsi Aceh. Dita Alangkara\\\/CIFOR\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/b54e45ac39331d21012f1a7e91469c36\",\"name\":\"Olivia Rondonuwu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ea437937a50c831dca0d4c528667df8f3e2f892f695ac12a4e7b6b75e7711259?s=96&d=mm&r=gb5db21bc01b3a54a6c67ec7957c6b9cb\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ea437937a50c831dca0d4c528667df8f3e2f892f695ac12a4e7b6b75e7711259?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ea437937a50c831dca0d4c528667df8f3e2f892f695ac12a4e7b6b75e7711259?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Olivia Rondonuwu\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/olivia-rondonuwu\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12463\\\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut","og_description":"Pemerintah yang mencari cara untuk memperlambat perubahan iklim perlu mengurangi laju konversi lahan gambut sampai peneliti dapat mengumpulkan data ilmiah yang konkret terkait jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer, demikian diungkapkan sejumlah ilmuwan terkemuka. Hal ini akan membantu mereka memahami mengapa perlindungan ekosistem kaya yang berair ini sangat penting, ujar Daniel Murdiyarso dari Center for [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2012-12-02T08:55:20+00:00","article_modified_time":"2015-10-28T09:30:53+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Olivia Rondonuwu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut"},"author":{"name":"Olivia Rondonuwu","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/b54e45ac39331d21012f1a7e91469c36"},"headline":"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut","datePublished":"2012-12-02T08:55:20+00:00","dateModified":"2015-10-28T09:30:53+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut"},"wordCount":641,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Governance","MRV","Peatlands","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#respond"]}],"copyrightYear":"2012","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut","name":"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg","datePublished":"2012-12-02T08:55:20+00:00","dateModified":"2015-10-28T09:30:53+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg","width":1024,"height":683,"caption":"Seberapa dalamkah rawa gambut ? Indrianto, kanan, dan Suratman dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mengukur kedalaman gambut di Tripa hutan rawa gambut di provinsi Aceh. Dita Alangkara\/CIFOR"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Seberapa burukkah ini? Pembuat kebijakan perlu banyak informasi emisi lahan gambut"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/b54e45ac39331d21012f1a7e91469c36","name":"Olivia Rondonuwu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea437937a50c831dca0d4c528667df8f3e2f892f695ac12a4e7b6b75e7711259?s=96&d=mm&r=gb5db21bc01b3a54a6c67ec7957c6b9cb","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea437937a50c831dca0d4c528667df8f3e2f892f695ac12a4e7b6b75e7711259?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ea437937a50c831dca0d4c528667df8f3e2f892f695ac12a4e7b6b75e7711259?s=96&d=mm&r=g","caption":"Olivia Rondonuwu"},"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/olivia-rondonuwu"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12463\/seberapa-burukkah-ini-pembuat-kebijakan-membutuhkan-informasi-lebih-banyak-tentang-emisi-lahan-gambut#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2013\/01\/peat-measurements.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/80"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12463"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12463\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13692"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12463"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=12463"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=12463"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=12463"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=12463"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=12463"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=12463"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=12463"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=12463"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=12463"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=12463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}