{"id":10609,"date":"2012-08-24T04:54:10","date_gmt":"2012-08-24T04:54:10","guid":{"rendered":"http:\/\/www.forestsnews.org\/?p=10609"},"modified":"2015-11-05T16:22:37","modified_gmt":"2015-11-05T09:22:37","slug":"tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan","title":{"rendered":"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?"},"content":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (24 Agustus, 2012)_ Di Amazon, tanah ini disebut <em>Terra Preta<\/em>. Suku-suku asli Kalimantan Timur, seperti suku Merap yang tinggal di dataran rendah menyebutnya <em>tiem<\/em> dan suku Punan di dataran tinggi memanggilnya <em>punyuh<\/em>. Arti kata tersebut dalam ketiga bahasa itu sama: \u201cTanah Hitam,\u201d deskripsi yang pas untuk tanah kaya kandungan nutrisi yang sangat berharga bagi suku-suku penghuni hutan tropis.<\/p>\n<p>Suatu tim ilmuwan lintas disiplin yang diketuai sepasang peneliti CIFOR menemukan bukti bahwa \u201cTanah Hitam\u201d di Kalimantan Timur, sama halnya dengan yang di Amazon, bersifat \u201cAntropogenik\u201d &#8212; hasil budidaya manusia selama puluhan tahun, bahkan berabad-abad. Temuan ini dipublikasikan dalam sebuah <a href=\"http:\/\/www.mdpi.com\/1999-4907\/3\/2\/207\/pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">makalah ilmiah<\/a> di jurnal <em>Forestry.<\/em><\/p>\n<p>Bila studi ini dapat dibuktikan lebih jauh lagi, situs-situs di Kalimantan ini akan menjadi bukti ilmiah tercatat pertama akan adanya Bumi Hitam  Antropogenik (ADEs) di bagian tropis Asia. Fenomena ini sudah dikenal di Amerika Latin sejak awal abad duapuluh. Meski terpisah jarak hampir 20.000 kilometer, baik ADE Amazonia dan Indonesia diperkirakan berasal dari budi daya pertanian yang sama: \u201cTebang arang,\u201d dan bukan pola yang lebih umum terjadi yaitu tebang bakar.<\/p>\n<p>\u201cApa yang kami lihat (di lokasi penelitian kami) di Malinau (Kalimantan Timur) adalah bukti bahwa ADE yang disebabkan oleh penggunaan teknik \u201ctebang arang\u201d membawa peningkatan kualitas tanah dan tidak selalu merupakan pengetahuan suku Amazon yang telah lama hilang, seperti yang dipercayai sebagian orang,\u201d kata Douglas Sheil, penulis utama makalah tersebut dan peneliti program Hutan dan Lingkungan Hidup di CIFOR.<\/p>\n<p>\u201cPerbaikan-perbaikan tanah ini dapat menyerap sejumlah besar karbon, melindungi keanekaragaman hutan dan membantu meningkatkan pertanian lestari di daerah-daerah yang sudah gundul dan hasil lahannya buruk.<\/p>\n<p>\u201cTanah-tanah ini dapat dikembangkan dengan cara-cara dan teknologi yang sederhana dan murah yang dapat mengurangi tekanan pada tanah serta meningkatkan keberlanjutan ketahanan pangan di daerah-daerah di mana lahan langka,\u201d ujarnya lagi.<\/p>\n<p>Sheil memperingatkan bahwa asal muasal ADE belum sepenuhnya dapat dipahami. Namun, 15 persen karbon dalam kandungan tanah diperkirakan ada karena \u201carang\u201d.<\/p>\n<p>Perladangan berpindah &#8211; termasuk metode &#8220;tebang bakar&#8221; dan &#8220;tebang arang&#8221; &#8212; dipraktekkan banyak suku.<\/p>\n<p>Dalam metode &#8220;tebang dan bakar&#8221;, pohon dan tanaman berbatang kayu ditebang dan dibakar sebagai persiapan lahan untuk ditanami \u2013 cara ini menghasilkan nutrisi tanah yang meningkatkan produktivitas untuk sementara.<\/p>\n<p>Ketika pembakaran dilakukan secara menyeluruh dan yang tersisa hanya abu, pengayaan tanah bertahan tidak lama dan lahan harus lebih lama dibiarkan tidak terpakai sebelum siap untuk digunakan kembali.<\/p>\n<p>Namun, metode yang hanya membakar sebagian, atau &#8220;tebang dan arang&#8221;, dapat memperbaiki struktur tanah dan menyediakan penyimpanan nutrisi yang lebih tahan lama yang berasal dari berbagai sumber, tetapi tampaknya mencerminkan pengolahan makanan dan limbah yang terkait dengan keberadaan manusia. Dengan berjalannya waktu, jika siklus pembersihan nutrisi arang berulang kali terjadi, hasilnya akan terjadi pembentukan ADE.<\/p>\n<p>Peningkatan kesuburan tanah memungkinkan penduduk asli mempertahankan penghidupan mereka sendiri tanpa menggunakan pupuk kimia yang mahal. Hal ini juga membantu pelestarian keanekaragaman hutan serta penyerapan karbon sebesar <a href=\"file:\/\/\/C:\/Users\/thegoodguys\/AppData\/Local\/Microsoft\/Windows\/Temporary%20Internet%20Files\/Content.Outlook\/3ZHJK0PC\/carbon%20sequestration%20five-%20to%20seven-fold,%20which%20can%20last%20for%20centuries,%20even%20millennia,%20compared%20to%20surrounding%20rainforest%20land.\">lima sampai tujuh kali lipat, yang dapat berlangsung selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, dibandingkan dengan hutan hujan di sekitarnya.<\/a><\/p>\n<p>Dari wawancara di lapangan, para peneliti mengetahui bahwa petani yang tinggal di hulu sungai Malinau di Kalimantan membersihkan lahan dengan cara yang lebih mirip dengan &#8220;tebang dan bakar&#8221;.  Teknik &#8220;tebang dan arang&#8221; pada umumnya terjadi dengan tidak disengaja, ketika seringnya guyuran hujan menghentikan pembakaran lebih awal dari yang direncanakan.<\/p>\n<p>Hal ini mungkin menjawab pertanyaan mengapa hanya dua plot di antara 202 plot yang disurvei memiliki tingkat karbon 15 persen seperti di sampel <em>Terra Preta<\/em> dari Amazon, ungkap Imam Basuki, salah satu penulis makalah tersebut dan rekan peneliti di CIFOR.<\/p>\n<p>Basuki menambahkan bahwa penelitian baru tersebut menyajikan argumen yang menyakinkan mengapa teknik tebang arang sebaiknya digunakan masyarakat lokal untuk peningkatan kesuburan tanah. &#8220;Hasil ini merupakan bukti kuat yang menunjukkan kepada petani dan pembuat kebijakan lokal bahwa sistem ini dapat meningkatkan produktivitas beras mereka,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Meskipun terpencil, kabupaten Malinau sangat penting sebagai <a href=\"\/\/www.cifor.org\/nc\/online-library\/browse\/view-publication\/publication\/1813.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">penyimpan air untuk untuk Kalimantan Timur<\/a>, termasuk ibukota provinsi.  Daerah ini juga termasuk \u201clokasi terpenting\u201d untuk keanekaragaman hayati, seperti yang diakui oleh World Wildlife Fund dalam kampanye konservasi &#8220;<a href=\"http:\/\/wwf.panda.org\/what_we_do\/where_we_work\/borneo_forests\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">Jantung Borneo<\/a>&#8221; yang dijalankannya.<\/p>\n<p>Ini menjadi salah satu alasan lagi untuk mempromosikan tebang arang di Kalimantan, kata Basuki. Jika upaya pengayaan tanah melalui \u201ctebang arang\u201d dapat terjadi tanpa disengaja, seberapa banyak lagi yang bisa dicapai melalui upaya yang terarah?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, Indonesia (24 Agustus, 2012)_ Di Amazon, tanah ini disebut Terra Preta. Suku-suku asli Kalimantan Timur, seperti suku Merap yang tinggal di dataran rendah menyebutnya tiem dan suku Punan di dataran tinggi memanggilnya punyuh. Arti kata tersebut dalam ketiga bahasa itu sama: \u201cTanah Hitam,\u201d deskripsi yang pas untuk tanah kaya kandungan nutrisi yang sangat berharga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":62,"featured_media":37253,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[462,182,161,188,137,95],"tags":[371,382,326,87,4373],"language":[2171],"location":[12222],"tag-bahasa":[2508,3512,2907,2767,2516,2575,2674,2502,2660],"tag-espanol":[],"tag-francais":[],"type-espanol":[],"type-bahasa":[3099],"type-english":[],"type-francais":[],"coauthors":[546],"class_list":["post-10609","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-climate-change-energy","category-community-forestry","category-deforestation","category-food-and-diets","category-forest-management-restoration","category-human-wellbeing","tag-deforestation","tag-forest-management","tag-governance","tag-indonesia","tag-livelihoods","language-bahasa-indonesia","location-indonesia","tag-bahasa-arang","tag-bahasa-douglas-sheil","tag-bahasa-imam-basuki","tag-bahasa-kalimantan-timur","tag-bahasa-kehutanan-masyarakat","tag-bahasa-masyarakat-adat","tag-bahasa-pengetahuan-dan-praktik-tradisional","tag-bahasa-penyerapan-karbon","tag-bahasa-tanah","type-bahasa-berita"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.4 (Yoast SEO v28.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan? - Landscape Alliance Forests News<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BOGOR, Indonesia (24 Agustus, 2012)_ Di Amazon, tanah ini disebut Terra Preta. Suku-suku asli Kalimantan Timur, seperti suku Merap yang tinggal di dataran rendah menyebutnya tiem dan suku Punan di dataran tinggi memanggilnya punyuh. Arti kata tersebut dalam ketiga bahasa itu sama: \u201cTanah Hitam,\u201d deskripsi yang pas untuk tanah kaya kandungan nutrisi yang sangat berharga [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Landscape Alliance Forests News\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2012-08-24T04:54:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2015-11-05T09:22:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"334\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Melati Kaye\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CIFOR_ICRAF\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\"},\"author\":{\"name\":\"Melati Kaye\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/dc41d7a984ebf7594f376f0104dcd368\"},\"headline\":\"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?\",\"datePublished\":\"2012-08-24T04:54:10+00:00\",\"dateModified\":\"2015-11-05T09:22:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\"},\"wordCount\":692,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/08\\\/fires.jpg\",\"keywords\":[\"deforestation\",\"forest management\",\"governance\",\"Indonesia\",\"livelihoods\"],\"articleSection\":[\"Climate change &amp; energy\",\"Community forestry\",\"Deforestation\",\"Food &amp; diets\",\"Forest management &amp; restoration\",\"Human well-being\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2012\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\",\"name\":\"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan? - Landscape Alliance Forests News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/08\\\/fires.jpg\",\"datePublished\":\"2012-08-24T04:54:10+00:00\",\"dateModified\":\"2015-11-05T09:22:37+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/08\\\/fires.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2012\\\/08\\\/fires.jpg\",\"width\":500,\"height\":334,\"caption\":\"Foto oleh CIFOR.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"name\":\"Landscape Alliance Forests News\",\"description\":\"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Organization\",\"Place\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#organization\",\"name\":\"CIFOR-ICRAF\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\",\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/CIFORICRAF\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CIFOR_ICRAF\"],\"telephone\":[],\"openingHoursSpecification\":[{\"@type\":\"OpeningHoursSpecification\",\"dayOfWeek\":[\"Monday\",\"Tuesday\",\"Wednesday\",\"Thursday\",\"Friday\",\"Saturday\",\"Sunday\"],\"opens\":\"09:00\",\"closes\":\"17:00\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id#\\\/schema\\\/person\\\/dc41d7a984ebf7594f376f0104dcd368\",\"name\":\"Melati Kaye\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9bd6b4d90f4b539a3f93110677e5f007f01196fad0381fcd72a22e02168eabbd?s=96&d=mm&r=g3047fe1ee0b93e3d8a5653419a5ce6dd\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9bd6b4d90f4b539a3f93110677e5f007f01196fad0381fcd72a22e02168eabbd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9bd6b4d90f4b539a3f93110677e5f007f01196fad0381fcd72a22e02168eabbd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Melati Kaye\"},\"description\":\"Melati Kaye is a freelance writer based in Bogor, Indonesia. She currently writes for Al Jazeera and the Jakarta Post. Prior to arriving in Indonesia, Melati worked as a public radio reporter in Alaska. She has a degree in Biology and Creative Writing from Reed College.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/author\\\/melati-kaye\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/id\\\/10609\\\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.forestsnews.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/12\\\/cifor-icraf-logo.png\",\"width\":596,\"height\":250,\"caption\":\"CIFOR-ICRAF\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan? - Landscape Alliance Forests News","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?","og_description":"BOGOR, Indonesia (24 Agustus, 2012)_ Di Amazon, tanah ini disebut Terra Preta. Suku-suku asli Kalimantan Timur, seperti suku Merap yang tinggal di dataran rendah menyebutnya tiem dan suku Punan di dataran tinggi memanggilnya punyuh. Arti kata tersebut dalam ketiga bahasa itu sama: \u201cTanah Hitam,\u201d deskripsi yang pas untuk tanah kaya kandungan nutrisi yang sangat berharga [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan","og_site_name":"Landscape Alliance Forests News","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","article_published_time":"2012-08-24T04:54:10+00:00","article_modified_time":"2015-11-05T09:22:37+00:00","og_image":[{"width":500,"height":334,"url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Melati Kaye","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CIFOR_ICRAF","twitter_site":"@CIFOR_ICRAF","schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan"},"author":{"name":"Melati Kaye","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/dc41d7a984ebf7594f376f0104dcd368"},"headline":"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?","datePublished":"2012-08-24T04:54:10+00:00","dateModified":"2015-11-05T09:22:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan"},"wordCount":692,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg","keywords":["deforestation","forest management","governance","Indonesia","livelihoods"],"articleSection":["Climate change &amp; energy","Community forestry","Deforestation","Food &amp; diets","Forest management &amp; restoration","Human well-being"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#respond"]}],"copyrightYear":"2012","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan","name":"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan? - Landscape Alliance Forests News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg","datePublished":"2012-08-24T04:54:10+00:00","dateModified":"2015-11-05T09:22:37+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#primaryimage","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg","width":500,"height":334,"caption":"Foto oleh CIFOR."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tanah arang: lahan subur untuk pertanian berkelanjutan di Kalimantan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#website","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","name":"Landscape Alliance Forests News","description":"The latest news on REDD+, climate change, biofuels, gender, conservation, trade, deforestation, indigenous &amp; community groups, dry forests, food security, illegal logging, governance and biodiversity.","publisher":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Organization","Place"],"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#organization","name":"CIFOR-ICRAF","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id","logo":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo"},"image":{"@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/CIFORICRAF","https:\/\/x.com\/CIFOR_ICRAF"],"telephone":[],"openingHoursSpecification":[{"@type":"OpeningHoursSpecification","dayOfWeek":["Monday","Tuesday","Wednesday","Thursday","Friday","Saturday","Sunday"],"opens":"09:00","closes":"17:00"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id#\/schema\/person\/dc41d7a984ebf7594f376f0104dcd368","name":"Melati Kaye","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9bd6b4d90f4b539a3f93110677e5f007f01196fad0381fcd72a22e02168eabbd?s=96&d=mm&r=g3047fe1ee0b93e3d8a5653419a5ce6dd","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9bd6b4d90f4b539a3f93110677e5f007f01196fad0381fcd72a22e02168eabbd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9bd6b4d90f4b539a3f93110677e5f007f01196fad0381fcd72a22e02168eabbd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Melati Kaye"},"description":"Melati Kaye is a freelance writer based in Bogor, Indonesia. She currently writes for Al Jazeera and the Jakarta Post. Prior to arriving in Indonesia, Melati worked as a public radio reporter in Alaska. She has a degree in Biology and Creative Writing from Reed College.","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/author\/melati-kaye"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/10609\/tanah-arang-lahan-subur-untuk-pertanian-berkelanjutan-di-kalimantan#local-main-organization-logo","url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","contentUrl":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/cifor-icraf-logo.png","width":596,"height":250,"caption":"CIFOR-ICRAF"}]}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.forestsnews.org\/wp-content\/uploads\/2012\/08\/fires.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/62"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10609"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10609\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37253"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10609"},{"taxonomy":"language","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/language?post=10609"},{"taxonomy":"location","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/location?post=10609"},{"taxonomy":"tag-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-bahasa?post=10609"},{"taxonomy":"tag-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-espanol?post=10609"},{"taxonomy":"tag-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tag-francais?post=10609"},{"taxonomy":"type-espanol","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-espanol?post=10609"},{"taxonomy":"type-bahasa","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-bahasa?post=10609"},{"taxonomy":"type-english","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-english?post=10609"},{"taxonomy":"type-francais","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/type-francais?post=10609"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.forestsnews.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=10609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}