{"id":12433,"date":"2012-11-30T03:13:18","date_gmt":"2012-11-30T03:13:18","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=12433"},"modified":"2015-10-28T16:28:53","modified_gmt":"2015-10-28T09:28:53","slug":"memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan","title":{"rendered":"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan"},"content":{"rendered":"<p>Mengenakan kemeja batik merah dan membawa belati panjang dari kayu, pemimpin suku Dayak Lewis K.D.R bersiap-siap untuk sebuah ritual sakral yang telah dijalankan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan kepada roh hutan bahwa penduduk desa ingin menggunakan lahan untuk membangun rumah, pertanian, dan mulai menanam.<\/p>\n<p>Seorang pendeta, duduk di atas tunggul pohon di samping Lewis, merapal doa dan mantra serta menyebarkan beras di atas tanah. Para petani dan penduduk desa yang lain menghampiri dan membungkuk supaya sejumlah butiran beras dapat jatuh di atas kepala mereka \u2013 pemberkatan tradisional untuk menangkal bahaya dan pertanda buruk.<\/p>\n<p>\u201cKami tidak akan pernah merusak lingkungan, karena di sinilah kami tinggal dan bertahan hidup,\u201d kata Lewis, menjelaskan bahwa beras mewakili kehadiran manusia dan digunakan untuk berkomunikasi dengan mereka yang tidak terlihat.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin mempertahankannya supaya kami bisa mewariskannya pada generasi berikutnya.\u201d<\/p>\n<p>Indonesia adalah salah satu negara dengan hutan terluas di dunia, namun pohon terus ditebang dengan laju yang mengkhawatirkan untuk kayu dan pertambangan serta memberikan ruang untuk perkebunan pulp dan kelapa sawit.<\/p>\n<p>Banyak konsesi telah dilimpahkan pada lahan dan hutan di mana suku Dayak dan masyarakat adat lain telah hidup selama bergenerasi-generasi, terkadang memicu konflik berdarah \u2013 sebuah masalah yang diperparah dengan tidak adanya peta menyeluruh yang menunjukkan keberadaan lahan adat.<\/p>\n<p>Hal ini mulai berubah, sebagian karena adanya skema Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+), sebuah skema yang didukung PBB untuk memperlambat perubahan iklim.<\/p>\n<p>Dengan dilengkapi perangkat pemetaan, sistem pemosisi global (GPS), kompas dan sejumlah perlengkapan lain, kelompok masyarakat adat menerima dorongan besar berupa dukungan dana dan teknis dari REDD+ untuk pekerjaan yang telah dimulai 15 tahun yang lalu untuk mencapai suatu kesepakatan tentang perbatasan lahan adat.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini, di seluruh Indonesia, ada banyak sekali klaim tumpang tindih lahan,\u201d kata Abdon Nababan, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Ia mencatat bahwa permasalah tersebut dimulai hampir empat dekade lalu dengan diluncurkannya Undang-Undang Kehutanan, ketika pemerintah mulai mengklaim sejumlah besar lahan dan mengonversinya menjadi konsesi kayu.<\/p>\n<p>\u201cKalau ditemukan minyak dan gas pada lahan adat, maka ijin pertambangan akan diterbitkan.\u201d<\/p>\n<p>Gagasan di balik REDD+ sederhana: menawarkan insentif finansial untuk negara-negara yang menyimpan karbon atau menghindari deforestasi, memberikan kompensasi atas peluang yang hilang, dan menghentikan pembayaran jika mereka tidak memenuhi komitmennya.<\/p>\n<p>Namun walaupun banyak inisiatif REDD+ telah dimulai di Indonesia, beberapa di lahan Dayak, keberhasilannya sebagian bergantung pada bagaimana masalah hak tanah masyarakat adat akan diselesaikan.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana kita akan menetapkan siapa yang memiliki hak atas karbon di hutan?\u201d kata Daju Resosudarmo, peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR), yang hasil kajiannya tentang REDD+ baru-baru ini dipublikasikan dalam buku <em>Analysing REDD+<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang akan memperoleh manfaat finansial dari perdagangan karbon?\u201d tanyanya. Ia menambahkan bahwa tanpa ada peraturan tentang tenurial karbon, pertanyaan tentang siapa yang memiliki hak terhadap lahan menjadi sangat penting. Selanjutnya, \u201csiapa yang akan bertanggung jawab jika pengurangan emisi karbon Indonesia tidak terpenuhi?\u201d<\/p>\n<p>Masyarakat adat di bawah AMAN menanggung sebagian besar biaya proyek pemetaan, dan para fasilitator menyediakan perlengkapan dan pelatihan yang mereka perlukan.<\/p>\n<p>Diharapkan bahwa peta ini pada akhirnya akan dipaduserasikan dengan Inisiatif Satu Peta REDD+ (OMI) \u2013 sebuah peta tunggal yang meliputi seluruh Indonesia yang bertujuan untuk memuat semua informasi yang relevan terkait perijinan hutan dan klaim pemanfaatan lahan.<\/p>\n<p>\u201cProses mewujudkan peta ini adalah dengan [mengundang] partisipasi publik\u2026 sehingga mereka dapat melakukan koreksi, penyesuaian, perubahan dan tinjuan,\u201d kata Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Satgas REDD+ di Indonesia. Beliau menambahkan bahwa usaha bersama ini dapat meningkatkan kemungkinan adanya batas daerah yang adil dan akurat.<\/p>\n<p>Nababan berharap bahwa pada akhir tahun 2012, setidaknya 5 juta hektar lahan adat sudah selesai dipetakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengenakan kemeja batik merah dan membawa belati panjang dari kayu, pemimpin suku Dayak Lewis K.D.R bersiap-siap untuk sebuah ritual sakral yang telah dijalankan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan kepada roh hutan bahwa penduduk desa ingin menggunakan lahan untuk membangun rumah, pertanian, dan mulai menanam. Seorang pendeta, duduk di atas tunggul pohon di samping Lewis, merapal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":79,"featured_media":36864,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,137,13,95,151],"tags":[],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[3184,3185,2890,2522,3577,2696,2516,2670,3071,2575,2590,2813,2564,2597,2504,2819,3163],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[781],"class_list":["post-12433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-forest-management-restoration","category-governance","category-human-wellbeing","category-redd-2","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-abdon-nababan","tag-bahasa-aliansi-masyarakat-adat-nusantara","tag-bahasa-daju-resosudarmo","tag-bahasa-deforestasi","tag-bahasa-inisiatif-satu-peta","tag-bahasa-kalimantan","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-kepemilikan-dan-hak-atas-lahan","tag-bahasa-kuntoro-mangkusubroto","tag-bahasa-masyarakat-adat","tag-bahasa-masyarakat-lokal","tag-bahasa-moratorium-hutan-indonesia","tag-bahasa-pemerintahan","tag-bahasa-pemetaan","tag-bahasa-perdagangan-karbon","tag-bahasa-redd","tag-bahasa-satgas-redd","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mengenakan kemeja batik merah dan membawa belati panjang dari kayu, pemimpin suku Dayak Lewis K.D.R bersiap-siap untuk sebuah ritual sakral yang telah dijalankan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan kepada roh hutan bahwa penduduk desa ingin menggunakan lahan untuk membangun rumah, pertanian, dan mulai menanam. Seorang pendeta, duduk di atas tunggul pohon di samping Lewis, merapal [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2012-11-30T03:13:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-10-28T09:28:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"333\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Yogita Tahilramani\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\"},\"author\":{\"name\":\"Yogita Tahilramani\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/11e069ad3d62ca002285486babae1a08\"},\"headline\":\"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan\",\"datePublished\":\"2012-11-30T03:13:18+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T09:28:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\"},\"wordCount\":587,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/11\\\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg\",\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Governance\",\"Human well-being\",\"REDD+\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2012\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\",\"name\":\"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/11\\\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg\",\"datePublished\":\"2012-11-30T03:13:18+00:00\",\"dateModified\":\"2015-10-28T09:28:53+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/11\\\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/11\\\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg\",\"width\":500,\"height\":333,\"caption\":\"Tetua adat masyarakat Dayak di provinsi Kalimantan Tengah membuat upacara adat penggunaan lahan mereka. Achmad Ibrahim (CIFOR)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/11e069ad3d62ca002285486babae1a08\",\"name\":\"Yogita Tahilramani\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c9a755e1b86182632902aed879ef03b30814d0b372cfbb6a21bcb99e3f78f45?s=96&d=mm&r=gff98dd1ebfd2a83313c9010f253df0ed\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c9a755e1b86182632902aed879ef03b30814d0b372cfbb6a21bcb99e3f78f45?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/5c9a755e1b86182632902aed879ef03b30814d0b372cfbb6a21bcb99e3f78f45?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Yogita Tahilramani\"},\"description\":\"Yogita is a communications consultant who has worked as a print journalist in Indonesia for over a decade. She took up postgraduate study in international journalism at London\u2019s City University on a British Chevening scholarship. Yogita began her career with the Jakarta Post and has edited news articles on crime, law, environment, the economy and politics for the English Edition of Indonesia\u2019s TEMPO magazine.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/yogita-tahilramani\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/12433\\\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan","og_description":"Mengenakan kemeja batik merah dan membawa belati panjang dari kayu, pemimpin suku Dayak Lewis K.D.R bersiap-siap untuk sebuah ritual sakral yang telah dijalankan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan kepada roh hutan bahwa penduduk desa ingin menggunakan lahan untuk membangun rumah, pertanian, dan mulai menanam. Seorang pendeta, duduk di atas tunggul pohon di samping Lewis, merapal [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2012-11-30T03:13:18+00:00","article_modified_time":"2015-10-28T09:28:53+00:00","og_image":[{"width":500,"height":333,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Yogita Tahilramani","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan"},"author":{"name":"Yogita Tahilramani","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/11e069ad3d62ca002285486babae1a08"},"headline":"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan","datePublished":"2012-11-30T03:13:18+00:00","dateModified":"2015-10-28T09:28:53+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan"},"wordCount":587,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg","articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Forest management &amp; restoration","Governance","Human well-being","REDD+"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#respond"]}],"copyrightYear":"2012","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan","name":"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg","datePublished":"2012-11-30T03:13:18+00:00","dateModified":"2015-10-28T09:28:53+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg","width":500,"height":333,"caption":"Tetua adat masyarakat Dayak di provinsi Kalimantan Tengah membuat upacara adat penggunaan lahan mereka. Achmad Ibrahim (CIFOR)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memetakan masa depan Indonesia: mengintegrasikan klaim masyarakat adat atas lahan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/11e069ad3d62ca002285486babae1a08","name":"Yogita Tahilramani","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c9a755e1b86182632902aed879ef03b30814d0b372cfbb6a21bcb99e3f78f45?s=96&d=mm&r=gff98dd1ebfd2a83313c9010f253df0ed","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c9a755e1b86182632902aed879ef03b30814d0b372cfbb6a21bcb99e3f78f45?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/5c9a755e1b86182632902aed879ef03b30814d0b372cfbb6a21bcb99e3f78f45?s=96&d=mm&r=g","caption":"Yogita Tahilramani"},"description":"Yogita is a communications consultant who has worked as a print journalist in Indonesia for over a decade. She took up postgraduate study in international journalism at London\u2019s City University on a British Chevening scholarship. Yogita began her career with the Jakarta Post and has edited news articles on crime, law, environment, the economy and politics for the English Edition of Indonesia\u2019s TEMPO magazine.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/yogita-tahilramani"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/12433\/memetakan-masa-depan-indonesia-mengintegrasikan-klaim-masyarakat-adat-atas-lahan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Masyarakat-adat-dan-REDD-_bhs.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/79"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12433"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12433\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36864"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12433"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=12433"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=12433"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=12433"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=12433"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=12433"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=12433"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=12433"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=12433"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=12433"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=12433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}